Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
33 kejahatan Chamela


__ADS_3

Setelah mengantar Calista pulang kini Arthur sendirian didalam mobil. Dia menoleh kearah kaca spion mobilnya. "Motor itu? sepertinya dari tadi dia mengikutiku." Batin Arthur. Dia pun mempercepat laju mobilnya, tapi ternyata orang itu juga ikut mempercepat laju motornya.


"Sial! apa mau orang itu." Arthur pun menepikan mobilnya di pinggir jalan. Malam sudah semakin larut, sehingga jalanan pun mulai terasa sepi.


Brumm. Brumm. Brummmm.


Orang itu memainkan stang motornya. Namun saat melihat Arthur turun dari mobil, dengan cepat orang itu menancapkan gas dan berusaha untuk menabrak Arthur. Refleks Arthur langsung menghindar hingga tubuhnya hanya terserempet saja. "Aarghh." Pekiknya menahan sakit dibagian tangannya.


Orang itu kembali memutar balik motornya, dan mencoba untuk menabrak Arthur lagi. Namun lagi-lagi dia gagal karena Arthur dapat mengamati pergerakan pria itu. Tak ingin gagal untuk yang ketiga kalinya, akhirnya pria itu mengeluarkan senjata api dan menembakkan peluru nya tepat mengenai perut Arthur.


Dorrr...


Suara tembakan keras memancing warga disekitar jalanan, sehingga berhamburan keluar untuk melihat apa yang telah terjadi. Tak ingin di hajar masa dengan cepat pria itu melarikan diri.


***


Sudah tiga hari Arthur koma Dirumah sakit. Samantha tak henti-hentinya menangis menyesali, seandainya saja waktu itu dia tak mengijinkan Arthur untuk pergi. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Tidurlah yang tenang Arthur! dan jangan pernah bangun lagi." Batin Chamela.


"Meskipun aku memang tidak pernah menyukai sikapmu yang tidak pernah bisa menghargaiku sebagai istri ketiga dari ayahmu! tapi aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Kasihan kak Samantha, dia pasti merasa sangat terpukul dengan apa yang sudah menimpa putra kesayangannya." Batin Stevani.


"Kak Arthur, jangan membuatku khawatir seperti ini. Tolong sadarlah! aku bahkan belum pernah mengatakan alasan mengapa aku begitu perduli kepadamu." Batin Rachel yang tak mau berhenti meneteskan air matanya.


"Aku menyesal, karena mungkin waktu itu aku sudah membuatmu marah, sehingga kau memutuskan untuk pergi ke apartemen temanmu. Andai saja saat itu aku bisa lebih mengontrol emosiku dan tidak bicara yang menyakitkan mu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." Batin Alea tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Dalam hati Alea pun juga bertanya-tanya. Apakah mungkin kalau Arthur memang benar-benar tulus mencintainya, sehingga Arthur merasa kecewa saat Alea secara terang-terangan mengatakan kalau dia tidak pernah mencintai Arthur.


"Arthur, aku sangat mencintaimu! aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu. Tolong sadarlah. Hiks...Hiks...Hiks." Calista tak henti-hentinya menangisi keadaan Arthur.

__ADS_1


Sementara Carlos dan Chris menunggu diluar bersama beberapa anak buah Carlos.


"Polisi sedang menyelidiki kasus ini. Tapi aku tidak bisa tinggal diam, sementara putraku sedang diambang antara hidup dan mati. Kalian selidiki juga siapa pelakunya, dan siapapun yang berhasil membawa orang itu kehadapanku. Aku akan memberikan imbalan yang besar berupa rumah mewah dikawasan elit permata indah, serta lengkap bersama isi-isinya.


Seketika mereka semua langsung tergiur dengan tawaran yang diberikan Carlos terhadap mereka.


"Tuan Carlos memang bukan orang sembarangan!" Batin Chris menatap Carlos secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.


"Gawat! posisiku semakin terancam." Batin Jhonny yang berusaha menyembunyikan ketakutannya, agar Carlos tidak mencurigainya.


***


Carlos, Chamela, Stevani serta Alea sudah kembali ke mansion Bratajaya. Sehingga di rumah sakit hanya ada Samantha, Rachel dan Calista serta beberapa anak buah Carlos yang menjaga ruang rawat inap Arthur. Sementara Chris sudah pulang, karena diam-diam dia juga ingin membantu menyelidiki siapa dalang dibalik kasus penembakan terhadap Arthur sahabatnya.


"Calista, sebaiknya kau pulang dan beristirahat dirumah mu. Karena sudah tiga hari ini kau tidak pulang, orang tuamu pasti akan mencemaskanmu." Ucap Samantha.


"Tetap saja kau harus pulang! setidaknya biarkan tubuhmu rileks ditempat tidur yang nyaman, karena aku tidak ingin kau sakit juga, akibat kau tidak memperdulikan kesehatanmu." Bujuk Samantha agar Calista mau menuruti permintaannya.


"Ibu, aku sangat mencintai Arthur. Apa ibu akan merestui hubungan aku dengannya?" Lirih Calista dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja! apapun yang membuat Arthur bahagia, ibu pasti akan merestuinya." Ucap Samantha seraya memegangi kepala Calista.


"Sayang, apa kau mendengarnya? ibu telah merestui hubungan kita. Jadi aku mohon, cepat sadarlah." Ucap Calista seraya menciumi tangan Arthur sebelum dia pergi.


"Mimpimu kejauhan! karena aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki kak Arthur. Kalau aku tidak bisa memilikinya! maka orang lain pun tidak akan bisa." Batin Rachel menatap kepergian Calista.


***

__ADS_1


Akhir-akhir ini Carlos terlihat sangat sibuk. Entah itu soal pekerjaannya, ataupun soal kasus penembakan yang menimpa Arthur sehingga membuatnya jarang ada dirumah. Tapi itu sedikit menguntungkan bagi Alea, karena dengan begitu Carlos jadi tidak mempunyai waktu untuk mendekatinya.


Tengah malam, Alea beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


"#?!"-+((8_-(&_$_&-+++((((?::;--(;:"


Samar-samar dia mendengar suara seseorang yang sedang berbicara dihalaman belakang. Perlahan Alea mendekati jendela dapur yang kebetulan mengarah kearah dimana dia mendengar suara orang yang sedang bicara serius.


"Aku minta sisa pembayaran yang telah kau janjikan kepadaku waktu itu."


"Sudah ku katakan, kalau aku akan memberikan sisa pembayarannya setelah kau berhasil membunuh Arthur."


Deg. Jantung Alea seakan berhenti berdetak saat mendengar perkataan dari seorang wanita yang tak asing ditelinganya. "Nyonya Chamela? ya aku yakin sekali kalau itu memang suara nyonya Chamela." Batin Alea. Dia tidak dapat melihat wajah mereka karena jendela di dapurnya itu tinggi sehingga Alea tidak dapat menjangkaunya meskipun dia sudah berjingkat.


"Tapi aku ingin uangnya sekarang! dengan begitu aku bisa pergi sejauh mungkin, untuk menghindari api kemarahan tuan Carlos seandainya nanti dia mengetahui kalau aku lah yang telah melakukan penembakan terhadap putra kesayangannya."


"Dasar bodoh! dengan kabur seperti itu, malah akan membuat tuan Carlos mencurigaimu sebagai pelakunya."


"Aku tidak perduli. Aku lebih siap kalau polisi yang menangkapku dari pada tuan Carlos. Karena aku yakin, tuan Carlos tidak akan membiarkan aku hidup jika dia mengetahui yang sebenarnya."


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menyerahkan diri saja kekantor polisi." decak Chamela.


"Apa kau siap? kalau aku juga akan menyeretmu, ketika polisi menanyakan siapa dalang dibalik semua ini?"


"Jangan asal bicara! aku membayar mahal dirimu bukan untuk menyeretku masuk kedalam penjara."


"Sama seperti dirimu! aku mendapatkan uang darimu untuk hidup berfoya-foya. Bukan untuk mendekam didalam penjara." Sahut Jhonny.

__ADS_1


Alea dapat mendengar jelas ucapan keduanya. Dan Alea yakin betul kalau itu adalah suara Chamela, namun dia tidak mengenali suara pria itu. Karena penasaran Alea mencoba menaiki dinding, namun karena licin dia pun akhirnya terjatuh sehingga membuat Chamela dan Jhonny terkejut. Dengan cepat Alea segera lari menuju kamarnya.


__ADS_2