
Di sana, masing-masing kelompok langsung membedah perut kataknya masing-masing dan meneliti seluruh organ dalamnya. Ada yang merasa jijik sampai ingin muntah, ada juga yang penasaran dan antusias.
Selama mereka meneliti, mereka juga mendengarkan arahan dari sang guru.
Masing-masing siswa melakukan bagiannya. Ada yang menggunakan mikroskop, ada yang membuat laporan, dan ada yang saling berdiskusi.
Tuti salah satu siswa yang merasa jijik, enggan untuk menyentuh isi perut katak itu meski sudah memakai sarung tangan.
"Kau saja yang meneliti untukku. Please. Katakan saja struktur jaringannya bagaimana dan aku akan menggambarnya." Tuturnya pada salah satu siswa di kelompoknya.
"Mana bisa begitu! Meski kita kerja kelompok, tapi kita juga harus membuat laporan masing-masing."
"Itu gampang. Zoom dan katakan saja, aku akan menggambarnya."
"Emang bisa? Kamu harus zoom dulu baru bisa menggambarnya. Jangan sok tahu. Nanti kamu malah menggambar cakaran ayam, bukannya struktur jaringannya dengan benar."
"Ih! Bawel yah. Ga usah khawatir! Otakku ini sangat cerdas dan cemerlang mencerna setiap kata-katamu. Jelaskan saja dan aku akan menggambarnya."
"Eits...
Tunggu dulu. Imbalannya ada dong. Nggak ada yang gratis di dunia ini selain kentut. Kencing saja bayar. Aku nggak mau kerja secara gratis."
"Alah.... alah...
Ckckck.... mata duitan sekali. Sama teman sendiri perhitungan." Liriknya mulai merasa jengkel.
"Sorry Tut. Bisnis nggak mengenal teman. Itu yang kutanamkan sejak aku lahir."
"Astaga, omongannya makin nggak jelas. Waktu kamu lahir, kamu bisanya hanya nangis dan ngompol. Tahu?"
"Aku berbeda sejak lahir. Aku anak jenius. Masa depanmu aja aku bisa baca."
"Ah! Sudahlah! Aku capek berdebat sama kamu. Lama-lama makin ngawur. Kamu mau imbalan apa?"
Kemudian dia mendekat dan berbisik di telinga Tuti,
"Nanti sore temui aku di halaman belakang sekolah usai jam pelajaran. Aku akan katakan apa upahnya nanti."
Tuti hanya mengganggukkan kepala sekaligus khawatir siasat apa yang temannya itu rencanakan. Karena dia bukanlah teman yang bisa dipercaya namun mulutnya penuh dengan kepalsuan sekalipun dia pintar. Tapi demi nilai, dia rela.
__ADS_1
Ketika mereka berdiskusi, sang guru meninggalkan mereka sejenak untuk mengambil laporan hasil risetnya yang sebelumnya dia kerjakan.
Lalu tak lama setelah guru itu kembali, dia bertanya apakah masing-masing kelompok sudah selesai mengerjakan tugasnya atau belum.
Namun ada tiga kelompok lain yang belum selesai, salah satu di antaranya adalah kelompok Linda.
Ketika mereka hendak membedah tubuh katak itu, katak itu lepas dan melompat karena tidak dipegang kuat. Katak itu membuat suasana menjadi riuh dan kacau sewaktu mereka beramai-ramai menangkapnya. Untungnya sang guru tidak ada di sana karena mereka bisa saja akan diberi nilai merah.
Lima belas menit waktu terbuang sia-sia demi menangkap katak itu karena dia begitu lihai dan lincah menghindari tangkapan mereka.
Katak itu akhirnya bisa tertangkap saat melompat ke atas kepala seorang siswa dan terperangkap di rambutnya yang keriting lebat.
Dia sangat takut dan sangat ingin berteriak. Tapi yang lain melarangnya dan menyuruhnya tetap diam dan tenang.
Bak seperti balok kayu yang tertancap di tanah, siswa itu menahan diri tak bergerak dan tak bernafas sampai katak itu berhasil diambil dari kepalanya.
Sang guru pun memberikan waktu sepuluh menit sampai semua kelompok menyelesaikan tugasnya dan mempresentasikannya di depan kelas.
Ketiga kelompok itu pun menulis dengan begitu cepat laporannya sampai gesekan pena di atas kertas menghasilkan asap di buku karena begitu cepatnya.
Usai semua kelompok menyelesaikan tugasnya, sang guru meminta agar kelompok yang pertama maju dan melaporkan hasilnya di depan kelas. Namun sayang di saat yang sama, bel tanda pelajaran berakhir berbunyi.
Semua siswa bersorak lega karena sebenarnya mereka semua belum siap.
Pada jam istirahat itu semua siswa mengahabiskan waktunya di kantin. Tapi tidak dengan siswa yang rambutnya keriting lebat itu.
Dia menghabiskan waktunya di toilet sekolah dan mencuci rambutnya sampai bersih.
Tapi rambut yang keriting lebat itu tampaknya susah untuk lepek saat tersiram air. Itu masih mengembang seolah tahan air.
Salah satu siswa yang kebetulan ada di sana terbelalak heran dan tertawa kencang saat melihatnya. "Bagaimana bisa ada jenis rambut seperti itu?" Pikirnya.
Tapi belakangan dia merasa kasihan dan membantunya membersihkan rambutnya. Dia bertanya,
"Kenapa kamu cuci rambut di sekolah? Apa tadi pagi kamu tidak sempat mandi? Atau kamu mengantuk saat jam pelajaran?" Dia adalah siswa dari kelas lain yang baru saja selesai buang air besar.
"Tadi ada kodok lompat." Jawabnya lesu.
"Apa? Kodok lompat?" Seolah tak percaya, dia tertawa lagi dengan suara yang keras. 'Bagaimana bisa kodok melompat ke rambutnya? Apa kodok itu berpikir kalau itu sarangnya? Pikirnya lagi.
__ADS_1
"Aku serius. Kenapa kamu malah tertawa?" Ujarnya kesal.
"Maaf. Maaf. Tapi rasanya sulit untuk dicerna otakku. Bagaimana bisa kodok melompat ke rambutmu? Apa kau berguling-guling di halaman sekolah?"
Kekesalannya pun semakin memuncak sehingga dia bertanya dengan nada marah, "Kamu mau membantu atau mau mengejek? Hah?"
"Maaf. Maaf. Sini biar aku bantu. Tapi nanti kamu mengeringkannya pakai apa?"
"Pakai angin!" Jawabnya ketus.
"Angin? Mana?"
"Itu, angin. Kamu tidak bisa lihat? Matamu buta kalau gitu."
"Angin itu tidak bisa dilihat. Tapi bisa dirasakan. Gimana sih!"
"Nah itu pintar!"
Lalu usai mencuci rambutnya, dia pergi ke halaman belakang sekolah agar angin mengeringkan rambutnya. Tapi baru sebentar dia di situ sendirian sambil mengomel,
"Gara-gara kataknya si Linda, aku jadi susah begini. Aku lapar dan tidak bisa jajan di kantin. Kurang ajar itu katak! Untung dia sudah mati. Kalau tidak, akan kuberi pelajaran dia supaya tak kurang ajar lagi."
Bel berbunyi. Maka dia berjalan cepat masuk ke dalam kelas karena guru yang akan masuk adalah guru killer yang selalu on time.
Maka dia berjalan cepat dan berlari sesekali di lorong sekolah agar bisa mendahului sang guru. Tapi betapa sialnya dia saat itu, dia telat satu menit dari sang guru.
Dia sampai di depan pintu ketika guru itu sedang menyapa para siswa dan mulai menjelaskan sebagian mata pelajaran.
Tangannya gemetar saat hendak mengetuk pintu bersamaan dengan tatapan tajam si guru killer.
"Sedang apa kamu di situ?" Bentak sang guru.
"Saya mau masuk pak." Jawabnya gemetar bercampur takut.
"Apa kau murid di kelas ini?"
Dia mengangguk dan tertunduk.
"Murid di sini tidak pernah telat masuk. Kau bukan murid di sini. Sana pergi!"
__ADS_1
Dia pun tak berani lagi menjawab atau mencari alasan dan memilih berdiri di luar di depan kelas. Namun hatinya terus menyalahkan katak itu dan nasib sialnya selama mendengarkan sang guru berceramah menyindir dirinya.