Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
36 overprotektif


__ADS_3

"Jangan melihatku seperti itu! reaksimu terlalu berlebihan." Ucapan Arthur membuyarkan pikiran kotor diotaknya. "Lagi pula kau itu sudah menikah dengan ayahku! bukan hal yang aneh bukan, jika kau sering melihatnya bertelanjang dada seperti ini."


Ucapan Arthur membuat Alea tersinggung, namun dia berusaha untuk tetap menahan emosinya. Namun tanpa sadar Alea tidak sengaja menekan lukanya saat hendak mengoleskan obat itu.


"Arghh..." Pekik Arthur.


"Maaf tuan Arthur. Aku tidak sengaja!" Teriak Alea, refleks dia pun langsung mencodongkan tubuhnya lalu meniupi luka diperut Arthur. Arthur terpaku melihat apa yang dilakukan Alea terhadapnya.


"Cantik sekali wanita ini. Mengapa jantungku berdegup kencang, saat memandangnya?" Batin Arthur. "Akh tidak-tidak. itu tidak mungkin! mana mungkin aku menyukainya." Arthur berusaha menepis perasaannya terhadap Alea.


"Lukanya sudah ku obati. Kalau tuan Arthur memerlukan sesuatu, jangan sungkan untuk memanggilku." Ucap Alea tersenyum kepadanya.


"Apa kau benar-benar istri dari ayahku?" tanya Arthur mulai meragukannya.


Alea tersenyum yang dibuat-buat mendapat pertanyaan seperti itu dari Arthur. "Iya! memangnya kenapa?"


"Lalu kenapa kau memanggilku tuan? bukankah kau sudah menjadi bagian dari Bratajaya." Tanya Arthur heran.


"Aku akan merasa canggung jika harus memanggil nama tuan." Jawabnya.


"Lalu, mengapa kau juga menggodaku?"


"Apa?!" Alea membulatkan matanya menatap kepada Arthur. "Kenapa tuan Arthur berpikir seperti itu?" Lanjutnya.


"Menurutmu apakah pantas? istri muda dari ayahku masuk kedalam kamar anak laki-laki tirinya."


"Pikiranmu begitu pendek! aku kesini hanya berniat untuk membantu mengganti perban lukamu. Mengapa kau malah menuduhku yang tidak-tidak!"


"Aku hanya ingin mengingatkan! jangan pernah berani coba-coba untuk masuk ke kandang harimau, jika kau tak ingin menjadi santapannya." Ancam Arthur.


"Ada apa dengan dengan tuan Arthur? mengapa sikapnya tiba-tiba seperti ini?" Batin Alea.


"ekhm..." Suara Rachel membuyarkan lamunannya. "Sedang apa kau disini?" Sinis Rachel kepada Alea.


"Aku hanya ingin membantu tuan Arthur, untuk mengganti perbannya."


"Jauh-jauh dari kakakku! aku tidak rela kak Arthur dekat-dekat dengan seorang wanita rendahan sepertimu." Ucap Rachel seraya mendorongnya.


"Sudahlah! sebaiknya kau cepat bawa wanita ini pergi. Karena aku tidak ingin melihatnya." Ujar Arthur. Melihat dari usianya saja, Arthur sudah sangat merasa yakin kalau Alea menikah dengan ayahnya bukan atas dasar cinta, melainkan harta.

__ADS_1


Semenjak amnesia Rachel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendekati Arthur. Dia bahkan telah mencuci otak Arthur agar membenci Alea dengan cara terus menjelek-jelekkan nya.


"Rasain! memangnya enak, gak dianggap sama sekali sama kak Arthur. Karena itu yang dulu sering aku rasakan." Batin Rachel menatap sinis kepergian Alea.


"Rachel apa kau juga bisa pergi?" tanya Arthur.


"Bisa bicara sebentar tidak kak?"


"Ya. Kau ingin bicara apa?"


"Kak Arthur mau temani aku jalan keluar gak? emm, maksudku kak Arthur mau ya, temani aku belanja?"


"Sorry Rachel. Sepertinya kakak gak bisa." Tolak Arthur.


"Padahal aku ingin sekali keluar dengan kak Arthur." Rengeknya.


"Lain kali saja ya." Ucap Arthur seraya mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Kak Arthur mengelus kepalaku? apa aku tidak bermimpi?" Seketika Rachel tersenyum berbinar-binar.


Tok Tok Tok....


"Maaf tuan muda. Dibawah ada teman-teman tuan sudah menunggu." Ucap Laura dari balik pintu yang terbuka.


"Aku ingin pergi dengan teman-teman ku."


"Apakah aku boleh ikut?"


Arthur tertegun sejenak, kemudian dia mengangguki keinginan adiknya.


*


Sepanjang perjalanan sikap Arthur terlihat dingin terhadap Calista. Padahal keduanya duduk dijok mobil belakang berdampingan. Sementara Rachel duduk didepan bersama Chris yang fokus menyetir mobilnya.


"Rachel, kau kuliah mengambil jurusan apa?" Chris memecah keheningan didalam mobil itu.


"Kedokteran." Singkat Rachel dengan juteknya, sesekali dia menoleh kebelakang. Ada perasaan tidak rela ketika Calista memepet Arthur dan mencoba untuk menyandarkan kepala dibahunya.


"Arthur kau beruntung, karena memiliki adik calon dokter." Ucap Chris terkekeh.

__ADS_1


"Tentu saja! kau harus bayar mahal jika ingin memakai jasa perawatannya." Ujar Arthur yang ikut terkekeh.


"Ternyata sikap kak Arthur begitu hangat jika bersama temannya. Aku harus dekati Chris, dengan begitu aku bisa mengorek informasi tentang hal apa saja yang disukai kak Arthur. Sepertinya Chris tahu banyak tentang sifat dan karakter kak Arthur." Batin Rachel menatap kearah laki-laki yang ada disampingnya.


"Kalau dipikir-pikir Rachel itu lumayan juga." Batin Chris sekilas mencuri-curi pandang terhadapnya. "Rachel, bisa tolong catat nomer ponsel mu tidak?" tanya Chris seraya menyodorkan ponsel miliknya kepada Rachel.


"Kebetulan sekali." Batinnya. "Tentu saja!" Rachel segera meraihnya lalu mencatat nomernya di ponsel Chris.


Setelah sampai di restoran Chris pun segera memarkirkan mobilnya, dan mereka berempat masuk beriringan.


"Arthur, apa kau ingat? tempat ini itu tempat favorit kita dulu?" Ucap Calista antusias. Namun Arthur menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingat sama sekali tentang tempat ini." Sahutnya.


Seketika Rachel menyunggingkan senyum di bibirnya. "Tidak akan ada lagi kenangan dimasa lalu! karena yang kak Arthur ingat itu hanyalah masa sekarang. Masa-masa dimana kak Arthur yang hanya banyak menghabiskan waktunya bersamaku." Batin Rachel.


Calista terus mengungkit kenangan indah dimasa lalunya bersama Arthur, berharap itu akan memancing ingatannya agar bisa kembali. Namun Arthur tak bereaksi apa-apa meskipun Calista telah bercerita panjang lebar.


"Kita sudah cukup lama disini. Sebaiknya kita pulang, karena ibunya Arthur tadi meminta kita untuk tidak berlama-lama membawa Arthur keluar."


"Kenapa kau terlalu berlebihan menanggapi ucapan ibuku?" Ucap Arthur.


"Bukannya berlebihan! tapi aku tahu kekhawatiran yang dirasakan oleh ibumu, mengingat tentang kondisimu yang sama sekali belum ingat apa-apa tentang masa lalu mu." Ujar Chris.


"Sepertinya kau memang tahu banyak tentang aku dan ibuku. Aku semakin yakin, kalau kau itu memang benar-benar sahabatku." Arthur terkekeh.


"Apa? jadi selama ini kau meraguka ku?"


"Sedikit." Ucap Arthur mengkritingkan jari tangannya, sehingga membuat Calista dan Rachel pun tertawa. Chris terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.


Chris mengantar Calista ke apartemen nya terlebih dahulu.


"Arthur, bisa mampir sebentar gak? soalnya ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Pinta Calista. Sekilas Arthur menoleh kearah Chris yang juga sedang menatapnya.


"Baiklah." Arthur ikut turun dari mobil yang dikemudikan Chris. Saat Rachel juga ingin ikut turun, dengan cepat Chris memegang pergelangan tangannya.


"Biarkan mereka pergi. Dan kau tetaplah disini." Pinta Chris.


"Tapi aku sangat mengkhawatirkan kakakku! aku tidak akan membiarkannya untuk pergi berdua saja dengan orang asing."

__ADS_1


"Calista bukan orang asing! tapi dia itu pacarnya. Calista juga tidak mungkin menyakiti Arthur, karena aku paham betul bagaimana perasaan Calista terhadap Arthur."


Dengan raut wajah yang masam, Rachel terpaksa membiarkan Arthur dan Calista pergi, walaupun dengan hati yang tidak rela.


__ADS_2