Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
54 bertemu Zelia


__ADS_3

Ditengah-tengah perjalanan menuju pulang tidak sengaja Arthur melihat Alea, dia pun memutar balik arah mobilnya untuk mengikuti kemana Alea akan pergi.


"Kantor polisi? untuk apa Alea datang kemari?" Batinnya pun bertanya-tanya ketika sopir Bratajaya memarkirkan mobilnya. Arthur pun menghampirinya ketika Alea sudah masuk kedalam.


"Tuan muda kenapa bisa ada disini?" tanyanya.


"Untuk apa Alea datang kesini?" Tanya Arthur kepadanya.


"Saya tidak tahu tuan muda. Karena saya hanya ditugaskan untuk mengantar kemanapun nona Alea pergi."


"Apa ayah tahu kalau Alea kesini?"


"Tuan besar sudah tahu, tuan."


"Kalau begitu kau boleh pergi, Alea nanti akan pulang bersamaku."


"Baik tuan."


Arthur masuk kedalam untuk mencari keberadaan Alea. "Aku penasaran untuk apa Alea datang kesini." Batinnya.


"Bagaimana keadaan bu Zelia?" tanya Alea seraya menggenggam kedua tangannya.


"Kabar ibu baik. Bagaimana dengan kabarmu sendiri?"


"Kabarku juga baik. Aku minta maaf karena baru bisa mengunjungi bu Zelia." Ucap Alea merasa bersalah. Pasalnya Zelia lah yang selalu membelanya ketika dia dibully oleh para penghuni lapas saat dia masih ditahan.


"Tidak apa-apa. Justru ibu merasa senang ternyata kau tidak melupakan ibu."


"Mana mungkin aku bisa melupakan semua kebaikan ibu. Andai saja bisa, aku ingin sekali membebaskan bu Zelia." Tutur Alea. Dia tak tahu kalau Arthur sedang menguping semua pembicaraannya.


"Siapa wanita itu? kenapa dia terlihat begitu dekat dengan Alea." Batin Arthur.


Zelia tersenyum mendengar ucapan Alea. "Apa tuan Carlos itu ayahmu?" pertanyaan Zelia membuat Alea menohok, dia tak langsung menjawabnya.


"Maaf ibu tidak bermaksud untuk lancang, karena menanyakan itu padamu."


"Tidak apa-apa bu." Ujar Alea.


"Kalau pertanyaan ibu mengganggumu, kau tidak perlu menjawab pertanyaan ibu." Zelia pun tersenyum tipis.


"Tuan Carlos itu suamiku."

__ADS_1


Seketika Zelia langsung membulatkan matanya, tak percaya akan pernyataan Alea. "Sungguh?" tanyanya.


"Iya. Aku dipaksa menikah dengan tuan Carlos oleh ibuku." Lirih Alea.


"Jahat sekali ibumu. Mengapa dia tega menikahkan gadis cantik sepertimu dengan tuan Carlos. Usia kalian bahkan terpaut sangat jauh, dan setahu ibu tuan Carlos memiliki putri yang seumuran denganmu." Tuturnya. Melihat Alea yang hanya diam saja, Zelia pun meminta maaf. "Maaf, ibu sudah kelewatan! tidak sepatutnya ibu ngejudge ibumu seperti itu."


"Tidak apa-apa bu." Alea tersenyum getir.


"Waktu besuk sudah habis." Teriak petugas, dia pun membawa Zelia untuk kembali ke sel.


Arthur segera pergi, sebelum Alea melihat keberadaannya. Dia pun menunggu diparkiran dan bertingkah seolah tidak tahu apa-apa.


"Tuan Arthur... Kenapa tuan bisa ada disini?" tanya Alea sangat heran. Dia pun mencari keberadaan mobil dan sopir yang mengantarnya tadi namun tidak ada.


"Aku sudah menyuruhnya pulang lebih dulu." Ucap Arthur yang seakan tahu apa yang ada dipikiran Alea.


"Hm, kalau begitu aku akan pesan taksi online."


"Tidak perlu! aku akan mengantarmu pulang." Ujar Arthur.


"Tidak perlu tuan, aku akan pulang sendiri." Tolak Alea.


"Apa kau lupa, kalau kita itu tinggal satu atap? ibu tiri tercintaku." Goda Arthur, namun dengan sikap cool nya.


"Kenapa tuan Arthur bisa tahu kalau aku sedang dikantor polisi?" tanya Alea memecah keheningan didalam mobil.


"Tadi aku tidak sengaja melihatmu memutar arah keselatan, karena penasaran jadi aku mengikutimu."


Alea tersenyum getir. Diapun membuka kaca jendela mobil lalu menatap keluar seraya menikmati hembusan angin yang mengayunkan rambut panjangnya.


"Minggu depan aku akan bertunangan dengan Calista." Tutur Arthur.


Alea terbelalak kaget. Dia pun menoleh kepada Arthur mencari kejujuran dibalik ucapannya. Alea tahu bahwa Arthur itu pacar Calista dan mereka menjalani hubungan juga sudah lumayan lama, jadi wajar jika sekarang Arthur sudah berniat untuk serius kepada Calista. Tapi mengapa ada perasaan tidak nyaman dihati Alea ketika Arthur mengatakannya, bukankah itu yang selama ini Alea inginkan kalau Arthur hidup bersama dengan Calista.


"Minggu depan aku akan bertunangan dengan Calista." Arthur mengulangi ucapannya karena melihat Alea yang hanya bengong.


"Oh. Ya bagus!" Ucapnya spontan.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Arthur yang sekilas menoleh kejalanan, dan sekilas menoleh kepada Alea.


"Kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Calista pasti akan bahagia sekali, karena menikah dengan tuan Arthur itu adalah impian terbesarnya." Ucap Alea dengan hati yang sedikit berat untuk mengucapkannya.

__ADS_1


"Sepertinya kalian sudah cukup dekat. Apa saja yang sering Calista bicarakan tentangku?" tanya Arthur.


"Dia bilang kalau tuan Arthur itu orang yang sangat baik."


"Lalu bagaimana menurutmu?" tanya Arthur hingga membuat suasana kini menjadi canggung.


"Kita sudah sampai tuan, aku masuk duluan ya." Alea bermaksud untuk menghindarinya jawaban dari pertanyaan Arthur kepadanya.


Dia berjalan menaiki anak tangga yang disusul oleh Arthur. "Alea..." Panggil Arthur, Alea pun menoleh. "Kau belum menjawab pertanyaanku, kalau aku bagaimana menurutmu? adakah sisi baik di-diriku jika dilihat dari sudut pandangmu?"


"Maaf aku harus mengatakan ini. Aku tidak tahu karena sikap tuan terkadang berubah-ubah." Ujar Alea.


Arthur menohok mendengar pengakuan Alea. "Jika pendapatmu tentangku memang seperti itu, tidak apa-apa aku bisa menerimanya." Ujar Arthur. "Tadi itu kantor polisi tempat kau pernah dipenjara ya?" tanyanya.


Alea mengangguk pelan.


"Aku sudah menceritakan semuanya kepada ibuku. Apa ibu sudah meminta maaf karena telah menjebloskanmu ke penjara?"


"Jadi tuan Arthur sudah menjelaskan semuanya?! lalu kenapa sikap nyonya Samantha masih dingin ya." Batin Alea.


Arthur mengkritingkan jari tangan didepan wajah Alea lalu menyuarakannya. "Kenapa bengong?"


"Emm, aku lelah dan ingin beristirahat." Ujar Alea masuk kedalam kamar dan hendak menutup pintu namun Arthur menahannya.


"Tunggu sebentar, aku belum selesai bicara." Ujarnya.


"Tuan Arthur mau bicara apa lagi?"


"Bagaimana perasaanmu?" pertanyaan Arthur membuat Alea menohok.


"Apanya?"


"Katakan jika kau mencintaiku, maka aku akan membatalkan acara pertunangannya." Tekan Arthur seraya masuk kedalam kamar Alea.


"Kenapa tuan Arthur terus memaksaku untuk mengatakan itu? aku sudah katakan berkali-kali kalau aku tidak mencintai tuan dan sampai kapanpun perasaan itu akan tetap sama. Sekarang lebih baik tuan pergi sebelum ada orang yang melihat kita." Pinta Alea.


Mendengar ucapannya Arthur pun keluar dari kamar Alea. Namun dia tidak benar-benar pergi melainkan dia bersembunyi disisi kiri kamarnya, dia yakin dalam hitungan tiga Alea akan keluar dari kamarnya untuk memastikan kalau dia benar-benar pergi atau tidak.


"Satu, dua, ti-..." Batin Arthur.


Benar saja, Alea keluar dan menatap pintu kamar Arthur yang ada disebelah kamarnya. "Tidak bisa ku percaya! mengapa hatiku begitu sakit saat tuan Arthur mengatakan bahwa dia akan bertunangan dengan Calista." Gumam Alea terus menatap kearah pintu kamar Arthur, sehingga dia tidak sadar kalau Arthur telah berdiri tepat dibelakangnya dan mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Benarkah?" Suara Arthur membuyarkan lamunannya. Alea terkejut saat melihat Arthur tiba-tiba ada dibelakangnya dan dia takut sekali kalau Arthur mendengar gumaman nya.


"Tuan Arthur! sejak kapan tuan disitu?" Alea memelototinya.


__ADS_2