Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 34


__ADS_3

Di dalam kelas hatinya masih bergetar dan berpikir apakah keputusannya itu sudah tepat atau teman-temannya hanya mengerjainya saja.


Sedangkan di satu sisi, tiga serangkai yang baru saja keluar dari kantin segera pergi menemui Tuti di dalam kelas. Mereka juga saling bertanya jawab dan tertawa sembari membayangkan reaksi Tuti yang tampak bodoh di depan Joko.


Sesampainya di sana, mereka melihat Tuti sangat gelisah. Lalu ketiganya duduk di dekat Tuti dan mulai berbincang, lalu tak lama Joko juga masuk ke kelas. Dia melayangkan senyuman manis dan lirikan genitnya pada Tuti seraya berjalan ke kursinya.


Spontan ketiga serangkai itu bersorak meledek Tuti yang membuatnya semakin malu dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Jadi tadi gimana Tut?" Tanya Siti.


"Gimana apanya? Bisa nggak sih jangan dibahas di sini? Bikin bete aja."


Joko terus curi-curi pandang pada Tuti seraya mereka berbicara karena ingin melihat reaksinya.


Tapi seraya mereka ribut mendesak Tuti, tiba-tiba Joko mengatur suara di tenggorokannya dengan keras sehingga perhatian mereka teralihkan dan berhenti mendesak Tuti. "Ehem... ehem..."


Lalu dengan percaya diri dia beranjak menuju mereka dan mengatakan, " Stop! Berhenti mengganggunya! Beri dia waktu istirahat!"


Setelah mengatakan itu dia keluar karena sebenarnya dia pun telah menahan malu saat mengatakannya di depan para siswa.


Tapi baru sampai di depan pintu, bel tanda pelajaran masuk berbunyi, dengan terpaksa dia menghentikan langkahnya dan kembali duduk di kursinya, begitupun murid-murid lainnya sebab guru yang akan masuk juga guru killer.

__ADS_1


Mereka semua bersiap dengan laporan katak, membacanya dengan teliti karena sang guru akan menyuruh mereka secara acak ke depan kelas.


Saat yang menebarkan itu, Joko memberikan penjelasan tambahan kepada Tuti karena telah menerima cintanya.


"Sist...


Ini! Ambil! Baca dan pelajari." Bisiknya.


Mereka yang tidak begitu jauh, diam-diam meraih tangannya mengambil gulungan kertas itu ketika perhatian sang guru teralihkan.


"Baiklah! Hari ini ibu akan memanggil kalian secara acak. Setiap siswa yang akan ibu panggil harus memberikan presentasi yg terbaik. Kalau tidak, bukan hanya cubitan yang akan mendarat di perut kalian, tapi nilai merah akan bersarang di rapot kalian. Paham! Ibu tidak malu mencubit kalian meski kalian sudah dewasa dan mungkin sudah berpacaran."


Joko pun menjelaskan secara terperinci seluruh organ tubuh katak itu,mengelompokkannya sesuai dengan sistem dan fungsinya. Mulai dari sistem pencernaannya, pernafasannya, sampai sistem reproduksinya. Namun tak hanya itu, dia juga memberikan penjelasan tambahan yang membuat guru dan siswa lainnya geleng-geleng kepala. Dengan tubuh yang tegap dan penuh percaya diri dia menjelaskan, "Meski sebagian orang merasa jijik melihat katak atau bahkan menyentuhnya, tapi katak mempunyai banyak sifat bagus yang manusia bisa pelajari. Dan saya sendiri pun telah belajar banyak darinya. Kita jangan malu untuk belajar dari makhluk hidup yang tampaknya kurang berharga. Baiklah, tanpa berlama-lama, saya akan bilang kalau katak itu sangat ahli dalam beradaptasi. Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Untuk bisa bertahan hidup dalam dunia yang jahat dan penuh persaingan ini, kita juga harus bisa beradaptasi. Jangan sampai kita tergilas kemajuan zaman. Untuk itu kita juga harus mempunyai bekal agar sanggup menyesuaikan diri. Apa yang dituntut sekarang? Keterampilan bukan? Karena itu kita harus rajin mengasah diri agar lebih terampil. Itu juga sesuai dengan sifat katak yang selalu melihat ke depan. Atau, apa ada di antara kalian yang pernah melihat katak melihat ke belakang? Hah? Pasti tidak kan? Karena itu kita sebagai anak-anak millennial, pemikiran kita juga harus ke depan jika ingin sukses. Namun untuk meraih kesuksesan tidaklah mudah. Butuh kesabaran dan pengorbanan. Seperti yang sudah aku lakukan belakangan ini. Aku bersabar menanti cintaku sampai akhirnya aku mendapatkannya."


Mendengar itu, semua murid juga gurunya tertawa dan bersorak.


"Memangnya siapa yang kau tunggu dengan sabar Joko? Apa orangnya ada di kelas ini?" Tanya sang guru.


Tuti yang tersipu malu dan mulai memerah, menutup mukanya dengan pura-pura membaca buku.


Namun pertanyaan sang guru tidak dijawab olehnya karena takut Tuti akan kesal padanya. Kemudian sang guru melanjutkan, "Ya sudah, lanjutkan lagi."

__ADS_1


"Baiklah teman-teman. Maaf kalau tadi ada gangguan teknis. Sifat baik katak selanjutnya adalah berani mengambil tindakan. Itu juga lah yang sudah aku lakukan demi mengejar cintaku. Tapi tak hanya itu, aku juga tidak membiarkan nilai akademisku turun karenanya.


Katak berani mengambil risiko terhadap apa yang dilakukannya. Artinya, jika ingin maju, kita harus berani mengambil tindakan. Tapi ingat, harus yang positif yah. Itu juga sesuai dengan sifatnya yang memiliki jiwa petualang. Tentu jika ingin berhasil kita harus mau mencoba hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui. Tapi ingat juga, harus yang positif yah teman-teman." Tuturnya sambil memainkan alisnya naik turun, sebab dia orang yang berlebihan.


Kemudian dia menambahkan, "Dan pastinya, dalam memperoleh keberhasilan, ada banyak rintangan bukan? Maka kita harus gesit agar bisa menghindar. Seperti katak yang lincah dan gesit melompat dari satu tempat ke tempat lain ketika terancam bahaya. Dan sifatnya yang terakhir, adalah periang. Kalian harus periang seperti ku. Untuk bisa mendapat banyak teman, kalian harus periang. Mana ada orang yang mau berteman dengan orang yang mukanya masam setiap hari. Iya kan? Energi yang dia tularkan ke orang lain pun pasti energi negatif.


Tapi kalian pasti tidak menyangka bahwa katak, periang. Kok bisa?


Jadi, ketika hujan hendak turun biasanya dalam cuaca yang mendung dan dingin, katak akan terus bernyanyi sampai hujan turun.


Kita juga, saat kita tahu teman kita sedang sedih, ayo terus hibur dia sampai dia tidak sedih lagi. Dan itulah yang menjadi tekad saya! Sekian dan terima kasih." Tuturnya dengan yakin.


Semua murid pun berdiri memberikan tepuk tangan juga sang guru. "Wah.... Kau pantas diberi nilai 100. Sudah berapa lamu kamu mempersiapkan presentasi ini Joko?"


"Selama aku menanti cinta bertumbuh bu." Jawabnya sambil tersenyum tanpa rasa malu.


Sang guru pun geleng-geleng kepala melihat muridnya itu berlagak seperti seorang pujangga cinta.


"Ya sudah, kau boleh duduk." Ujar sang guru.


Kemudian sang guru memanggil murid yang kedua ke depan kelas.

__ADS_1


__ADS_2