
Kring kring kring...
Ponsel Arthur berdering, seketika Arthur tersenyum menyeringai. Ini bisa menjadi alasan untuknya agar bisa segera pergi dari tempat itu.
"Aku sudah kembali ke Indonesia, bagaimana kalau nanti malam kita happy-happy di bar? sekalian banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu." Ujar Dylan dari sambungan teleponnya.
"Kita lihat saja nanti." Pungkasnya langsung menutup teleponnya begitu saja, padahal Dylan belum menyelesaikan ucapannya.
Arthur kembali menghampiri Ibunya. "Ibu aku harus segera pergi."
"Kau mau kemana?" tanya Samantha.
"Aku ada urusan sebentar." Jawab Arthur.
"Sepenting apa urusanmu itu sehingga kau harus pergi terburu-buru, padahal kita masih harus membahas rencana pertunangan kalian." Ucap Carlos.
"Emm, aku juga harus segera pergi! tidak apa-apa kan ayah?" tanya Calista menoleh kepada Giovano.
"Kalau begitu kau antar Calista ketempat yang akan dia tuju sekarang." Pinta Carlos kepada Arthur. Kini Arthur dan Calista saling menatap satu sama lain.
"Tidak perlu tuan Carlos, aku membawa mobil dan aku bisa pergi sendiri." Ucap Calista tersenyum ramah kepadanya. Dia tahu kalau saat ini Arthur mungkin sedang ingin sendiri.
"Tidak apa-apa, aku akan mengantarkanmu." Ucap Arthur, karena dia pun merasa ada hal yang harus dia bahas bersama Calista.
"Tapi mobilku?"
"Mobilmu biar ibumu yang bawa. Karena sepulangnya dari sini, ayah akan langsung pergi kekantor. Dan ibumu bisa langsung pulang ke-mansion." Ujar Giovano.
Sepertinya yang tampak sangat antusias dengan pertunangan Arthur dan Calista adalah Giovano dan Carlos. Giovano akan diuntungkan dengan investasi yang akan diberikan Carlos terhadap perusahaannya, sementara Carlos bisa menjauhkan Arthur dari istri kecilnya.
*
"Sepertinya kau tidak senang dengan keputusan ayahmu yang ingin segera mempersatukan cinta kita." Ucap Calista memecah keheningan didalam mobil.
"Ini terlalu cepat untukku. Seharusnya ayah bertanya padaku terlebih dahulu sebelum dia mengambil keputusan." Sahut Arthur tetap fokus kedepan.
__ADS_1
"Kalau kau mau, aku bisa meminta ayahku untuk menunda acaranya sampai kau sudah benar-benar yakin kepadaku."
Seketika Arthur menoleh kearah Calista dan menghentikan laju mobilnya. "Betul yang dikatakan oleh Chris kalau kau itu memang gadis yang baik, tapi kenapa aku tidak bisa tulus mencintaimu." Batinnya.
"Kenapa diam saja? aku tahu kalau kau tidak senang dengan keputusan kedua orangtua kita." Lanjut Calista.
"Soal itu kita bahas lagi nanti. Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan sesuatu untukmu, tapi tidak kubawa karena aku tidak tahu kalau kita akan bertemu." Ucap Arthur.
"Tidak apa-apa." Ucap Calista dengan tersenyum yang dibuat-buat. "Sebenarnya aku tidak ingin kado apa-apa, karena yang aku inginkan saat ini hanyalah kata iya darimu! tentang rencana pertunangan yang akan digelar pada minggu depan nanti." Batinnya.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Arthur.
"Ke apartemen." Singkat Calista.
"Apa kau tidak ingin pulang ke-mansion bersama ibumu?" tanya Arthur.
"Saat ini aku hanya ingin sendiri." Lirih Calista tanpa sedikitpun menoleh kepada Arthur.
Melihat sikap Calista yang tiba-tiba dingin membuatnya merasa sedikit bersalah. Diapun meraih tangan Calista lalu menggenggamnya. "Aku minta maaf, karena sikap aku tadi mungkin sudah melukai perasaanmu."
Arthur menatap nanar wajah Calista yang menyimpan begitu banyak kesedihan kerena nya. "Bukan kau yang egois, tapi aku! seharusnya aku bisa mencintaimu dengan tulus, bukannya malah menghianatimu dari belakang seperti ini. Walaupun saat ini Alea belum bisa berterus terang soal perasaannya terhadapku. Tapi aku tahu kalau dia juga mencintaiku." Batin Arthur.
Arthur mengangkat tangan lalu menyeka air mata Calista yang mulai bercucuran membasahi pipinya. "Jangan menangis! bukankah kau tahu betul, kalau aku paling tidak suka melihatmu rapuh seperti ini." Ucap Arthur seraya mengusap lembut pucuk kepalanya.
"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Calista.
"Apa?" tanyanya.
"Tolong katakan kalau kau sangat mencintaiku, dan tidak ada wanita lain dihatimu selain aku." Pinta Calista.
Arthur tak mengindahkan permintaan Calista. Dia malah terlihat bingung sehingga membuat Calista marah lalu keluar dari mobilnya, namun Arthur mengejarnya.
"Tunggu..." Arthur meraih tangannya.
"Sudahlah Arthur, tolong biarkan aku sendiri." Ucap Calista yang sudah berlinang air mata.
__ADS_1
"Aku tidak bisa meninggalkanmu dijalanan begitu saja, dengan keadaan seperti ini." Ujar Arthur. "Ayo, aku akan mengantarkanmu pulang." Bujuk Arthur.
"Aku tidak ingin pulang. Sudah aku katakan, sebaiknya kau tinggalkan aku sendiri." Pinta Calista dengan wajah tampak sayu.
"Baik, kalau kau memang tidak mau ku antar pulang, aku tidak akan menemui-mu lagi." Ancam Arthur.
Seketika Calista langsung menurut. Namun saat dimobil Calista tak henti-hentinya terus meneteskan air mata hingga membanjiri seluruh wajahnya.
Arthur merasa iba melihat itu. dia pun mencodongkan tubuhnya menatap kearah Calista. "Calista lihat aku..."
Calista langsung menoleh, tanpa aba-aba Arthur langsung menyambar ranum bibirnya dan melumatinya. Arthur pikir, mungkin dengan cara itu dia bisa membuat Calista berhenti meneteskan air matanya. Mata Calista terbelalak, namun kemudian dia memejamkan mata dan menikmatinya.
***
"Aku ingin sekali membesuk bu Zelia dilapas. Tapi apa tuan Carlos akan mengijinkan aku jika meminta ijin kepadanya?" batin Alea.
Akhirnya Dia pun memberanikan diri untuk menghubungi nomer Carlos, dia tidak perduli mau mendapat ijin atau pun tidak. Yang jelas dia sudah memberi tahu Carlos dengan keinginannya itu. Bukannya marah, Carlos malah senang ketika Alea meminta ijinnya, karena dengan itu dia mulai yakin kalau Alea telah menerimanya sebagai suami.
"Aku tidak menyangka kalau tuan Carlos akan mengijinkan aku dengan mudahnya." Gumam Alea.
Alea keluar dari mansion dan berjalan menuju gerbang. Tiba-tiba mobil berhenti tepat dihadapannya.
"Nona Alea, ayo masuk! tuan besar memintaku untuk mengantar kemanapun nona akan pergi." Ujar sopir di-mansion Bratajaya.
Alea terdiam namun kemudian menurutinya untuk masuk kedalam mobil.
"Kita mau kemana nona?" tanya sopir.
"Ke kantor polisi." Sahut Alea
"Muda dan cantik. Aku harus menyebutnya apa? beruntung karena telah menikah dengan orang nomor satu seperti tuan Carlos? Atau malang karena harus dipaksa menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua darinya?" Batin sopir yang pernah main kejar-kejaran dengan Alea, sewaktu Alea ingin melarikan diri dari Carlos.
"Tolong jalan pak." Pinta Alea yang melihat sopir itu malah bengong seraya menatapnya dari kaca mobil.
"I-iya nona." Sopir itu segera menancap gas mobil yang dia kendarai.
__ADS_1