
Dengan kepala yang tertunduk dan jalan yang membungkuk dia melewati pintu itu dan duduk di tempat yang sepi.
"Hah....." Dia membuang nafas yang panjang dari mulutnya. Kemudian memejamkan mata seperti memohon agar bisa menang.
Ketiga temannya yang sedang belajar di ruang kelas, tak kunjung melihat Tuti masuk. Mereka memandang dari jendala bahwa seluruh peserta telah keluar dari aula. Tapi kemana Tuti? Tanya mereka masing-masing.
Maka setelah bel berbunyi, mereka pergi mencari Tuti ke aula. Tapi sesampainya di sana, aula itu ternyata sudah dikunci.
Mereka pun mencarinya ke kantin, toilet, sampai ke halaman belakang sekolah, tapi tetap saja dia tidak ada di sana.
"Tuh anak kemana sih? Heran deh bisa hilang tiba-tiba. Udah dicari kemana-mana tapi batang hidungnya nggak kunjung kelihatan." Betty menggerutu kesal karena mencarinya sampai ngap-ngapan dan berjalan tergesa-gesa kesana kemari.
"Ya udahlah, nggak usah dicari lagi. Toh dia kan udah gede. Jadi nggak bakalan hilang juga kan di sini? Tar dia juga masuk kelas." Sambung Linda.
"Baiklah, kita ke kelas aja yuk." Ujar Siti.
Tapi sewaktu mereka hampir sampai di kelas, mereka melihat Tuti masuk lebih dulu dan berjalan lemas membungkuk, seperti orang yang tidak makan 3 hari.
"Hei, tuh si Tuti kan? Muncul dari mana tuh anak?" Tanya Betty.
"Iya. Sembunyi di mana dia? Apa lombanya gagal? Kalian lihat kan jalannya lemas kayak bebek ngambek?" Sambung Siti.
"Apa? Bebek ngambek? Emang kau pernah lihat bebek ngambek? Gimana gayanya? Dan ngambek karena apa?" Tanya Linda.
"Ah... udah! Udah! Mending kita samperin aja yuk!" Jawab Siti.
*******
Betty kemudian duduk di dekatnya dan mencoba merangkul pundaknya, "Hei Tut! Gimana tadi lombanya? Sukses ga? Ada kemungkinan untuk menang nggak?"
__ADS_1
Namun Tuti berat mejawabnya, juga sedang malas berbicara. Baginya yang terpenting kini bisa cepat pulang agar leluasa berpikir sambil merenung.
Melihatnya lemas dan murung, Siti memberikan kode agar Betty tak menanyainya lagi.
Kemudian mereka kembali ke kursinya dan mulai membaca buku.
Tapi ketika mulai fokus, tiba-tiba bel sekolah berbunyi dan itu dibunyikan cukup panjang. Para siswa berpikir mungkin itu bel pertanda pulang, sebab itu sangat jarang sekali terjadi.
Saat itu mereka pulang lebih cepat dari biasanya. Para guru melakukannya supaya para siswa yang ikut lomba dapat belajar lebih serius dan lebih tenang di rumah. Selain itu para guru ataupun para pengawas dapat mempersiapkan ruangan untuk perlombaan esok harinya.
*********
Sewaktu berjalan pulang, sulit sekali bagi mereka untuk berbicara pada Tuti. Berbagai macam godaan dan senyum sumbringah super jelek ditampilkan di hadapannya tapi semua itu tetap saja sia-sia.
"Sist! Udah biarin aja. Mungkin dia lagi datang bulan. Jangan digangguin lagi. Ntar kamu diterkam mau? Hah?" Tutur Linda seraya menarik tangan Betty ke belakang yang sejak tadi terus menggodanya.
Akhirnya mereka pun berjalan saling berdiam-diaman, hingga di persimpangan mereka berempat berpisah sesuai arah rumahnya masing-masing.
Dalam hati dia berpikir, "Biarin aja dia tenang dulu. Mungkin dia stress gara-gara nggak bisa jawab semua soalnya. Yah, aku yakin. Dari gelagatnya mendukung."
Sewaktu dia sibuk bergumam, mendadak Tuti berhenti di depannya, sehingga tanpa sadar dia menabraknya.
"Duh... maaf. Maaf Tut. Mataku oleng sewaktu bibirku sibuk bergumam. Keduanya nggak sinkron sampai-sampai aku nggak lihat jalan dan nabrak kamu." Ucap Linda. Mimik wajahnya sekaligus menyiratkan rasa takut jika Tuti akan membentaknya lagi atau mempermalukannya lagi.
Namun sungguh tak disangka, rasa khawatir itu justru salah. Dengan suara yang rendah Tuti malah meminta maaf padanya atas kata-katanya yang kasar tadi pagi.
"Lin, maafin aku yah. Karena tegang aku membentakmu tadi pagi. Kamu pasti malu banget, dan anak-anak yang lain pasti ngatain kamu. Maaf yah. Aku tidak ada maksud begitu."
Meskipun jauh di dalam hatinya dia masih menyimpan kesal, tapi karena memikirkan nasib persahabatannya, dia membesarkan hatinya dan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Gak papa kok Tut. Aku maklum kok. Kamu pasti tegang karena sebentar lagi lomba. Dan andai aku di posisi kamu, mungkin aku juga akan begitu. Iya kan. Siapa yang tahu?"
"Jadi kamu nggak marah lagi kan Lin?"
"Iya. Demi persahabatan kita." Ucapnya lalu tersenym lebar dan hangat.
Mereka pun saling berbalas senyum setelah menyingkirkan sakit hati.
"Lin, kayaknya aku nggak akan menang deh." Ucap Tuti tiba-tiba.
Seketika Linda tertegun karena sejak tadi itulah yang ingin mereka dengar setelah berbagai cara yang sia-sia telah mereka kerahkan demi menimba isi hatinya.
"Tapi kenapa kamu bilang begitu Tut?" Tanya Linda ragu.
"Ada beberapa soal yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dan aku telah mencoba berbagai cara sewaktu mengerjakannya, tapi tetap saja tidak bisa."
"Apa soalnya seperti yang kemarin?"
"Itu memang ada. Tapi aku bisa jawab. Semua itu berkat Lia."
"Apa? Lia? Kok bisa? Gimana caranya?" Tanya Linda yang mendadak bingung. 'Bagaimana bisa orang yang sedang bersaing, berdiskusi dan saling membantu?' Pikirnya.
"Aku menghubunginya dan minta tolong, dan dia mau ngajarin. Ternyata dia baik yah." Jawab Tuti.
"Oh gitu. Memangnya ada berapa soal yang kamu nggak bisa jawab Tut? Tanya Linda.
"Tiga soal Lin. Dan aku yakin aku kalah. Tapi bagaimana jika Joko yang menang? Aduh...aku sangat pusing memikirkannya.
"Tenang dulu yah Tut. Jangan pikirin yang lain dulu, pikirkan saja kesehatanmu. Kau tampak begitu lelah. Sampai di rumah langsung istirahat yah. Jangan pikirin kalah dan menang. Dalam perlombaan itu udah pasti. Dan bagiku, kau sudah juara. Jadi nggak perlu dipusingin yah. Ok!"
__ADS_1
Linda tersenyum lebar menghibur Tuti sekaligus meyakinkannya, bahwa meski tak juara satu, namun di mata mereka dia adalah sang juara.