
Alea menuruni anak tangga satu persatu hingga sampailah diujung tangga itu. Namun saat dia ingin mendekati Arthur, tiba-tiba Samantha meneriakinya.
"Jangan mendekat! diam disitu, jangan pernah berani-berani untuk mendekati Arthur putraku."
Arthur terkejut melihat Samantha yang tidak biasanya bersikap seperti itu kepada Alea.
Rachel tersenyum menyeringai melihat itu.
"Wanita tidak tahu malu! masih berani menampakkan diri, setelah apa yang dia lakukan kepada Arthur." Desis Stevani.
"Andai saja Rachel tidak menghalangiku waktu itu, mungkin hari ini akan menjadi hari pemakaman Arthur." Batin Chamela.
"Tuan Arthur. Kenapa diam saja? katakan bahwa aku tidak bersalah." Batin Alea. Dia pun meneteskan air matanya.
"Alea menangis? kenapa? apa dia menerima perlakuan buruk lagi dari para penghuni mansion, termasuk ayah." Batin Arthur. Dia melangkahkan kakinya hendak mendekati Alea, namun tiba-tiba dia terdiam dan mengurungkannya. "Aku ingin sekali menyeka air matamu, namun aku tidak bisa melakukannya." Batin Arthur. Dia pun menatap tajam kearah Chamela. " Chamela, kau harus membayar mahal atas apa yang sudah kau lakukan kepadaku!" Lanjut Arthur dalam hatinya.
"Laura, tolong pindahkan semua baju dan barang-barang Arthur kekamar lantai tiga." Pinta Samantha secara tiba-tiba.
"Kenapa bu?" tanya Arthur heran.
"Kamar itu akan lebih aman untuk mu." Ujarnya.
"Laura..." Panggil Arthur saat dia sudah diujung tangga atas.
"Iya tuan muda?"
"Kau tidak perlu memindahkan barang-barang ku. Karena aku sudah nyaman dengan kamarku." Tandas Arthur.
"Kau harus mendengarkan ucapan ibu! ini demi keselamatanmu."
"Ibu tidak perlu khawatir! karena mulai sekarang aku akan lebih waspada lagi. Aku tahu, banyak manusia berhati iblis namun berwajah seperti malaikat." Ujar Arthur seraya menatap sinis kepada Chamela.
"Ada apa dengan Arthur? mengapa dia menatapku seperti itu?" Batin Chamela.
"Arthur. Sebaiknya kau beristirahat dikamar mu." Titah Carlos.
Arthur menuruti perkataan ayahnya. Dia melangkahkan kakinya berjalan menuju tangga, yang kebetulan Alea juga sedang berdiri di-sana. Arthur terus berjalan hingga keduanya berhadapan dan saling menatap lekat satu sama lain.
"Aku senang melihat tuan Arthur kembali pulih." Ucap Alea dari hati yang terdalam.
__ADS_1
"Alea, rasanya aku ingin sekali memelukmu dan mengatakan, kalau aku sangat mencintaimu." Batin Arthur, yang berusaha menahan keinginannya itu. Arthur pun tersenyum tipis. "Ya. Terima kasih." Sahut Arthur lalu kemudian berjalan menuju kamarnya.
Arthur merebahkan tubuhnya ditempat tidur, menatap kearah langit-langit kamarnya seraya menyanggakan kedua tangan ditengkuknya. Dia pun membayangkan kembali akan kejadian dimana dia hendak melakukan perbuatan bejat untuk yang kedua kalinya terhadap Alea.
"Maafkan aku Alea. Seharusnya aku tidak melakukan tindakan bodoh itu lagi terhadap dirimu. Aku terlalu egois! hanya karena aku ingin kembali mengingat semua kejadian dimasa lalu-ku sehingga aku harus memanfaatkanmu dan membangkitkan luka lama itu kembali." Batin Arthur.
Tok Tok Tok...
"Masuk." Teriak Arthur.
"Ini sudah saatnya kak Arthur minum obat." Rachel menyodorkan obat itu kepada Arthur.
"Setiap melihat wajah Rachel, aku teringat akan sosok ibunya. Namun aku tidak boleh egois! karena walau bagaimanapun juga, aku telah berhutang nyawa padanya. Andai saja saat itu Rachel tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku waktu itu." Arthur terus menatap wajah Rachel sehingga membuat wajahnya sedikit memerah.
"Kak Arthur mengapa menatapku seperti itu? jantung-ku jadi dag-dig-dug begini. Mudah-mudahan kak Arthur tidak mendengarnya." Batin Rachel seraya melemparkan tatapannya kearah lain.
"Terima kasih." Ucap Arthur.
"Sama-sama." Rachel tersenyum manis kepada Arthur. "Aku tidak tahu, apakah sikap kak Arthur akan tetap seperti ini, jika nanti ingatannya telah kembali? atau sebaliknya." Batin Rachel. karena dia tidak tahu, kalau Arthur memang telah mengingat semuanya.
"Pasangnya disitu... Disini... Terus disana..." Ucap Samantha kepada tukang jasa pemasangan cctv saat memasuki kamar Arthur. Sikap Samantha membuat Arthur dan Rachel menohok. Untuk apa Samantha memasang cctv sebanyak itu dikamarnya.
"Disini sudah terpasang cctv. kenapa harus pasang lagi bu?" tanya Arthur.
"Tidak bu, Menurutku itu terlalu berlebihan." Ujar Arthur. Dia pun meminta jasa itu untuk menghentikan kegiatannya.
"Tidak Arthur. Kali ini kau harus mendengarkan ibu. Kau bisa menolak ketika ibu memintamu untuk pindah kamar, tapi kali ini kau harus menuruti kemauan ibu." decak Samantha. Dia pun meminta jasa itu untuk kembali melanjutkan pemasangannya.
"Yang disana juga pak..." Titah Samantha. "Kalau perlu, kamar mandinya juga." Lanjutnya.
Arthur terperangah mendengar ucapan ibunya. Sementara Rachel tampak mengulum senyumannya.
Beberapa jam kemudian, Arthur meminta jasa itu untuk menghentikan pemasangan.
"Arthur, ini baru dua! yang disana, sama yang disebelah sana, belum." Ujar Samantha menunjuk kearah ruangan.
"Maaf bu. Aku ingin beristirahat, jadi bisa kan kalian keluar dari sini?" Pinta Arthur hati-hati takut menyinggung perasaan ibunya.
"Kak Arthur benar bu. Seharusnya dia banyak beristirahat, supaya kesehatannya cepat pulih total." Ucap Rachel.
__ADS_1
"Hmm, baik lah! ibu tinggal dulu ya." Samantha mengelus kepala serta mengecup kening Arthur.
Malam hari Arthur tidak bisa tidur karena terus kepikiran Alea. Dia pun beranjak dari kamarnya lalu mengetuk pintu kamar Alea.
"Tuan Arthur..." Alea terpaku melihat sosok laki-laki yang ada dihadapannya.
"Apa aku boleh masuk?" Arthur menoleh kearah sekeliling. "Aku tidak ingin ada orang yang melihat kita berdua." Arthur hendak masuk walau Alea belum mengiyakannya. Refleks Alea langsung menghalanginya.
"Tunggu tuan Arthur." Alea melebarkan tangannya seperti sayap.
"Kenapa?"
"Tuan Arthur sebaiknya pergi dari sini. Aku tidak ingin nyonya Samantha salah paham lagi terhadapku."
"Salah paham? salah paham bagaimana maksudmu?"
"Waktu itu aku tidak jadi memukul tuan Arthur, lalu kenapa tuan meringgis kesakitan?" pertanyaan Alea membuat Arthur tertegun seraya mengingat kembali semua kejadian itu.
"Kau memang tidak memukulku! lalu apa masalahnya?" Arthur malah balik bertanya.
"Asal tuan Arthur tahu, gara-gara waktu itu tuan meringgis kesakitan seraya memegangi kepala tuan, aku jadi dituduh kalau aku telah memukul kepala tuan Arthur." Jelas Alea.
Arthur terkekeh mendengar ucapan Alea. "katakan saja yang sebenarnya!" Ucap Arthur dengan entengnya.
"Aku sudah mengatakannya." Ucap Alea.
"Lalu?"
"Tidak ada yang mempercayaiku." Lirih Alea.
"Kenapa kau tidak ceritakan semuanya kepada ibuku? aku yakin, dia akan mempercayaimu." Ucap Arthur.
"Kau salah tuan! nyonya Samantha tidak mempercayaiku. Dia malah menjebloskan aku ke penjara." Batin Alea.
"Satu pertanyaan yang selalu menggangu pikiranku. Mengapa saat itu kau tidak jadi memukulku? padahal aku sudah sangat kurang ajar kepadamu."
"Aku tahu, kalau tuan Arthur lagi sakit. Makanya aku mengurungkan niatku." Jawab Alea.
"Walaupun aku sedang sakit, tapi aku tetap sudah kurang ajar padamu. Lalu kenapa kau mengasihaniku?"
__ADS_1
"Emm, aku-..."
"Kenapa? apa kau mencintaiku?" tanya Arthur.