Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
39 jeruji


__ADS_3

Untuk sementara waktu Alea ditahan, hingga sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. Didalam penjara Alea diperlukan seperti binatang oleh salah satu penghuni lapas itu.


"Hey kau..." panggil perempuan berbadan gemuk itu. Alea pun menoleh. "Sini kau." Lanjutnya melambaikan tangan.


"Ada apa bu?" tanya Alea.


Seketika perempuan itu langsung menarik tangan Alea dan memukul wajahnya hingga memar. "Akhh..." Rintih Alea. "Kenapa ibu memukulku?" tanyanya.


Bukannya menjawab, perempuan itu malah memutar-mutar tubuh Alea sehingga membuatnya sempoyongan. "Ibu cukup bu! apa yang ibu lakukan? kepala ku terasa pusing." Ucap Alea memegangi kepalanya.


Plaakkk. Tanpa alasan yang jelas perempuan itu terus menyiksa Alea, hingga wajahnya penuh dengan luka lebam. "Anggap saja ini sebagai awal perkenalan kita. Mulai sekarang kau harus menuruti semua perintahku." Ucapnya seraya mencengkram kuat kedua sisi pipi Alea.


Malam hari, Alea duduk termenung disaat yang lainnya telah tertidur nyenyak. Dia tidak pernah membayangkan akan merasakan bagaimana dinginnya jeruji besi.


"Hiks... Hiks..." Suara tangisan Alea membuat salah satu dari mereka terbangun lalu menghampirinya.


"Kau terlihat anak yang baik? apa kesalahanmu sehingga bisa masuk kesini?" tanyanya.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Hiks... Hiks..." Alea menangis tersedu-sedu.


wanita itu mendekap tubuh Alea, dan mengusap lembut pucuk kepalanya. Sehingga membuat Alea menohok dengan perlakuan hangat yang dilakukan wanita itu.


"Sepertinya nasibmu sama seperti ibu! ibu juga tidak melakukan kesalahan apa-apa." Ujar wanita yang usianya sekitar 40 tahunan itu.


Alea terperangah seraya menyeka air matanya. "Lalu kenapa ibu bisa ada disini?" tanya Alea.


"Ibu difitnah! ibu telah dituduh melenyapkan nyawa seseorang. Padahal ibu tidak pernah melakukannya."


"Nasib ibu ini hampir sama sepertiku." Batin Alea. "Lalu bagaimana dengan keadaan tuan Arthur sekarang? aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia merasakan kesakitan."


"Lalu bagaimana denganmu?" Ucap wanita itu membuyarkan lamunan Alea. Alea pun menceritakan kejadian sebenarnya, bagaimana Samantha bisa salah paham terhadapnya.


"Kalau laki-laki itu sudah sadar, seharusnya dia yang dipenjara! karena telah berusaha untuk menodai-mu."


"Tuan Arthur memang telah berhasil menodaiku! jauh sebelum kejadian ini terulang kembali." Batin Alea.


"Nama ibu Zelia. Siapa namamu?" Zelia menyodorkan tangannya kepada Alea.

__ADS_1


"Namaku Alea." Ujar Alea seraya menjabat tangannya.


"Alea, nama yang begitu indah. Pantas saja parasmu begitu sangat cantik." Ujar Zelia.


Alea tersenyum getir. "Tapi nasibku tidak seindah namaku! kehidupan yang ku jalani sangatlah rumit." Batin Alea.


**


"Dokter apa yang terjadi dengan putra-ku? mengapa hingga saat ini dia belum sadar juga?" Samantha yang gundah gulana memikirkan akan kesembuhan Arthur.


"Kita tunggu sampai 24 jam ya bu. Jika pasien tidak sadar juga, akan dipastikan kalau pasien kembali mengalami koma."


"Apa? koma lagi dokter?"


"Sebaiknya ibu berdoa untuk kesembuhan putra ibu. Semoga dalam waktu beberapa jam kedepan, pasien bisa segera siuman."


"Alea, aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Arthur." Batin Samantha.


"Kak Arthur, bangunlah! aku tidak bisa melihatmu seperti ini." Ujar Rachel menatap Arthur yang terbaring dihospital bed. "Aku sudah melarangmu untuk tidak dekat-dekat dengan Alea, kenapa kau malah masuk kedalam kamarnya. Kini aku yakin, kalau dialah orang yang selama ini berniat untuk membunuh-mu." Lanjutnya.


Nyinyiran Stevani membuat Chamela menohok, dan merasa tersindir olehnya. Karena memang dia lah dalang yang sebenarnya.


"Aku akan kekantor polisi." Ucap Carlos.


"Besok saja! ini sudah larut malam. Disini Arthur juga sangat membutuhkan dukungan darimu untuk bisa bertahan." Ujar Samantha.


"Apa aku harus turun tangan untuk melenyapkan nyawa Arthur dengan tanganku sendiri? dengan begitu posisiku akan aman, dan Alea lah yang akan menanggung semua kesalahanku." Batin Chamela dengan senyum liciknya.


"Arthur. Sadarlah nak! ibu tidak sanggup melihatmu seperti ini." Samantha sudah berlinang air mata.


Carlos duduk disofa. Dia berkali-kali membasuh wajahnya dengan kasar. "Aku tak habis pikir, kenapa wanita selugu Alea bisa melakukan ini? apa jangan-jangan selama ini dia dendam kepada keluargaku?" Batin Carlos.


"Aku tidak bisa tinggal diam." Carlos berdiri dari duduknya.


"Tuan Carlos mau kemana?" tanya Stevani saat melihat Carlos pergi dengan tergesa-gesa. Namun pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban.


"Mungkin ayah ingin menemui Alea." Sahut Rachel.

__ADS_1


"Bagus tuan Carlos, jika kau memang ingin menemui Alea. Tuntaskan semua api kemarahan mu disana! kalau perlu, kau bunuh saja dia." Batin Chamela.


"Kalau memang benar seperti itu, aku ingin ikut dengan tuan Carlos. Sepertinya ini akan menjadi tontonan seru." Ucap Stevani. Dan ternyata Chamela juga ikut bersamanya.


Rachel mendekati Samantha dan menyuruhnya untuk beristirahat disofa yang ada diruangan itu. Namun Samantha menolaknya. "Bagaimana ibu bisa tertidur, sementara keadaan Arthur masih saja seperti ini. Sudah lebih dari sepuluh jam lamanya, tapi dia belum sadar juga."


"Tapi kalau ibu tetap terjaga seperti ini, aku takut nantinya malah ibu yang sakit. Lebih baik sekarang ibu tidur ya? ibu tidak perlu khawatir dengan kak Arthur, karena aku yang akan menjaganya." Bujuk Rachel.


"Alea itu terlihat polos dan baik. Ibu tidak pernah menyangka kalau dia akan melakukan ini terhadap Arthur."


"Makanya ibu jangan pernah menilai seseorang itu hanya dari luarnya saja! pastikan juga, kalau orang itu memang benar-benar orang baik. Jaman sekarang banyak sekali orang yang berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan simpati dari orang lain." Ujar Rachel.


*


Seorang polwan membuka gembok jeruji lalu meminta Alea untuk ikut dengannya.


"Tuan Carlos."


Plaakkk...


Tanpa basa-basi Carlos langsung menamparnya. "Wanita tidak tahu diri! selama ini aku sudah cukup berbaik hati mengijinkanmu untuk tetap tinggal di-mansion Bratajaya walaupun kau tidak pernah mau untuk melayaniku." Sentaknya.


"Tuan, jangan bersikap anarkis disini. Atau kami akan meminta tuan untuk segera pergi." Ucap polwan yang sedang mengawasi Alea.


"Tidak pernah mau? apa jangan-jangan Alea memang belum pernah melakukannya dengan tuan Carlos?" Batin Stevani.


"Tuan, tolong keluarkan aku dari sini! aku tidak bersalah." Alea memohon kepada Carlos, berharap Carlos mau membebaskannya.


"Aku tidak pernah habis pikir! aku lihat selama ini Arthur sudah bersikap baik kepadamu, mengapa kau ingin menghabisinya?" Ucap Stevani dengan sinisnya.


"Nyonya Stevani. aku tidak pernah sedikitpun berniat untuk membunuh tuan Arthur, justru dia lah orangnya." Alea menunjuk kearah Calista.


"Kurang ajar! berani sekali kau menuduhku." Bentak Chamela seraya menjambak rambut Alea kebelakang.


"Aakhh..." Rintihnya.


"Nyonya, sudah saya katakan! tolong jangan berbuat anarkis disini. Atau saya akan mengusir nyonya dari sini." Ancaman polwan itu membuat Chamela melepaskan rambut Alea dengan kasar seraya mendorongnya.

__ADS_1


__ADS_2