
Calista membawa Arthur masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya. Arthur sedikit heran dengan apa yang dilakukan oleh Calista. Namun Arthur tetap positif thinking terhadapnya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Arthur.
Calista mengambil salah satu poto bingkai yang ada diatas nakas dan menunjukannya kepada Arthur. "Arthur, coba kau lihat poto kita ini, kita memakai baju cople. Meskipun kau dulu sempat menolak ketika aku membelikan baju ini dengan alasan alay, atau apalah itu! tapi pada akhirnya, kau mau memakainya juga demi aku." Jelas Calista. Dia mendekati Arthur dan mengalungkan tangannya dileher Arthur.
"Arthur, aku ingin kita seperti dulu? jangan lupain aku seperti ini." Calista menjingkakkan kakinya lalu mencium lembut bibir Arthur. Arthur tampak terlihat kaku, Calista pun melingkarkan tangan Arthur di pinggangnya.
"Malam ini, aku rela menyerahkan hidupku untukmu Arthur." Calista mengalihkan Arthur ketempat tidur hingga keduanya jatuh tepat diatas ranjang empuk itu. Calista terus memancing bi*rahi Arthur agar dia bergairah untuk melakukan hal yang lebih dari pada itu.
Ciuman lembut itu berubah menjadi panas, dan membakar seluruh tubuh keduanya. Kini Arthur semakin buas menghisap dan melumati bibir dan lehernya. Tangannya mulai bergerak meraba-raba dibagian pangkalan paha Calista, sehingga membuat aliran darahnya berdesir.
"Aaaah..." belum apa-apa Calista sudah men*desah. Gairahnya semakin bergejolak dan menginginkan Arthur untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar merabanya saja.
Arthur melepaskan kaos yang dikenakannya, dan kembali mencium bibir serta leher Calista. Namun tiba-tiba, samar-samar dia terbayangkan akan sosok wanita lain yang pernah dia perlakukan seperti itu juga sebelumnya.
"Arrghh..." Tiba-tiba Arthur duduk dan memegangi kepalanya yang teramat sakit. Calista terkejut melihat Arthur yang tiba-tiba menghentikan aksinya dan terlihat menahan kesakitan nya.
"Arthur, ada apa denganmu?" Calista terlihat sangat panik.
"Kepala ku sakit sekali." Pekik Arthur yang terus memegangi kepalanya dan menekannya.
Calista mengambil kaos Arthur dan memakaikan nya kembali. "Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang." Calista memapahnya keluar.
"Apa yang terjadi?" tanya Chris ketika melihat Arthur yang dipapah Calista masuk kemobil dalam keadaan kesakitan seraya terus memegangi kepalanya.
"Cepat kerumah sakit sekarang! nanti akan aku jelaskan." Pinta Calista.
Dengan cepat Chris menancap gas mobilnya. Dan sesampainya dirumah sakit, dokter pun menjelaskan alasan mengapa Arthur tiba-tiba bisa merasakan sakit dikepalanya.
"Mungkin pasien terbayangkan akan suatu kejadian dimasa lalunya, dan memaksakan untuk mengingat semuanya. Sehingga membuatnya seperti itu."
Calista tertegun mendengar ucapan dokter. "Kejadian dimasa lalu? apa Arthur seperti itu karena melihat poto kita berdua? tapi dia tiba-tiba seperti itu, saat kita tidur bareng dan hendak melakukannya." Calista mengalami perdebatan batin yang sangat hebat.
"Terima kasih dokter, atas penjelasannya." Ucap Chris.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter dengan ramah.
__ADS_1
Chris mengangguk dan tersenyum kecil.
"Ini semua karena mu! andai saja kau tidak mengajaknya untuk ke apartemen mu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." Rachel menyalahkan Calista, dengan apa yang terjadi kepada kakaknya.
"Sudahlah! tidak ada yang menginginkan ini terjadi. Dokter juga sudah menyuntikkan obat kepada Arthur agar dia bisa beristirahat." Ujar Chris.
"Apa yang harus aku katakan kepada ibu Samantha?" Gumam Rachel.
"Kau tidak perlu khawatir! bukankah tadi dokter juga sudah bilang, kalau kita bisa membawa Arthur pulang setelah dia sadar." Jelas Chris.
Rachel terus menatap sinis kepada Calista. Namun tiba-tiba pandangannya terkunci kepada tanda merah yang ada dilehernya. Dia pun mendekati Calista untuk memastikannya. Ternyata dugaannya benar, itu memang kissmark.
"Apa yang tadi dia lakukan dengan kak Arthur? tadi sebelum berangkat untuk makan direstoran. Aku tidak melihat tanda itu." Batin Rachel.
Setelah Arthur sadar, Chris langsung mengantarkannya pulang.
"Kak Arthur..." Panggil Rachel menghentikan langkah kakinya.
Arthur menoleh kebelakang. "Apa?"
"Sepertinya ini bukan moment yang pas jika aku menanyakan apa yang terjadi di apartemen Calista." Batin Rachel.
"Good night kak." Ucapnya tiba-tiba.
Arthur terkekeh mendengar ucapan Rachel. Namun diapun akhirnya membalasnya juga. "Selamat malam juga." Ucap Arthur, dan untuk yang kedua kalinya dia mengusap rambut Rachel sebelum akhirnya dia pun pergi ke kamarnya.
"Kak Arthur, akankah kau akan tetap bersikap seperti ini? jika ingatanmu sudah kembali. Apakah aku egois jika menginginkan agar kau tidak mengingat masa lalu mu untuk selamanya, agar kita bisa seperti ini terus." Batin Rachel.
***
Semua keluarga besar Bratajaya sudah standby dimeja makan menunggu kedatangan Alea.
"Laura dimana Alea? kenapa belum datang juga." tanya Samantha.
"Sebentar lagi nona Alea akan segera turun nyonya." Tutur Laura.
"Merasa penting banget itu orang!" Cercah Rachel dalam hatinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Alea berjalan menuju meja makan. Rachel berniat untuk mempermalukan Alea dengan cara menjulurkan kakinya menghalangi Alea, sehingga kaki Alea tersandung kakinya hingga terjatuh tepat di-dada sixpack Arthur.
"Sial! niat banget ini orang. Malah nempel didada kak Arthur." Gerutu Rachel dalam hatinya.
Arthur terpaku melihat wajah Alea. "Bola matanya?" Batin Arthur, dengan cepat dia mengalihkan pandangan kearah lain, saat sadar semua orang sedang menatap kearah mereka. Arthur pun mendorong tubuh Alea. "Apa-apaan kau ini?" sentaknya.
"Ma-maaf tuan Arthur. Kakiku tersandung kakinya Rachel." Sahut Alea.
"Enak saja kau menyalahkan aku? makanya kalau jalan itu pake mata." Bentak Rachel.
"Sudah-sudah. Tidak baik bertengkar dimeja makan! sebaiknya kita cepat sarapan." Ujar Carlos.
"Aku yakin, kalau istri termuda ayah adalah orang yang berpengaruh besar untuk kesembuhanku. Aku harus menyelidikinya, apa hubunganku dengan dia sebelumnya? mengapa bayangannya selalu hadir dipikiran ku" Batinnya.
Setelah selesai makan seperti biasa mereka mulai mengerjakan aktivitas masing-masing. Carlos, Stevani dan Chamela berangkat kekantor. Rachel pergi ke kampus, sementara Samantha menyirami tanaman kesayangannya dihalaman belakang.
Alea masuk kedalam kamar dan hendak mengunci pintunya kembali, namun tiba-tiba Arthur datang dan menahan pintunya.
"Tuan Arthur..."
"Aku ingin bicara denganmu." Arthur pun masuk kedalam kamar Alea lalu menutup rapat pintunya.
"Tuan Arthur ingin bicara apa?" tanya Alea menatapnya.
Perlahan Arthur melangkahkan kakinya lebih dekat lagi dengan Alea. Sehingga tubuh keduanya hanya tersisa beberapa jarak sentimeter saja.
"Apa sebelumnya kita pernah menjalani hubungan spesial?" pertanyaan Arthur membuat Alea terkejut. Bagaimana bisa Arthur bertanya seperti itu kepadanya.
"Tuan ngaco! tidak mungkin ada hubungan spesial diantara kita." Jelas Alea.
"Tapi aku merasa, kalau kau itu gadis yang sangat istimewa. Dan mata ini-..." Arthur membelai rambut panjang Alea dan merapikannya kepinggiran daun telinganya.
Alea langsung menepis tangannya. "Tuan Arthur salah orang! wanita spesial dimasa lalu tuan Arthur itu Calista, bukan aku." Jawab Alea.
Arthur menengadahkan wajah Alea dan mengunci pandangannya. "Kau bohong! aku yakin, pernah terjadi sesuatu diantara kita sebelumnya. Kalau memang Calista adalah orang yang paling berarti dimasa lalu ku, mengapa aku tidak bisa merasakan apa-apa ketika aku bersamanya." Ujar Arthur.
"Itu mungkin karena kau telah kehilangan ingatan mu. Asal kau tahu! dulu kau itu sangat mencintai Calista." Ucap Alea.
__ADS_1
"Aku mungkin memang telah kehilangan ingatanku. Tapi tidak perasaanku!" Tegas Arthur.