
Mereka pun asyik makan minum di sana sambil terus mendengarkan pengalaman pemuda itu, juga sesekali meledeknya, dan menggodanya. Neneknya Betty berkata,
"Hei nak, kau mau tidak ku jodohkan sama cucuku si Betty? Cucuku sangat cantik, rajin, ramah, dan juga pintar."
Namun ayah pemuda itu dengan cepat menjawab pertanyaannya. Dia menjawab,
"Aduh....
Cucumu kan masih kelas dua SMA. Masa depannya masih panjang. Kenapa terburu-buru menjodohkannya?"
"Kau ini bagaimana sih?
Memangnya kalau sudah dijodohkan, langsung menikah? Pemikiranmu jangan sempit, Maribet!"
Kemudian pemuda itu turut menyambung perkataan ayahnya. Dia berkata,
"Nek, yang dikatakan ayah benar. Jangan terburu-buru. Yang lebih baik dari saya kelak akan datang. Lagi pula bukan zamannya lagi menjodoh-jodohkan. Siapapun berhak dan bebas mencari siapa pasangannya. Karena yang akan menjalaninya, adalah mereka sendiri."
"Benar itu! Makanya, jadi nenek jangan terhipu-hipu." Sambung wanita paruh baya yang lain yang turut nimbrung di percakapan itu.
Maka, neneknya Betty tak bisa menjawab apapun lagi. Dia seperti kehabisan kata-kata untuk membela diri. Dia bahkan tidak tahan lagi berlama-lama di sana karena merasa malu. Semua serasa memojokkannya. Maka dia buru-buru pamit dari sana dan pulang.
Sementara itu di rumah, Betty sibuk mengarang cerita untuk meminta tambahan uang dari neneknya. Dia duduk di meja makan dan sangat pusing. Dia memain-mainkan sendoknya dengan cara memukul-mukulnya ke piringnya. Makanannya pun tak dia habiskan.
'Teng... teng...teng...' Suara pukulan itu begitu berisik.
"Suara apa itu Betty? Kenapa berisik sekali?" Tanya neneknya kesal saat tiba di rumah. Karena suasana hatinya ketika pulang pun sudah tidak senang.
"Tidak ada nek. Tadi ada kecoa lewat. Jadi aku mainkan suatu bunyi supaya kecoanya lari."
__ADS_1
"Hmmmm....
Terserah kau saja. Nenek capek! Mau tidur! Awas! Kalo sampe ada suara ribut lagi, nenek cubit pipimu yang gembul itu. Biar makin gembul sekalian."
Setelah neneknya pergi, Betty langsung mengomel di dalam hati dengan berkata,
"Ih....!
Dasar! Nenek bawel!
Selalu saja memperlakukan kayak anak kecil. Padahal aku kan sudah remaja. Sebentar lagi dewasa, dan setelah itu, menikah. Masa aku terus-terusan dianggap kayak anak kecil!"
Kemudian dia berkata lagi,
"Tapi...
Aduh... bagaimana ini? Tamatlah riwayatku besok. Uang jajanku tidak cukup meneraktir mulut besar si Linda dan si Tuti. Bahkan uang jajanku untuk tiga hari ke depan, ludes. Itu pun berhutang. Ini sisa uang jajan untuk tiga hari lagi. Selanjutnya gimana? Kalau aku tidak menuruti dua orang licik itu, mereka akan membully ku.
Tapi.... ada untungnya juga sih. Dia jadi nggak bisa masuk selama beberapa hari, dan ujian matematikanya, gagal. Dan si Mickey, aman di tanganku.
Tapi sekarang....., masalah lain muncul. Memang pintar banget dua orang itu memeras ku. Aku nggak salah menyebut mereka licik."
Lalu setelah dia selesai makan, dia pergi ke kamarnya untuk mencari benda-benda miliknya yang bisa dia jual. Namun, sepanjang dia melihat semua miliknya, dia tidak menemukan benda apa pun yang menarik untuk dijual. Karena yang ada hanya buku, baju-baju sederhana, juga sepatu yang biasa saja.
Yah, anak remaja mana yang mempunyai benda berharga yang hidup sederhana?
Maka Betty memutuskan untuk masuk mengendap-endap ke kamar neneknya untuk mencari sesuatu yang dia butuhkan. Tapi dia tidak merasa aman karena neneknya sering berubah posisi tidur. Dia takut kalau neneknya tiba-tiba bangun dan memergokinya.
Namun dia cukup berhasil mencapai lemari dan melihat-lihat ke setiap lipatan kain. Dan dia berhasil mendapatkan uang pecahan seratus ribu sebanyak dua lembar. Dia pun tertawa cekikikan tapi menahannya agar neneknya tidak bangun. Dia juga bersuara pelan dengan berkata,
__ADS_1
"Dengan uang ini, aku bisa meneraktir dua bocah sinting dan rakus itu.
Hah......., kuharap ini yang terakhir. Aku tidak mau mencuri lagi. Gara-gara mereka, aku terpaksa mencuri. Semoga aku tidak ketahuan. Kalau sampai itu terjadi, maka tamatlah riwayatku. Aku akan dihajar habis-habisan sama nenek bawel ini. Suara omelannya yang bising, pasti memekakkan telinga. Dan sepanjang hari, aku akan mendengarnya."
Betty sangat fokus bicara pada dirinya sendiri sambil memandangi uang itu lalu memasukkannya ke dalam sakunya. Dia tidak menyadari neneknya bangun, karena hendak buang air kecil. Dia berjalan mengendap-endap di belakang Betty sampai lebih dekat dan mendengar seluruh perkataannya. Lalu ketika Betty berbalik badan, dia pun terkejut setengah mati hingga terjatuh karena tertangkap basah. Dia tidak bisa lari kemana pun lagi. Dia seperti orang yang terkepung puluhan musuh yang siap menindasnya.
Tapi neneknya mencoba bicara dengan tenang meski Betty sudah keringat dingin. Dia berkata,
"Aku dengar cucuku ini akan meneraktir seseorang. Apa nenek akan diundang? Apa nenek boleh ikut?" Ujarnya sambil mendekatkan wajahnya.
"Tidak nek. Betty tidak meneraktir siapapun." Jawabnya terbata-bata karena begitu takut.
"Oh begitu. Berarti nenek salah dengar yah."
Neneknya berpura-pura tidak tahu tentang apa yang sudah dilihatnya. Kemudian dia berkata lagi,
"Malam ini nenek mau masak enak untuk cucu nenek satu-satunya ini. Nenek mau masak opor ayam, lalu ada pecel, juga kerupuk emping. Wah... nenek butuh tambahan uang nih untuk membeli semua bahannya. Tapi jangan khawatir. Demi cucu nenek yang paling cantik ini, nenek pasti membelinya. Karena nenek masih punya sisa uang belanja. Nenek menyimpan uangnya di sini. Di antara lipatan baju ini.
Tunggu! Nenek ambil dulu. Dan kamu boleh pergi ke pasar."
Betty semakin keringat dingin mendengar semua perkataan neneknya.
Apa jadinya jika neneknya tahu uangnya sudah tidak ada? Bagaimana dia akan menjelaskannya semuanya? Keberadaannya yang tiba-tiba di kamarnya? Dan apakah neneknya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi? Semua pertanyaan itu membuatnya semakin pusing dan semakin berkeringat. Namun dia tidak tahu harus bagaimana menjawab, mengelak, ataupun mencari alasan. Dia hanya bisa pasrah dan menerima semua kemungkinannya.
Maka dengan kecemasan dan ketakutan berganda, dia melihat neneknya mencari uangnya di lipatan bajunya.
"Dimana uangnya? Nenek ingat betul menaruh uangnya di sini. Ingatan nenek masih tajam. Apalagi kalau masalah uang. Betty, apa kamu lihat uang yang ada di sini? Itu tidak mungkin berjalan sendirikan? Karena dia tidak punya kaki. Itu pasti bisa berpindah kalau ada tangan yang memindahkannya. Bukan begitu?"
Betty pun semakin gelagapan dan sulit mengontrol dirinya. Tapi, sambil berupaya untuk tetap terlihat baik dan tidak terjadi apa-apa, dia mencoba menjawab pertanyaan neneknya. Dia menjawab,
__ADS_1
"Iya betul nek. Uang tidak punya kaki. Bisa berpindah kalau ada tangan yang memindahkannya." Balasnya dengan sangat polos. Karena dia begitu takut ketika neneknya mendekatkan wajahnya juga menyipitkan matanya. Namun wajahnya memancarkan kemarahan yang tenang namun menegangkan.