
Suara petir menggelegar dan terdengar sangat nyaring ditelinga Alea, dan seketika itu pun hujan turun begitu deras. Saat taksi lewat dengan cepat Alea menghentikannya lalu menaikinya.
Ditengah-tengah perjalanan tiba-tiba taksi yang ditumpanginya berhenti.
"Kenapa pak?" tanyanya.
"Maaf nona, sepertinya mobilnya mogok." Supir taksi itu keluar untuk mengecek.
"Bagaimana pak? mobilnya kenapa?" tanya Alea setelah ikutan turun.
"Sepertinya saya harus memanggil montir, nona bisa mencari taksi lain."
Alea berdiri dipinggir jalan dengan keadaan basah kuyup menunggu taksi yang tak kunjung lewat. Tubuhnya mulai bergetar karena kedinginan selama kurang lebih 20 menit lamanya menunggu taksi dalam keadaan hujan yang cukup deras. Apalagi tidak ada tempat untuknya berteduh.
"Kemana taksinya? kenapa tak kunjung lewat?" batin Alea. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat didepannya.
"Nona Alea..." Tutur Leon, dia pun mendekati dan memeluk Alea ketika melihatnya hampir pingsan.
"Leon, bisakah kau mengantarku pulang?" Suara Alea terdengar sangat lemas.
"Tentu nona." Leon mengangkat tubuhnya dan memasukannya ke jok belakang.
Sesampainya di-mansion.
Tubuh Alea menggigil. Leon yang mengkhawatirkan keadaan Alea dia pun mengompres tubuhnya dengan air hangat.
"Aku ingin beristirahat, bisakah kau meninggalkanku?"
"Tentu Nona." Sahut Leon.
"Terima kasih Leon, karena kau sudah menolongku." Ucap Alea.
"Sama-sama Nona Alea. Seharusnya Nona tadi menungguku di-kantor." Ucap Leon. "Kalau begitu aku permisi. Kalau Nona memerlukan sesuatu, panggil aku saja." Lanjutnya.
Leon keluar dari kamar Alea, lalu turun menuju ruang tengah dan duduk disofa. Saat mendapat panggilan telepon dari Arthur dengan cepat dia mengangkatnya dan memberi tahu keadaan Alea kepada Arthur.
Tak lama kemudian Arthur datang untuk mengecek bagaimana keadaan Alea.
"Suhu badanmu begitu tinggi! aku akan menghubungi dokter agar bisa memeriksa keadaanmu." Merogoh ponsel yang ada didalam saku celananya.
Setelah diperiksa, sebelum pergi dokter pun memberikan resep obat yang harus ditebus. Arthur menyuruh Leon untuk segera menebusnya, sehingga kini mereka hanya berduaan.
Arthur menatap Alea yang tampak menggigil kedinginan. Dia pun merebahkan tubuhnya disamping Alea lalu memeluknya sehingga membuat Alea terkejut dan membulatkan matanya.
__ADS_1
"Tolong menjauh dari aku Tuan." Pinta Alea.
"Jangan takut! aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu."
"Tapi Tuan, kehadiran mu disini membuat aku kurang nyaman."
"Nyaman atau tidak, kau nikmati saja kebersamaan kita ini." Decak Arthur.
Alea sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya bungkam seribu bahasa ketika Arthur menyanggakan tangan kanan ke kepala dan menatap dalam kepadanya.
Kedatangan Leon mengejutkan Alea, terkecuali Arthur yang tampak biasa-biasa saja.
""Tuan muda ini obatnya."
"Taru diatas nakas." Ucap Arthur. "Oya Leon, bagaimana menurutmu antara aku dan Alea, apa kita berdua cocok?" tanyanya.
Pertanyaan Arthur tidak membuat Leon terkejut, pasalnya sudah lama dia mengetahui kalau Tuan mudanya itu memiliki perasaan terhadap ibu tirinya, apa lagi sudah beberapa kali Leon tidak sengaja memergoki Alea dan Arthur sedang berduaan.
"Cocok tuan muda, tapi-..." Leon menggantung ucapannya karena takut Arthur akan tersinggung dengan kata-katanya.
"Tapi apa?"
"Maaf tuan, sayangnya Nona Alea milik Tuan Carlos." Jelas Leon lalu menundukkan kepalanya.
"Tuan, tolong pergilah dan biarkan aku beristirahat dengan nyaman." Pinta Alea yang terlihat tidak nyaman, karena Arthur lagi-lagi melingkarkan tangan diperut Alea dan memeluknya tanpa rasa malu meskipun didepan Leon.
"Maaf Tuan muda, Nona Alea, kalau begitu saya permisi." Ucap Leon.
"Entah apa yang akan dilakukan Tuan Arthur jika Leon benar-benar pergi." Batin Alea mulai was-was.
Beberapa saat setelah Leon pergi Arthur ikut keluar, sehingga membuat Alea sedikit lega karena mengira kalau Arthur ikutan pulang.
Namun ternyata beberapa menit kemudian Arthur kembali dengan membawakan makanan untuknya.
"Kau harus makan, setelah itu minum obatnya." Ucap Arthur seraya menyodorkan sendok yang telah terisi nasi beserta lauknya kearah mulut Alea.
"Maaf Tuan Arthur, tapi aku bisa makan sendiri." Alea hendak meraih sendok itu namun Arthur menepisnya.
"Apa kau ingin aku menyuapi mu dengan mulutku?"
Deg. Ucapan Arthur membuat Alea menohok dan langsung menjawabnya.
"Tidak Tuan."
__ADS_1
"Kalau begitu jadilah wanita yang penurut." Menyodorkan sendok itu ke mulut Alea, hingga mau tidak mau Alea terpaksa membuka mulut dan menerima suapannya.
"Sikap Tuan Arthur memang tidak mudah ditebak! terkadang dia bisa bersikap baik, tapi disaat itu juga sikapnya bisa tiba-tiba berubah menjadi sosok yang menakutkan." Batin Alea.
Setelah selesai makan Arthur memberikan obat kepada Alea, agar dia bisa beristirahat.
Calista beberapa kali menghubungi nomer Arthur, namun bukannya menjawab Arthur malah sengaja mematikan ponselnya karena tidak ingin siapapun mengganggunya.
Alea sudah tampak tertidur pulas. Arthur pun merebahkan tubuh disamping Alea dan ikut tidur bersamanya.
Keesokan harinya.
Alea perlahan membuka mata karena merasakan ada sesuatu yang berat diperutnya. Ya, ternyata itu adalah Arthur yang tertidur lelap disampingnya. Seketika perasaannya terhadap Arthur pun bangkit kembali, sehingga tanpa sadar Alea mengusap lembut pipi laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Arthur membuka mata saat merasakan ada sesuatu yang meraba-raba bagian wajahnya.
Alea terkejut. Refleks dia langsung bangkit duduk, namun Arthur memeluknya dari belakang dan kembali merebahkannya.
"Ma-maaf Tuan Arthur, Tadi-..."
Cup.
Alea tak meneruskan ucapannya ketika Arthur mengecup bibirnya.
"Tidak apa-apa! aku senang kau melakukannya." Atrhur kembali mengecup bibir Alea lalu kemudian menciumnya dengan bermain sangat lembut.
Alea memejamkan bola matanya dan menikmati sentuhan hangat yang diberikan Arthur terhadap tubuhnya. Dia tak bisa mengontrol perasaannya, walaupun beberapa kali Arthur telah mengecewakannya tapi nyatanya rasa cintanya lebih besar dari pada kebenciannya.
Arthur semakin memperdalam ciumannya. Seketika ciuman lembut itu pun berubah menjadi panas, perlahan Arthur melucuti pakaian Alea satu persatu hingga yang tersisa hanya bikininya saja yang menempel ditubuh Alea.
Tangannya terus bergerak menyentuh dan mere*mas salah satu gundukan kenyal Alea.
Dia terus melahap habis ranum bibir Alea dengan rakus dan menghisapnya beberapa kali. Tangan satunya mulai aktif melepas pengait bra yang dikenakan Alea dan melemparkannya kesembarang arah.
Arthur melempaskan ciumannya, tampaklah kedua bongkahan kedua gunung kembar Alea terpampang nyata dihadapannya.
Mata bertemu mata, kini keduanya saling menatap dalam satu sama lain.
"Katakan jika kau mencintaiku?" Pinta Arthur, menatap mesra wajah sayu wanita yang dicintainya itu.
"Aku tidak mau menjadi mainan mu!" Ucap Alea dengan nada yang sangat pelan.
"Aku tidak akan menjadikan mu boneka ku, andai saja kau mau memahami perasaanku." Jelas Arthur.
__ADS_1