
Presentasi itu pun terus berlanjut hingga setengah siswa selesai dan bel tanda pelajaran berakhir. Dan mereka semua memberikan presentasi yang terbaik.
**********
Ketika semua siswa telah keluar sebagian, Tuti menghampiri Joko yang sedang merapikan buku-bukunya sebelum pulang. Perasaan kesal yang sejak tadi tersimpan, rasanya ingin segera ditumpah ruahkan. "Kenapa sok puitis tadi? Sengaja yah agar satu kelas tahu kalau kita pacaran? Atau hanya supaya dibilang hebat seperti para penyair? Begitu? Hah?"
Dia membanting meja dan menatapnya tajam. Tapi bukannya kaget, Joko malah tertawa.
"Memangnya kenapa? Apa tadi aku bilang kita pacaran? Tidak kan? Kenapa kau jadi marah? Atau... jangan-jangan... sebenarnya kamu ingin aku mengatakannya pada seluruh siswa? Iya? Hahahahah....
Aku populer di sekolah ini. Pacaran denganku pasti menguntungkan buatmu cantik."
"Cuih! Aku terpaksa! Jadi jangan ge'er kamu. Lihat aja balasan yang akan kamu terima nanti selama pacaran denganku. Akan kubuat hidupmu repot! Benar-benar repot. PAHAM!"
Dia kembali membanting meja dan melotot tajam. Tapi bukannya sakit hati, Joko justru menyentuh tangannya dengan lembut dan bicara dengan lembut padanya, "Tak perlu tegang begitu Tutiku sayang. Nanti kamu cepat tua. Santai saja. Jarak kita sangat dekat. Jadi rendahkan volume suaramu. OK."
Mendengar ucapannya semakin berlebihan, Tuti tak tahan lagi ingin segera pergi meninggalkannya. Belakangan Betty, Linda, dan Siti mengikut di belakangnya. Tapi Tuti tidak mau diajak bicara oleh mereka dan selalu mempercepat langkahnya setiap kali mereka mendekat. Dia berjalan pulang sendirian.
*********
Sesampainya di rumah, tanpa mengganti seragamnya dia langsung melempar tasnya ke tempat tidur, juga merebahkan tubuhnya. "Sialan itu si Joko. Bisa-bisanya dia menjebakku. Memang mulutnya licin dan berbisa. Gimana kalau si Betty dan si Linda mengira kalau aku memang suka sama si Joko. Ah...! Sial! Tidak! Tidak! Joko itu licik dan penuh tipu muslihat. Meski dia pintar, tapi dia tidak berakhlak."
Selagi dia bicara sama dirinya sendiri, Joko mengiriminya pesan singkat, pesan yang seolah dia bisa tahu apa yang kini sedang Tuti pikirkan. "Beraktivitaslah seperti biasanya. Jangan terlalu dipikirkan. Cinta bisa tumbuh perlahan."
"What?! Ini gila! Dia udah seperti dukun yang bisa tahu apa yang aku lakukan sekarang. Apa jangan-jangan dia memasang kamera diam-diam di tasku? Kamera kecil yang sengaja dia tempelkan di tasku demi obsesi gilanya itu? HAH!" Dia menganga sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya nyaris tak percaya.
__ADS_1
Lalu dia memeriksa tasnya dengan teliti secara menyeluruh. Tapi tak ada benda yang mencurigakan didapat. Lalu dia berpikir, "Apa jangan-jangan dia menempelkan kamera kecil di seragamku? AH! TIDAK! TIDAK!"
Dengan cepat dia melepas seragamnya dan memeriksanya dengan teliti. Tapi tetap saja tidak ada benda yang mencurigakan.
Dia pun mulai lelah berspekulasi dan merebahkan dirinya di tempat tidur. "Ah... awas kau Joko!"
Tak lama setelah menenangkan diri, dia cepat-cepat memakai bajunya karena ibunya memanggilnya turun.
"Tuti...!
Ayo cepat turun!
Kamu mau makan tidak?" Teriak ibunya.
"Iya bu. Tunggu sebentar."
"Maksudnya apa bu? Jadi selama ini aku hanya jadi beban karena porsi makanku yang besar? Ibu nggak senang kalau anak ibu ini tumbuh besar?"
"Hahahaha....
Gitu aja langsung marah. Ibu hanya bercanda. Ibu siapa yang senang melihat anaknya kelaparan? Kalau pun ada, dia bukan ibu yang sejati. Tapi ibu yang kesetanan. Makanya kalau dipanggil, cepat-cepat turun."
"Iya. Ini kan udah turun."
"Ya udah. Ayo kita makan!"
__ADS_1
Mereka pun mulai makan, dan Tuti terus menambah porsi makannya. Meski sudah tidak sanggup, tapi dia terus memaksa hingga perutnya hampir meledak. Dalam hati dia berpikir, "Kalau aku bertambah gendut dan jelek, pasti si Joko sialan itu akan berhenti menggangguku."
Ayah dan ibunya heran dan berusaha menghentikannya sewaktu dia ingin muntah karena tak sanggup lagi.
Belakangan perutnya berkontraksi dan kesakitan. Matanya juga perlahan mengantuk berat. Dia mulai merengek karena sakit kekenyangan. Begitu kenyang sampai-sampai untuk bergerak pun susah dan sakit. Maka ayah dan ibunya pun menggotongnya ke kamar, yang satu memegang kakinya dan yang satu memegang tangannya.
Seperti hendak melempar seseorang ke kolam, begitulah ayah dan ibunya mengangkatnya dan membawanya ke kamarnya sambil mengeluh, "Astaga Tuti... kau berat sekali. Pinggang ibu hampir patah."
Di saat-saat seperti itu dia terus merengek kesakitan karena kenyang. "Aduh pak, bu, perut Tuti mau meledak. Sakit sekali."
Lalu mereka membaringkannya di tempat tidur dan terus berusaha meringankan penderitaannya. Namun mereka selalu bingung sampai akhirnya ayahnya melontarkan sebuah ide yang dirasa brilian. "Bu, gimana kalau kita merendamnya di bak mandi?"
"Apa? Ayah mau anak kita mati? Nggak! Nggak!"
Bantahnya dengan keras.
"Bukan bu. Kalau dia kedinginan terkena air, maka lemak-lemak di tubuhnya akan otomatis terbakar untuk menghangatkan dirinya. Jadi rasa kenyangnya akan cepat berkurang."
"Tidak! Tidak! Ayah jangan sok tahu deh. Belajar dari mana teori itu? Hah?"
"Ayah benar bu. Itu salah satu gunanya lemak, untuk menghangatkan tubuh. Ayah belajar teori itu di sekolah."
"Tidak! Tidak! Buktinya kenapa ibu tidak pernah mendengarnya di sekolah?"
"Itu karena ibu sering bolos. Dua kali tinggal kelas, tiga kali gagal ujian, lima kali dapat nilai merah."
__ADS_1
"Ih... ayah...!" Dia mulai tidak senang saat masa lalunya diungkit di depan putrinya. Namun mereka terus saja berdebat dan tak mengubris Tuti yang selalu mules kesakitan.