
***
Vanya merindukan putri kesayangannya yang sudah beberapa bulan terakhir tidak bertemu. Dia pun mengambil ponsel lalu menghubunginya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Vanya lewat sambungan teleponnya.
"Kabarku baik bu. Ibu dan ayah kapan pulang? aku sangat merindukan kalian." Calista sangat antusias ketika menerima telepon dari ibunya. Banyak sekali yang ingin dia ceritakan kepada ibunya, terutama soal Arthur. Satu-satunya laki-laki yang membuatnya tidak bisa berpaling kepada laki-laki lain.
"Ibu senang mendengarnya. Kau harus pandai-pandai menjaga kesehatanmu karena ibu tidak selalu ada untukmu, ibu tidak mau kau sakit karena pastinya tidak akan ada yang memperhatikan mu."
"Iss, ibu salah! disini ada Arthur yang selalu perduli dan memperhatikan aku. Dia juga sering membawakan obat dan makanan jika aku sedang sakit." Jawab Calista antusias.
"Benarkah? bukankah kau bilang kalau Arthur itu jarang sekali mau main ke apartemenmu setiap kau mengajaknya."
"Arthur memang jarang main ke apartemenku. Tapi dia selalu menyuruh Chris untuk mengantarkannya."
Vanya tertegun sejenak mendengar ucapan Calista.
"Aku punya kabar baik untuk ibu." Seru Calista.
"Kabar apa sayang?"
"Arthur sudah kembali mengingat semuanya." Calista antusias.
Vanya tidak terkejut mendengarnya, karena kemarin Carlos sudah menceritakan semuanya secara detail. Namun dia berpura-pura tidak tahu, sesuai dengan kemauan Carlos yang menginginkan dia dan suaminya untuk merahasiakan kedatangannya.
"Mengapa ibu diam saja? apa ibu tidak senang?" tanyanya.
"Tentu saja ibu sangat senang. Ya sudah ibu tutup dulu ya sambungan teleponnya, nanti ibu akan menghubungimu lagi." Pungkasnya mengakhiri telepon.
***
Satu minggu kemudian.
"Hari ini orangtua Calista pulang! apa kau tidak ingin menemani dia untuk menjemput ayah dan ibunya dibandara?"
"Aku belum siap untuk bertemu dengan mereka." Sahut Arthur seraya menghisap rokok yang ada ditangannya.
"Calista itu gadis yang baik, dan dia juga cantik! apa kau tidak bisa mencintainya dengan sepenuh hati dan menjadikannya pelabuhan terakhirmu?" tanya Chris.
"Aku tidak bisa! karena dari awal aku tidak benar-benar mencintainya. Kau yang memaksaku untuk membalas perasaannya, hingga sampai sekarang aku terjebak dengan situasi seperti ini. Posisi dimana aku tidak bisa memaksakan, tetapi aku juga tidak ingin mengecewakan." Sahut Arthur.
"Apa ada wanita lain yang membuatmu sulit untuk bisa menerima kehadiran Calista?" tanyanya.
"Dulu tidak! tapi sekarang ya." Jawab Arthur.
"Siapa? dan sejak kapan? kenapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya?" Chris memborong pertanyaan sekaligus.
__ADS_1
"Alea." Singkat Arthur.
"Wah gila. Kau memang benar-benar sudah gila!" Resah Chris. Dia pun mengambil minuman soda dari lemari pendingin, dan duduk disampingnya. "Bagaimana bisa kau mencintai ibu tirimu sendiri?"
"Aku juga tidak tahu! karena semuanya mengalir begitu saja." Sahut Arthur.
"Tidak! kurasa itu bukan cinta. Tapi kau hanya sekedar mengasihaninya saja. Aku yakin kalau kau hanya merasa iba kepadanya."
"Awalnya aku juga sempat berpikir seperti itu! tapi makin lama perasaan ini semakin tumbuh begitu besar hingga aku bertekad untuk merebut Alea dari ayahku."
"Kau memang sudah tidak waras! kau berniat untuk bersaing dengan ayahmu sendiri, dimana akal sehatmu?"
"Bukankah cinta itu memang buta? aku tidak perduli walaupun kini yang jadi sainganku adalah ayah kandungku sendiri." Ujar Arthur.
"Bukan saingan! tapi ayahmu memang sudah memiliki hak sepenuhnya atas diri Alea. Sudahlah, sebaiknya kau jauhi Alea dan fokus pada hubunganmu dengan Calista." Decak Chris kepada sahabatnya.
"Aku tidak bisa! karena sebelumnya aku tidak pernah memiliki perasaan sedalam ini kepada seorang wanita. Dan aku harus memperjuangkan Alea! suka atau tidak, aku akan tetap melakukannya." Jelas Arthur. "Dan satu hal yang harus kau tahu! kalau aku lah orang yang benar-benar telah menodai kesucian Alea. Alea mengelaknya, karena dia mau menjaga perasaan Calista dan Alea tidak ingin Calista terluka." Lanjutnya.
"Brengsek!" Chris berdiri.
Bugh...
Chris langsung memukul wajah Arthur, sehingga dia jatuh tersungkur.
"Chris apa yang kau lakukan?" teriaknya.
Arthur tertegun sejenak mendengar ucapan Chris seraya memegangi pinggiran bibirnya yang sedikit berdarah. "Aku harus pulang." UJarnya kemudian bergegas untuk pergi.
"Jauhi Alea, jika kau memang masih menganggapku sebagai sahabatmu!" Teriakan Chris menghentikan langkah kakinya.
Arthur memutar balik badannya. "Kalau aku tidak bisa menjauhi Alea, lalu apa yang akan kau lakukan?" tanyanya sedikit menantang.
"Maka jangan pernah temui aku lagi!" Ucap Chris bernada ancaman.
Arthur mendekati Chris dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jaga dirimu baik-baik." Ucap Arthur seraya menepuk-nepuk pundak Chris lalu kemudian pergi.
"Arthur. Kenapa kau begitu keras kepala!" Gumam Chris merutuki sahabatnya.
Di mobil Arthur tidak bisa fokus mengemudikan mobilnya sehingga beberapa kali dia hampir saja menyerempet pengguna jalan lain. Saat ingin berbelok arah tiba-tiba mobil dari arah berlawanan melaju sangat kencang hingga nyaris saja mobil keduanya bertabrakan.
Seorang wanita cantik dan seksi keluar dari mobil dan mendekati mobil Arthur serta menggebrak kaca nya. "Turun..." Teriaknya.
Arthur melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobilnya. "Kenapa?" tanya Arthur dengan wajah datar.
"Arthur..." Seru Angela. Dia tak menyangka kalau orang yang ada didalam mobil itu adalah Arthur, anak dari rekan bisnis ayahnya.
"Kenapa kau meneriaki ku?" Tanya Arthur lagi.
__ADS_1
"Ternyata itu kau. Bagaimana kalau kita cari tempat untuk ngobrol? sebentar saja. Please?"
"Maaf aku tidak bisa." Tolak Arthur.
Angela mendekati Arthur dan mengamati darah yang ada diujung bibirnya. "Arthur, apa yang telah terjadi padamu? mengapa bibirmu terluka?' Ucapnya seraya hendak menyentuhnya namun dengan cepat Arthur menepisnya.
"Bukan urusanmu!"
"Arthur aku minta maaf, kalau pertemuan pertama kita waktu itu tidak begitu mengesankan. Tapi kalau boleh jujur aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat lagi."
Namun Arthur tak bergeming mendengar perkataan Angela.
"Sekarang kau mau pergi kemana?" tanya Angela.
"Pulang." Singkat Arthur.
"Kebetulan sekali! apa aku boleh ikut? soalnya aku ingin sekali bertemu dengan ayah dan ibumu." Angela tampak antusias.
"Jam segini ayah masih dikantor." Ucap Arthur setelah melihat jarum jam ditangannya.
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan ibumu saja! boleh kan?" tanyanya.
"Tidak bisa! jangan sekarang." Cercah Arthur.
"Kalau aku ingin bertemu denganmu apa itu tidak bisa juga?"
Arthur mengkerut kan keningnya.
"Tolong kasih aku waktu sebentar saja? aku ingin bicara denganmu." Ujar Angela.
"Kalau begitu bicaralah." Ucap Arthur masih dengan muka datarnya.
"Disini?" tanya Angela.
"Ya." Singkat Arthur.
"Bagaimana kalau kita cari caffe disekitar sini? biar ngobrolnya juga bisa lebih nyaman."
"Tidak bisa! aku ingin segera pulang. Katakanlah apa yang ingin kau katakan."
"Aku mencintaimu!" Ucap Angela secara spontan. Ucapan Angela membuat Arthur menohok tak percaya akan kalimat yang dikeluarkan dari mulut gadis cantik nan seksi itu. "Aku mencintaimu Arthur. Jujur sejak pertemuan kita waktu itu, aku tidak bisa berhenti untuk memikirkanmu." Ujar Angela dengan berani.
"Sorry aku harus segera pergi." Saat Arthur hendak meninggalkan Angela dengan cepat dia menghalanginya dan berdiri tepat dihadapan Arthur.
"Kau belum menjawab pertanyaanku? bagaimana dengan perasaanmu sendiri terhadapku? apa kau juga mencintaiku?" Ucap lembut Angela. Perlahan dia pun mendekatkan wajahnya kepada Arthur dan hendak menciumnya. Namun Arthur mendorong tubuhnya.
"Apa kau tidak punya malu? kita sedang berada ditempat umum, dan beraninya kau berbuat tidak senonoh dimuka umum." Decak Arthur kemudian pergi berlalu meninggalkan Angela.
__ADS_1
Angela menatap kepergian Arthur dan mencerna kembali ucapannya. "Dimuka umum? apa kalau ditempat sepi Arthur mau bercumbu denganku? akh sial! seharusnya aku tidak melakukan itu tadi." Gumam Angela merutuki dirinya sendiri.