
Tinggallah mereka bertiga di apartemen itu. Alea menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dia bingung harus ngapain. Berada ditengah-tengah antara mereka membuat Alea sedikit tidak nyaman karena takut mengganggu keduanya.
"Alea, duduk sini." Calista menepuk sofa disebelahnya meminta Alea untuk duduk disampingnya.
"Tidak usah. Aku disini saja." Tolak Alea.
"Ayolah..." Calista menarik tangan Alea agar mau memenuhi keinginannya. Sehingga mau tidak mau akhirnya mereka duduk bertiga disofa yang sama. Calista duduk ditengah-tengah diantara Alea dan Arthur.
"Aku merasa tidak enak jika berada disini. Aku harus mencari alasan untuk bisa meninggalkan mereka berdua." Batin Alea. "Calista aku..." Baru saja ingin membuat alasan, Tiba-tiba Calista mendahuluinya.
"Wajahmu kenapa merah-merah begitu?" tanyanya.
"Sudah dilahap habis sama ayah." Sahut Arthur yang sekilas menatap sinis kepada Alea lalu melempar pandangan kearah lain.
"Maksudnya?" kening Calista mengkerut.
Alea mendeleki Arthur karena tak suka dengan ucapannya. "Bukan! ini akibat salep yang tuan Carlos oleskan kewajahku semalam, makanya wajahku jadi terasa panas dan gatal-gatal hingga merah-merah begini." Jelas Alea.
"Jadi Alea membohongiku." Batin Arthur menatapnya.
"Aku punya salep yang bagus, apa kau ingin mencobanya?" tanya Calista.
"Tidak usah, sebenarnya wajahku ini sedikit sensitif. Biarkan saja seperti ini, aku yakin nanti juga akan hilang dengan sendirinya."
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Calista berdering, dia meminta ijin untuk mengangkat telepon dari ibunya dibalkon apartemen.
Arthur menggeser posisi duduknya hingga berdekatan dengan Alea. "Kenapa kau membohongiku?" tanyanya.
"Bohong soal apa?" tanyanya, Alea pun menggeser tubuhnya agak menjauh dari Arthur.
"Soal tanda merah diwajah dan lehermu."
"Aku tidak membohongi tuan Arthur, aku hanya mengiyakan saja tuduhan tuan terhadapku." Jawab Alea. "Lagi pula tuan itu laki-laki yang sudah berpengalaman, tentu tuan mungkin bisa membedakan mana yang bekas kissmark dan mana yang bekas gatal-gatal." Lanjutnya.
"Aku tidak suka ketika kau menyebutku seorang lelaki yang telah berpengalaman. Karena dibandingkan dengan ayah aku tidak ada apa-apanya."
Ucapan Arthur membuat Alea mengernyitkan keningnya. Tak paham akan apa yang ada dipikirannya. Alea berpikir kalau Arthur itu seorang Casanova, sementara Arthur berpikir kalau Alea telah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri terhadap ayahnya.
Saat Calista kembali ke ruangan, dengan cepat Arthur menggeser kembali posisi duduknya. Calista menoleh kearah Alea dan Arthur secara bergantian.
"Kalian kenapa?" tanyanya saat melihat keduanya kelihatan kikuk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Jawab Alea tersenyum yang dibuat-buat.
Arthur menoleh kearah jarum jam yang ada ditangannya. "Aku harus pulang."
"Kenapa terburu-buru?" tanya Calista.
"Ada hal penting yang harus aku urus." Sahut Arthur.
"Kalau begitu, aku ikut pulang denganmu ya?"
"Bukankah kau juga membawa mobil?"
"Aku sedang malas menyetir! bagaimana kalau Alea saja yang membawa mobilku." Calista menoleh kepadanya.
"Aku tidak bisa mengemudi." Ujar Alea.
"Ya sudah, aku akan mengantarkan mu." Tukas Arthur.
Setelah melihat mobil Arthur melaju meninggalkan kawasan apartemen. Leon pun menancap gas mengikuti kemana arah laju mobil Arthur pergi.
"Kenapa kita lewat sini?" tanya Calista.
"Bukankah tadi kau bilang ingin pulang." Jawab Arthur.
"Jarak apartemen mu lebih dekat dari pada mansion." Sahut Arthur.
"Arthur, kenapa kau tidak mengerti akan keinginanku untuk berduaan bersamamu." Gerutu Calista dalam hatinya.
Chris dan Rachel sudah tiba di apartemen. Namun karena Arthur ternyata sudah tidak ada disana Rachel pun meminta Chris untuk kembali mengantarkannya pulang. Chris sedikit kecewa karena dia masih ingin bersamanya, namun akhirnya dia mengindahkan keinginan Rachel.
Setelah mengantar Calista Arthur melanjutkan perjalanan. Namun bukan kearah mansion melainkan kearah lain.
"Kita mau kemana?" tanya Alea.
"Kesuatu tempat." Jawab Arthur tanpa menoleh.
Arthur masuk ke-area parkiran hotel tempat dimana dulu Alea bekerja disana.
"Ayo turun..." Ucapan Arthur membuyarkan lamunannya.
"Tunggu. Kenapa tuan membawaku kemari? tuan tidak ingin berbuat aneh-aneh kan?" tanya Alea penuh dengan kecurigaan.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Ikutlah..." Arthur menadahkan tangannya. Dengan ragu-ragu Alea meletakan tangan diatas tangan Arthur tadi. Dengan cepat Arthur menggenggamnya.
__ADS_1
"Alea..." Panggil seseorang dari belakang.
Alea dan Arthur pun menoleh. "Emily." Seru Alea.
Emly langsung menghampiri Alea dan memeluknya. "Bagaimana keadaanmu? aku dengar kalau kau sudah menikah."
"Kabarku baik! bagaimana denganmu sendiri?" tanya Alea.
"Kabarku juga baik." Emily menoleh kearah laki-laki tampan yang ada disebelah Alea. "Apa dia suamimu? mengapa kau tidak memperkenalkannya padaku." Ujarnya.
"Bu-..."
"Istriku, sebaiknya kita segera pergi." Ucap Arthur seraya menggenggam tangan Alea lalu membawanya berjalan memasuki hotel. Alea mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Arthur yang memanggilnya istri.
"Alea, kau memang sangat-sangat beruntung! selain suamimu itu tampan, ternyata dia juga kaya." Gumam Emily ketika melihat mobil mewah disebelahnya. Karena tadi dia melihat Alea dan Arthur keluar dari mobil itu. "Tapi sepertinya aku pernah melihat wajah laki-laki itu." Pikirnya. Tentu saja, karena Arthur sempat menginap beberapa malam di hotel itu ketika kabur dari rumahnya.
"Tunggu tuan." Alea menepis tangan Arthur yang sedari tadi menggenggamnya. "Kenapa tuan mengatakan kalau aku ini istrimu?"
"Seperti apa yang sudah kau lakukan kepadaku sebelumnya, aku hanya mengiyakan saja prasangka temanmu itu." Jelas Arthur.
Alea menohok mendengar penjelasannya. "Lalu untuk apa kita kesini?"
Bukannya menjawab Arthur malah meninggalkan Alea dan berjalan menuju meja resepsionis untuk memesan sebuah kamar. Setelah mendapatkan kunci Arthur kembali menghampiri Alea lalu kembali menuntunnya masuk kedalam lift.
"Sebenarnya kita mau apa kesini?" tanya Alea, pikirannya mulai was-was karena Arthur tak kunjung memberikan jawaban.
Sampailah mereka didepan kamar nomer 102. Alea membelalakkan matanya, seketika dia teringat kembali akan kejadian dimana Arthur berhasil merenggut kesuciannya dikamar itu.
"Aku harus pergi." Ucap Alea, namun Arthur keburu mencengkram pergelangan tangannya. "Lepaskan aku tuan! kenapa kau membawaku kesini?" Sinis Alea dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Masuklah dulu, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu." Pinta Arthur.
"Aku tidak mau!" tolak Alea. Dia pun melepaskan tangan Arthur.
"Aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam kepadamu!" Ujar Arthur, dia mampu membaca apa yang ada didalam pikiran Alea saat ini.
Alea tertegun mendengar ucapan Arthur. Apakah benar Arthur tidak akan berbuat sesuatu kepadanya.
"Percayalah! aku tidak akan melakukan kesalahan yang sudah pernah kulakukan sebelumnya kepadamu. Justru aku ingin memperbaiki semua kesalahan dimasa laluku." Ujar Arthur meyakinkannya.
Alea tertegun sejenak lalu kemudian mengindahkan keinginan Arthur untuk masuk kedalam hotel.
Alea menatap dinding sekeliling kamar yang penuh dengan tulisan *Maafkan aku* dan yang terakhir keluar huruf 3D dari arah dinding itu yang bertuliskan *Will you marry me* Alea diam terpaku tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Arthur merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu bersingkuh dihadapan Alea. "Maukah kau menikah denganku?" Ucap Arthur seraya membuka kotak perhiasan yang berisi cincin tersebut.