
Carlos menatap tajam wajah Alea, dia tahu kalau Alea sedang berbohong. Alea pasti sengaja menutupi identitas laki-laki yang sudah berani menyentuh tubuhnya. Namun dia tidak akan tinggal diam! diapun kemudian menatap wajah Arthur yang sedang dipeluk Calista. Dalam hati dia bertanya-tanya? kenapa Arthur mengakui kalau dia-lah yang sudah menodai Alea, padahal Alea sendiri tidak mengakui kalau Arthur yang merenggut kesuciannya.
Carlos menoleh kepada Calista. "Arthur, siapa dia?" Carlos menatap tajam kearahnya.
"Namanya Calista, dia pacarku." Jawab Arthur mengakuinya. Calista bernafas lega, karena Arthur masih mau mengakuinya sebagai pacar dihadapan ayahnya. Meskipun hatinya masih sakit karena pengakuan Arthur tadi, yang mengatakan kalau dia-lah yang telah menodai Alea.
"Lepaskan mereka." Carlos menoleh kepada Calista dan Chris. "Kecuali Alea!" Lanjutnya.
Mereka pun menyeret tubuh Chris dan Calista dan membawanya keluar, serta membebaskannya.
"Kenapa ayah tidak mau melepaskan Alea? apa karena uang yang sudah ayah berikan pada ibunya? kenapa ayah tidak merelakan uang itu saja? lagi pula jumlah uangnya tidak seberapa buat ayah."
"Ini bukan soal nominal uang! tapi nilai dari kejujuran! ayah marah, Sangat-sangat marah, karena Alea sudah membohongi ayah. Seharusnya dia jujur dari awal, bukannya malah terus mengulur waktu ketika ayah ingin menyentuhnya! padahal ayah juga mungkin akan terima dia, jika dia benar-benar mau membuka hati untuk ayah."
"Ayah juga seharusnya lebih tahu diri, kalau usia Alea itu jauh lebih muda dari ayah! dan itu mungkin salah satu alasan mengapa Alea sulit menerima ayah sebagai suaminya."
Carlos mengepalkan tangannya berusaha untuk tetap tenang menghadapi Arthur. "Bawa Alea ke mansion. Dan suruh para pelayan untuk menggantikan bajunya dengan pakaian yang lebih layak." Ucap Carlos kemudian pergi.
Alea sudah selesai dirias. Dia tampak sangat cantik dan anggun, mengenakan dress berwarna merah muda senada dengan high heels yang di pakainya.
"Nona Alea sudah terlihat sangat cantik. Kalau aku boleh kasih saran, sebaiknya nona turuti saja semua keinginan tuan Carlos, agar dia mau memaafkan semua kesalahan nona." Ucap Laura.
"Tapi aku tidak mencintainya Laura! bagaimana aku bisa memenuhi kewajibanku padanya, kalau dia menikahiku dengan cara paksa! dari awal aku memang tidak menginginkan pernikahanku dengan tuan Carlos terjadi." Lirih Alea.
Laura memegangi pundak Alea, meskipun status mereka berbeda. Namun Laura tahu, kalau Alea itu menyama ratakan antara dirinya dan pelayan-pelayan lain. Alea bahkan sudah menganggap Laura seperti temannya sendiri. "Aku tahu, ini pasti berat banget buat nona! terlebih sikap tuan Carlos yang sedikit kasar, itu pasti salah satu alasan mengapa nona Alea tidak tahan untuk tinggal disini. Tapi please, mulai sekarang jangan pernah ada niat untuk mencoba kabur lagi dari sini."
Arthur masuk kedalam kamar Alea. Seketika semua pelayan langsung menunduk dan berhamburan keluar. Arthur menatap Alea dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. "Sangat cantik! kenapa aku baru menyadarinya." Batinnya.
Ditatap seperti itu membuat Alea merasa tidak nyaman dan terlihat salah tingkah. Apalagi saat Arthur menutup rapat pintu kamarnya. "Aku harus segera turun." Alea melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Tunggu!" Arthur memegangi pergelangan tangannya. Dia pun mendekati Alea hingga hanya tersisa jarak beberapa senti.
"Kenapa tuan?"
"Kenapa kau tidak mau mengakui, kalau aku yang sudah menodai-mu waktu itu?"
"Yang lalu biarlah berlalu! aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi." Ucap Alea lalu menundukkan kepalanya.
Arthur memegang dagu Alea dan menengadahkan wajah Alea keatas agar menatapnya. "Apa kau menyesalinya?" tanya Arthur dengan suara yang lembut. Nafasnya terasa begitu hangat, berhembus kuat kewajah Alea. Membuat jantungnya berdegup kencang.
"Wanita mana yang tidak akan menyesal! jika kesuciannya direnggut paksa, seperti apa yang sudah kau lakukan kepadaku waktu itu." Batin Alea, dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Arthur menyelipkan rambut panjang Alea ke-pinggiran daun telinga dan mengusap rambutnya, membuat jantung Alea semakin berdetak kencang.
"Ma-maaf tuan, seperti tadi yang sudah aku katakan, kalau aku harus segera turun kebawah untuk menemui tuan Carlos." Alea terlihat sedikit gelagapan. Namun tiba-tiba Arthur memeluknya dari belakang, membuat Alea tersentak kaget dengan apa yang dilakukan anak tirinya itu.
"Kalau aku boleh jujur! sama sekali aku tidak menyesali kejadian itu. Sejak pertama kali kita bertemu, kau memang sudah berhasil membius-ku dengan kecantikan yang kau miliki." Arthur menenggelamkan wajahnya di leher Alea dan mempererat pelukannya.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padamu beberapa bulan yang lalu! dan aku akan menikahimu." Ucap lembut Arthur, tepat di-daun telinganya.
Deg. Seketika Alea pun melepaskan tangan Arthur yang melingkar di perutnya. "Maaf tuan, aku harus pergi." Dengan cepat Alea meninggalkan kamarnya.
"Masalah apa lagi yang harus aku hadapi sekarang?" Batin Alea merutuki nasibnya.
***
"Tuan Carlos, menurutmu baju tidur mana yang cocok aku kenakan malam ini?" tanya Stevani seraya menentengkan beberapa pakain tidur yang seksi di hadapannya.
"Malam ini aku akan tidur bersama Alea." Ucapan Carlos membuat raut wajah Stevani berubah menjadi muram.
__ADS_1
Alea mengunci pintu kamarnya, dan mengganti pakaian dengan baju tidur kimono. Merasa sangat lelah dia pun merebahkan tubuhnya diranjang, dan memejamkan matanya seraya mendengarkan musik dengan headset. Tanpa dia sadari seseorang masuk menyelinap lewat jendela kamar, lalu mendekatinya.
"Good night." Bisik Arthur, setelah melepas salah satu headset yang dipakai Alea. Sontak Alea langsung membuka mata, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Arthur sedang tersenyum kepadanya. dengan cepat Alea bangkit dari tempat tidurnya.
"Tuan Arthur sedang apa disini?"
"Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu."
"Apa yang tuan katakan?"
"Seharian ini kau menghabiskan waktu bersama ayah! apa saja yang kalian lakukan?"
"Tuan Arthur tidak pantas bertanya seperti itu." Ucap Alea sedikit meninggikan suaranya.
"Aku hanya-..." Arthur menggantung ucapannya di tenggorokan, saat mendengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Alea, buka pintunya! ini aku."
"Ayah..." Gumam Arthur.
"Sebaiknya kau cepat pergi." Refleks Alea tidak sengaja mendorong tubuh Arthur keluar jendela, sehingga dia terjatuh dan tidak sengaja tergores tanaman hias berduri yang ada di atas balkon kamarnya.
"Tuan Arthur, maafkan aku. Aku tidak sengaja mendorong-mu." Ucap Alea seraya memegangi tangan Arthur yang sedikit berdarah.
"Alea, apa kau sudah tidur? mengapa tidak menjawab-ku." Teriaknya dari luar kamar.
"Aku harus menemui tuan Carlos."
Namun saat Alea hendak pergi, Arthur menahannya. "Meskipun ayah itu suami-mu, tapi aku tidak rela dia menyentuhmu." Ucap Arthur dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Sebaiknya tuan cepat pergi! aku tidak ingin terkena masalah, jika tuan Carlos melihat kita berdua di-sini." Alea segera bergegas membuka pintu.