Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
47 berterus terang


__ADS_3

Tak terasa malam telah berganti siang. Alea ternganga tersentak kaget, dia pun segera beranjak dari kamar mandi setelah dia melilitkan handuk putih ditubuh mungilnya.


Alea menatap wajahnya dicermin. Rasa gatal diwajahnya memang sudah hilang tapi wajah dan lehernya kini tampak memerah karena kemarin Alea menggaruknya secara kasar.


Saat pintu kamar diketuk dengan cepat Alea membukakan pintu. Alea tidak sadar kalau saat ini dia hanya mengenakan handuk putih yang melingkar di tubuhnya.


Arthur ternganga melihat Alea, berkali-kali dia menelan ludahnya. Sadar akan hal itu dengan cepat Alea menutup pintu, namun Arthur menahannya.


"Tuan Arthur jangan macam-macam! lebih baik sekarang tuan pergi karena kalau tidak, aku akan berteriak." Ancam Alea. Keduanya saling mendorong pintu. Alea berusaha menutup pintu itu, sementara Arthur berusaha untuk membukanya. Arthur semakin kuat mendorongnya hingga pintu itupun kini terbuka lebar dan membuat tubuh Alea sedikit terpental.


Tak ingin Carlos melihat itu Alea pun mendorong tubuh Arthur agar keluar dari kamarnya.


"Sepertinya kau sudah sangat mencintai ayahku, hingga kau begitu takut jika ayah memergoki kita berdua." Ucapan Arthur membuat Alea terperangah bagaimana bisa Arthur berpikiran seperti itu.


"Ini bukan saatnya untuk membahas cinta! sebaiknya tuan Arthur cepat pergi." Pinta Alea namun Arthur tak mengindahkan keinginannya.


"Apa yang kau lakukan dengan ayah semalam? sepertinya ayah sudah habis melahap dirimu." Ucap Arthur setelah melihat beberapa tanda merah diwajah dan dilehernya.


Alea ternganga mendengar ucapan Arthur, namun sepertinya dia memang harus sedikit berbohong agar Arthur mau pergi dari kamarnya. "Iya. Aku memang sudah dilahap habis oleh ayahmu." Ujar Alea. Dan benar saja seketika Arthur langsung keluar meninggalkannya.


"Aku yakin! kalau ingatan tuan Arthur memang sudah kembali. Itu terlihat sangat jelas dari bagaimana cara dia memperlakukan aku." Batin Alea menatap kepergiannya.


Selang beberapa saat setelah Arthur sudah meninggalkan kamar Alea, Laura pun datang dan meminta Alea segera turun untuk sarapan bersama-sama. Arthur memalingkan wajahnya berkali-kali ketika Alea tiba dimeja makan dan dipersilahkan duduk oleh Laura.


"Sial! kenapa aku harus marah ketika Alea mengatakan kalau dirinya memang telah dilahap habis oleh ayah. Aku memang mencintainya, tapi bukankah ayah memang lebih berhak atas dirinya. Lagi pula, Alea mungkin sudah sering melakukan itu dengan ayah." Batin Arthur, dia pun sekilas menoleh kearah Alea.


"Ada apa dengan kak Arthur? mengapa raut wajahnya terlihat begitu kesal." Batin Rachel yang diam-diam memperhatikannya.


Setelah selesai sarapan Arthur langsung pergi dengan tergesa-gesa. Tanpa sepengetahuannya ternyata Samantha meminta Leon untuk mengikuti kemanapun dia pergi.


"Tuan Arthur mau kemana?" Batin Alea, sekilas diapun menoleh kepada Chamela yang tampak fokus dengan makanannya. Alea segera menghabiskan makanannya lalu menyusul Arthur keluar.


"Tuan Arthur tunggu!" teriak Alea. Sehingga Arthur pun menoleh kearahnya.


"Kenapa?" tanyanya dengan sedikit sinis.


"Tuan Arthur mau kemana?"


"Apa itu urusanmu?" Arthur masih sinis.

__ADS_1


"Tentu saja!"


"Kenapa begitu?"


"Karena aku istri tuan Carlos, yang tak lain ayah dari tuan Arthur. Jadi aku berhak tahu kemanapun tuan Arthur akan pergi." Jawab Alea sekenanya.


Tanpa sepengetahuan mereka ternyata diam-diam Carlos mengikuti Alea dan kini mengintip pembicaraan keduanya. Carlos tersenyum menyeringai ketika Alea mau mengakui dirinya sebagai suami. "Ini berarti tidak akan lama lagi Alea pasti mau menyerahkan seluruh tubuhnya untukku." Batin Carlos.


Arthur menghirup nafas panjang lalu kemudian membuangnya secara kasar. "Tidak perlu kau ingatkan lagi! aku tahu betul kalau ayahku itu suamimu, dan dia juga yang telah membawamu kemari. Apa kau puas?"


"Jadi tuan Arthur mau kemana?" Alea mengulang pertanyaan berharap Arthur mau memberikan jawaban.


"Aku akan pergi ke apartemen Chris." Jawab Arthur.


"Berhati-hatilah! karena seseorang mungkin saja sedang mengincar tuan."


"Kenapa Alea berkata seperti itu? apa dia tahu sesuatu?" Pikir Arthur dalam hatinya. Dia pun menatap lekat wajah Alea. "Apa kau ingin ikut?" Ajaknya tiba-tiba.


"Emm, tidak." Tolak Alea setelah berpikir sejenak.


"Mulutmu berkata tidak, tapi sepertinya hatimu mengatakan lain!" Ujar Arthur, Alea pun menohok. "Sudah, lebih baik kau ikut denganku." Tanpa menunggu jawaban dari Alea Arthur langsung menarik tangan Alea dan mendorongnya pelan masuk kedalam mobil.


"Jangan berbohong! aku tahu kalau kau mencemaskanku, maka dari itu aku sengaja mengajakmu agar kau tidak mengkhawatirkanku." Ucapan Arthur membuat Alea menohok.


Melihat itu Carlos semakin yakin, kalau putra sulungnya mempunyai perasaan terhadap Alea. Dia tidak ingin bersaing memperebutkan seorang wanita dengan Arthur, namun dia juga tidak mau melepaskan Alea dan mengalah kepada putra pertamanya itu.


Kurang lebih sekitar tiga puluh menitan lamanya mereka telah sampai di apartemen Chris. Disana juga sudah ada Calista yang menyambut dan memeluk hangat Arthur.


"Arthur, aku sangat merindukanmu." Ucap Calista yang enggan melepaskan pelukannya.


"Alea, aku senang kau sudah bebas dari penjara." Ucapan Chris membuat Arthur sangat terkejut diapun melepaskan tangan Calista yang melingkar erat di pinggangnya.


"Apa? Alea masuk penjara?" Arthur ternganga, ternyata setelah dia koma banyak kejadian yang tidak dia ketahui.


"Ya. Ku pikir kau yang telah membebaskannya." Sahut Chris yang juga terkejut karena ternyata Arthur tidak tahu apa-apa.


Arthur teringat akan ucapan ayahnya perihal luka lebam yang ada diwajah Alea. Diapun menoleh kearah Alea. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau pernah masuk penjara? dan siapa yang telah menjebloskanmu?" tanyanya.


Alea diam saja tak berani menjawabnya karena dia takut kalau Arthur akan marah kepada ibunya.

__ADS_1


"Ibumu yang telah melaporkan Alea kekantor polisi dan memenjarakannya." Sahut Chris.


"Kenapa ibuku melakukannya?"


"Ibumu menuduh Alea yang telah memukulmu hingga kau merasa kesakitan, dan kembali koma."


Arthur mendekati Alea lalu menatap dalam dirinya. "Apa benar yang dikatakan oleh Chris?" Pertanyaan Arthur dibalas anggukan kecil dari Alea. "Lalu kenapa kau tidak memberi tahuku? pantas saja akhir-akhir ini ibu sepertinya tidak suka denganmu. Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini." Ucap Arthur.


"Arthur..." Chris merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sikapnya.


"Kenapa?"


"Apa ingatanmu sudah kembali?"


Arthur mengangguk. Dia tidak bisa membohongi Chris sahabatnya.


"Jadi benar! kalau ingatan tuan Arthur sudah kembali." Batin Alea.


"Sungguh?" Calista sangat antusias, dia pun kembali memeluk Arthur. Melihat itu Alea langsung memalingkan wajahnya kearah lain.


Drrrtttttt....


Ponsel Chris tiba-tiba bergetar pertanda ada pesan masuk, dia pun segera membacanya.


"*Chris, aku boleh main ke apartemen mu tidak?" isi pesan dari Rachel. Rachel tahu kalau Arthur sedang berada di apartemen Chris.


dengan cepat Chris langsung membalasnya. "Tentu saja! kapan?"


"Sekarang."


"Baik! kalau begitu aku jemput sekarang."


"Iya." Balasan terakhir dari Rachel*.


"Guys aku tinggal dulu ya?" Ucap Chris seraya beranjak dari duduknya. Dia mengambil kunci dan jasnya.


"Kau mau kemana?" tanya Arthur.


"Menjemput masa depan." Jawaban Chris membuat Arthur mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2