Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam

Terjerat Cinta Tuan Muda Kejam
64 cinta dan benci


__ADS_3

Seorang wanita seksi mendekati Arthur lalu merangkulnya. "Kau itu laki-laki yang sempurna! untuk apa kau mengejar wanita yang tidak mencintaimu. Lihat aku baik-baik?" Pinta wanita itu mengunci pandangan Arthur agar menatapnya. "bukankah wajahku ini tak kalah cantik dari wanita ini-..." Ucapnya seraya menatap sinis kepada Alea. "Kalau kau mau, aku bisa memberikan segalanya untukmu. Hanya untukmu!" Bisiknya dengan nafas yang menggebu dan nada bicaranya yang sangat menggoda.


Arthur melempaskan tangan wanita itu, lalu mengambil botol minuman yang ada dihadapannya. Namun saat dia hendak menenggak minuman itu, refleks Alea langsung merebutnya.


"Jangan!" Teriak Alea, sehingga membuat Arthur menatapnya. Dan hampir semua orang yang ada disana menatap heran.


"Aku tidak mengerti kenapa kau membawa wanita gak asyik ini kemari." Sindir wanita itu seraya menyodorkan botol lain kepada Arthur, sehingga membuat Alea kesal ketika melihat Arthur menerimanya lalu menenggaknya. Akhirnya dia berdiri dari duduknya hendak pergi namun Arthur menarik tangannya dan memintanya duduk kembali.


"Tuan Arthur, tolong biarkan aku pergi."


"Tanda tangani dulu surat perjanjian itu." Bisik Arthur.


"Harus berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak akan pernah mau menerima perjanjian gi*la itu! memangnya kau pikir aku itu wanita seperti apa? aku bukan budak naf*su tuan." Decak Alea yang tentu saja didengar oleh semua orang karena dia bicara dengan cukup lantang.


"Arthur, wanita yang ada disampingmu ini sepertinya harus kita beri pelajaran..." Pria itu meminta wanita yang ada di pangkuannya untuk turun lalu menghampiri Alea. Bukan hanya satu orang, tapi hampir semua laki-laki dari mereka mendekati Alea lalu menggodanya.


"Wanita cantik ini jual mahal juga ya ternyata." Pria itu menatap wajah dan tubuh Alea dengan penuh has*rat, bahkan salah satu dari mereka ada yang berani mencolek-colek Alea.


"Jangan kurang ajar!" Sentak Alea.


"Wihh... Galak juga ternyata! bagaimana kalau kita beri dia pelajaran?" tanya salah satu dari mereka kepada temannya.


"Ide yang bagus! sayang kalau wanita secantik ini dianggurin begitu saja." Pria itu kembali mencolek bagian tubuh Alea yang lain.


"Jangan macam-macam!" Sentak Alea, dia hendak pergi namun tangan dan kakinya malah dipegangi oleh para pria itu. "Lepaskan! apa yang kalian lakukan..." Teriaknya.


"Sepertinya wanita seperti mu belum pernah merasakan indahnya bercinta. Biar -ku ajarkan! aku yakin kau akan menyukainya dan akan membuatmu ketagihan sehingga meminta lagi dan lagi." Pria itu hendak mencium Alea.


Bruuuakkkk....


"Cukup!" Teriak Arthur seraya melemparkan botol minuman yang ada ditangannya. Dia yang sudah sedari tadi berusaha menahan amarahnya karena teman-temannya menggoda Alea bahkan ada yang berani mencolek-coleknya. "Dia itu mainan ku! jangan pernah berani-berani untuk menyentuhnya." Lanjutnya.


Seketika teman-temannya langsung melepas Alea lalu kembali duduk ketempat masing-masing.

__ADS_1


"Mainan? tega sekali dia berkata seperti itu dihadapan teman-temannya. Ternyata aku memang tidak ada harganya sama sekali dimatanya." Batin Alea.


Cup. Seorang wanita mengecup teman prianya, hingga akhirnya mereka berciuman. Tanpa rasa malu mereka menunjukkan aksinya itu dihadapan semua orang, Alea terperangah kaget melihat tingkah laku dari wanita yang ada dihadapannya.


Tiba-tiba pasangan yang lainnya ikut mencontoh tindakan yang dilakukan wanita itu, bahkan beberapa diantaranya ada yang nekat melepaskan pakaiannya hingga tampaklah gunung kembarnya yang hanya tertutupi oleh kain yang berbentuk segi tiga.


Alea sebagai seorang wanita dia merasa malu dengan tindakan bodoh yang dilakukan oleh beberapa wanita itu.


Merasa muak dengan situasi yang ada, Alea berdiri lalu berlari meninggalkan mereka namun dikejar oleh Arthur.


"Mau kemana? aku belum mengijinkan mu untuk pergi!" Ucap Arthur setelah berhasil mencengkram tangannya.


"Tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini." Alea tampak memelas seraya berusaha untuk menyingkirkan tangan Arthur dari tangannya.


"Ini belum usai! aku bahkan belum menunjukkan seberapa bajingan nya diriku ini. Bukankah itu yang selalu kau pikirkan?"


"Aku akan mengadukan perbuatanmu ini kepada tuan Carlos." Sentak Alea.


"Ck. Lakukan saja! aku tidak takut." Arthur malah menantangnya. "Sekarang cepat tanda tangani surat perjanjian ini? setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Arthur memberikan surat perjanjian itu lagi kepada Alea berharap dia mau menanda tangani nya. Namun ternyata Alea malah merobeknya.


"Andai saja waktu itu kau tidak menjelek-jelekkan ku dan membanding-bandingkan aku dengan Leon, aku juga tidak akan seperti ini."


"Mengapa kau marah? bukankah benar yang aku katakan kalau Leon itu memang jauh lebih baik dari tuan Arthur. Dia itu seorang laki-laki yang terhormat, yang tidak mungkin memperlakukan wanita seperti apa yang tuan Arthur lakukan kepadaku." Alea bicara dengan nada tinggi.


Arthur mengepalkan tangannya mendengar ucapan menyakitkan dari mulut manis Alea. Dia melakukan itu karena dia tak mau Alea disentuh oleh ayahnya.


Arthur mengatur nafasnya berusaha mengendalikan amarahnya. "Baik! kita pulang sekarang." Ucap Arthur secara tiba-tiba.


***


Arthur menggantikan ayahnya sementara waktu untuk menghandle perusahaan, jadi otomatis untuk sementara waktu juga Alea bertugas menjadi sekretaris Arthur.


Sejak kejadian di-vila sikap keduanya jadi nampak dingin, bahkan Arthur yang biasanya mengganggu Alea mendadak tak memperdulikannya sama sekali.

__ADS_1


Tok Tok Tok...


"Masuk..."


"Sayang aku membawakan makan siang untukmu, kau makan sekarang ya?" Pinta Calista penuh perhatian.


Alea berdiri dari meja kerjanya dan pamit untuk keluar, namun Calista malah mengajaknya untuk makan siang bersama. Karena dia sengaja membawa makanan yang banyak untuk mereka makan bertiga.


"Kalian makan berdua saja, karena aku ingin pergi ke kantin." Tolaknya.


"Alea apa kau tidak menghargaiku? asal kau tahu, aku sengaja memasak semua makanan ini untuk calon suami dan calon mertuaku." Ucap Calista tersenyum penuh arti.


Alea mengusap-usap tengkuknya mendengar ucapan Calista. Tidak nyaman sekali untuknya ketika dipanggil calon mertua di-usianya baru 20 tahunan.


"Tadi aku telepon nomer-mu kenapa tidak aktif?" tanya Calista kepada Alea disela-sela makannya.


"Emm, ponselku rusak." Jawabnya.


"Lagi? Kenapa kau hobby sekali merusak handphone." Celoteh Calista.


Alea tersenyum getir. Tidak mungkin dia mengatakan kepada Calista kalau Arthur yang sudah membanting handphone nya hingga rusak. Alea menoleh kepada Arthur yang sedang menikmati makanannya. "Mungkin lebih baik jika aku dengannya terus bersikap seperti ini." Batinnya.


Calista menemani Arthur bekerja hingga jam kantor usai.


"Alea kau pulang bareng sama kita ya?" Ajak Calista.


"Tidak usah, biar aku pulang sendiri." Tolak Alea secara halus.


"Kenapa? lagi pula tempat tinggalmu yang sekarang dekat dari sini kan?"


"Alea benar! jangan memaksanya, biarkan dia pulang sendiri." Sahut Arthur lalu keluar ruangan lebih dulu.


Alea berdiri menunggu taksi dipinggir jalan. Dia tidak tahu kalau Calista sedang memperhatikannya dari dalam mobil Arthur.

__ADS_1


"Cuacanya mendung, ku rasa sebentar lagi akan turun hujan. Apa kau yakin tidak ingin mengajak Alea untuk pulang bersama kita?" tanya Calista kepada kekasihnya.


"Aku sudah menyuruh Leon untuk segera menjemputnya. Jadi kau tidak perlu mencemaskannya." Ujar Arthur. Sebenarnya Calista merasa sangat heran, kenapa Arthur tiba-tiba bersikap begitu dingin terhadap Alea.


__ADS_2