
"Aku sudah berusaha untuk memahami mu, tapi nyatanya malah kau sendiri yang tidak bisa memahami-...." Ucap Alea yang terpotong.
Arthur menempelkan telunjuknya dibibir Alea. "Jangan diteruskan, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu."
Cup.
Sekilas Arthur mengecup bibir Alea, lalu turun ke-lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.
"Arthur... Aaahhhh..." Refleks Alea langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Arthur karena has*rat yang sudah bergejolak akibat sentuhan hangat yang diberikan Arthur, sehingga membuat aliran darahnya berdesir dan tubuhnya meremang.
Suara desah*an Alea membuat Arthur semakin bersemangat dan semakin buas melahap habis kedua bukit kembar lalu sesekali melu*mat dan menghisap pu*tingnya.
"Aaaahhh... Arthur." Alea menenggelamkan kepala Arthur diantara kedua gundukan bukit kenyalnya. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya kembang kempis tak karuan.
Sadar kalau gai*rah Alea yang sudah mulai memuncak Arthur pun melorotkan cela*na jeans serta cela*na dalam*nya lalu menancapkan senjatanya kearah inti Alea.
"Aaaakhhhh..." Alea meringis menahan sakit saat benda keras tak bertulang itu masuk menerobos kedalam area inti dan menyentuh denyut nadinya. Namun perlahan rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa.
Arthur menghentakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur. Alea menengkuk leher Arthur dan mendekatkan wajah Arthur kepadanya lalu kemudian menciumnya.
Disela-sela ciumannya Arthur tampak memicingkan senyuman, karena merasa senang sudah berhasil meluluhkan hati Alea sehingga Alea mau memberikan semuanya dengan suka rela tanpa dia harus memaksanya.
Tibalah saatnya dimana Arthur dan Alea akan melakukan pelepasan. Keduanya mengerang panjang dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh mereka.
***
"Ada apa Calista?" tanya Samantha saat menghampirinya diruang tengah.
"Arthur ada Bu? soalnya dari kemarin aku mencoba untuk menghubunginya tapi tidak diangkat, ponselnya malah dimatikan." Tanya Calista.
"Arthur menginap di-mansion Alea, ketika dia mendengar kabar dari Leon kalau Alea demam." Jelas Samantha.
"Menginap! apa Arthur sekhawatir itu sehingga dia harus menginap segala." Batin Calista.
Sebenarnya Chamela, Stevani dan Rachel sudah mengetahui ada yang janggal antara hubungan Arthur dan juga Alea. Berbeda dengan Samantha yang sudah mengetahui perasaan keduanya namun memilih untuk bungkam demi keselamatan Arthur, putranya.
"Sudah bagus Alea pindah mansion untuk menjauhi Arthur! tapi nyatanya malah Arthur yang tidak mau menjauhi Alea." Batin Samantha, yang sudah mulai was-was karena mulai banyak orang yang mencurigai hubungan keduanya.
...Parkiran....
Arthur membukakan pintu mobil untuk Alea, Alea pun turun.
"Tuan Arthur, sebaiknya Tuan jalan duluan."
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku ingin kita jalan berdampingan." Tolak Arthur.
"Tolong mengertilah tuan. Disini status kita itu sebagai anak dan ibu tiri, aku tidak ingin menjadi gunjingan." Pinta Alea.
Arthur melangkahkan kakinya lebih mendekat lagi kepada Alea, lalu mencodongkan tubuhnya dan berbisik. "Baik Ibu ku sayang..."
Alea bergidik mendengar candaan Arthur, bisa-bisanya dia berkata seperti itu kepadanya. "Aku tidak nyaman kau panggil seperti itu." Protesnya.
Arthur mengulum senyumannya. "Iya sayang..." Bisiknya lagi, tersenyum tipis lalu kemudian masuk kedalam lebih dulu.
"Alea..." Panggil Calista yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Calista..." Alea tersenyum.
"Aku dengar Arthur menginap di-mansion mu?" Calista mulai mengintrogasi.
"Iya." Alea mengangguk pelan.
"Seharusnya kau tidak mengijinkannya untuk menginap! kenapa kau tidak menyuruhnya pulang saat keadaan mu sudah mulai membaik."
"Aku minta maaf. Aku berjanji, lain kali aku tidak akan membiarkannya untuk menginap di-mansion yang aku tinggali sekarang ini." Ucap Alea.
"Sekarang Arthur kemana? dia pasti berangkat kemari bersamamu kan?"
"Ibu mertua apa aku boleh ikut keruangan mu?" Celoteh Calista kepada Alea.
"Jangan menyebutku seperti itu! kau membuat telingaku terasa sakit." decak Alea yang sedang berjalan menyusuri koridor kantor dan di-ekori oleh Calista.
"Nona Alea, bisa kita bicara sebentar?" Pinta salah satu staf yang menghampirinya.
"Oh, ya bisa." Jawab Alea.
"Kalau begitu mari ikut saya." Pinta staf wanita.
"Calista, kau masuklah terlebih dulu! nanti aku akan menyusul." Pinta Alea, dia pun mengekori staf itu.
"Oke!" Calista masuk kedalam ruangan Alea, lalu berdiri menatap keluar jendela.
Ceklek.
Pintu perlahan terbuka. Tanpa melihat siapa yang ada diruangan itu, Arthur langsung memeluknya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya dileher Calista.
"Baru beberapa menit yang lalu kita bertemu! tapi entah kenapa aku merasa sangat merindukanmu." Ucap Arthur tanpa mengecek dulu siapa wanita yang dipeluknya itu.
__ADS_1
"Beberapa menit yang lalu? kita bahkan baru bertemu?" Ucap Calista yang heran mengapa Arthur berkata seperti itu.
Deg. Arthur langsung melepaskan pelukannya.
Pintu kembali terbuka, dan itu ternyata Alea yang baru saja datang. Arthur menoleh kearah wajah wanita yang kini membalik posisi tubuh kearahnya.
"Arthur kau belum menjawab pertanyaanku? apa maksud dari ucapanmu? kenapa kau mengatakan kalau kita baru bertemu beberapa menit yang lalu? bukankah terakhir kita bertemu kemarin malam." Tanya Calista, yang mulai menaruh rasa curiga.
Alea dan Arthur saling melemparkan pandangan.
"Emm, mungkin maksud tuan Arthur beberapa jam yang lalu! iya kan Tuan?" Alea menyela pembicaraan mereka.
"Beberapa jam yang lalu?"
"Ya, coba kalian hitung. Kapan terakhir kali kalian bertemu?" tanya Alea mengalihkan perhatian.
"Kemarin malam, tepatnya jam 7 malam Arthur mengantarkan aku pulang." Jawab Calista.
Alea menoleh kearah jarum jam yang ada diruangan nya. "Berarti baru sembilan jam yang lalu kalian bertemu." Lanjutnya.
Mendengar ucapan Alea, seketika Calista tersenyum lalu memeluk Arthur. "Aku juga sangat merindukan mu." Ucap Calista menenggelamkan wajahnya di dada Arthur.
Alea melemparkan pandangan kearah lain. Sementara Arthur menoleh kearahnya tanpa membalas pelukan Calista.
Beberapa saat kemudian Arthur melempas pelukan Calista. "Kau mau apa kesini?" tanyanya.
"Kenapa dari semalam ponselmu tidak aktif?" tanya Calista.
"Maaf, aku lupa charger." Jawab Arthur berbohong.
Calista mengalungkan tangannya dileher Arthur dan bermanja-manja kepadanya.
"Sayang, minggu depan Ayahku akan mengadakan pertemuan dengan Ayahmu untuk membahas perihal pernikahan kita." Ucap Calista yang antusias.
Melihat raut wajah Alea yang tampak muram, Arthur pun mengalihkan topik pembicaraan mereka kearah lain. "Cal, apa kau bisa mempertemukan aku dengan Chris?"
Calista tertegun sejenak mendengar ucapan Arthur barusan. "Sebenarnya kalian ada masalah apa? kenapa kalian tidak mau memberitahu ku?" tanyanya.
"Masalahnya terlalu rumit untuk diceritakan." Jawab Arthur berbohong.
"Baik, nanti aku akan mempertemukan kalian berdua. Aku harap kalian bisa menyelesaikan permasalahan kalian, supaya masalahnya tidak berlarut-larut." Ujar Calista.
"Aku harus membantu Tuan Arthur agar dia bisa berbaikan dengan Tuan Chris. Karena walau bagaimanapun Tuan Chris itu adalah sahabat Tuan Arthur." Batin Alea, yang terlihat fokus kelayar laptopnya. Namun diam-diam mencermati semua obrolan keduanya.
__ADS_1