
Alea sudah tiba di taman. Dia menoleh ke-sekeliling namun tidak bisa menemukan keberadaan Arthur. "Tuan Arthur mana?" Perasaannya kini sedikit was-was. Dan benar saja, tiba-tiba segerombolan orang datang dan berdiri tepat dihadapannya dengan sorot mata yang menakutkan.
"Kalian?" ternyata Alea masih mengenali wajah-wajah itu. Alea berdiri dari duduknya dan hendak lari, namun dihalangi oleh mereka.
"Mau kemana nona? kenapa nona Alea selalu mempersulit pekerjaan kami." Ucap salah satu dari mereka.
"Aku kesini untuk bertemu dengan tuan Arthur. Sebaiknya cepat kalian pergi! atau tuan Arthur tidak akan segan-segan untuk menghajar kalian semua." Alea berusaha menyembunyikan ketakutannya.
Mendengar ucapan Alea, mereka pun tertawa. "Kalau begitu mari ikut dengan kami, karena tuan Arthur sudah menunggu nona Alea di mansion Bratajaya." Ucapnya.
"Apa?" Alea terkejut. "Apa tuan Arthur sengaja menjebakku?" pikir Alea, karena yang mengirim pesan tersebut adalah nomer Arthur.
"Sekarang, mari ikut kami." mereka langsung menarik paksa tangan Alea dan menyeretnya.
"Tolong...To-" Alea tak melanjutkan teriakannya karena pria itu keburu membekapnya dan menyeretnya masuk kedalam mobil.
"Chris, stop!" teriak Calista.
"Ada apa?"
"Kau lihat itu..." Ucap Calista menunjuk kearah Alea yang sedang di seret-seret beberapa pria. Kebetulan Chris dan Calista melewati taman itu.
"Alea." Gumamnya. "kita kejar mobil itu." Chris mengejar mobil yang membawa Alea pergi dari taman.
"Mobil itu sepertinya sedang mengikuti kita." Ucap salah satu dari mereka.
"Arahkan mobil itu ke-tempat sepi! setelah itu kita beri dia pelajaran." Ujar salah satunya lagi.
Ditempat sepi, tiba-tiba mobil hitam yang membawa Alea pun berhenti dan menghampiri mobil Chris. "Buka..." Orang itu menggebrak kaca mobil Chris.
"Kau tunggu disini." Chris meminta Calista untuk tetap berada di-dalam mobil.
Setelah keluar, Chris langsung disambut pukulan dari orang itu yang langsung membogem perutnya. Tak tinggal diam, Chris pun melawan mereka dengan cara membabi buta membalas setiap serangan yang mereka berikan terhadap tubuhnya.
Bugh. Bugh. Bugh...
mereka saling baku hantam. Chris terlihat jago bela diri dan menakjubkan.
__ADS_1
"Si Chris ternyata keren juga." Gumam Calista. seketika dia menoleh kearah mobil hitam yang membawa Alea. Dia melihat Alea yang berusaha untuk melepaskan diri dari pria yang mencengkram pergelangan tangannya. Melihat itu, Calista turun dari mobil untuk membantu Alea.
"Lepaskan aku." Teriak Alea.
Bugh.
Calista memukul pria yang mencengkram tangan Alea dengan kayu hingga dia tak sadarkan diri. Chris sudah berhasil membuat beberapa orang dari mereka terkapar di tanah.
"Calista, Alea. Cepat masuk ke mobil." Teriak Chris.
Alea dan Calista pun berlari menuju mobil. Namun tiba-tiba salah satu pria itu berhasil menangkap Calista.
"Kena kau!"
"Calista." Gumam Alea, dia pun membantu agar pria itu mau melepaskannya. Tiba-tiba orang itu mengeluarkan senjata dan mengancam akan menebas leher Calista jika Chris melawan. Akhirnya Chris pun menyerahkan diri dan di-gebukin mereka.
Saat Chris sudah tak berdaya, mereka pun membawa Alea, Chris dan Calista masuk kedalam mobil. Sementara beberapa anak buah Carlos yang lainnya membawa mobil Chris.
Kurang lebih tiga puluh menit lamanya. Mereka telah sampai di mansion Bratajaya. Anak buah Carlos membawa Alea, Chris dan Calista ke gedung belakang dan menguncinya disana.
"Aku tidak menyangka kalau tuan Arthur akan melakukan ini! aku pikir tuan Arthur sudah berubah." Ucap Alea tiba-tiba yang membuat Chris dan Calista menatap kearahnya.
"Tadi tuan Arthur mengirim pesan padaku, dan memintaku untuk menemuinya di taman! tapi ternyata dia menjebakku."
"Aku yakin bukan Arthur yang melakukannya! tapi ayahnya." Sahut Chris.
"Kenapa tuan Chris bisa se-yakin itu? padahal jelas-jelas aku menerima pesan itu dari nomer ponselnya."
"Sebenarnya Arthur telah lebih dulu ditangkap oleh tuan Carlos."
"Apa?!" Alea terkejut.
"Ya. Dan aku yakin sekali kalau yang menjebakmu itu ayahnya." Lanjut Chris.
"Apa tuan Carlos akan menyakiti tuan Arthur? anak kandungnya sendiri." Batin Alea.
"Bagaimanapun caranya, kita harus keluar dari sini! aku sangat mengkhawatirkan Arthur." Ucap Calista.
__ADS_1
Ceklek.
Perlahan pintu terbuka. Carlos dan Arthur masuk ruangan itu.
"Alea..." Arthur langsung melepaskan ikatannya. Chris dan Calista terkejut, saat melihat Arthur yang tampak lebih mengutamakan Alea dibandingkan Calista, pacarnya. Setelah melepas ikatan Alea dia pun melepas ikatan Calista dan Chris.
"Apa yang ayah lakukan? kenapa ayah juga menyekap Chris dan Calista?" tanya Arthur.
"Karena mereka sudah berusaha untuk menggagalkan rencana ayah, untuk membawa Alea kembali kesini. Secara tidak langsung mereka juga telah terlibat dengan kalian untuk menentang ayah." Ucap Carlos. Dia pun menghampiri Alea dan memegangi dagu-nya.
Arthur mendekati ayahnya, namun tiba-tiba kedua tangannya dipegangi anak buah Carlos.
"Istri kecilku ini memang sangat suka berpetualang!" Ucap Carlos dengan suara pelan. "Sekarang aku ingin bertanya untuk terakhir kalinya. siapa orang yang telah merenggut kesucian-mu dariku?"
Chris dan Calista tercengang mendengar itu. Jadi Alea sudah tidak suci lagi? Siapa yang sudah merenggut mahkotanya? kenapa Alea mau memberikan kesuciannya pada laki-laki yang belum tentu menikahinya? apa Alea sebodoh itu? pikiran itu pun terngiang-ngiang di kepala Chris dan Calista. Meskipun mereka belum lama mengenal Alea, tapi mereka percaya kalau Alea seorang wanita baik-baik.
"Bukankah sudah aku katakan! kalau orang yang telah merenggut kesucianku sudah tiada." Lirih Alea.
"Jangan bohong!" Bentak Carlos. Dia pun menadahkan tangan kepada anak buahnya. Pria itu memberikan sepucuk surat, dan Carlos pun menunjukannya kepada Alea. "Lalu ini apa?" Carlos mendekatkan surat itu pada wajah Alea agar dia bisa membacanya.
(Aku harap uang 100 juta ini cukup untuk menebus kesalahan yang sudah aku lakukan kepadamu semalam. Minumlah pil KB ini untuk mencegah sesuatu yang tidak kau inginkan! aku harap pertemuan kita akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir)
Ternyata itu surat yang Arthur tulis, sebelum dia pergi meninggalkan hotel. Carlos menemukan surat itu dari kamar yang pernah Alea tempati. Karena Alea meninggalkan semua barang-barangnya disana, termasuk ponsel dan dompetnya.
"Aku tidak tidak menyangka, kalau harga tubuhmu hanya senilai seratus juta rupiah! padahal aku telah memberikan jumlah sepuluh kali lipat dari orang itu, kepada ibu-mu."
Ucapan Carlos membuat Alea beberapa kali harus meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan dipermalukan seperti itu, oleh Carlos.
"Cukup ayah! ayah tidak boleh ngejudge Alea seperti itu. Kalau pun ada orang yang harus disalahkan, orang itu adalah aku! anak ayah sendiri, karena aku yang saat itu memper*kosanya." Jelas Arthur.
"Apa?" Calista meneteskan air matanya ketika mendengar pengakuan Arthur. Calista berusaha melepaskan tangan pria yang mencengkramnya lalu menghampiri Arthur. "Arthur, katakan kalau kau tidak mungkin melakukan itu? tolong jangan sakiti aku dengan kebohongan-mu ini." Calista sudah berlinang air mata.
"Maafkan aku Calista. Aku sudah mengecewakan-mu!" Arthur merasa sangat bersalah.
Melihat itu Alea menjadi tidak tega jika harus mematahkan hati Calista. Orang yang selama ini sudah membantunya. Alea tahu betul bagaimana perasaan Calista terhadap Arthur yang begitu dalam. Selama Alea tinggal bersama di apartemen milik Calista, dia tak henti-hentinya menceritakan semua tentang Arthur. Calista juga mengatakan kalau dia sangat mencintai Arthur dan menginginkan Arthur menjadi pendamping hidupnya.
"Tuan Arthur tidak perlu mengakuinya, karena orang itu bukan tuan!" Ucap Alea. "Jangan menyakiti perasaan Calista hanya karena tuan ingin melindungiku dari ayah tuan."
__ADS_1
Arthur terkejut, mengapa Alea tidak mau mengakuinya.