Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
30 luka dihati


__ADS_3

Alea mengamati luka diwajah Arthur yang lumayan cukup parah. pelipis dan pipinya tampak membiru, serta hidung dan bibirnya yang berdarah. Terlebih dari tadi Arthur juga tampak memekik seraya memegangi perutnya.


Alea pun duduk disampingnya. Dia mengunci pandangan Arthur agar menatapnya. "Luka mu cukup parah, sebaiknya kita pergi ke dokter." Bujuk Alea dengan lembut seraya memegangi kedua pipi Arthur dengan kedua tangannya.


Arthur menatap dalam wajah Alea. Dia terpaku melihat kecantikannya, bahkan tanpa polesan makeup sedikitpun Alea terlihat sangat cantik. Namun tiba-tiba pandangannya terkunci pada kissmark yang ditinggalkan Carlos tadi. Seketika dia pun kembali menepis tangan Alea.


"Pergilah! aku tidak ingin melihatmu." Ucap Arthur seraya memalingkan wajahnya.


"Aku tidak bisa pergi dengan keadaanmu yang seperti ini." Sahut Alea mengiba.


"Luka di tubuhku ini tidak seberapa, dengan luka di hatiku saat ini." Ujar Arthur.


Alea mengerutkan keningnya, tak paham dengan apa yang dibicarakan Arthur. "Apa orang itu menyakiti hatimu juga? memangnya apa yang dia katakan sehingga membuatmu sakit hati?" tanyanya dengan polos.


Bukannya menjawab, Arthur malah menatap geram wajah polos Alea, karena tidak paham dengan maksud dari ucapannya. Tentu saja dia sakit hati saat melihat kissmark di leher Alea, dia yakin kalau ayahnya telah berhasil menumpahkan seluruh has*ratnya terhadap Alea.


"Aku tidak menyangka, kalau orang seperti tuan Arthur bisa juga merasakan sakit hati." Batin Alea. Alea beranjak dari duduknya lalu mencari kotak obat.


"Apa yang kau cari?" tanya Arthur, saat melihat Alea membuka tutup semua laci dikamar nya.


"Obat P3K." Jawab singkat Alea.


"Untuk apa?" tanyanya.


"Tuan Arthur ini bodoh, atau pura-pura tidak tahu? jelas-jelas aku mencari kotak obat itu untuk mengobati lukanya." Batin Alea yang terus fokus mencari dimana letaknya kotak obat itu.


"Nah ini dia..." Seru Alea hendak mengambilnya, namun tiba-tiba Arthur menghampirinya dan menutup kembali laci itu.


"Tuan Arthur..." Alea sedikit terkejut dengan sikap aneh pemuda yang ada dihadapan nya.


"Apa kau ingin mengobati luka ku?" tanya Arthur menatap dalam wajah Alea. Alea balik menatapnya.


"Ya. Tentu saja!" jawabnya.


"Obati dulu, luka di hatiku!" Ujar Arthur.


Alea tercengang mendengar ucapannya. "Obati luka dihati tuan? bagaimana caranya?" tanya Alea.

__ADS_1


Tiba-tiba Arthur mencodongkan tubuhnya lalu mengecup ranum bibir Alea. "Seperti ini." Ucap Arthur. Dia pun hendak menciumnya namun dengan cepat Alea mendorong tubuh Arthur.


"Ma-maaf tuan. A-aku harus pergi." Ucap Alea yang gelagapan.


"Alea..." Panggil Arthur. Namun Alea tidak menghiraukannya. Dia segera keluar dari kamar Arthur dan masuk kedalam kamarnya, yang kebetulan berdampingan disamping kamar Arthur.


bruuughh. Alea menutup pintunya dengan keras. "Tuan Arthur tidak pernah berubah! dia selalu saja melakukan apapun yang dia inginkan tanpa memperdulikan perasaan orang lain." Gumam Alea seraya memegangi bibirnya bekas kecupan Arthur tadi.


*


"Apa kalian sudah tidak becus bekerja disini?" maki Carlos kepada anak buahnya yang berjumlah lebih dari sepuluh orang. "Ini sudah yang kedua kalinya kalian membiarkan penyusup masuk kedalam mansion Bratajaya." Lanjutnya.


"Maaf tuan besar. Tapi penjagaan diluar sudah sangat ketat, kami tidak tahu lewat mana lagi penyusup itu bisa masuk."


Bugh. Carlos langsung menghantam wajah pria bertato serta bertubuh kekar itu. "Sudah sangat ketat kau bilang? lalu bagaimana cara si penyusup itu bisa masuk jika kalian sudah bekerja dengan benar?"


Mereka semua menunduk, tak ada yang berani menjawab Carlos.


"Dimana Jhonny?" tanya Carlos saat baru sadar kalau dia tidak berkumpul dengan anak buah yang lainnya.


"Sepertinya dia tidur tuan besar."


"Baik tuan."


Beberapa saat kemudian Jhonny datang. Dengan menggunakan jaket tebal serta memakai masker hingga hampir menutupi seluruh wajahnya. Namun sedikitpun Carlos tidak menaruh kecurigaan apapun kepadanya, terlebih Jhonny itu adalah kaki tangannya.


"Ada apa tuan besar?" tanya Jhonny.


"Ada penyusup masuk, dan kau bilang ada apa! apa saja kerja mu hakh?"


"Maaf tuan. Saya sedikit tidak enak badan, makanya tadi saya beristirahat sebentar." Sahut Jhonny.


"Kali ini aku maafkan kalian semua. Tapi kalau sampai kejadian ini terulang untuk yang ketiga kalinya. Kalian semua akan aku pecat." Tegas Carlos lalu pergi meninggalkan semua anak buahnya.


*


Samantha, Chamela, Stevani dan juga Rachel sudah berada didalam kamar Arthur, ketika mereka mendengar peristiwa yang menimpa putra sulung Carlos Bratajaya.

__ADS_1


"Jangan seperti anak kecil! lukamu itu harus segera diobati. Karena kalau tidak, lukanya bisa infeksi." Bujuk Samantha kepada putra kesayangannya.


"Sudah kubilang, aku tidak mau! biar saja lukanya seperti ini." Tolak Arthur ketika ibunya hendak mengobati luka diwajahnya.


"Anak keras kepala!" Decak Stevani yang menatap sinis kepada Arthur.


"Kau itu bukan dokter! lalu untuk apa kau disini? kehadiranmu juga tidak akan membuat luka diwajahku membaik." Sinis Arthur kepada Stevani.


"Sialan ini anak! ibunya begitu baik dan penyabar. Bagaimana bisa kak Samantha memiliki anak yang kurang ajar seperti Arthur." Batin Stevani menatap geram wajah Arthur.


"Sini bu? biar aku saja yang mengobati luka kak Arthur." Ucap Rachel seraya mengambil kotak obat yang ada ditangan Samantha.


"Jangan pernah berani coba-coba menyentuhku, atau aku tidak akan segan-segan untuk berbuat kasar kepadamu." Bentak Arthur ketika Rachel hendak mengoleskan salep ke wajahnya.


"Arthur, niat Rachel itu baik! dia hanya ingin mengobati lukamu. Kau tidak perlu kasar kepadanya." Tegur Samantha.


"Tidak apa-apa bu." Lirih Rachel lalu bangkit dari duduknya dan kembali menghampiri ibunya.


"Sudahlah Rachel, kau tidak perlu cari muka kepada kakakmu yang tidak tahu diri itu." Bisik Chamela kepada Rachel.


"Aku tidak sedang cari muka bu. Tapi aku memang benar-benar peduli kepadanya." Batin Rachel menatap nanar wajah Arthur yang sedang dinasehati oleh ibunya.


"Arthur, bagaimana keadaanmu?" tanya Carlos saat masuk kedalam kamarnya.


"Aku baik-baik saja." Jawab Arthur tanpa melihat wajah ayahnya.


"Apa tuan Carlos berhasil menangkap orang itu?" tanya Samantha.


"Aku tidak tahu kemana larinya orang itu! karena tiba-tiba saja dia menghilang." Sahut Carlos.


"Untuk saat ini posisi ku mungkin masih aman. Jhonny. Jhonny... Sudah aku bayar mahal-mahal tapi kerja begitu saja gak becus." Batin Chamela.


"Sudah pasti pelakunya adalah orang yang bermasalah dengan Arthur." Ucap Stevani secara tiba-tiba, yang membuat jantung Chamela seakan berhenti berdetak. Pasalnya belum lama ini Chamela bertengkar dengan Arthur.


"Sial! kenapa Stevani bicara seperti itu? apa dia ingin menyudutkan ku.


Ucapan Stevani membuat Arthur menatap tajam kearah Chamela yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Stevani jangan asal bicara kau!" bentak Chamela yang membuat semua orang terkejut. "Belum lama ini aku memang bertengkar dengan Arthur. Tapi aku tidak pernah ada niat sedikitpun untuk mencelakainya." Lanjutnya.


"Aku tidak menuduh mu! mengapa reaksimu berlebihan?" tanya Stevani. "Bukankah kau juga tahu, kalau Arthur pernah bermasalah dengan Alea. Mungkin saja dia yang melakukannya." Ucap Stevani yang mencurigai Alea sebagai pelakunya.


__ADS_2