
Dengan tunggang langgang Alea berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia tidak ingin Chamela sampai melihatnya. Pada Arthur saja Chamela berani untuk menghabisinya, apa lagi kepadanya, pikir Alea. Setelah sampai kamar Alea segera mengunci rapat pintunya.
"Sayang sekali, aku belum sempat melihat siapa pria itu." Gumam Alea yang ngos-ngosan. Dia segera merebahkan tubuhnya diranjang dan menyelimuti seluruh tubuh, bahkan wajahnya dengan selimut itu. "Aku tidak menyangka kalau nyonya Chamela yang menyuruh orang itu untuk membunuh Arthur.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? apa aku harus diam saja mengetahui kejahatan yang dilakukan nyonya Chamela? atau aku harus memberi tahu tuan Carlos? tapi apa dia akan mempercayai ucapanku?" Batinnya diambang dilema.
Tok. Tok. Tok...
Pintu kamar Alea diketuk seseorang dari luar. Alea terlihat sangat panik. Apakah Chamela tadi melihatnya saat dia lari? namun Alea berusaha untuk tetap bersikap tenang, supaya Chamela tidak mencurigai dirinya.
Perlahan Alea mendekati pintu kamarnya. Untuk meyakinkan Chamela kalau dia sudah tertidur, Alea mengacak-acak rambutnya dan mengucek kedua matanya.
Ceklek...
Chamela sudah berdiri tegap diambang pintu kamarnya, menatap tajam kearahnya.
"Tenang Alea. Kau harus tetap bersikap tenang!" Batin Alea.
"Sedang apa kau?" tanya Chamela.
"Ada apa nyonya Chamela? apa anda butuh sesuatu?" tanya Alea berbasa-basi.
"Kau baru bangun tidur?" tanyanya dengan ketus setelah mengamati penampilan Alea yang tampak sedikit acak-acakan.
"Maaf nyonya Chamela. Apa anda terganggu dengan rambutku yang berantakan ini? soalnya aku memang baru bangun tidur." Jawabnya berbohong.
"Ya sudahlah." Tanpa basa-basi Chamela langsung pergi menuju kamar Stevani.
"Tak ku sangka, ternyata nyonya Chamela adalah orang yang sangat berbahaya! tapi kenapa nyonya Chamela ingin menghabisi nyawa tuan Arthur?" Batinnya pun lagi-lagi bertanya. Akhirnya dia pun berniat untuk menyelidikinya sendiri.
Setelah Chamela melunasi sisa pembayaran yang telah dia janjikan kepada Jhonny. Jhonny pun segera melarikan diri keluar negeri, dengan beralasan mencari keberadaan Aleta yang tak lain adalah ibu angkat Alea yang hingga sampai saat ini belum bisa ditemukan.
*
Perlahan Arthur menggerakkan jemari tangannya. Sadar akan hal itu, dengan cepat Samantha meminta Rachel untuk segera memanggil dokter.
Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa denyut jantung Arthur yang sudah kembali normal. "Tidak lama lagi putra ibu akan segera sadar." Ucap dokter yang menangani Arthur.
"Terima kasih dokter." Seketika wajah Samantha yang tadinya muram pun kini berseri. Rachel memeluk pundak Samantha dari belakang.
__ADS_1
"Aku senang! akhirnya kak Arthur akan segera siuman." Ucap Rachel penuh haru.
Dan benar saja. Tiba-tiba Arthur membuka kedua matanya dan menatap kearah langit-langit. "Aku dimana?" tanya Arthur.
"Arthur, kau sudah sadar nak." Samantha langsung mencium kening putra kesayangannya penuh kasih sayang, seraya mengusap-usap pucuk kepalanya.
"Kau siapa?"
Deg. Bagai tersambar petir disiang bolong, hati Samantha seketika hancur ketika Arthur tidak mengenalinya.
"Kak Arthur kenapa bu? mengapa dia tidak mengenali ibu?" Rachel tampak gemetaran bingung dengan situasi yang ada.
"Rachel tolong panggilkan dokter sekarang ya." Pinta Samantha tetap berusaha tenang walaupun hatinya hancur.
"Putra ibu mengalami amnesia." Ujar dokter setelah memeriksa keadaan Arthur.
"Apa? kenapa bisa begitu dokter?"
"Maaf bu. Bisa jadi ini terjadi akibat pasien koma hingga mengakibatkan di memorial pikirannya hilang, atau ini terjadi karena saat pasien terkena tembakan, bisa jadi kepalanya terbentur keras kebadan jalan."
"Apa putra saya bisa sembuh dokter?"
"Tentu saja bu! karena amnesia yang dialami putra ibu hanya bersifat sementara waktu. Lambat laun, ingatan putra ibu pasti akan segera kembali."
"Arthur, ini ayah! bagaimana keadaan mu?" tanya Carlos.
"Aku merasa sedikit pusing." Ucap Arthur. Dia pun menoleh ke beberapa wanita yang ada dihadapannya.
"Arthur, dia Chamela. Istri kedua ayah. Dan dia Stevani, istri ketiga ayah." Ucap Carlos menunjuk satu persatu kedua istri mudanya.
Arthur seperti tidak senang ketika ayahnya memperkenalkan istri-istri mudanya.
"Arthur amnesia? kenapa dia tidak mati saja!" Batin Chamela dengan tatapan sinisnya.
"Kalau Arthur amnesia, ini kesempatan yang bagus untukku. Dengan begitu aku bisa mencuci otaknya agar dia mau nurut kepadaku." Batin Stevani tersenyum menyeringai.
"Kalau memungkinkan, aku ingin sekali diperkenalkan sebagai orang lain! agar aku mempunyai kesempatan untuk bisa disukai oleh kak Arthur." Batin Rachel.
"Aku ingin segera pulang." Ucap Arthur.
__ADS_1
"Kau baru saja sadar. Dokter tidak akan membiarkanmu pulang sebelum kondisimu benar-benar sudah membaik." Ujar Samantha seraya terus menggenggam tangan Arthur dan enggan melepaskannya.
"Kita bisa menyewa semua alat medis yang dibutuhkan oleh Arthur." Ucap Carlos secara tiba-tiba.
"Menyewa alat medis? untuk apa?" tanya Stevani.
"Bukankah tadi Arthur mengatakan kalau dia ingin segera pulang."
"Tapi tuan Carlos, keadaan Arthur belum stabil, kita tidak bisa membawanya pulang kerumah." Samantha yang tidak yakin akan keputusan suaminya.
"Soal itu kau tidak perlu khawatir! aku juga akan membayar jasa perawat untuk menjaganya." Jelas Carlos.
***
Setelah sampai di-mansion Bratajaya. Tiba-tiba saja ponsel Carlos berdering.
"Aku harus segera pergi." Ucap Carlos.
"Tuan Carlos mau pergi kemana?" tanya Stevani saat melihat Carlos masuk mobilnya dengan tergesa-gesa.
"Ada hal penting yang harus segera ku urus." Jawabnya. Dia pun meminta sopir pribadinya untuk segera tancap gas.
Semuanya sudah dipersiapkan Carlos. Kamar yang tadinya digunakan sebagai kamar tamu telah disulap bak ruang rawat inap dirumah sakit. Semua peralatan alat medisnya komplit. Carlos ingin memastikan kalau putra pertamanya mendapatkan perawatan yang maksimal.
"Sebaiknya kau beristirahat, agar keadaan mu bisa cepat pulih! sebentar lagi suster yang akan merawat dan memantau kondisimu akan segera datang." Ucap Samantha seraya menyelimutinya.
"Terima kasih ibu." Ikatan batin antara ibu dan anak memang sangatlah kuat. Dengan mengatakan kalau Samantha itu ibunya saja, Arthur sudah dapat merasakan kalau ibunya itu sangat menyayanginya.
Pintu kamar tamu yang sekarang ditempati oleh Arthur dijaga ketat oleh dua pria berbadan kekar. Kedua pria itu tidak akan mengijinkan siapapun masuk kedalam kamar Arthur tanpa seijin Samantha, kecuali keluarga Bratajaya.
"Maaf nona Alea tidak bisa masuk kedalam kamar tuan muda." cercah pria berbaju hitam.
"Memangnya kenapa? aku ingin sekali menemuinya."
"Nyonya Samantha tidak mengijinkan siapapun masuk kedalam kamar tuan muda tanpa seijinnya."
"Bukankah nona Alea juga istri tuan Carlos? kenapa kita tidak mengijinkannya?" tanya pria berbaju putih kepada temannya.
"Bukankah kau juga tahu, kalau nona Alea sering diasingkan dirumah ini."
__ADS_1
"Biarkan saja dia masuk." Ucap Samantha yang baru keluar dari kamar Arthur. "Dia juga bagian dari keluarga Bratajaya. Aku yakin, dia tidak mungkin menyakiti Arthur, atau berbuat yang tidak-tidak kepadanya." Lanjutnya.
"Terima kasih nyonya." Alea segera masuk kedalam kamar Arthur.