Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
60 kemungkinan akan berjodoh


__ADS_3

perlahan tapi pasti Alea mulai mengikuti pergerakan yang di lakukan pria itu, dan entah kenapa semakin lama Alea semakin merasa nyaman berada dalam dekapan pria bertubuh sixpack yang sekarang berdansa dengannya. Mereka terus menatap intens bola mata masing-masing tanpa memperdulikan orang-orang disekelilingnya.


Sementara Calista tampak berkali-kali mengganti pasangan dansanya, saat mengetahui kalau beberapa laki-laki yang tadi berdansa dengannya bukanlah Arthur, tunangannya. Dia kembali memutar tubuhnya kearah laki-laki.


"Sayang, aku yakin! ini pasti kau" Ucap Calista tersenyum kepada laki-laki itu.


"Ini aku." Sahut pria yang suaranya terdengar tidak asing ditelinga Calista.


Merasa lelah karena tebakannya selalu salah, akhirnya Calista membuka topengnya. Di-ikuti oleh pria itu yang ternyata adalah Chris.


Sementara Rachel tampak asyik menenggak minuman beralkohol yang ada ditangannya. "Sial! padahal aku sudah gonta-ganti pria lebih dari sepuluh kali, tapi tetap tidak bisa menemukan dimana kak Arthur. Padahal ini kesempatan yang bagus jika aku berhasil menemukannya! dengan begitu aku bisa memeluknya." Batin Rachel merutuki dirinya sendiri.


"Tidak terasa sudah hampir tiga puluh menit lamanya! bagi yang masih bertahan dengan teman dansanya, boleh membuka topeng untuk memastikan apakah orang yang berdansa dengan kalian itu orang yang kalian inginkan? jika ya! kemungkinan dia adalah jodoh anda." Ucap wanita itu.


Alea membuka topeng yang sedari tadi menutupi kecantikannya seraya mengurai rambutnya kebelakang, sehingga membuat pria yang ada dihadapannya lagi-lagi terpukau dengan kecantikan yang dia miliki.


Alea menatap heran laki-laki yang ada dihadapannya. "Tuan, kenapa kau tidak membuka topengmu? acara memakai topengnya telah usai." Ucap Alea.


Perlahan pria itu mengangkat tangan lalu membuka topeng yang menutupi wajah tampannya. Seketika Alea pun sangat terkejut ketika melihat sosok laki-laki yang barusan berdansa dengannya.


"Tuan Arthur..." Gumamnya, ternganga sedikit tak percaya.


"Sesuai dengan apa yang tadi dikatakan oleh wanita itu." Ucap Arthur seraya menunjuk panitia selenggara. "Kemungkinan kita berjodoh." Lanjutnya.


"Wanita itu hanya asal bicara! karena hal yang mustahil jika kita ditakdirkan untuk bersama." Ucap Alea kemudian berlari menghindari Arthur. Saat Arthur ingin mengejarnya tiba-tiba Calista memanggilnya.


Setelah acara selesai, Carlos memarahi Rachel atas tindakan yang di lakukannya tadi saat acara pertunangan kakaknya berlangsung.


"Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu dihadapan klien ayah." Sentak Carlos kepada putrinya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak terima, ketika rekan bisnis ayah mengatakan kalau Alea itu sodaraku." Ucap Rachel kemudian menundukkan kepalanya.


"Lagi pula siapa yang bilang kalau kau akan menjadi putri satu-satunya di-keluarga Bratajaya. Apa kau lupa? kalau ayah sudah menikahi Alea dan otomatis ayah juga menginginkan keturunan darinya." Jelas Carlos.


"Apa?!" Rachel sangat terkejut mendengar pernyataan dari ayahnya.


"Aku tidak akan membiarkan Alea mengandung anak ayah! karna hati Alea itu milikku." Batin Arthur yang tidak sengaja mendengar percakapan antara ayah dan adiknya.


***


Alea sudah membereskan semua barang-barangnya kedalam paper bag, dan meminta penjaga untuk membawanya keluar dari kamar.


Karena ada urusan yang sangat mendesak, tiba-tiba Carlos membatalkan janji untuk mengantar Alea ke mansion tempat tinggalnya yang baru dan menyuruh Leon untuk mengantarkan Alea terlebih dulu, setelah itu Carlos akan menyusul.


Di-perjalanan begitu hening tanpa ada yang mengeluarkan sepatah katapun, padahal hubungan antara Alea dan Leon sudah cukup akrab semenjak keduanya sering menemani Antonio untuk bermain bola.


"Leon, apa kau sudah lama bekerja pada tuan Carlos?" tanya Alea, memecah keheningan di-dalam mobil. Pria itu hanya mengangguk pelan.


"Leon, kenapa kau betah bekerja ditempat tuan Carlos? apa kau tidak tertekan menghadapi keluarganya?" tanya Alea lagi, yang dibalas oleh gelengan kepala pria yang masih fokus mengemudikan mobil itu.


"Dari tadi Leon tidak bicara. Apa tenggorokannya sedang sakit? atau dia takut dimata-matai oleh anak buah tuan Carlos yang lainnya? jika menjelek-jelekkan keluarga Bratajaya." Batin Alea.


"Jika di-ijinkan aku ingin sekali membawa Antonio untuk tinggal bersamaku, agar aku tidak kesepian. Tapi aku yakin nyonya Stevani tidak mungkin akan mengijinkannya, meskipun aku lihat kalau nyonya Stevani kerap kali berbuat kasar dan memarahi Antonio." Ucap Alea panjang lebar, namun sedikitpun pria dihadapannya tak menggubris.


"Leon, bisakah kau menjawab setiap pertanyaan yang aku berikan? melihatmu diam terus seperti itu, aku jadi merasa sedang berbicara dengan tembok." Sindir Alea, namun masih dengan nada santai.


Seketika laki-laki itu menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Alea yang mengatainya tembok, hanya karena dia diam saja.


Melihat Leon yang hanya diam saja tanpa mau menjawab semua pertanyaannya, Alea pun menyandarkan tubuhnya dijok mobil dan membuka jendela untuk menghirup angin segar.

__ADS_1


"Burung saja bisa bisa terbang bebas, masa aku tidak! burung, bolehkah aku iri kepadamu?" Gumam Alea, yang belum sadar dengan ucapannya dan telah didengar oleh laki-laki yang ada dijok depan mengemudikan mobilnya.


Alea kembali membenarkan posisi duduknya menghadap kedepan. "Leon, apa kau pernah jatuh cinta?"


Cekiiittttt...


Pertanyaan Alea membuat pria itu tiba-tiba mengerem mobilnya.


"Ada apa? kenapa kau menghentikan mobilnya secara mendadak. Apa kau menabrak sesuatu?" tanya Alea sedikit panik. Lagi-lagi pertanyaannya dibalas oleh isyarat dengan menggelengkan kepalanya.


"Leon, apa aku membuat kesalahan? kenapa dari tadi kau terus mengabaikanku?" Alea mulai protes karena berpikir kalau Leon sedang marah hingga tidak mau berbicara dengannya.


Kali ini pria itu merogoh ponsel yang ada disaku celananya dan mengetik sesuatu. (Maaf nona, tenggorokanku sedang serak! akan terasa sakit jika aku memaksakan untuk berbicara.) Pria itu menunjukkan ketikannya agar Alea membacanya.


"Maaf, aku pikir kau marah." Ucapnya. "Kalau begitu kenapa kita tidak sekalian kerumah sakit saja untuk memeriksa tenggorokan mu?" tanya Alea.


Pria itu terlihat mengetik lagi layar ponselnya, dan menunjukannya lagi kepada Alea. (Tidak perlu! kemarin aku sudah pergi ke dokter, sekarang tinggal menunggu proses pemulihan).


"Leon, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi. Apa kau pernah jatuh cinta?" Alea mengulang pertanyaan yang sama.


Pria itu terlihat mengetik ponselnya lagi dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya ia fokuskan untuk mengemudi. (Pernah!) Jawabnya lewat ketikan dilayar ponselnya.


"Berapa kali?"


Pria itu tampak mendengus kesal, karena tidak seperti biasanya wanita yang duduk dibelakangnya itu bersikap bawel seperti itu. Bahkan biasanya dia itu bersikap cenderung pendiam. (Satu kali) Jawabnya lewat ketikan di-ponselnya.


"Ya, kau memang terlihat sosok laki-laki yang baik, berbeda dengan tuan Arthur! aku yakin hobinya selain berolah-raga, juga menggombali setiap para wanita."


Deg.

__ADS_1


Pria itu mencengkram kuat alat kemudi yang sedang dia kendalikan, saat mendengar ucapan terakhir Alea yang duduk dijok belakang. Hingga beberapa saat kemudian mereka telah sampai ditempat tujuan.


__ADS_2