Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
63 vila


__ADS_3

Rumah sakit.


"Gelang seperti ini akan lebih mudah dibuka dengan kuncinya, nona."


"Kunci?"


"Ya. Apa nona tidak tahu kalau gelang seperti ini dapat dipesan secara khusus?"


Alea menoleh kepada Arthur yang duduk disampingnya dan mendelekinya. Namun Arthur malah memasang wajah polos tanpa rasa bersalah.


"Jadi bagaimana dokter? apa dokter bisa membantuku untuk membukanya?" tanya Alea.


"Tentu! silahkan nona berbaring terlebih dahulu disebelah sana." dokter menunjuk ketempat tidur yang tidak jauh dari mejanya.


Alea beranjak dari duduknya lalu merebahkan tubuhnya di-hospital bed.


"Dokter..."


"Ya?" tanya dokter saat hendak berdiri untuk menyusul Alea yang sudah berjalan lebih dulu.


"Dokter bisa tolong suntikan KB ke wanita itu tidak?" tanya Arthur.


Dokter pun mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Arthur. "Apa anda suaminya?" tanyanya.


"Iya dok." Jawab Arthur berbohong.


"nona tidur yang rileks ya, jangan tegang."


"Maaf dok, memangnya harus disuntik juga ya?" tanya Alea, saat dokter memintanya tengkurap dan hendak menyuntikkan jarum itu ke bokongnya.


Dokter itu tersenyum. "Ini baru pertama kali ya, nona ikut program KB." Ujar dokter itu setelah berhasil menyuntikkan cairan bening itu ke bokongnya.


"Apa KB?" Alea terkejut. Dia pun membuka kain penutup yang menghalangi pendangannya terhadap Arthur.


Setelah kain penutup itu terbuka, Arthur pun menghampiri keduanya. "Bagaimana dokter? apa sudah selesai?"


"Sudah." Dokter tersenyum ramah. "Kalau begitu kita buka gelangnya sekarang." Lanjutnya.


"Dokter pakai ini saja." Arthur memberikan kunci gelang itu kepada dokter.


Dokter itu menatap heran kepada Arthur. Kalau Arthur memang mempunyai kuncinya, lalu kenapa dari tadi dia tidak memberikannya.

__ADS_1


"Terima kasih dokter. Kalau begitu saya permisi." Ucap Alea.


Dokter wanita itu menatap kepergian Alea dan Arthur. "Pasangan suami istri yang aneh." Gumamnya. Beruntung, dokter itu tidak mengenali wajah Arthur! andai saja dia tahu kalau Arthur itu anak dari Carlos Hugo Bratajaya, orang yang sangat berpengaruh besar terhadap rumah sakit itu.


"Taksi..." Teriak Alea setelah keluar dari gedung rumah sakit. Saat taksi yang panggilnya berhenti Alea berjalan hendak menghampiri namun Arthur menarik tangannya.


"Kau mau kemana?"


"Gelangnya sudah terlepas, jadi tugas tuan untuk mengantarku sudah selesai." Ucap Alea.


Arthur menatap intens wajah Alea. "Kau datang kesini bersamaku. Maka kau akan kembali ke kantor bersamaku juga."


"Aku tidak mau." Tolak Alea.


"Masuklah! aku tidak perduli kau mau ataupun tidak." Arthur menarik paksa tangan Alea lalu mendorongnya masuk kedalam mobil.


Alea mendengus kesal. Arthur terus menguji kesabarannya dengan terus menerus berbuat seenaknya terhadap dirinya. "Cobaan apa lagi ini." Batin Alea, mengusap wajahnya dengan kasar.


"Gelangnya sudah terlepas. Bagaimana kalau Alea berniat memberikan tubuhnya lagi kepada ayah tanpa sepengetahuanku?" Batin Arthur yang sesekali menoleh kepada Alea.


"Tuan Arthur, kau mau membawaku kemana?" tanya Alea saat Arthur membelokkan mobilnya kearah lain, dan tentu saja bukan arah menuju Bratajaya Corp.


Alea menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap sinis pada laki-laki tampan yang ada disampingnya. "Mau apa?" tanyanya sedikit menyentak.


"Sudah aku katakan, kita beristirahat sebentar! apa kau tidak capek terus bekerja." Sahut Arthur yang tampak pokus melihat kejalanan.


Sesampainya di-mansion. Arthur heran mengapa tiba-tiba ada beberapa orang yang berjaga di-mansion yang ditempati Alea sekarang. Bukankah sebelumnya Alea meminta ayahnya untuk tidak memberikan pengawalan terhadap mansion itu. Hingga dia pun kembali melajukan mobilnya dan membawa Alea ke vila pribadinya.


"Aku tidak mengerti! kenapa kau membawaku kesini?" Alea menatap sekeliling vila itu. Sementara Arthur tampak mengeluarkan lembar kertas dari dalam koper, lalu menunjukannya kepada Alea.


"Apa ini?" tanyanya.


"Tanda tangani-lah surat perjanjian itu." Titah Arthur.


Alea membaca isi surat itu.


Aku, Alea. Berjanji tidak akan pernah memberikan tubuhku ini kepada siapapun kecuali Arthur! Jika aku melanggarnya, maka Arthur berhak menuntut ku dan aku siap menanggung konsekuensinya.


"Gi*LA! Apa-apaan ini. Aku tidak mau menandatangani surat ini! ini benar-benar tidak masuk akal." Decak Alea, dia beranjak dari duduknya bergegas menuju pintu keluar namun Arthur menghalanginya.


"Kau tidak bisa pergi, sebelum kau menanda tangani surat perjanjian itu." Cercahnya.

__ADS_1


"Apa tuan Arthur benar-benar sudah tidak wa*ras? kenapa tuan memintaku untuk menanda tangani surat perjanjian itu? sampai kapanpun aku tidak akan pernah melakukannya." Tegas Alea.


"Aku akan menelepon tuan Carlos dan akan mengadukan perbuatanmu ini kepadanya." Lanjut Alea, seraya mengambil ponsel yang ada didalam tasnya. Saat dia mengetik ponsel mencari nama kontak Carlos, dengan cepat Arthur merebut ponsel Alea lalu membantingnya hingga pecah dan mati.


"Apa kau benar-benar telah menerima ayah sebagai suami mu?" tanya Arthur, dengan bentakan yang sangat keras, sehingga membuat Alea menutup mata dan daun telinganya.


Arthur menatap intens wanita malang yang ada dihadapannya. Alea terlihat menitikkan air mata, sehingga membuat perasaan emosional Arthur sedikit melunak. "Sial! bibirnya malah terlihat lebih seksi ketika dia menangis." Batin Arthur. Dia pun menarik pinggang Alea kepelukannya lalu kemudian menciumnya.


Benih-benih cinta yang sempat tumbuh subur dihati Alea terhadap Arthur perlahan menghilang, semenjak sikap Arthur yang selalu semena-mena terhadap dirinya hingga dia pun mendorong tubuh Arthur dan melepaskan ciuman yang diberikan Arthur kepadanya.


Kring kring...


Ponselnya berdering, Arthur segera mengangkat setelah melihat nama si pemanggil.


*Ada apa ayah?


Arthur, kemana saja kalian? kenapa belum kembali ke kantor?


Maaf ayah, kita sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi sampai.


Ayah ingin mengatakan, kalau ayah akan pergi keluar negeri karena ada urusan yang sangat mendesak. Kau harus menghandle perusahaan dengan baik.


Baik ayah. Hati-hati*.


Arthur menutup sambungan teleponnya. "Sepertinya keberuntungan memang sedang berpihak kepadaku." Batin Arthur. Dia pun memaksa Alea untuk menyuruh penjaga mansion agar berjaga di-mansion utama, dengan alasan kalau dirinya tidak membutuhkan penjagaan.


Kini keduanya terkurung di-vila yang letaknya jauh dari keramaian. Tanpa sepengetahuan Alea, diam-diam Arthur meminta beberapa teman-temannya untuk datang kesana dengan syarat harus membawa teman wanita masing-masing untuk berkencan.


Alea yang sedari tadi duduk dan tertunduk diruang tamu terkejut ketika tiba-tiba kedatangan segerombolan orang yang jumlahnya lumayan banyak berjalan kearahnya.


Tanpa sungkan, salah satu dari mereka mengambil beberapa botol minuman ber-merk dan mahal yang ada didalam lemari kristal diruangan itu, lalu menaruhnya di-meja.


"Siapa dia? apa dia mainan barumu?" celetuk salah satu dari mereka kepada Arthur.


"Jangan sembarangan! jangan pernah samain aku dengan kalian." Sindir Arthur menatap sinis pada laki-laki itu.


"Lalu siapa dia? bukankah kau sudah bertunangan dengan wanita yang bernama Calista." Meskipun tak diundang ke acara pertunangannya, tapi pria itu yakin kalau wanita yang ada disamping Arthur itu bukan tunangannya.


"Aku sengaja membawanya kemari, untuk memberi dia pelajaran karena telah berani mempermainkan perasaanku." Cibir Arthur menatap sinis pada wanita yang ada disebelahnya yang tak lain ialah Alea.


Tentu saja percakapan keduanya dapat terdengar dengan jelas oleh Alea, sepertinya Arthur sengaja meminta teman-temannya datang untuk mengolok-olok dirinya.

__ADS_1


__ADS_2