Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
44 berpura-pura


__ADS_3

Chamela kembali mendekati Arthur dan hendak menikamnya. Namun tiba-tiba pintu terbuka. Refleks dengan cepat Chamela membetulkan kembali bantal dan selang oksigen Arthur.


"Chamela! ternyata kau disini juga?" tanya Samantha yang baru saja masuk. Dia tidak mengetahui akan niat busuk madunya itu.


"I-iya kak Samantha. A-aku sangat mengkhawatirkan kondisi Arthur, makanya aku kemari." Ucapnya gelagapan, dengan keringat dingin yang bercucuran.


Samantha menoleh kearah Rachel. "Rachel. Sedang apa kau disitu?" tanyanya, saat melihat Rachel berdiri didekat dinding dengan raut wajahnya yang sedikit pucat, akibat menahan rasa sakit ditangannya.


"Emm, aku-..."


"Rachel itu memang teledor! dia sedang mencari kunci mobilnya, karena tadi dia lupa menaruhnya dimana." Ucap Chamela memotong pembicaraan putrinya. Dia pun melototi Rachel agar tidak menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Terima kasih ya, Karena kalian sudah mau menjaga Arthur." Samantha tersenyum tipis kearah Chamela dan Rachel, tanpa sedikitpun menaruh kecurigaan terhadap Chamela.


"Aku tidak menyangka kalau ibu akan melenyapkan nyawa kak Arthur dihadapanku. Jangan-jangan benar yang dikatakan Alea! kalau ibu lah dalang dibalik kasus penembakan yang pernah dialami kak Arthur sebelumnya." Batin Rachel.


"Kak Samantha sudah disini, kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Chamela tersenyum yang dibuat-buat. Dia pun menarik tangan Rachel. "Ayo! ikut ibu sebentar."


Samantha memperhatikan gelagat aneh kedua wanita yang baru saja meninggalkan ruangan Arthur. Dia pun menghampiri Arthur dan menggenggam erat tangannya.


"Arthur sayang. Sadarlah nak! ibu sudah sangat merindukanmu." Ucap Samantha seraya menciumi punggung tangan putranya.


"Aku sudah sadar bu. Dan aku juga sangat merindukan ibu." Ucap Arthur ketika membuka matanya menatap lekat wajah sayu ibunya.


"Arthur..." Samantha terharu ketika Arthur tiba-tiba merespon ucapannya. Dia tersenyum bahagia melihat putra kesayangannya itu sudah sadar dan bicara padanya. Samantha pun menciumi pucuk kepala dan kening Arthur. "Ibu senang sekali nak." Dia tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan.


Arthur tersenyum tipis kepada ibunya. Dia teringat akan sosok Alea dan ingin sekali menemuinya. "Dimana Alea?" tanyanya.


Rupanya pertanyaan Arthur membuat Samantha tidak senang, sehingga raut wajahnya kini berubah. "Kau itu baru sadar. Pikirkan saja kesehatanmu saat ini, jangan memikirkan orang lain." Ucap Samantha. Dia tidak ingin bicara terlalu banyak dulu, karena takut itu akan mempengaruhi kesehatan Arthur yang baru saja sadar dari koma-nya.


"Aku ingin bertemu dengannya bu." Ucap Arthur.


"Kenapa Arthur terus menanyakan wanita yang sudah menyebabkan dia seperti ini? banyak sekali pertanyaan yang ingin ku tanyakan kepada Arthur. Tapi saat ini situasinya belum memungkinkan! aku ingin melihat Arthur sembuh terlebih dulu." Batin Samantha.


*


Chamela membawa Rachel ketaman belakang rumah sakit.

__ADS_1


"Ada apa bu? kenapa ibu menarik tanganku?" tanya Rachel.


"Ada apa kau bilang? semua ini gara-gara kau! ibu jadi gagal melenyapkan Arthur."


"Sudah bu. Ibu jangan pernah coba-coba untuk menyakiti Arthur lagi, atau aku tidak akan segan-segan untuk mengadukan perbuatan ibu kepada ayah."


"Apa kau sedang mengancam ibu?"


"Aku tidak mengancam! tapi aku akan benar-benar melakukannya jika ibu berniat untuk menghabisi nyawa kak Arthur lagi."


"Kau tidak akan pernah bisa melakukannya."


"Kenapa? mengapa aku tidak bisa melakukannya?" Rachel menatap dalam wajah ibunya.


"Karena aku itu ibu kandungmu! ibu yang telah melahirkan dan membesarkanmu."


Rachel tertegun memikirkan ucapan Chamela. Dia memang tidak akan mungkin bisa melakukan itu kepada ibunya. "Aku mohon pada ibu. Tolong jangan sakiti kak Arthur, karena aku sangat menyayanginya." Lirih Rachel.


"Anak ini! memang susah diajak kerja sama. ya sudahlah! aku iyakan saja dulu permintaan bodohnya itu." Batin Chamela. "Iya, ibu tidak akan melakukan perbuatan buruk lagi terhadap Arthur. Tapi kau harus janji, kalau kau tidak akan mengadukan perbuatan ibu kepada ayahmu." Pinta Chamela.


"Iya, aku tidak akan memberi tahu ayah soal kejadian tadi." pungkasnya.


Carlos yang baru saja pulang dari rumah sakit, langsung menemui Alea dan memberi tahunya kalau Arthur sudah sadar.


"Sungguh tuan? lalu apa dia sudah mengatakan semuanya, kalau bukan aku yang menyebabkannya masuk kerumah sakit?" Alea tampak antusias.


"Kita belum membahas soal itu. Aku tidak ingin memberikan pertanyaan yang akan membuat kondisinya drop lagi." Ucap Carlos. Dia mengamati raut wajah cantik Alea yang penuh luka lebam akibat penyiksaan yang dilakukan Molly selama dia ditahan. Carlos mengangkat tangan lalu membelai pipinya.


"Selama ini kau belum pernah meminta sesuatu dariku! katakan apa ada yang kau inginkan dariku? aku siap untuk mengabulkannya! apapun itu." Ucap lembut Carlos yang enggan memalingkan penglihatannya dari wajah Alea.


Alea menunduk dan menggelengkan kepalanya.


Carlos memegangi dagu Alea dan mendongakkan keatas agar menatapnya. "kenapa? kau bisa meminta apapun dariku! mobil mewah, rumah megah. Katakan saja, kau tidak perlu sungkan, karena aku ini suamimu."


"Aku tidak memerlukan itu semua tuan. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah ketenangan." Tutur Alea.


Tatapan Carlos turun kebibir tipis Alea yang begitu sangat menggodanya. Perlahan dia mendekati wajah Alea lalu menyambar ranum bibirnya.

__ADS_1


Alea memejamkan matanya. Dia terdiam tak menolak ataupun membalas ciumannya. Carlos menggigit bibir Alea agar mau membuka mulut, seketika benda kenyal itupun masuk kedalam mulut Alea dan berselancar sesukanya. Sesekali Carlos menghisap lidah Alea dan menjilati bibirnya. Tangan Carlos mulai nakal, naik keatas dan berhenti tepat disalah satu gunung kembar Alea, hingga dia pun meremasnya.


Alea mulai pasrah dengan apa yang dilakukan Carlos terhadapnya. Aliran darahnya berdesir ketika dia mendapatkan sentuhan lembut yang diberikan Carlos terhadapnya sehingga membuat tubuhnya kini meremang.


Carlos membaringkan tubuh mungil Alea dan menindihnya dengan tubuh gagah nan perkasa itu. Dia pun kembali mencium bibir serta menjilati leher dan daun telinganya. Alea semakin tak kuasa dengan sentuhan hangat yang diberikan Carlos terhadapnya. Perlahan diapun menikmati setiap sentuhannya.


Tok. Tok. Tok


Saat sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang mengetuk pintu kamar Alea. Carlos menghela nafas lalu membuangnya kasar.


Alea mendorong pelan tubuh gagah Carlos. Diapun merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu membuka pintunya. "Ada apa Laura?"


"Maaf nona Alea, apa tuan besar ada disini?" tanyanya.


Alea menoleh kebelakang kearah Carlos. "Iya. Memangnya ada apa?"


"Nyonya Samantha meminta tuan untuk segera turun, karena tuan muda sudah kembali ke-mansion."


"Tuan muda? Jadi tuan Arthur sudah pulang?" Alea tampak sedikit antusias.


"Iya nona."


Carlos yang mendengar langsung menghampiri mereka yang sedang berdiri diambang pintu.


"Seharusnya Samantha tidak terburu-buru membawa Arthur pulang. Bukankah dia tahu, kalau keadaan Arthur belum pulih." Gerutu Carlos melewati keduanya, berjalan menuju lantai paling bawah. Alea pun segera mengekorinya.


"Samantha, kenapa kau membawanya pulang? bukankah kau juga tahu, kalau keadaan Arthur belum pulih total."


"Jangan salahkan ibu. Karena aku yang memaksanya agar mau mengijinkan aku untuk segera pulang."


"Seharusnya kau dirawat paling tidak dua sampai tiga hari lagi." Ujar Carlos.


"Aku bosan jika berada dirumah sakit terus, lagi pula aku merasa tubuhku sudah kembali fit." Sahut Arthur.


"Kau memang keras kepala!" decak Carlos.


"Arthur sama sepertimu." Ujar Samantha.

__ADS_1


Alea berdiri diujung tangga, memperhatikan Arthur dari kejauhan. Seketika Arthur menoleh keatas dan menatapnya.


"Alea, rasanya aku ingin sekali memelukmu dan mengatakan betapa aku sangat merindukanmu." Batin Arthur. Sebenarnya dia sudah mendapatkan semua ingatannya kembali. Namun dia memilih untuk tidak mengatakannya, karena dia sudah memiliki siasat untuk membongkar semua kejahatan Chamela. Salah satunya dengan cara berpura-pura kalau ingatannya belum kembali.


__ADS_2