
Arthur menghampiri Alea dan menatapnya.
"Kenapa tuan Arthur melihatku seperti itu?" Alea tidak nyaman dengan tatapannya.
"Sebaiknya kau beristirahat! tidak perlu memikirkan siapa pria yang menyelinap masuk kedalam kamarku. Karena aku bisa mengatasinya." Arthur pun menyelimuti Alea. Dia pun kembali ke sofa dan memejamkan matanya.
"Aku tidak tahu harus menyebutmu apa? orang jahat atau orang baik?" Batin Alea menatap kearah Arthur yang sudah terlelap tidur.
Keesokan harinya.
Keluarga besar Bratajaya sudah standby dimeja makan menunggu Arthur dan Alea.
"Maaf tuan. Tuan muda dan nona Alea tidak ada di kamarnya." Ucap Laura setelah memanggil Alea dan Arthur, namun mereka tidak ada.
Braaakkk...
Carlos menggebrak meja makan, sehingga membuat semua yang ada disana terkejut.
"Arthur pasti membawa Alea kabur lagi. Tapi baguslah! mudah-mudahan kali ini dia tidak akan pernah kembali lagi kesini." Batin Stevani.
"Para Penjaga..." Teriak Carlos. Sehingga mereka kocar-kacir menghampirinya. "Cari Arthur dan Alea sekarang juga." Lanjutnya.
"Tidak perlu! karena aku dan Alea sudah disini." Ucap Arthur yang baru saja masuk, dan mendengar teriakkan ayahnya.
"Arthur, dari mana saja kalian?" tanya Samantha.
"Semalam ada orang yang menyerangku, dan Alea datang untuk menolong, tetapi malah dia yang terluka." Jelas Arthur.
"Apa? ada orang yang ingin menyerangmu." Samantha mendekati Arthur untuk memastikan kalau putra kesayangannya itu tidak terluka.
"Aku baik-baik saja bu. Ibu lihat, karena menolongku tangan Alea terluka akibat sayatan pisau yang dibawa oleh orang itu."
"Siapa orang itu? apa kau mengenalinya?" Carlos angkat suara.
"Tidak ayah. Karena orang itu menggunakan topeng." Jawab Arthur.
"Tidak mungkin ada penyusup masuk kedalam mansion ini. Pelakunya pasti orang dalam." Ujar Carlos.
Arthur tertegun mendengar ucapan Carlos. Sepertinya ayahnya sepemikiran dengannya.
__ADS_1
"Alea aku minta maaf, sekaligus berterima kasih. Karena kau telah menyelamatkan Arthur." Ucap Samantha. Yang dibalas anggukan kecil dan senyum tipis dari Alea.
"Ini ada yang aneh? kenapa Alea bisa tiba-tiba datang menyelamatkan Arthur." Ucap Stevani. "Apa mungkin dia sendiri yang telah menyuruh orang untuk melakukan penyerangan terhadap Arthur, dengan begitu dia bisa berpura-pura menjadi penyelamat! selama ini kita semua tahu, kalau tidak ada orang yang menganggap keberadaannya disini." Lanjutnya.
"Jangan asal bicara!" Bentak Arthur. "Alea tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu hanya untuk mendapatkan simpati dari semua orang. Biarpun ada orang yang patut dicurigai, orang itu adalah kau." Sebut Arthur, menunjuk wajah Stevani.
"Arthur..." Stevani mengangkat tangannya hendak menampar Arthur, namun niatnya urung ketika melihat Carlos yang sedang menatap tajam kepadanya. "Tuan Carlos, aku tidak terima putra kesayangan-mu menuduhku seperti itu." keluhnya.
"Tidak ada yang boleh menuduh sembarang orang, tanpa adanya bukti yang kuat!" Ucap Carlos.
"Arthur apa kau mendengarnya?" Ujar Stevani.
"Termasuk juga kau!" Ucap Carlos. "Kau tidak bisa menuduh Alea, tanpa adanya bukti nyata. Karena walau bagaimanapun dia itu masih berstatus istri sah-ku."
Arthur merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman dihatinya, ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Carlos.
"Kali ini kau bisa lolos! tapi lihat saja, aku akan membuatmu menyesal karena telah berani menggagalkan rencana-ku." Batin Chamela menatap tajam kearah Alea.
"Laura, bawa Alea untuk beristirahat di kamarnya." Titah Carlos.
"Tidak perlu ayah! karena aku yang akan mengantarnya." Ucap Arthur. Semua mata menatap heran melihat sikap Arthur terhadap Alea.
"Sudah merebut ayah dariku! tapi kali ini aku tidak akan membiarkan-mu merebut kak Arthur. Jika aku tidak bisa memiliki kak Arthur, maka siapapun tidak ada yang berhak memilikinya." Batin Rachel.
*
"Beristirahatlah! aku tahu, kalau semalam kau bergadang dirumah sakit karena tidak bisa tidur." Ucap Arthur.
"Tuan Arthur tahu dari mana? kalau semalam aku memang gak bisa tidur." Tanya Alea.
"Aku bahkan tahu, kalau semalam kau juga terus memperhatikan-ku! apa kau pikir kalau aku sudah benar-benar tidur?" tanya Arthur seraya mencodongkan tubuhnya hingga wajah keduanya saling berdekatan. "Aku peringatkan kepadamu, jangan pernah menatapku seperti itu lagi, atau-..." Arthur menggantung ucapannya.
"Atau apa?" tanya Alea dengan suara has lemah lembutnya.
"Atau kau akan jatuh cinta kepadaku."
Deg. Ucapan Arthur membuat jantungnya seakan berhenti berdetak, dan wajahnya kini memerah.
"Tuan Arthur ngaco! tidak mungkin aku jatuh cinta kepada laki-laki seperti tuan Arthur." Alea tersenyum yang dibuat-buat.
__ADS_1
Arthur tertegun sejenak. "Ya. Kau benar! mana mungkin kau bisa jatuh cinta kepada seorang penjahat sepertiku." Raut wajahnya berubah murung.
"Sebaik-baiknya orang, ialah orang yang mau mengakui kesalahannya, dan berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi." Ucap Alea.
Arthur menatap lekat wajah Alea.
"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Alea.
"Memangnya kenapa?" tanya Arthur.
"Atau tuan akan jatuh cinta kepadaku." Alea mengcopy ucapan Arthur tadi.
"Ya, sepertinya aku memang telah jatuh cinta kepadamu!" Ucap Arthur.
Alea malah terkekeh mendengar ucapan Arthur. Dia mengira kalau Arthur sedang menggodanya.
Arthur mengamati raut wajah Alea yang tampak berseri-seri. Ini adalah kali pertama Alea menunjukan keceriaannya dihadapan dia. "Aku ingin melihat senyum itu setiap hari." Ucapan Arthur membuat Alea tiba-tiba terdiam.
"Jadi benar dugaan-ku! sepertinya Arthur benar-benar telah jatuh cinta kepada Alea." Batin Samantha, yang ternyata diam-diam mengintipnya dari balik pintu tanpa sepengetahuan mereka.
"Sebaiknya tuan keluar, bukankah tadi tuan memintaku untuk beristirahat. Kalau tuan tetap disini, bagaimana aku bisa beristirahat." Pinta Alea.
"Baiklah! aku akan pergi." Ucap Arthur, seraya menatap lekat wajah cantik Alea begitu dalam. Dia pun menoleh kearah bibir tipis Alea yang menurutnya begitu seksi dan menggoda. Rasanya ingin sekali dia menyentuh ranum bibir itu dengan bibirnya, namun kali ini dia tidak ingin menciumnya secara paksa. Arthur ingin membuat Alea jatuh cinta kepadanya terlebih dahulu.
"Tuan Arthur selalu saja menatapku dengan cara seperti itu, apa dia tidak tahu! kalau tatapannya itu membuatku merasa sangat tidak nyaman." Batin Alea yang memalingkan pandangannya.
Arthur pergi dari kamar Alea. Namun dia lupa untuk menutup pintunya kembali, sehingga Alea beranjak untuk menutup pintu kamarnya. Tapi ternyata dia dikejutkan dengan kehadiran Samantha yang tiba-tiba nongol dan berdiri tepat dihadapannya.
"Nyonya Samantha..."
"Apa aku boleh masuk?" tanya Samantha.
Alea mengangguk kecil.
Samantha duduk di-sofa. Dia meminta Alea untuk duduk disampingnya. "Sepertinya Arthur bahagia jika berada di dekatmu." Dia menatap dalam wajah Alea. "Apa kau juga bahagia saat berada didekat Arthur?"
"Kenapa nyonya Samantha menanyakan hal itu?"
"Aku hanya ingin kau mengerti, apa status-mu disini. Aku harap kau mau menjauhi Arthur, dan jangan pernah memberikan harapan apapun kepadanya! karena walau bagaimanapun juga, kau adalah ibu tiri dari Arthur, dan sampai kapanpun kalian tidak akan pernah bisa bersama." Ucap Samantha dengan tegas.
__ADS_1
"Maaf, tapi sepertinya nyonya terlalu berlebihan menilai kedekatan ku dengan tuan Arthur. Karena aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya."
"Mungkin sekarang tidak! tapi kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa." Ucap Samantha. "Makanya, sekarang aku minta agar kau mau berjaga jarak dengan Arthur, karena aku tidak ingin Arthur terkena masalah."