
Carlos berusaha meredam amarahnya. Berusaha untuk tetap bersikap tenang walaupun sebenarnya dia ingin sekali memberi pelajaran terhadap istri kecilnya itu. "Apa kau memiliki dendam terhadap keluargaku? mengapa kau ingin melenyapkannya?" tanya Carlos.
"Sudah aku katakan tuan. Kalau aku tidak bersalah, bukan aku yang menyebabkan tuan Arthur seperti itu. Dan aku sama sekali tidak pernah memukul kepalanya dengan lampu tidur yang ada ditanganku." Ujar Alea.
"Kalau kau tidak memukulnya, lalu kenapa Arthur bisa merasakan kesakitan seperti itu?"
"Aku tidak tahu tuan. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu! tapi ada satu hal yang harus tuan tahu, kalau nyonya Chamela lah dalang dibalik penembakan yang pernah terjadi kepada tuan Arthur."
Seketika Chamela langsung menarik tangan Alea lalu menamparnya.
Plaakkk....
"Atas dasar apa kau berani menuduhku hakh?" Sentaknya.
"Nyonya Chamela, sebaiknya anda pergi dari sini." Pinta polwan.
"Tapi saya tidak terima dituduh seperti ini." Sentaknya.
"Tenangkan dirimu kak Chamela. Mengapa kau harus marah seperti itu, jika memang kau tidak merasa." Ucap Stevani.
Chamela menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya. "Baik. Saya akan berusaha untuk tetap bersikap tenang." Ujarnya kepada polwan.
"Aku tidak menuduh nyonya Chamela, tapi aku mendengarnya sendiri dengan jelas, kalau orang yang telah menyuruh orang untuk membunuh tuan Arthur itu nyonya Chamela." Ucap Alea kepada Carlos.
"Cukup! hentikan omong kosong mu itu." Bentak Chamela lagi-lagi.
"Diam!" Kali ini Chamela yang dibentak oleh Carlos. "Stevani bawa dia keluar dari sini. Tunggu aku dimobil." Pinta Carlos kepada istri ketiganya.
"Ayo kak Chamela." Stevani menarik tangannya.
"Tunggu sebentar!" pinta Chamela kepada Stevani. Dia pun meraih tangan Carlos, untuk meyakinkan bahwa yang dikatakan Alea hanyalah bualan semata. "Tuan Carlos, Arthur itu sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri, aku tidak mungkin berniat untuk membunuhnya! jika aku memang berniat untuk menghabisi nyawa Arthur, sudah pasti ku lakukan dari dulu, jauh sebelum wanita ini masuk kedalam kehidupan kita." Sinis Chamela menyudutkan Alea, sebelum akhirnya dia pun pergi.
"Tuan Carlos, aku mohon. Tolong keluarkan aku dari sini." Alea tampak memelas.
"Sebenarnya aku bisa saja menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan dari Alea selama ini. Namun aku tidak bisa menukar keadilan untuk Arthur, dengan kesenanganku." Batin Carlos, menatap lekat wajah Alea yang terlihat sayu.
"Mengapa kau terus menuduh Chamela yang menyuruh orang untuk melakukan penembakan itu?"
"Seperti apa yang tadi sudah aku katakan! kalau aku tidak sengaja mendengar percakapan antara nyonya Chamela dengan seorang pria, yang aku yakin kalau pria itu adalah anak buah tuan Carlos sendiri." Jelas Alea.
"Siapa orang nya?"
"Maafkan aku tuan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu, karena posisi mereka saat itu gelap."
"Apa aku harus mempercayaimu?" Carlos yang tidak yakin akan ucapan Alea.
__ADS_1
"Tuan harus mempercayaiku! karena bahaya sedang mengintai tuan Arthur." Alea tampak bersungguh-sungguh. Sehingga membuat Carlos dilema, ucapan siapa yang harus dia percaya. Dia pun berencana untuk menyelidikinya sendiri. Dan kalau memang benar kalau orang yang telah melakukan penembakan itu adalah anak buahnya sendiri, tentu saja Carlos tidak akan tinggal diam.
"Aku tidak bisa membebaskan mu! karena nasibmu kini ada ditangan Arthur. Tunggu sampai dia sadar, dan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kalian." Pungkasnya, kemudian pergi.
***
"Bagaimana ini dokter? mengapa hingga saat ini putraku belum sadar juga?" tanya Samantha.
"Kondisi jantung anak ibu sudah sangat melemah, kita harus memindahkannya ke ruang UGD untuk ditindak lanjuti."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan putra-ku dokter." Ucap Samantha yang kembali meneteskan air matanya.
"Arthur, kenapa kau begitu menyusahkan ku. Kalau kau memang sudah mau mati, ya mati saja." Batin Chamela.
"Sayang sekali jika kau harus mati diusia yang masih sangat muda." Batin Stevani.
"Arthur, tolong sadarlah! aku sudah menaruh harapan yang sangat besar kepadamu. Aku ingin sekali kita segera menikah karena sebulan lagi ayah dan ibuku akan segera kembali dari luar negeri." Ucap Calista seraya menciumi tangan Arthur.
"Arthur, kau harus sembuh! karena banyak orang yang sangat menyayangimu. Jangan biarkan mereka bersedih karena takut kehilanganmu." Batin Chris.
Saat Rachel keluar ruangan, Chris mengikutinya. "Rachel..." Panggilnya.
Rachel menoleh. "Ada apa?"
"Kenapa kau tidak pernah mengangkat telepon dariku?"
"Apa perlu aku mengambilkannya?"
"Tidak perlu, ini aku juga sudah mau pulang. Sekalian mau ambil pakaian ganti." Ujar Rachel.
"Arthur sangat beruntung mempunyai adik yang begitu perhatian dan peduli kepadanya! ya meskipun kalian terlahir dari rahim yang berbeda."
"Bukan hanya rahim. Tapi pada kenyataannya aku malah berharap sekali kalau kita tidak memiliki ayah biologis yang sama. Tapi itu mustahil! karena pada kenyataannya aku dan kak Arthur itu sama-sama anak kandungnya ayah." Batin Rachel.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya." Rachel hendak pergi namun Chris menggenggam pergelangan tangannya.
"Tunggu..."
"Ya? kenapa?" tanya Rachel.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu! aku bisa sendiri." Tolak Rachel.
"Kenapa begitu sulit untuk menaklukkan hatinnya! apa dia sudah memiliki pria idaman lain?" Batin Chris menatap kepergiannya.
__ADS_1
"Chris..." Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Chris menoleh kearah sumber suara.
"Sedang apa kau disini?" tanya Calista.
"Sepertinya aku menyukai Rachel." Ucap Chris.
"Apa?! kau menyukai Rachel?" tanya Calista tak percaya.
Chris mengangguk. "Ya. Sepertinya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama, kepadanya." Jelasnya.
"Sebaiknya kau cari mainan yang lain saja! jangan Rachel, atau Arthur tidak akan melepaskan mu jika kau berani menyakiti adiknya." Ucap Calista.
"Mainan? aku sungguh-sungguh menyukai Rachel! aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya terhadap seorang wanita." Jelas Chris.
"Kenapa meski Rachel? bukankah kau tahu kalau dia itu orangnya sangat jutek."
"Karena hatiku yang telah memilihnya! aku tidak perduli walaupun dia jutek. Justru sikap juteknya itu yang membuatku semakin penasaran dan ingin memilikinya." Ucap Chris dengan entengnya seraya berjalan.
"Chris kau mau kemana?"
"Menyusul calon pacar." Teriaknya karena posisi mereka sudah lumayan jauh.
"Ada apa dengannya?" Calista menatap heran kepergian Chris. Karena tidak seperti biasanya dia bersikap seperti itu.
"Rachel tunggu..." Teriak Chris lalu menghampirinya.
"Apa lagi?" ekspresi Rachel terlihat sedikit kesal.
"Aku ingin sekali mengantarmu."
"Sudah ku katakan, kalau aku bisa pulang sendiri." Tolak Rachel.
"Tolong jangan salah paham. Semua ini aku lakukan untuk Arthur! aku tahu kalau kalian pasti saling menyayangi, dan sebagai sahabat yang baik, aku ingin menggantikan Arthur untuk selalu menjaga mu."
"Menjaga ku?"
"Ya. Arthur pasti akan menghajarku, jika dia tahu kalau aku tidak menjagamu disaat keadaannya seperti itu."
"Kenapa begitu?"
"Maaf, terpaksa aku harus berbohong." Batin Chris. "Arthur memintaku untuk menjagamu, disaat dia sedang sakit." Jawabnya.
"Kapan kak Arthur bilang begitu?"
"Ya, se-sebelum dia masuk lagi kerumah sakit." Jawabnya sedikit gelagapan karena takut kebohongannya diketahui oleh Rachel.
__ADS_1
"Baiklah! kali ini aku mau untuk kau antar pulang."