Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
62 gelang


__ADS_3

Malam hari Carlos datang ke mansion yang ditempati Alea sekarang, untuk meminta haknya.


Semenjak kejadian yang dialaminya tadi siang, Alea memutuskan kalau dia benar-benar akan melupakan Arthur dan belajar mencintai Carlos dengan sepenuh hatinya.


"Tuan, aku ingin mansion ini dijaga ketat agar tidak ada orang yang bisa sembarangan masuk." Ucap Alea, mengutarakan keinginannya untuk mengantisipasi agar Arthur tidak berani berbuat kurang ajar lagi kepadanya.


"Baik, aku akan meminta beberapa pengawal ku untuk datang kesini dengan begitu mereka bisa menjagamu." Ucap Carlos yang sedikit heran, mengapa Alea tiba-tiba berubah pikiran padahal sebelumnya dia bersikeras menolak ada penjaga ditempat tinggal barunya.


Carlos mencodongkan tubuhnya lalu kemudian menyambar ranum bibir Alea dengan sangat lembut. Carlos merasakan sensasi baru yang sangat luar biasa, ketika Alea tiba-tiba membalas ciuman untuk pertama kalinya.


Sementara ditempat lain. gelang yang dikenakan Arthur pun menyala, pertanda jika ada tubuh asing yang menyentuh tubuh Alea. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu! karena mulai saat ini kau adalah boneka ku. Aku tidak mau berbagi mainan dengan orang lain." Batin Arthur, dia pun memencet tombol merah sehingga membuat Alea kesakitan karena gelang itu semakin kuat melingkar ditangannya.


"Aakh..." Pekik Alea setelah melepas ciumannya. Dia memegangi pergelangan tangannya yang sakit akibat himpitan gelang itu.


"Kenapa?" tanya Carlos, seraya memegangi tangan Alea.


"Pergelangan tangan ku sakit sekali tuan." Pekiknya seraya berusaha melepaskan gelang itu dari tangannya. Sekilas gelang itu memang terlihat biasa-biasa saja, sehingga Carlos tidak menaruh curiga apapun terhadap gelang yang dikenakan istri kecilnya.


"Gelang ini kekecilan, kenapa kau memakainya." Sungut Carlos seraya membantu membukanya tapi tidak bisa. Dia tidak tahu kalau gelang itu bisa tiba-tiba melonggar dan menyempit jika Arthur menekan tombol kendalinya.


Drrrtttttt...


ponsel Alea bergetar, dia segera meraihnya. Dan membaca isi pesan yang baru saja masuk.


Jangan berbuat macam-macam dengan ayah, atau aku akan membuatmu menyesal!


Seketika itu gelang yang dikenakannya pun tiba-tiba melonggar. Alea tertegun dengan apa yang terjadi, menatap heran gelang yang melingkar ditangannya.


"Siapa?" tanya Carlos membuyarkan lamunannya.


"Emm maaf tuan Carlos, bisakah kita lanjutkan ini besok saja?" tanyanya.


Terlihat kekecewaan dari wajah Carlos, namun dia merasa sedikit senang ketika Alea memberikan sebuah harapan dihari esok.


***


Carlos duduk dimeja kantor kekuasaannya. Sesekali dia pun menoleh kearah Alea yang tampak pokus mempelajari proposal yang ada ditangannya. "Alea..." Panggilnya.


"Iya tuan?"

__ADS_1


"Kemarilah...!" Carlos memberikan isyarat dengan telunjuknya.


"Ada apa tuan?" tanyanya setelah mendekati meja kekuasaan Carlos.


Tanpa aba-aba Carlos langsung menarik tangannya dan menyambar ranum bibirnya. Namun Alea menolak ciuman itu.


"Kenapa? kau sudah berjanji kalau kita akan melanjutkan kegiatan semalam, hari ini." tanya Carlos terlihat kecewa dengan penolakannya.


"Tapi ini dikantor tuan."


Seketika semua jendela tertutup rapat, dan pintunya pun terkunci secara tiba-tiba ketika Carlos menekan salah satu tombol yang ada di ruangannya.


"Aku tidak ingin menundanya lagi." Carlos menarik tangan Alea dan mendudukkannya dipangkuan.


Alea memejamkan kedua matanya menikmati tiap sentuhan yang diberikan oleh Carlos. Dan tiba-tiba gelang itu kembali menghimpit pergelangan tangannya sehingga membuatnya kesakitan.


"Apa kau sedang beralasan?" tanya Carlos membentaknya. "Katakan saja, jika kau memang tidak mau melakukannya." Lanjutnya.


"Bukan seperti itu tuan! tapi tangan-ku memang benar-benar sakit." Pekiknya.


"Kalau begitu kita pergi ke dokter sekarang." Carlos menuntun tangan Alea keluar dari ruangannya.


Carlos menoleh jarum jam yang ada ditangannya. "Ya. Kau benar! kalau begitu aku pergi keruang meeting sekarang. Kita pergi kerumah sakit setelah meeting selesai." Ujar Carlos lalu bergegas pergi.


Setelah Carlos pergi Alea menghampiri salah satu staf dan meminta dia untuk mengantarnya keruangan manager.


Setelah sampai didepan pintu. Alea pun meminta staf wanita itu untuk kembali ke meja nya.


Tok Tok Tok...


"Masuk..."


"Aku ingin tuan Arthur melepaskan gelang ini." Ujar Alea to the point.


Arthur yang tampak sibuk dengan beberapa berkas yang di-tandatanganinya pun mendongak keatas, menatap wajah seseorang yang barusan masuk kedalam ruangannya. Seketika dia pun menyunggingkan senyumannya.


"Gelang itu terlihat sangat indah jika kau yang memakainya." Desis Arthur menatap sinis kepadanya.


"Ini tidak lucu. Kenapa tuan Arthur melakukan ini kepadaku?" tanya Alea berdiri tepat didepan Arthur yang hanya terhalang oleh meja kerjanya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah melepaskan gelang itu dari tanganmu. Jadi pergilah! aku sedang sibuk, jangan menggangguku." Ucap Arthur, kemudian kembali pokus ke berkas yang ada ditangannya.


"Aku bilang lepaskan gelang ini? kalau tidak aku akan memberi tahu tuan Carlos apa yang sudah kau lakukan kepadaku." Cercah Alea menggertak nya.


Mendengar ucapan Alea, Arthur berdiri dan mendekatinya. "Apa kau pikir aku akan takut dengan ancaman mu?" Tanyanya seperti menantang.


"Tentu saja! tuan Arthur tahu betul bagaimana sifat ayah tuan. Apa perlu aku ingatkan kembali betapa kejamnya ayah tuan jika sedang marah?" Alea mulai memberanikan diri melawannya.


"Kalau begitu katakanlah!" Ujar Arthur. "Katakan pada ayah juga kalau akulah laki-laki yang selama ini dia cari. Laki-laki yang telah menodai-mu." Lanjutnya.


"Aku tidak akan melakukan itu! tapi aku mohon. Tolong lepaskan gelang ini dari tanganku." Pinta Alea.


"Sudah ku katakan, aku tidak akan melepaskan gelang itu! aku tidak mau ayah memiliki keturunan darimu." Ucap Arthur keceplosan.


"Apa?" Alea terkejut mendengar pernyataan Arthur.


Drrrtttttt...


ponsel Arthur bergetar, dia pun meraihnya dan membaca isi pesan dari ayahnya.


Arthur Ayah sedang meeting, tolong kau antar Alea pergi kerumah sakit untuk melepas gelang yang ada ditangannya.


Arthur memperlihatkan pesan itu kepada Alea.


"Tidak! aku tidak mau pergi denganmu." Tolak Alea setelah membacanya.


"Apa kau ingin gelang itu menempel seumur hidup ditangan mu?" tanya Arthur tersenyum sinis.


"Bukankah kau sedang sibuk?! kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu. Aku bisa pergi sendiri." Ucap Alea lalu keluar dari ruangan Arthur.


Alea berjalan menyusuri koridor kantor melewati semua staf dan karyawan di Bratajaya Corp. Kecantikannya menjadi pusat perhatian, setelah tiba-tiba Arthur berjalan disampingnya.


"Tuan Arthur..." Tuturnya.


"Cepatlah! jalanmu lambat sekali." Desus Arthur, lalu berjalan mendahuluinya.


"Sekretaris baru tuan Carlos tampak akrab sekali dengan tuan Arthur, apa dia itu calon istri tuan Arthur?" Bisik salah satu staf kepada temannya.


"Mungkin saja. Beruntung sekali wanita itu, jika dia memang benar-benar calon istri tuan Arthur."

__ADS_1


__ADS_2