Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
46 gatal-gatal


__ADS_3

Alea membulatkan matanya. Walaupun tak tahu pasti akan perasaannya terhadap Arthur, namun Alea berusaha untuk mengelak nya. "Jangan ngaco! aku tidak mungkin mencintai tuan Arthur."


"Kasih tahu aku alasan yang jelas, mengapa waktu itu kau tidak jadi memukulku? Arthur terus menekan Alea agar mau berterus terang.


"Tuan Arthur kenapa sikapnya seperti ini? apa jangan-jangan ingatannya sudah kembali?" Batin Alea.


Melihat Alea yang hanya diam saja, Arthur pun mendekatinya. Namun pandangan Arthur terkunci pada beberapa luka lebam yang ada diwajahnya.


"Siapa yang melakukan ini kepadamu? Apakah ayah?" tanya Arthur seraya memegangi dagu Alea dan mengamati luka lebam nya.


Alea menggigit ujung bibirnya lalu menggelengkan kepala.


Glek... Arthur menelan saliva nya. "Alea, apa kau sedang menggodaku!" Batin Arthur meronta ketika Melihat Alea melakukan itu. "Lalu siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanyanya.


"Tuan Arthur kembali care sama aku! apa itu tandanya ingatan tuan Arthur memang benar-benar telah kembali?" Batin Alea.


"Kenapa diam saja? katakan siapa yang telah melakukan ini kepadamu?"


Namun bukannya menjawab, Alea pun malah balik bertanya kepadanya. "Apa ingatan tuan Arthur sudah kembali?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Sebelum tuan Arthur mengalami koma akibat peristiwa penembakan itu, sikap tuan Arthur sebelumnya seperti ini." Jawab Alea. "Berbeda dengan sikap tuan Arthur setelah mengalami amnesia yang begitu cuek dan dingin terhadapku." Lanjutnya.


"Sepertinya aku memang harus berterus terang kepada Alea." Batin Arthur. "Kalau aku bicara jujur padamu, apa kau juga akan berkata jujur kepadaku?" tanya Arthur.


"Memangnya apa yang ingin tuan Arthur tanyakan padaku?"


"Jawab saja pertanyaanku."


"Selagi aku bisa menjawabnya, aku pasti akan berkata jujur." Ujar Alea.


"Jawaban mu tidak meyakinkan." Tuturnya.


Tok Tok Tok...


"Alea, apa kau sudah tidur?" terdengar suara Carlos dari luar. Sehingga membuat Alea panik.

__ADS_1


"Tuan Arthur harus pergi." Titah Alea sedikit mendorong tubuh Arthur kearah jendela dan berharap Arthur mau meninggalkan kamarnya. "Please tuan Arthur, tolong pergi dari sini. Aku tidak ingin terkena masalah." Pinta Alea memohon.


"Alea... Buka pintunya." Carlos semakin keras mengetuk pintunya.


Tak kunjung menuruti permintaannya untuk segera pergi. Akhirnya Alea pun mendorong kasar tubuh Arthur sehingga membuatnya jatuh tersungkur keluar dari jendela.


"Argh..." Pekik Arthur. "Alea, hanya kau yang berani melakukan ini kepadaku." Gerutu Arthur, seraya memegangi pinggangnya yang terasa encok. Namun seperti biasa, dia tak akan pergi begitu saja dengan mudahnya. Karena dia tidak akan membiarkan Alea berduaan didalam kamar bersama ayahnya.


"Alea, mengapa kau lama sekali membuka pintunya?" tanya Carlos penuh curiga, setelah Alea membukakan pintu.


"Maaf tuan, tadi aku habis dari kamar mandi."


"Adakah alasan lain selain itu?" tanya Carlos dengan sorot mata yang tajam.


"Maaf tuan, sebenarnya tadi aku ketiduran."


"Adakah alasan lain lagi selain itu?"


"Maksud tuan?" Alea belum paham.


"Lain kali jika aku mengetuk pintu, kau harus segera membukanya, karena aku tidak mau menunggu terlalu lama."


Carlos menengadahkan wajah Alea. "Aku membawa salep untuk mengobati wajahmu. Karena aku tidak ingin melihat wajah cantikmu ini tertutupi oleh luka lebam yang dibuat oleh para penghuni lapas itu."


"Apa? penghuni lapas? jadi bukan ayah yang memukul wajah Alea hingga seperti itu. Tapi apa hubungannya Alea dengan penghuni lapas? dan bagaimana Alea bisa bertemu dengan mereka?" Batin Arthur yang sedang mengintip dari jendela.


"Bagian mana saja yang luka? biar ku bantu oleskan." Carlos membuka tutup salep dan meletakkannya sebesar biji kacang di telunjuknya. Dia pun mengoleskannya kewajah Alea.


"Aww..." Ringgis Alea.


"Tahan rasa sakitnya, karena ini hanya akan bersifat sementara. Setelah ini, luka lebam mu akan segera sembuh dan tersamarkan."


Arthur cemburu melihat kedekatan keduanya. "Sepertinya Alea sudah mulai membuka hatinya untuk ayah." Batin Arthur. Pikirannya pun kini traveling kemana-mana. Dia yakin, setelah ini pasti keduanya akan tidur bareng, lalu melakukan hubungan suami istri, sebagai mana semestinya.


Dengan raut wajah penuh kekecewaan akhirnya Arthur pun pergi, karena tidak ingin merasakan sakit hati yang lebih dalam lagi.


"Aku yakin Lambat laun aku pasti bisa menaklukkan hatimu." Pikir Carlos dalam hatinya, seraya menatap dalam wajah istri kecilnya. "Aku sadar! kalau wanita sepertimu tidak bisa dipaksa. Karena semakin aku memaksakan keinginanku terhadapmu, maka kau akan semakin berontak. Cepat atau lambat aku pasti bisa menikmati harumnya aroma tubuhmu, ketika kita melakukan kenikmatan bersama-sama tanpa adanya paksaan." Batin Carlos.

__ADS_1


"Terima kasih tuan." Ucap Alea setelah Carlos selesai mengobatinya.


Carlos tersenyum. Itu adalah senyuman pertama yang diberikan Carlos kepada seorang wanita, setelah kematian ibunya.


"Tuan Carlos tersenyum kepadaku? apa aku sedang bermimpi." Alea tiba-tiba memukul pipinya. "Aww..." Pekiknya.


Carlos yang menyaksikan tingkah lucu Alea membuatnya semakin melebarkan senyumannya.


"Ini bukan mimpi! tapi ini nyata!" batinnya. Alea terpaku melihat Carlos tersenyum lebar kearahnya.


Carlos mengangkat tangan lalu memegangi bibir tipis Alea seraya mengusap-usapnya.


Hati Alea mulai dag-dig-dug tidak karuan. Sepertinya akan terjadi sesuatu malam ini antara Alea dan Carlos. Pikirnya.


"Cinta memang tidak pernah mengenal usia! begitu juga dengan diriku." Ucap Carlos seraya mengecup lembut bibir Alea lalu mengulumnya.


Tiba-tiba Alea merasakan sesuatu yang tidak nyaman diwajahnya. Wajahnya terasa panas dan gatal, hingga dia pun terlihat beberapa kali menggaruknya. Merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Alea Carlos pun melepaskan ciumannya.


"Ada apa?"


"Wajahku terasa panas dan gatal tuan." Rintih Alea tak berhenti menggaruknya, bahkan sampai ke-lehernya.


"Sini coba ku lihat?" Carlos mengamati wajah Alea yang kini sudah bintik-bintik merah. "Apa kau alergi makanan?" tanyanya.


"Tidak tuan." Jawabnya.


"Coba pikirkan lagi? siapa tahu kau makan sesuatu yang menyebabkan tubuhmu jadi gatal-gatal seperti ini."


"Aku tidak mempunyai riwayat alergi terhadap makanan tuan." Jelas Alea.


Carlos menoleh kearah botol salep yang tadi dia oleskan pada wajah Alea. "Apa mungkin ini penyebabnya." Gumamnya.


"Tubuhku semakin gatal." Ucap Alea. "Tuan Carlos, tolong. Bisakah tuan pergi dari sini?" pinta Alea.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaaan seperti ini?"


"Aku mohon tuan. Aku ingin membersihkan badanku. Siapa tahu dengan cara itu bisa mengurangi rasa gatalnya." Ujar Alea.

__ADS_1


"Baiklah!" Dengan berat hati Carlos terpaksa menuruti permintaan Alea. Karena semakin lunak hatinya, semakin mudah juga baginya untuk mendapatkan hati Alea.


Alea segera masuk kedalam kamar mandi. Dia mengamati semua bintik-bintik merah itu dicermin. "Apa tuan Carlos sengaja memberikan salep itu padaku agar wajahku merah-merah seperti ini?" Gumam Alea, yang tak mau berhenti untuk menggaruknya. Dia pun segera melepas pakaian dan merendam tubuhnya di air hangat. Tanpa sadar akhirnya dia pun ketiduran.


__ADS_2