Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 14. Ujian Mendadak


__ADS_3

Setelah acara makan itu selesai, dan semuanya sudah tampak rapi dan bersih. Juga seraya mereka masih duduk beristirahat sejenak di meja makan usai lelah membersihkan meja dan piring kotor mereka, tiba-tiba neneknya Betty langsung berbicara serius. Wajahnya begitu serius sampai-sampai mereka heran. Dia berkata,


"Karena kalian di sini, saya mau mengatakan hal yang penting pada kalian semua."


"Apa itu nek? Kelihatannya tegang dan serius sekali." Tanya Linda.


"Dengar! Anak-anak ini sudah bertindak keterlaluan. Mereka secara tidak langsung sudah memeras cucuku Betty agar meneraktir mereka makan sepuasnya di kantin. Karena tekanan itu, cucuku hampir menjadi pencuri. Dan aku sangat benci itu."


Mendadak Linda dan Tuti tertunduk takut mendengarnya.


"Bagaimana si nenek tahu? Apa si Betty cerita?" Tanya Linda dalam hati. Sedangkan Tuti berkata dalam hatinya,


"Wah, sialan si Betty. Tukang ngadu."


Namun orangtua mereka heran dan tidak percaya.


Tapi belakangan neneknya melembutkan mukanya dan berkata lagi khususnya pada Linda dan Tuti.


"Nak, kalian kan berteman. Seharusnya sebagai teman, kalian saling mendukung. Jika teman kalian susah, bantu dia. Jangan mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain. Kalau kalian terbiasa begitu, kalian akan jadi orang yang tidak punya empati nanti. Kalian kan teman sejak kecil. Kok, kalian begitu sih. Betty sudah cerita semuanya. Kalian masih sekolah. Dan semua uang yang kalian punya, pemberian dari orangtua. Dari mana dia mendapatkan uang untuk meneraktir kalian makan setiap hari di kantin sampai puas? Mungkin nanti kalau dia sudah bekerja dan punya uang sendiri, barulah bisa. Kalau kalian terbiasa saling peduli sejak muda, tua nanti kalian tidak akan jadi orang yang serakah. Kalian mengerti kan?

__ADS_1


Nenek sengaja undang kalian makan untuk membicarakan itu. Kalian sudah seperti cucu nenek. Kalian bebas di rumah nenek. Masa kalian perhitungan sama cucu nenek?


Kalian sesama cucu nenek, tidak boleh begitu. Paham."


Kedua anak itu menjawab 'ya' sambil tertunduk. Juga orangtua mereka. Karena mereka pun jarang tahu apa yang anak-anaknya alami dan perbuat dalam pergaulan mereka. Mereka hanya sibuk dengan urusan rumah tangga dan jarang memberikan wejangan. Mereka berpikir, anak yang sudah remaja seperti itu, pasti sudah bisa menentukan yang baik untuk hidup mereka. Itu dikarenakan, mereka menikah di usia yang masih sangat muda dan tidak banyak pengalaman.


Maka seusai pembicaraan yang menegangkan itu, mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Kini Betty merasa lega karena tidak perlu lagi mengeluarkan uang banyak. Namun dia memiliki rencana lain yang licik demi kepentingannya nanti.


Malam itu di tempat tidurnya, dia berkhayal dan tertawa cekikikan oleh karena khayalannya. Dia begitu fokus hingga lupa pada tugas yang telah diberikan temannya untuknya beberapa waktu lalu. Sementara esok, mereka harus memberikan laporan pada sang guru dan mempresentasikannya di depan kelas. Dia lupa sama sekali.


**********


Pagi itu dia benar-benar panik dan bingung. Dia menyangka akan punya waktu sebentar untuk mengerjakannya dengan memanfaatkan jam pelajaran matematika yang kosong karena gurunya sakit.


Namun sungguh di luar dugaan, guru tersebut datang. Maka kepanikannya pun semakin bertambah dan rasanya ingin pingsan saja. Guru yang tidak dia sukai masuk ke kelas. Dia menyangka guru tersebut masih terbaring sakit pasca mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Namun ternyata guru itu sudah pulih dan dia bahkan mengadakan ujian mendadak setelah cuti beberapa hari. Keadaan yang semakin mengguncang otaknya.


Hanya sebentar waktu yang guru itu habiskan untuk menyapa murid-muridnya sebelum akhirnya menyuruh mereka menyimpan semua buku mereka. Dia adalah guru yang paling tidak disukai banyak siswa karena seringkali mengadakan ujian mendadak tanpa persiapan apapun. Dan seringkali menyuruh siswa maju ke depan kelas untuk mengerjakan satu soal yang dia pilih. Dan jika murid itu tidak tahu, maka guru itu tidak hanya mencubit wajah murid itu sampai merah, tapi juga menyuruh murid itu untuk menulis 'Saya akan rajin belajar' sebanyak sepuluh lembar di bolak-balik. Laki-laki dan perempuan sama di matanya. Siapapun akan dia cubit wajahnya sampai merah jika tidak tahu jawabannya.


Sedangkan memberikan nilai buruk, itu sudah pasti dilakukan.

__ADS_1


Maka hari itu adalah hari yang benar-benar sial baginya. Tidak ada waktu sedikit pun. Karena sehabis mata pelajaran itu, langsung disusul oleh pelajaran bahasa inggris, lalu istirahat pertama. Betty yang tanpa persiapan apapun, hanya bisa berharap bantuan dari teman sebangkunya, Linda. Namun Linda sama sekali tidak mau membantunya karena masih kesal setelah mendapat ceramah dari neneknya Betty kemarin. Tak hanya itu, ibunya pun turut memberikan ceramah yang ditambah dengan sedikit omelan padanya. Apapun gerak-gerik dan isyarat yang Betty lakukan, tak dihiraukannya sama sekali.


Betty pun tampak putus asa dan pasrah. Namun dia berupaya menjawab berapa pun soal yang dia mampu. Tapi dia hanya bisa menjawab tiga dari sepuluh soal.


Tak lama kemudian, waktu pun habis. Lalu sang guru pun bangkit dari kursinya dan mengumpulkan semua kertas ujian.


Dan sembari dia mengumpulkan satu-persatu lembar ujian itu, dia selalu geleng-geleng kepala pada setiap siswa yang kertas ujiannya cukup bersih. Namun dia tidak berkata apapun. Tapi hanya memberikan sedikit pandangan yang artinya, tak habis pikir.


Setelah itu, dia mulai memeriksa satu-persatu lembar ujian itu, dan mulai memisah-misahkannya. Kemudian dia memanggil satu-persatu murid yang nilai ujiannya rendah dan menyuruh mereka berbaris di depan kelas.


Ketika Linda dan Tuti melihat Betty juga ikut di dalamnya, mereka tidak prihatin sama sekali. Tapi malah turut menertawainya bersama anak-anak yang lain. Kemudian guru itu bertanya pada mereka dengan nada suara yang tinggi. Dia berkata,


"Apa saja kerjaan kalian selama bapak tidak masuk? Kalian hanya main-main! Masa soal mudah seperti ini saja tidak bisa dijawab. Dan kau Betty, Lisbet, dan Upes! Kalian bertiga lebih parah! Hanya tiga soal yang bisa kalian jawab, tapi itu pun salah semua. Ckckckck.... bapak nggak habis pikir sama kalian. Bapak akan serahkan hasil ujian ini pada orangtua kalian. Sekarang, kembali ke tempat duduk kalian, dan tulis! 'Saya akan rajin belajar. Saya akan jadi anak pintar.' Tulis itu di buku kalian sebanyak lima lembar. Dan serahkan itu pada bapak jika sudah selesai. Sekarang, pergilah!"


Mereka pun segera kembali ke kursi mereka masing-masing dan tak berani melihat muka teman-temannya. Setelah itu, guru itu berdiri dan hendak membahas soal ujian itu. Namun baru menulis soal yang pertama di papan tulis, bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi. Dia pun langsung berhenti menulis lalu merapikan mejanya dan pergi. Namun sebelum itu dia berpesan,


"Kita lanjutkan minggu depan. Tapi hukuman kalian, tetap kalian tulis. Dan serahkan itu pada jam istirahat kedua. Paham!"


"Paham pak!" Jawab siswa yang mendapatkan hukuman.

__ADS_1


__ADS_2