
Di pasar, neneknya membeli madu dan susu untuk Betty tapi dia tidak membeli untuknya juga. Karena yang dia pikirkan hanyalah mendukung keinginan cucunya. Baru kali itu dia begitu terharu dan bersemangat sejak melihat cucunya sudah berpikiran dewasa.
Seusai berbelanja, dia langsung pulang karena ingin memasak makanan spesial untuk mereka berdua.
Lalu sesampainya di rumah, dia cepat-cepat membersihkan ikan dan sayur yang sudah dibelinya dan langsung mengolahnya. Dia memberikan olahan bumbu yang terbaik agar ikan yang sederhana itu berubah menjadi santapan lezat.
Dia sangat bersemangat seolah hendak mempersiapkan jamuan yang spesial.
*********
Usai melakukan semua itu, dia pergi ke kamar Betty dan di tangannya ada segelas susu hangat.
Dia mengintip dari balik pintu dan melihat cucunya begitu serius merangkum pertanyaan sulit dari materi pelajaran yang dia pelajari tadi di sekolah.
Neneknya semakin senang melihatnya dan tak sabar ingin segera masuk. Maka dia langsung membukakan pintu itu lebar dan masuk lalu menghampiri Betty.
"Kelihatannya cucu nenek sangat serius belajarnya. Apa sebentar lagi kalian akan ujian?" Tanyanya antusias.
"Ah, nenek. Nggak juga. Apa itu di tangan nenek?
"Ini susu. Minumlah. Supaya kamu punya energi untuk berpikir."
"Ih...
Kan aku udah gendut nek. Nanti kalau aku minum susu, badanku akan tambah gendut nek."
"Betty cucu nenek, kamu nggak gendut. Tapi berisi atau gemuk." Balasnya sambil meletakkan susu itu di atas meja belajarnya.
__ADS_1
"Sama aja nek. Ga ada bedanya."
"Oh, jangan salah! Ada bedanya."
"Memang apa bedanya? Sok tahu aja."
"Dengar yah, kalau 'Gendut' itu, nggak ada harapan lagi untuk kurus. Atau sangat kecil kemungkinannya untuk kurus. Sedangkan 'Gemuk', masih punya harapan untuk kurus. Lagi pula kamu nggak gendut kok. Percayalah."
"Ah. Nenek ini cuma alasan aja. Bilang aja supaya aku mau minum susunya. Iya kan? Aku akan minum nek. Tenang aja. Lagipula nenek udah capek-capek siapin ini, kan sayang kalau tidak diminum."
Maka dia langsung mengambil segelas susu itu dan langsung menghabiskannya saat itu juga. Kemudian dia bicara lagi,
"Nek, nanti malam aku mau pergi ke rumah Tuti. Jadi mulai hari ini kami akan sering belajar kelompok. Kami belajar bergilirian. Maksudnya, ga hanya di rumah Tuti melulu. Mungkin besok di rumah kita, dan besoknya lagi di rumah Linda.
Kami bertiga ingin lulus dengan nilai yang memuaskan. Oh yah, aku belum cerita sama nenek. Kami bertiga bercita-cita mau jadi pramugari nek."
"Tapi... si Linda kayaknya ga bisa deh nek. Maksudku dia memang ingin. Tapi berat di ongkos nek. Nenek tahu kan kalau bapaknya Linda malas bekerja? Bapaknya itu bisanya hanya minta uang dari ibunya. Kalau dia bekerja sedikit saja, permintaannya udah banyak banget. Padahal dia bekerja untuk dia makan juga kan? Dan untuk keluarganya sendiri. Trus, kalau permintaanya tidak dituruti, atau keinginannya tidak tersampaikan, bapaknya langsung marah-marah. Banting-banting barang segala nek. Rak piringnya aja sampai hancur."
"Masa sih? Kok nenek ga tahu?"
"Iya nek. Betty serius. Karena itu aku dan Tuti berencana untuk menyisihkan uang saku kami demi membantu biaya pendidikan Linda nek. Tapi dia ga boleh tahu. Kalau dia sampai tahu, dia pasti menolaknya. Yah... kita sih bukan keluarga kaya nek. Ayah dan ibu aja harus kerja jadi TKI supaya bisa ngebiayain sekolah Betty. Tapi berbagi untuk teman sendiri boleh kan nek?"
Neneknya pun semakin terharu melihat betapa dewasanya kini cucunya berpikir. Dia bukan lagi cucu yang sering bertengkar dan mogok bicara kalau sedang marah dengan teman-temannya. Maka dengan penuh antusias neneknya menjawab,
"Tentu boleh dong. Justru itu yang nenek ajarkan padamu selama ini. Kepada sesama teman, kita harus saling membantu. Tak perlu tunggu kaya dulu baru bisa bantu. Kalau kalian sudah terapkan hal ini sejak dini, pertemanan kalian akan semakin kuat, bahkan nanti kalau kalian sudah dewasa dan berumah tangga.
Tapi sebelum pergi, kita makan dulu yah. Nenek sudah masakin makanan spesial untukmu. Supaya kamu punya tenaga ekstra untuk berpikir nanti."
__ADS_1
"Serius nek? Asyik...!"
"Yah sudah. Kamu siap-siap, nenek tunggu di dapur yah?"
"Mmm..." Betty mengangguk lalu cepat-cepat merapikan bukunya.
************
Sementara itu di rumah Tuti, ayahnya tampak sibuk memotong-motong daging kambing seperti permintaan Linda, mengolah bumbu dan memasaknya. Hanya dia sendiri yang bekerja dan tak dibantu oleh istrinya sama sekali.
Suaminya tidak mengizinkannya karena takut masakannya akan rusak. Jadi dia meminta istrinya untuk duduk santai di depan TV, sedangkan Tuti belajar di kamarnya.
Ketika dia selesai belajar, dia mengambil celengannya dan membongkarnya. Pecahan logam dan kertas pun berserakan di lantai. Lalu dia menghitung uang yang sudah dia tabung selama beberapa tahun. Dia tak menyangka jumlahnya cukup banyak. Sambil memandangi segepok uang di tangannya, dia berbicara sendiri,
"Tadinya aku berpikir untuk memberikan uang ini pada Linda untuk membantu biaya pendidikannya kelak. Tapi... setelah aku menghitung jumlahnya sebanyak ini, aku jadi tidak tega. Kok aku jadi merasa sayang yah memberikan uang ini seluruhnya? Masa aku tidak menikmati uang yang aku tabung dengan susah payah sih? Enak dong si Linda. Aku yang capek-capek menahan selera, dia yang menikmati uangnya. Aku nggak rela. Aku juga punya barang yang ingin sekali kubeli. Dan aku akan pakai uang ini. Dan nanti kalau uangnya sisa, baru deh aku berikan untuk Linda. Yah! Sisanya baru aku kasih untuk si Linda."
Setelah itu dia mengambil ponselnya dan melihat barang yang diidam-idamkannya selama ini di internet.
Itu adalah MacBook Pro. Begitu banyak waktu yang dia habiskan untuk mencari tipe yang paling dia inginkan dan cocok dengan uangnya. Lalu setelah mendapatkannya, dia berkomentar lagi,
"Yah...
Setelah aku belanjakan uang ini, sisanya tinggal tiga ratus delapan puluh lima ribu. Ini sih nggak cukup.
Tapi... biarlah. Kan masih ada satu tahun lagi. Selama satu tahun itu aku akan giat menabung. Nggak papa kan temanku Linda? Aku nggak lupa kok bantuin teman sendiri. Tapi aku juga harus selamatkan diri dulu dong. Iya kan?"
Kemudian setelah dia mendapatkan apa yang dia idam-idamkan, dia pun segera turun menghampiri ayahnya di dapur dan wajahnya sangat ceria.
__ADS_1