
Tap tap tap.
Terdengar suara langkah kaki sedang berjalan menuju gudang, tepat dimana Alea sekarang di-sekap. Sadar akan hal itu, Alea meminta Arthur untuk segera pergi.
"Dasar wanita ja*lang! seharusnya ayah mengusirmu dari sini, karena dari awal aku tidak suka melihat keberadaanmu di rumah ini." desis Rachel seraya menjambak rambut panjangnya.
"Rachel lepaskan aku! apa yang kau lakukan?" pekik Alea berusaha menyingkirkan tangan Rachel yang tengah menjambaknya.
Bukannya melepas, Rachel malah semakin kuat menariknya sehingga membuat Alea memekik kesakitan.
"Rachel tolong lepaskan aku." Rintihnya. Namun apa peduli Rachel? dia malah tersenyum puas melihat ekspresi wajah Alea yang tampak kesakitan akibat ulahnya. Tak ingin di perlakukan seperti itu, Alea pun akhirnya membalasnya. Dia menarik ujung rambut Rachel sehingga membuatnya menjerit.
"Aaa... Lepaskan sialan! berani sekali kau melawanku." Pekiknya. Namun Alea tak mau melepas sebelum Rachel juga mau melepaskan jambakannya.
"Astaga! apa yang kau lakukan terhadap putriku?" Chamela yang baru saja datang, tiba-tiba menarik tangan Alea dan mendorong tubuhnya.
"Sakit bu..." Rengek Rachel kepada ibunya.
"Maaf nyonya, aku tidak akan melakukan itu jika Rachel tidak memulainya."
"Diam kau ja*lang! kehadiranmu disini memang membawa sial untuk semua penghuni rumah." Bentaknya. "Ayo sayang, sebaiknya kita pergi dari sini." Ajak Chamela kepada Rachel.
Arthur menghampiri Carlos di ruang kerjanya. "Kenapa ayah tidak melepaskan Alea dan membiarkannya untuk pergi dari sini?"
"Ayah akan melepaskan Alea setelah ibunya mau menemui ayah, dan mengembalikan semua uang yang sudah pernah ayah berikan kepadanya."
"Berapa jumlah uang yang sudah ayah berikan kepada ibunya? aku akan menggantinya."
Carlos tertawa mendengar ucapannya. "Sungguh? apa kau lupa kalau kau masih hidup dengan semua fasilitas yang ayah berikan. Lalu bagaimana kau bisa menggantinya? apa kau ingin mengganti semua uang yang sudah dibawa kabur Aleta dengan uang ayah sendiri? lelucon apa ini?" Carlos terkekeh.
"Apa ayah juga lupa? kalau selama sebulan ini aku sudah bekerja mati-matian untuk membantu menghandle perusahaan ayah? ayah bahkan tidak menggajiku."
Skakmat. Ucapan Arthur membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Meskipun hanya baru bekerja sebulan, namun tidak dapat dipungkiri kalau kerja kerasnya sangat berpengaruh besar di Bratajaya Corp.
__ADS_1
"Sudahlah! ayah sedang tidak ingin membahas itu. Yang ayah pikirkan sekarang bagaimana caranya agar ayah bisa menemukan laki-laki yang telah menodai Alea. Ayah yakin laki-laki itu pasti masih hidup, tidak seperti apa yang tadi Alea katakan." Ucap Carlos.
"Ayah tidak perlu repot-repot untuk mencari laki-laki itu! karena orang itu sekarang ada dihadapan ayah." Ujar Arthur bersungguh-sungguh.
"Cukup Arthur! kau membuat ayah kesal." Bentak Carlos. "Apa kau sekarang tertarik dengan Alea, sehingga kau terus-menerus membela dan melimpahkan kesalahannya kepadamu?"
"Aku tidak melimpahkan kesalahannya! tapi itu memang kenyataannya, kalau aku-lah laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya." Sentak Arthur.
Bugh.
Carlos lagi-lagi memukulnya. "Keluar dari ruangan ayah. Karena ayah tidak ingin mendengar semua ocehan mu!"
Rachel berjalan menyusuri koridor mansion. Saat melihat Arthur yang baru keluar dari ruangan Carlos dia pun menghampirinya. "Kak Arthur, bibir kakak kenapa?" tanyanya, saat melihat darah segar mengalir di bibirnya.
"Aku tidak apa-apa!" jawab Arthur sedikit ketus.
"Ikut aku kak, biar ku obati." Rachel memegang pergelangan tangannya, namun Arthur menepisnya.
"Tidak perlu! aku bisa mengobatinya sendiri." Ucap Arthur kemudian pergi meninggalkannya.
"Laura, sampai kapan tuan Carlos akan mengurungku seperti ini?" lirih Alea.
"Aku tidak tahu." jawab Laura. Seketika Alea kembali menundukkan kepala di bawah kungkungannya.
Tanpa sepengetahuan Alea, Arthur masuk dan meminta Laura untuk meninggalkan mereka.
"Ibu, kau dimana? mengapa tega sekali melakukan ini kepadaku." Alea menangis terisak-isak. Dia belum menyadari kehadiran Arthur yang berdiri sembari menatapnya.
"Hiks...Hiks...Hiks..." Alea menangis tersedu-sedu. Perlahan Arthur membungkukkan tubuhnya lalu jongkok, kemudian mengusap lembut pucuk kepala Alea dengan lembutnya.
Arthur baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan Alea dengan ayahnya, karena ibunya telah menceritakan semua kepadanya. Arthur menyesal karena selama ini dia telah berprasangka buruk terhadap Alea. Dia pikir Alea itu seorang perempuan yang matre. Yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk dengan menikahi om-om yang dari usianya saja lebih pantas jadi ayahnya.
Perlahan Alea mendongakkan kepalanya, menatap wajah seseorang yang memberikan sentuhan hangat di kepalanya. Deg. Dia sangat terkejut melihat kehadirannya, dan lebih terkejutnya lagi saat dia melihat tangan kekar yang mengelus pucuk rambutnya itu ternyata Arthur. perlahan Alea pun mundur. Karena dia sempat mengira kalau yang mengusap kepalanya itu adalah Laura, tapi ternyata bukan.
__ADS_1
"Tu-tuan Arthur mengapa disini? Laura mana?" Alea tampak kebingungan mencari keberadaannya.
"Dia sudah pergi." Arthur pun melemparkan senyuman untuk pertama kalinya kepada Alea. Alea terpukau melihat senyumannya, karena ini baru pertama kalinya dia melihat senyuman semanis itu dari seorang pria.
Arthur mengkritingkan jari tangannya membawa Alea kealam bawah sadarnya. "Apa yang kau pikirkan?" Ucapannya membuyarkan lamunan Alea.
"Emh, aku-..." Belum selesai bicara Arthur mendekatkan tubuhnya menatap lekat wajah Alea yang tampak memerah akibat menahan malu, karena tidak biasanya dia berbicara sedekat itu dengan seorang pria.
"Aku apa?" tanya Arthur dengan lembut.
"Mengapa sikap tuan Arthur tiba-tiba berubah?" batinnya pun kini bertanya-tanya. Melihat wajah Arthur yang sudah semakin dekat dengannya hingga hanya tersisa jarak beberapa senti, dengan cepat Alea berdiri.
"Kenapa makananmu masih utuh?" tanya Arthur saat menoleh ke-wajan yang terisi beberapa makanan yang sudah dibawakan Laura tadi.
"Aku tidak lapar!" jawabnya.
Arthur mengambil makanan itu, dan mengaduk-aduk nya. "Makan-lah! jika tidak, maka kau akan sakit." Ucap Arthur seraya ingin menyuapi Alea, namun Alea menolaknya.
"Maaf tuan, Tapi aku sedang tidak ingin makan apapun." Ujar Alea. Dia sedikit heran, mengapa tiba-tiba Arthur perhatian kepadanya.
"Cepat makan, semua makanan ini!" sentaknya. "Jika tidak! aku yang akan memakanmu." Lanjutnya.
Glek. Alea menelan Saliva nya mendengar ucapan Arthur.
"Jadi bagaimana? apa kau ingin makan sendiri, atau ingin ku suapi?"
dengan cepat Alea merebut makanan itu dari tangan Arthur. "Aku akan makan sendiri tuan." ucapnya, mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat Arthur menatapnya. Sehingga kini membuatnya jadi salah tingkah.
"Apa kau ingin keluar dari sini?"
seketika Alea langsung mendongak menatapnya. "Bagaimana caranya?"
"Nanti malam, aku akan membantumu untuk melarikan diri."
__ADS_1
"Tuan tidak sedang ingin menjebakku kan?"
"Tentu tidak!"