
Dia menghabiskan waktunya yang berharga dengan tetap berdiri di luar karena sesekali si guru killer memantau gerak-geriknya sehingga tak sedikitpun dia bisa jongkok.
Sampai bel tanda pelajaran berakhir, barulah dia dapat masuk untuk memasukkan semua bukunya dan bersiap pulang. Tapi ketika guru killer itu keluar, dia melirik tajam padanya sambil mengatakan agar tak terlambat lagi.
Lalu setelah sang guru sudah pergi jauh, seluruh murid menertawainya dan menyorakinya habis-habisan. Maka dia pun marah kepada Linda dan semua siswa di kelompoknya,
"Kalian membuatku sial hari ini! Gara-gara kalian dan katak kalian itu, aku jadi berdiri berjam-jam di luar."
"Hei, bukan salah kami! Salahin tuh si katak! Kenapa dia lompat waktu dibedah. Dan kenapa juga dia harus lompat ke rambutmu."
Lalu yang lain menyambung ejekan itu,
"Mungkin dia kira rambutmu, sarangnya. Hahahaha...
Makanya cuci rambut yang bersih!"
"Kalian benar-benar keterlaluan yah." Dia mulai jengkel dan geram sampai-sampai ingin melempar mereka dengan penghapus. Tapi Linda yang melihatnya, cepat-cepat mencegatnya dan minta maaf. "Maafin kami yah. Harusnya kami memegang katak itu dengan kuat. Tapi karena takut dan jijik, kami tidak memegangnya dengan kuat sehingga katak itu lepas. Maaf yah."
"Kenapa hanya kau saja yang minta maaf yang lainnya tidak? Hah?"
Linda pun segera membujuk teman-teman di kelompoknya agar segera minta maaf. Karena jika tidak, mereka akan berada dalam bahaya.
Akhirnya mereka pun minta maaf setelah dibujuk berkali-kali.
**********
Setelah pulang sekolah, siswa itu singgah di satu salon dan berniat memotong pendek rambutnya. Insiden itu telah membuatnya benar-benar kesal dan jijik. Dengan berat hati dia harus merelakan rambut keriting yang telah dipeliharanya selama bertahun-tahun, dibabat pendek.
Kini dia terlihat seperti dua orang yang berbeda setelah memotong pendek rambutnya. Namun seolah tak puas, dia juga meminta agar rambutnya diluruskan.
Permintaan itu pun langsung dilaksanakan oleh pegawai salon dengan senang hati, mengingat dia adalah pelanggan pertama sejak pegawai salon itu merintis karirnya.
Si pegawai salon langsung mempersiapkan serangkaian alatnya dan memberikan service yang berkualitas.
Perjalanan waktu yang panjang itu pun membuat matanya berat dan tertidur sehingga si pegawai salon dapat bekerja dengan pikiran yang damai karena tak mendengar bacotannya lagi.
Si pegawai salon memberikan hasil yang terbaik berharap setelah itu dia akan dikenal banyak orang dan mendapat banyak pelanggan.
**********
Akhirnya setelah melalui segala proses kerumitan yang panjang, si pegawai salon pun menyelesaikan tugasnya. Tak lupa dia merekam hasilnya dan membandingkannya dengan sebelumnya untuk dijadikan contoh di halaman utama sosial medianya nanti.
Kemudian dia membangunkannya dan memintanya agar tidak terkejut ketika melihat dirinya di cermin. Namun ternyata saat dia bangun, mulutnya menganga lebar dan takjub melihat dirinya yang baru. Di matanya dia begitu menawan seperti artis holywood. Dengan penuh percaya diri dia berkata,
__ADS_1
"Mulai besok tak akan ada lagi yang mengejekku. Siti yang keriting sudah lenyap. Sekarang aku adalah Siti yang baru."
Lalu si pemilik salon berkata, "Gimana? Kamu suka dan puas dengan hasilnya?"
"Iya. Aku suka sekali. Ini luar biasa. Aku tidak sia-sia menghabiskan seminggu uang jajanku demi rambut ini. Ini sungguh menakjubkan." Dia tak henti membelai rambutnya dan terkadang menciumnya.
"Oh yah, kamu tidak keberatan kan aku jadikan model di halaman depan sosial mediaku? Tenang saja, perawatan selanjutnya akan kuberikan diskon. Gimana?"
"Oh tentu. Lagi pula aku kan sudah berbeda dan cantik. Aku malah senang dipromosikan. Siapa tahu dengan begitu, pengikutku di sosial media juga bertambah setelah melihat kecantikanku. Jangan lupa mencantumkan nama akunku."
"Ok sipp."
Sementara dia masih di salon, bapaknya sibuk mencarinya kemana-mana karena tak biasanya dia pulang terlambat. Bapaknya menelepon semua teman-teman anaknya namun tak seorang pun tahu dimana dia. Maka bapaknya semakin panik dan berpikir buruk kalau anaknya mungkin diculik.
"Pasti ada yang sengaja menculik anakku. Sebab dia begitu cantik seperti dewi. Pasti orang itu menahannya untuk dijadikan kekasihnya. Tidak! Aku tidak rela! Anakku harus jadi model internasional. Kalau sampai aku menemukan pelakunya, akan kuhajar dia sampai botak dan tulang keringnya patah!" Ujarnya sambil mengepal kedua tangannya dengan geram.
Kemudian usai meninggalkan tempat itu dia pulang cepat-cepat agar bisa segera memamerkan rambut barunya pada adiknya.
Sepanjang jalan dia melompat kegirangan dan tebar pesona pada setiap orang yang ada di jalan. Kepercayaan dirinya memuncak setelah insiden katak.
Namun sayang, keceriaannya mendadak hilang dan dia terdiam kaku di depan pintu begitu dia sampai. Dia melihat adiknya menangis di luar dan bapaknya tidak ada di rumah.
"Dek, kenapa nangis? Bapak mana?" Tanyanya. Tapi adiknya sempat tak mengenalinya dan bengong, lalu bertanya,
"Kakak ini kakakmu. Masa kamu tidak kenal?"
"Tidak. Kakakku rambutnya keriting lebat. Kamu bukan kakakku."
Tak lama dia menangis keras usai mengatakannya.
Tetangga dekat pun terpancing untuk melihatnya.
"Hei, kamu apain dia?" Tanya salah satu ibu-ibu.
"Tidak ada." Balasnya menoleh ke belakang
"Lho, kamu siapa? Kenapa ada di sini?"
"Aku siti." Tegasnya.
"Tidak mungkin. Siti punya rambut keriting lebat. Sedangkan kamu, kamu rambutnya lurus. Jangan main-main yah kamu!"
"Iya betul!" Seru ibu-ibu yang lain yang ada di situ.
__ADS_1
"Aku Siti bu! Lihat tompel di lenganku ini!" Tuturnya sambil menyibakkan lengan seragamnya.
Melihat tompel itu melingkar hitam pekat di lengannya, mereka pun berpikir, mencerna dan mengingat-ingat setiap informasi tentangnya. Mulai dari tompelnya, logat bicaranya, dan seluruh penampilannya.
Sementara adiknya menjadi diam menyaksikan perbantahan itu. Lalu tak lama, mereka meliriknya tajam dan masih tak percaya sekaligus mengajukan pertanyaan,
"Jadi kamu Siti? Coba buktikan! Siapa tahu itu adalah tompel palsu yang sengaja kamu buat dengan spidol."
"Eleh... eleh...
Apa untungnya aku menciptakan tompel jelek ini. Kalau aku punya uang, ini bahkan ingin kuhapus. Tompel ini menghalangi kecantikanku terpancar bu."
"Kalau kamu Siti, coba sebutkan siapa nama anak ini dan nama bapaknya sekaligus nama kami semua! Kalau kau Siti, kau pasti tahu." Ujar ibu-ibu yang lain seraya dia menunjuk kepada adiknya juga semua ibu-ibu yang ada di sana.
"Itu sih gampang. Dia adalah adikku, Kesi. Dan bapaknya bernama Robert, bapakku juga. Dan tentang kalian semua, akan kusebut satu persatu."
Ada lima ibu-ibu di situ dan mereka berbaris tak teratur di hadapannya. Maka dia mulai menyebut nama mereka satu persatu mulai dari yang paling tua sampai yang muda.
"Bu Lira, Bu Lini, Bu Marta, Bu Ajeng, dan Bu Maria." Tunjuknya satu persatu pada mereka.
Melihat pernyataannya yang benar, mereka terdiam sampai salah satu dari mereka angkat bicara mengambil kesimpulan,
"Dia benar! Dia adalah Siti!
Kalau begitu, ayo kita pulang saja."
"Iya.
Ayo kita pulang!" Balas mereka.
"Tunggu! Cegatnya.
Bapakku ada dimana? Apa kalian tahu dimana dia?"
"Bapakmu pergi mencarimu. Dia pikir kamu diculik."
"Apa? Diculik?" Gumamnya dengan kening mengerut.
"Kamu dari mana saja? Kenapa pulang sesore ini? Bapakmu sangat cemas dari tadi memikirkanmu. Dan kenapa rambutmu bisa lurus begini?" Tanya salah satu ibu.
"Ceritanya panjang bu. Kalau aku ceritakan, sampai lebaran tahun depan nggak akan selesai."
"Ya sudahlah kalau begitu. Kapan-kapan saja ceritanya. Lebih baik sekarang kalian masuk. Mungkin sebentar lagi bapak kalian pulang."
__ADS_1
Mereka pun segera masuk bersamaan dengan kumpulan ibu-ibu itu meninggalkan mereka.