
"Tuan Chris memang benar! sebagai seorang wanita seharusnya aku bisa memahami perasaan Calista." Batin Alea diambang dilema.
Tiba-tiba Samantha mengetuk pintu lalu kemudian masuk. "Apa kita bisa bicara?" tanyanya setelah berdiri tepat dihadapan Alea yang sedang duduk dimeja riasnya.
Alea mengangguk pelan, dia pun berdiri seraya menatap wajah Samantha dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Aku minta maaf karena waktu itu telah menjebloskanmu ke-penjara. Seharusnya aku mau mendengar penjelasanmu." Ucap Samantha penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan jauh sebelum nyonya Samantha meminta maaf kepadaku." Ucap Alea dengan nada bicaranya yang lembut.
"Dua hari lagi acara pertunangan Arthur akan segera digelar." Ucap Samantha. "Jadi aku minta dengan sangat... Tolong jauhi Arthur dan lupakan tentang perasaan kalian berdua." Lanjutnya.
Perasaan kalian berdua? apa maksud dari ucapan Samantha, apa dia tahu kalau dirinya dan Arthur memang saling mencintai. tapi dari mana Samantha tahu akan hal itu? kini hati Alea pun bertanya-tanya.
Samantha mengamati raut wajah Alea yang tampak diam membisu. "Jadi benar kalau Arthur yang sudah menodai kesucianmu?" tanyanya.
Deg. Alea dibuat menohok lagi dengan pertanyaan yang dilontarkan Samantha. "Mengapa nyonya berkata seperti itu? bukankah sudah kukatakan kalau saat itu tuan Arthur hanya asal bicara." Ujar Alea tengah berbohong.
"Jangan membohongiku lagi! karena aku sudah tahu semuanya." Ujarnya. "Kau juga diam-diam telah menjalin kasih dengan Arthur putra-ku, bukan?" Lanjutnya.
Alea menundukkan kepalanya lalu menitikkan air mata. "Maafkan aku nyonya, karena aku telah gagal menepis perasaanku terhadap tuan Arthur untuk tidak jatuh cinta kepadanya."
"Kau tahu betul apa status mu disini itu apa. Tidak perlu aku jelaskan lagi mengapa aku memintamu untuk mengakhiri semuanya! aku yakin Arthur tidak akan bisa menjauhi dirimu jika bukan kau yang melakukannya."
Alea tertegun memikirkan kembali permintaan ibu dari laki-laki yang dia cintai. Berat rasanya untuk bisa mengiyakan keinginannya. "Baik nyonya, aku akan mencoba untuk melakukannya." Ucap Alea dengan suara yang berat.
__ADS_1
"Jangan mencobanya, tapi kau memang harus melakukannya! karena itu untuk kebaikanmu sendiri." Ujar Samantha penuh penekanan.
***
Tengah malam. Tepatnya pukul 22:30 Alea keluar dari kamarnya lalu berdiri diambang pintu menatap kearah pintu kamar Arthur yang tertutup rapat. Namun saat dia melihat pintu Arthur yang perlahan terbuka, dengan cepat dia masuk kedalam kamarnya dan menutup keras pintunya sehingga Arthur mendengarnya.
"Alea... Kenapa dia belum tidur?" Batin Arthur. Dia pun mendekati pintu kamar Alea lalu mengetuknya. Namun tak ada jawaban dari dalam sana, dia pun mengetuknya berkali-kali tapi tetap tak ada jawaban juga. "Tidak mungkin Alea tidur secepat itu, padahal aku yakin kalau barusan dia keluar kamar." Gumam Arthur. Seperti biasa dia pun mencoba menerobos masuk kedalam kamar Alea melalui jendela belakang.
Alea yang melihat seseorang hendak membuka jendela kamarnya dengan cepat merebahkan tubuhnya diranjang untuk berpura-pura tidur. Dia yakin kalau yang datang pasti Arthur, karena barusan dia mengetuk pintu kamarnya. Dan benar saja dugaannya. Saat Arthur telah masuk Alea langsung menutup kedua matanya.
"Ternyata Alea sudah tidur." Batin Arthur. Dia pun mendekatinya lalu duduk ditepi ranjang. "Good night and sweet dreams."
Cup.
Arthur mengecup lembut kening Alea lalu mengucapkan. "I love you Alea." Tuturnya sehingga membuat Alea yang menutup matanya, menitikkan air mata. Disitulah akhirnya Arthur tahu kalau Alea masih terjaga.
Seketika Arthur tersenyum tipis lalu menyeka air mata yang jatuh menetes dipelupuk matanya. "Mengapa kau menangis?" tanya Arthur dengan nada bicara yang begitu lembut.
"Bagaimana aku bisa menjauhimu jika kau terus bersikap seperti ini, karena wanita manapun pasti akan luluh jika diperlakukan seperti ini." Batin Alea. Air matanya mengalir semakin deras membasahi pipi.
"Katakan padaku? apa ada yang menyakitimu?" tanyanya masih dengan suara yang lembut, seraya membelai rambut dan pipi Alea. Namun Alea menggelengkan kepalanya.
"Lalu mengapa kau menangis?"
"Aku-..." Alea menggantung ucapannya di-tenggorokan. Rasanya begitu berat untuk dia mengutarakannya.
__ADS_1
Tak kunjung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Arthur pun semakin mendekatkan wajahnya kepada Alea lalu menyambar ranum bibirnya dengan sangat lembut. Setelah beberapa menit kemudian Arthur melepaskan ciumannya dan menanyakan hal yang sama. "Katakan padaku apa yang membuatmu menangis?" tanyanya dengan tatapan penuh perhatian.
"Kita harus mengakhiri semuanya." Ucap Alea setelah mengumpulkan semua keberanian untuk mengutarakan keinginannya. Mendengar itu seketika Arthur langsung menegakkan duduknya.
"Apa maksudmu?" Arthur menatap intens wanita cantik yang ada dihadapannya yang sekarang bangkit lalu duduk menatapnya.
"Kita tidak bisa terus seperti ini. Dan aku sudah memikirkan semuanya dengan matang, sebaiknya kita akhiri saja hubungan diantara kita." Jelas Alea.
"Tidak, aku tidak mau! dan itu tidak akan pernah terjadi. Kalau pun kau memintaku untuk memilih, sudah pasti aku akan memilih untuk memperjuangkan cinta kita, dan memutuskan hubunganku dengan Calista." Decak Arthur yang mulai tersulut emosi ketika Alea mengutarakan keinginannya untuk menyudahi hubungan mereka.
"Aku mohon tuan. Untuk kali ini bisakah tuan Arthur mengerti akan posisiku dirumah ini?"
"Maaf. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu." Jelas Arthur, lalu keluar dari kamar Alea dengan raut wajah yang kesal. Alea menghela nafas panjang lalu kemudian membuangnya secara kasar, setelah melihat punggung Arthur yang menghilang dari balik pintu kamarnya.
Keesokan harinya. Alea mengetuk ruang kerja Carlos di-mansion Bratajaya. Setelah di-ijinkan masuk Alea duduk tepat berhadapan dengannya.
"Ada apa?" tanya Carlos dengan sorot mata yang tajam.
"Tuan Carlos, bisakah kau menyediakan tempat tinggal untukku?" tanya Alea dengan hati-hati karena takut Carlos akan marah kepadanya.
Seketika Carlos menyunggingkan senyumannya, karena heran mengapa istri kecilnya tiba-tiba berkata seperti itu. "Apa kau ingin aku memberikan mansion untukmu?" tanyanya dengan senyum tipis di-bibirnya.
"Lebih tepatnya, meminjamkan." Alea mengoreksi ucapan Carlos.
"Kau adalah istriku! kau juga memiliki hak yang sama seperti istri-istriku yang lain untuk mendapatkan setiap apa yang kau inginkan. Termasuk tempat tinggal! dan aku akan memberikannya kepadamu dengan syarat, kau harus mau melayaniku." Ujar Carlos penuh penekanan.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus berusaha untuk menerima tuan Carlos sebagai suamiku." Batin Alea. Akhirnya dia pun mengangguk menyetujui perkataan Carlos yang meminta semua hak atas tubuhnya.
Dimeja makan Carlos mengumumkan bahwa Alea akan segera pindah dan tinggal di-mansion Bratajaya yang lainnya. Karena tempat yang sekarang mereka tempati adalah mansion utama yang luasnya sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan mansion yang rencananya akan jadi tempat tinggal Alea.