Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
49 rencana pertunangan


__ADS_3

Alea terkejut mendengar pernyataan Arthur. Bagaimana bisa dia melakukan itu sementara dia tahu kalau Alea itu masih berstatus sebagai istri ayahnya. Terlebih Arthur juga memiliki kekasih yang begitu sangat mencintainya.


"Ini sama sekali tidak lucu!" sungut Alea seraya berjalan kearah pintu hendak keluar, namun Arthur menghalanginya.


"Tunggu Alea! ada apa denganmu? kenapa kau malah marah." tanyanya dengan wajah yang sedikit bingung, mengapa reaksi Alea begitu berlebihan.


"Wanita mana yang tidak akan marah! kau pikir aku ini perempuan seperti apa? kau tahu kalau status ku ini masih istri orang, bahkan aku ini istri dari tuan Carlos yang tak lain adalah ayahmu! lalu kenapa kau malah melamarku." Alea meninggikan nada bicaranya.


"Persetan dengan status kalian berdua!" Cecar Arthur. "Lagi pula aku tahu betul kalau kau tidak pernah mencintai ayahku, karena orang yang kau cintai itu aku." decaknya.


"Aku tidak mengatakan kalau aku mencintai tuan Arthur! mengapa tuan begitu percaya diri." Tampik Alea, yang merasakan sakit dihatinya ketika dia mengatakan itu.


"Kenapa begitu sulit untukmu mengatakannya? padahal aku juga tahu kalau sebenarnya kau juga mencintaiku." Desah Arthur.


"Cukup tuan! jangan mengada-ada. Aku tekankan sekali lagi kalau aku tidak pernah mencintai tuan Arthur." Dengus Alea kemudian pergi.


"Arrgghhh..." Arthur melempar bantal kedinding lalu duduk ditepi ranjang seraya mengacak-acak rambutnya.


Leon melihat Alea keluar dari hotel dengan raut wajah yang kesal memasuki sebuah taksi. "Nona Alea! mengapa dia sendirian?" Gumamnya. "Gawat, jangan-jangan telah terjadi sesuatu kepada tuan muda." Dengan cepat Leon keluar dari mobil untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Leon menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan nomer kamar yang dipesan oleh Arthur. Namun gadis itu tak mau memberi tahunya dengan alasan harus menjaga privasi setiap pengunjung.


Leon memikirkan cara agar gadis itu mau memberitahunya. Dia menatap kesekeliling. "Disekitar sini ada restoran romantis! bagaimana kalau nanti malam kita dinner?" Rayu Leon. Seketika wajah gadis itu tampak memerah menahan malu. "Bagaimana? apa kau mau?" Leon mengedipkan satu matanya kepada gadis itu. Terlihat jelas kalau gadis itu sepertinya menyukai Leon. Gadis itupun menyodorkan ponselnya kepada Leon dan memintanya untuk mencatat nomer Leon di ponselnya. Mau tidak mau Leon terpaksa memberikannya.



Leon berhenti tepat didepan nomer kamar itu. "Apa yang sebenarnya tuan Arthur lakukan dengan nona Alea dikamar ini? mengapa raut wajah nona Alea tadi terlihat marah?" Batin Leon. Seketika dia teringat akan ucapan Samantha yang mengatakan kalau Alea sedang mengintai Arthur dan ingin membunuhnya. Dia pun hendak menekan bel namun tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan tampaklah Arthur sedang berdiri dihadapannya.



"Tuan muda! sedang apa tuan disini?" tanya Leon sedikit terkejut karena Arthur tiba-tiba keluar.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini? apa kau mengikutiku?" tanya Arthur dengan tatapan dinginnya.


"Maaf tuan muda. Nyonya Samantha yang telah menyuruhku untuk membuntutimu kemanapun kau pergi." Jawab Leon.


"Pergilah. Dan katakan pada ibuku kalau aku baik-baik saja." Ujar Arthur.


*


Carlos memerintahkan sekretarisnya untuk mencari tahu tentang keluarga Calista.


"Nama ayahnya Giovano, dia seorang CEO PT. Byantara grup. Dan ibunya bernama Vanya, dan sekarang keduanya sedang tinggal diluar negeri." Ujar Chan kepada atasannya.


"Tolong siapkan jadwal pertemuanku dengannya setelah mereka kembali."


"Baik tuan." Chan pun undur diri dari ruangan kerja Carlos.


Prok. Prok. Prok...


Alea tak merespon ucapan Stevani. Dia malah memilih untuk segera menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya.


"Sial! berani-beraninya dia mengabaikan ku." Decak Stevani.


Alea duduk ditepi ranjang merenungi kembali akan ucapan Arthur. "Mengapa semuanya begitu rumit." Gumam Alea terlihat frustrasi.


Merasa tenggorokannya kering Alea meraih gelas yang ada dimeja. "Airnya habis." Diapun beranjak hendak mengambil air putih. Namun saat membuka pintu kamarnya dia berpapasan dengan Arthur yang baru saja pulang, hingga keduanya saling bertatapan.


"Emm, tuan Arthur sudah pulang..." Alea berbasa-basi. Namun Arthur hanya mengangguk kecil tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Alea terdiam melihat sikap Arthur yang begitu dingin kepadanya, kini dia pun jadi merasa serba salah.


***

__ADS_1


Satu minggu kemudian. Ternyata diam-diam Carlos menemui kedua orangtua Calista diluar negeri untuk membahas tentang hubungan kedua putra-putrinya.


"Jadi bagaimana tuan Giovano? bagaimana kalau kita resmikan dulu hubungan keduanya dengan ikatan pertunangan?" tanya Carlos kepada ayah Calista.


Giovano dan Vanya saling melemparkan tatapan. Calista memang sering bercerita tentang Arthur kekasihnya, namun hingga saat ini mereka belum pernah bertemu dengan Arthur secara langsung karena Arthur selalu menolak setiap Calista mengajak untuk bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Mohon maaf tuan Carlos, tapi untuk saat ini kami belum bisa memutuskan karena yang menjalani hubungan adalah putra-putri kita. Sebaiknya kita bicarakan soal ini dihadapan putra-putri kita nanti." Terang Giovano.


"Kalau begitu kita atur saja jadwal pertemuannya." Ujar Carlos.


"Minggu depan kita akan kembali ke Indonesia." Tutur Giovano.


"Itu kabar yang sangat baik!" tuturnya. "Tapi kalau saya boleh kasih saran sebaiknya Arthur dan Calista jangan diberi tahu dulu soal rencana kita ini. Biarkan ini menjadi kejutan untuk keduanya nanti! saya yakin kalau mereka pasti akan senang dengan kejutan kita ini, karena mereka berdua saling mencintai." Ucap Carlos meyakinkan kedua orangtua Calista.


"Calista memang banyak bercerita tentang Arthur kekasihnya. Karena setiap kali aku telepon dia untuk menanyakan kabarnya, yang dia bahas pasti selalu tentang Arthur, Arthur dan Arthur. Calista memang sepertinya sangat mencintai kekasihnya itu, tapi. Apakah anak tuan Carlos juga mencintai Calista sebesar cinta Calista untuknya?" Batin Vanya yang sedikit ragu.


"Itu ide yang sangat bagus! kebetulan tanggal 10 juni nanti adalah hari ulang tahun Calista. Kita bisa mempertemukan keduanya pada tanggal itu dan sekalian membahas perihal pertunangan mereka." Sahut Giovano.


"Berarti dua hari setelah anda pulang ke Indonesia."


"Tepat sekali." Seru Giovano. Keduanya pun terkekeh. Sementara Vanya hanya tertegun dengan keputusan yang telah diambil suaminya untuk masa depan putri kesayangannya itu.


Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan orangtua Calista, dan lebih tepatnya ayah Calista. Carlos segera pamit undur diri untuk segera kembali ke Indonesia dengan menggunakan pesawat jet pribadi miliknya.


"Apa kau yakin dengan keputusan yang telah kau ambil?" tanya Vanya kepada suaminya.


"Tentu saja! Calista itu putri kita satu-satunya, dan aku ingin melihat dia bahagia bersama laki-laki yang dicintainya."


"Bagaimana dengan tuan Carlos, yang aku dengar-dengar kalau dia itu memiliki beberapa orang istri?"


"Keputusan ada ditangan putri kita nanti. Karena dia sendiri yang nantinya akan menjalaninya, karena sifat dan karakter orang pasti berbeda. Meskipun Arthur itu putra tuan Carlos, tapi bukan berarti dia bakal mengikuti jejak ayahnya. Bukan begitu?"

__ADS_1


Vanya mengangguk kecil. Dia pun berusaha meyakinkan diri kalau Arthur memang laki-laki yang tepat untuk putrinya. Dia tahu persis kalau Calista sangat mencintai kekasihnya.


__ADS_2