Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 10. Bingung


__ADS_3

Kemudian, guru itu kembali kepada para siswa yang sedang bermain voli itu dan bertanya pada salah satu siswa yang ditugaskan untuk mewakilkan dirinya menghitung skor sebelum akhirnya dia teralihkan oleh Toni.


"Bagaimana? Sudah berapa skor perolehan masing-masing grup? Tanya sang guru.


"Ini pak." Balas sang murid sambil menyerahkan sebuah papan yang bertuliskan skor masing-masing.


Sang guru pun tersenyum melihat hasil dari kedua kelompok itu sama-sama kuat. Hasil pertandingan itu seri. Sehingga dia bisa menyimpulkan bahwa semua siswa yang bertanding itu lolos. Dan sebagian akan menjadi pemain cadangan. Namun dia tetap akan terus melatihnya.


Setelah itu, dia pergi kepada para siswa perempuan yang sedang bermain badminton, dan tennis meja. Dia melihat, tidak ada satu pun di antara mereka yang serius bermain. Tidak ada skor, dan tidak ada yang unggul.


Kemudian dia pindah kepada para siswa yang bermain sepak takraw dan melihat mereka bermain begitu serius, sampai-sampai kaos yang mereka pakai basah oleh keringat.


Sementara, dua puluh menit lagi sebelum jam pelajaran selesai, sang guru telah meminta semua siswa berhenti bermain dan menyuruh mereka menyimpan semua peralatan olahraga mereka. Lalu dia memberikan sedikit wejangan khususnya bagi siswa-siswa yang bermain bola voli. Dia berkata,


"Sebentar lagi akan ada pertandingan antar sekolah di tingkat kabupaten. Tapi hanya pertandingan voli. Karena itu bapak kumpulkan kalian di sini. Bapak kepala sekolah meminta agar kalian dilatih, dan diseleksi kembali. Kalian semua sudah lolos di tahap awal. Bapak perhatikan permainan kalian cukup bagus. Nanti, di jam-jam tertentu, kalian akan bapak tandingkan dengan para siswa dari kelas lain. Maka persiapkan diri dan mental kalian. Juga tenaga kalian."


Lalu dia melanjutkan lagi,


"Kau, Albert! Tuliskan nama-nama dari kelompok kalian ini, dan nanti serahkan sama bapak di kantor.


Sekarang, kalian boleh bubar dan istirahat." Ujar sang guru lalu pergi.


**********


Setelah sang guru meninggalkan mereka, dan bel istirahat berbunyi, Tuti dan Linda cepat-cepat menghampiri Betty yang saat itu sedang ganti baju. Mereka bicara tergesa-gesa,


"Bett, jadikan?" Tanya keduanya.


"Apa?"


"Lupa? Atau pura-pura lupa?" Ujar Linda.


"Lah, gimana sih? Makan dong. Kan kau udah janji mau traktir kami makan di kantin selama seminggu." Sambung Tuti.


"Apa? Seminggu? Nggak salah? Aku bisa bangkrut dong. Memangnya aku dikasih uang jajan lebih sama nenekku? Kalian tahu sendiri kan nenek ku gimana?"


"Kami tahu! Memang kenapa? Itu bukan urusan kami. Itu di luar kesepakatan. Sekarang, kamu mau traktir kami atau di bully?" Tanya Linda.

__ADS_1


Betty diam sejenak. Kemudian Tuti dan Linda berkata lagi,


"Hei! Hei!


Jangan kelamaan mikir."


"Waktu istirahat sudah berlalu sekian menit. Kami butuh waktu untuk mengunyah dan mencerna makanan itu nantinya. Jadi, jangan lama-lama. Ayo buruan!" Desak Tuti.


Maka tanpa menunggu lagi, Linda dan Tuti segera menarik tangan Betty menuju kantin dan segera memilih tempat yang paling dekat dengan kaca steleng tempat berbagai makanan disajikan. Kemudian mereka dengan cepat memilih-milih makanan yang mereka suka, juga gorengannya. Mereka pun makan dengan lahap sampai kenyang. Tapi tidak dengan Betty. Dia takut untuk mengambil makanan, karena takut uangnya tidak akan cukup membayar.


Dan memang demikianlah akhirnya. Meski dia tidak makan apapun, uangnya tetap tidak cukup. Bahkan dia terpaksa berhutang kepada ibu kantin, karena Tuti dan Linda menghabiskan makanan dalam porsi yang banyak.


Kelelahan saat olahraga, membuat lambung mereka kendur karena kehabisan energi. Sehingga lambung mereka kini bisa menampung makanan dalam jumlah yang banyak.


Betty pun kembali ke kelas dengan wajah yang tertunduk sedih. Bagaimana tidak? Uang jajannya selama tiga hari, habis dalam sekejap. Bahkan berhutang. Hal yang tak pernah terjadi. Terpaksa dia harus mengambil uang jajannya untuk tiga hari ke depan, untuk dihabiskan besok, dan membayar hutang.


Dia tidak habis pikir dan bingung sampai kapan itu akan terus berlangsung. Dan bagaimana dia akan memenuhi mulut lebar kedua temannya itu selanjutnya.


Maka, sejak jam pelajaran dimulai hingga selesai, dia selalu murung, lesu, dan tidak konsen pada mata pelajaran. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya mendapatkan uang jajan tambahan dari neneknya. Karena untuk mengakali neneknya tentang uang, bukanlah hal yang mudah. Dan jika dia meminta langsung kepada kedua orangtuanya yang bekerja sebagai TKI, juga tidak mudah. Karena pasti mereka pun akan bertanya untuk apa uang itu. Dan kenapa dia tidak meminta dari neneknya, sementara semuanya sudah diserahkan kepada neneknya. Dan neneknya lah yang bertanggung jawab kepada Betty sampai kontrak kerja kedua orangtua Betty habis dan mereka bisa kembali ke kampung halaman.


Siang itu, neneknya pergi ke rumah salah satu warga yang mana anaknya baru saja pulang dari luar negeri. Dia seorang pemuda yang tidak begitu tampan tapi memiliki banyak uang. Dia bekerja di pelayaran, di sebuah kapal pesiar sebagai koki.


Butuh waktu beberapa tahun baginya agar dia bisa pulang ke kampung halamannya melepas rindu. Karena seluruh waktu dan hidupnya, dia habiskan di tengah samudera. Berlabuh dari negara yang satu ke negera lainnya.


Bertemu dan berinteraksi dengan berbagai macam orang antar bangsa, pastilah hal yang sangat menyenangkan dan berharga untuk diceritakan kepada para tetangga yang datang ke rumahnya berkunjung karena penasaran.


Pemuda itu telah membangun rumah yang besar untuk orangtuanya, sebagai hasil dari kerja kerasnya. Dia juga membawa ole-ole khas dari beberapa negara yang dia kunjungi dan dia bagikan kepada kerabat, juga tetangga dekat, termasuk neneknya Betty.


Nenek Betty begitu terkesima dan terpukau oleh setiap pengalaman yang pemuda itu ceritakan. Dan sontak saja, dia tiba-tiba teringat akan suatu film yang sangat bagus dan dikenang dari masa ke masa, yaitu film 'Titanic.'


Dia membayangkan diri ada di sana dan mulai berhalusinasi dengan aktor tampan dari film tersebut. Dia pun sibuk tersenyum sendiri akibat halusinasinya yang bergejolak. Seolah tak nyambung dengan apa yang diceritakan pemuda itu. Karena pemuda itu bercerita tentang pengalamannya memasak di sebuah kapal pesiar bersama dengan koki-koki hebat lainnya dari berbagai negara.


Maka melihat keanehan sikapnya itu, salah satu wanita paruh baya dari kumpulan itu, menepuk bahu neneknya Betty dan mengejutkannya. Dia berkata,


"Hei, kenapa kau senyum-senyum sendiri kayak orang gila?


Mmm.... pasti menghayal yang bukan-bukan. Iya kan?

__ADS_1


Ayo ngaku!"


"Idih... apaan sih? Jangan suka ngarang yah!"


"Lho! Memang benar kan? Buktinya kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Padahal tidak ada yang ngelucu di sini."


"Ada!"


"Apa?"


"Mau tahu...... aja! Urus aja urusanmu sendiri!"


Lalu ada seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah ayah pemuda itu, hendak mencoba menghentikan perdebatan itu. Dia berkata,


"Hei, hei, hei!


Sudah, jangan bertengkar!


Ibu-ibu ini sudah tua. Apa nggak malu, bertengkar di depan anak muda?"


"Tahu nih! Neneknya si Betty!" Ujar wanita paruh baya itu.


"Lho. Kok saya? Kamu dong!"


"Hei, sudah! Sudah!


Nih, diminum dulu tehnya. Mumpung masih hangat. Biar kepala kalian dingin." Ujar ayah pemuda itu lagi.


"Nih orangtua! Anehnya bukan main. Masa minuman panas bisa membuat kepala dingin? Seharusnya, minuman dingin agar kepala dingin.


Nak, gimana bapakmu ini? Makin tua makin menjadi-jadi." Ujar wanita paruh baya itu.


"Bu, itu hanya bercanda. Ya sudah, saya ambilkan minuman dingin yah." Ujar pemuda itu ramah.


"Nah, gitu dong. Contoh anakmu ini, Maribet!" Sambung nenek Betty.


Maribet adalah ayah dari pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2