Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
43 pertengkaran Rachel dan Chamela


__ADS_3

Carlos membawa Alea kembali ke-mansion. Sehingga membuat Chamela dan Stevani terkejut dengan kedatangan mereka. Keduanya menatap tajam kepada Alea, seperti binatang buas yang hendak menerkamnya.


"Bisa-bisanya tuan Carlos membawa seorang pembunuh untuk kembali tinggal disini." Ucap Stevani.


"Tuan Carlos, tidak bisakah kau mengerti bagaimana perasaan kak Samantha jika dia mengetahui hal ini?" ujar Chamela.


"Ini sudah menjadi keputusanku. Jika ada yang keberatan, maka kalian boleh angkat kaki dari sini." Seketika ucapan Carlos membuat Chamela dan Stevani tak berkutik lagi.


"Aku harus menyingkirkan wanita ini terlebih dulu, sebelum dia menjebloskan aku kekantor polisi." Batin Chamela menatap sinis kepada Alea.


"Alea, kau bisa pergi ke-kamarmu." Titah Carlos.


Alea masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badan. Dia mengguyur seluruh tubuhnya dengan shower. "Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir." Tubuhnya melemah, kakinya seakan tak sanggup lagi menopang beban hidup yang harus dia jalani. Seketika Alea tergulai lemas dilantai dengan air yang terus mengalir deras dari atas ke kepalanya.


"Hiks... Hiks..." Alea kembali menangis meratapi akan nasibnya. Andai saja dia punya tempat untuk bersandar dan mencurahkan semua isi hatinya. Mungkin kehidupan yang dijalaninya tidak akan seberat ini.


"Ibu... Ibu dimana? aku kangen, kenapa ibu tega sekali meninggalkan aku." Gumamnya saat mengingat Aleta. Tiba-tiba Alea menyeka air matanya ketika dia teringat pada Zelia. Satu-satunya orang yang baik kepadanya, saat dalam penjara. "Bu Zelia. Andai bisa, aku juga ingin sekali membebaskan mu."


Keesokan harinya. Entah angin apa, tiba-tiba Samantha pulang, padahal biasanya dia enggan untuk meninggalkan Arthur dirumah sakit, walaupun Rachel membujuknya untuk beristirahat dirumah.


Bruaaaghk...


Pintu kamar Alea dibuka secara kasar, sehingga membuat Alea yang sedang menatap langit dari jendela kamarnya terkejut. "Nyonya Samantha..."


"Jadi benar, tuan Carlos sudah membebaskanmu tanpa sepengetahuanku!" Ujarnya.


"Nyonya, percayalah padaku? bukan aku yang menyebabkan tuan Arthur masuk rumah sakit." Lirih Alea dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan menyangkalnya! aku melihat Arthur meringis kesakitan, dan aku juga melihat kau memegangi lampu itu. Jika kau tidak memukul Arthur, lalu kenapa Arthur bisa seperti itu?"


"Ku-akui, saat itu aku memang hendak memukul tuan Arthur karena dia ingin memper*kosaku. Tapi aku tidak melakukannya karena Arthur telah lebih dulu merasakan sakit dikepalanya."


Plaakkk...

__ADS_1


Wajah Alea seakan sudah menjadi tempat pelampiasan kekesalan para penghuni mansion Bratajaya.


"Berani sekali kau memfitnah Arthur seperti itu! Arthur tidak mungkin melakukan perbuatan terkutuk seperti yang kau tuduhkan." Bentak Samantha.


"Percuma saja aku mengatakannya! tidak akan ada orang yang akan mempercayaiku. Karena dari awal aku menginjakan kaki di-mansion ini, tidak ada yang pernah menganggapku." Batin Alea.


***


Chamela datang kerumah sakit, setelah tahu kalau Samantha sudah ada di-mansion. Dia sengaja mengadukan tindakan Carlos yang membebaskan Alea, sehingga Samantha pulang untuk menemui Alea dan memakinya.


Tidak ada pengawasan lagi dipintu ruang VIP tempat dimana Arthur dirawat, karena Carlos memerintahkan sebagian anak buahnya untuk mencari keberadaan Jhonny. Sejak Alea mengatakan kalau Chamela dalang dibalik peristiwa penembakan yang pernah terjadi kepada Arthur, dia kini mencurigai Jhonny karena tiba-tiba saja dia pergi keluar negeri, dan hanya memberi tahu Carlos lewat sambungan telepon.


Chamela mengendap dipintu ruangan, mengintip kedalam. Saat melihat Rachel sedang standby menjaga Arthur diapun memikirkan cara agar Rachel mau meninggalkan ruangan itu. Beberapa saat kemudian dia menemukan ide, dia menelepon Rachel dan mengatakan kalau mobilnya tiba-tiba mogok ditengah jalan, dan meminta Rachel untuk segera menjemputnya.


Awalnya Rachel menolak, karena dia tidak bisa meninggalkan Arthur diruangan itu tanpa pengawasan. Namun karena ibunya memohon akhirnya dia mau menuruti permintaan Chamela.


"Suster, aku ada urusan sebentar! bisa minta tolong jagain pasien yang ada diruangan VIP nomer 13 tidak?" tanya Rachel kepada perawat yang kebetulan lewat.


"Bisa." Jawab singkat suster itu.


"Sial! kenapa Rachel malah menyuruh suster untuk menjaga Arthur." Gumam Chamela yang bersembunyi agar Rachel tidak melihatnya. Bukan Chamela namanya jika dia tidak bisa memikirkan cara licik lainnya untuk mengalihkan perawat itu agar meninggalkan ruangan Arthur. Kebetulan ada pasien baru melahirkan yang ingin segera pulang, namun dari pihak rumah sakit belum mengijinkan dengan alasan suami pasien tersebut belum membayar biaya administrasi.


Chamela tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memanfaatkan situasi. Dia meminta orang itu untuk mengikuti perintahnya, dengan imbalan kalau Chamela akan melunasi semua biaya administrasi istrinya. Tidak ada pilihan, orang itu menyanggupinya.


"Aarghh..." Pria itu berteriak tepat didepan pintu ruang rawat Arthur. Sehingga perawatan itu keluar dan menghampirinya.


"Ada apa ini? apa anda baik-baik saja?" tanya suster.


"Tolong bantu aku suster, karena kaki-ku tiba-tiba sakit." Ucap pria itu. Tanpa banyak berpikir suster itu langsung memapahnya menuju ruang pemeriksaan.


"Bagus!" Dengan cepat Chamela masuk kedalam ruangan Arthur. Perlahan dia melepas selang oksigen yang dipakai Arthur dan mengambil bantalnya lalu menekankan bantal itu kewajah Arthur.


Ceklek. Pintu perlahan terbuka, dan itu ternyata Rachel. Dia balik lagi karena kunci mobilnya ketinggalan.

__ADS_1


"Ibu..." Rachel terkejut melihat keberadaan Chamela diruangan Arthur. Dan tambah terkejut lagi saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau ibunya itu ingin menghabisi nyawa Arthur. "Apa yang ibu lakukan!" Rachel mendorong tubuh ibunya agar menjauh dari Rachel.


"Rachel, berani sekali kau! aku ini ibumu." Bentaknya.


"Apa yang ingin ibu lakukan kepada kak Arthur? apa ibu ingin membunuhnya?" sentak Rachel. Dia pun memasangkan kembali selang oksigen-nya kepada Arthur. Namun Chamela menarik tangannya dan menamparnya.


Plaakkk...


"Dasar gadis bodoh! kenapa kau begitu peduli padanya. Dia itu hanya akan menjadi penghambat bagimu untuk menjadi penerus utama Bratajaya Corp." Sentak Chamela.


"Jadi karena itu, ibu ingin membunuh kak Arthur? tapi aku tidak akan membiarkan ibu melakukannya." Rachel berusaha untuk mencegah aksi nekad yang akan dilakukan Chamela terhadap Arthur.


Lagi-lagi Arthur menggerakkan jari-jemari tangannya. Tapi kali ini dia perlahan membuka kedua matanya.


"Sekarang ibu cepat pergi dari sini! kalau tidak aku akan mengadukan perbuatan ibu kepada ayah." Gertak Rachel kepada ibunya. Mereka tidak tahu kalau Arthur ternyata telah sadar dan mendengar pertengkaran mereka yang sama-sama berdiri didekat pintu.


"Rachel, buka matamu! apa kau tidak sadar kalau selama ini Arthur itu tidak pernah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga Bratajaya."


"Ibu tidak tahu bagaimana bahagianya aku, ketika akhir-akhir ini kak Arthur mulai mau menganggapku sebagai adiknya."


"Itu karena Arthur amnesia. Ibu yakin setelah ingatannya kembali, dia tidak akan sudi menganggapmu lagi sebagai adiknya."


"Tega sekali ibu berkata seperti itu kepadaku." Seketika Rachel meneteskan air matanya.


Saat Chamela berbalik badan mengarah ke hospital bed Arthur. Arthur kembali memejamkan matanya, dia tidak ingin Chamela tahu, kalau dirinya telah sadar bahkan sudah mendengar semuanya.


Chamela kembali menghampiri Arthur dan melepas selang oksigen-nya lagi.


"Ibu." Rachel mendorong kasar Chamela sehingga membuatnya tersungkur jatuh ke lantai.


"Rachel! apa-apaan kau ini?" Bentaknya.


"Aku tidak akan membiarkan ibu menyentuh kak Arthur, apa lagi membunuhnya."

__ADS_1


"Anak kurang ajar! sini kau..." Chamela menarik tangan Rachel lalu membanting tubuh rampingnya kearah dinding.


"Aakhh..." Pekiknya, saat tangannya terbentur keras Kedinding tembok ruangan itu.


__ADS_2