
Ketika dia hendak menaruh semua uang itu dalam peti brankasnya, tiba-tiba dia teringat insiden pencurian yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Dia menghancurkan gemboknya, mengambil semua lembaran uang di celengannya dan hanya menyisakan uang logam sebanyak dua belas keping. Itu membuatnya syok dan marah.
"Tidak! Tidak! Jangan di sini. Bahaya! Hanya uang logam yang bisa bertahan di sini, tapi uang kertas, terbang melebihi kecepatan elang."
Maka dia berpikir sejenak mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan uangnya.
**********
Setelah memutar otak, dia mengambil pisau lalu merobek sedikit kasurnya. "Krekkk..." Sabitan pisau mengoyak permukaan kasur.
"Hehehehe... Tidak akan ada yang curiga kalau aku menyembunyikan uang di tumpukan kapas ini. Maling pun tidak!" Kemudian dia mengeluarkan sebagian kapasnya dan menaruhnya di lantai. Namun sial, kapas itu tiba-tiba berterbangan terkena tiupan kipas angin yang berputar sejak tadi dan membuat matanya kelilipan.
"AO! Aduh! Sial! Mataku perih! AO! Dia berlari ke dapur sambil mengucek-ngucek matanya.
Tapi karena tidak bisa melihat jalan dengan jelas, jari kelingking kakinya membentur tiang pintu dengan cukup kuat saat masuk ke kamar mandi. "AOO..."Jeritnya kesakitan seraya melompat-lompat dengan satu kaki sementara tangannya memegang kakinya yang satunya sambil mengusap-usapnya.
"Ah! Sialan! Ku patahkan kau baru tau rasa!" Ucapnya pada tiang pintu itu sambil menendangnya geram.
Lalu setelah rasa sakitnya berkurang, dia duduk di depan kamar mandi dengan mata yang tertutup karena masih perih dan mengeluh, "Aduh... sial banget nasibku malam ini. Mungkin karena tadi terlalu happy, hidupku jadi menderita. Mungkin sekarang hampir jam dua belas malam, mau minta tolong, nggak mungkin. Ayah pasti sudah mendengkur di singsasananya.
Hah... aku terpaksa meraba-raba. Mudah-mudahan, pas aku ngeraba, aku tidak meraba sesuatu yang janggal kayak di film-film horor. Ah... serem..."
__ADS_1
Dia berjalan meraba-meraba sampai menyentuh bak mandi, mengambil gayung lalu mengguyur mukanya sampai kotoran di matanya hilang dan bisa melihat lagi.
"Hah... " Ujarnya bernafas lega.
Setelah itu dia cepat-cepat kembali ke kamarnya namun sebelumnya sudah menutup mukanya dengan gorden putih transparan, mengantisipasi serangan kapas terbang.
Namun ternyata dia tidak tahu kalau ayahnya bangun ketika mendengar suara air.
Sehingga ketika mereka saling bertemu, ayahnya berteriak kaget setengah mati karena menyangka Linda adalah hantu.
Keduanya lari terbirit-birit ke kamar masing-masing. "Hah... untung ayah tidak mengenaliku. Kalau iya, dia pasti menjitak kepalaku sampai berasap. Terakhir kali kepalaku berasap, waktu aku umur 10 tahun. Waktu itu aku lari karena tak mau cabut gigi. Itu kan sakit banget. Tapi bukannya dibujuk, malah dijitak."
Setelah mengungkapkan kekesalannya, dia mematikan kipas anginnya lalu menyembunyikan gorden itu di bawah tempat tidur. Setelah itu dia cepat-cepat memasukkan dompet tebalnya ke dalam kasur cukup jauh dan menutupnya lagi dengan kapas dan mendatarkannya lagi sedatar-datarnya lalu menjahit sobekannya.
"Hah.... empuk banget. Kasur ini makin empuk gara-gara uang ini. Makin banyak uang di dalamnya, pasti makin empuk. Tar kalau aku kaya, aku mau tidur di atas tumpukan uang biar tulang belakangku ini makin elastis."
Dia begitu menikmati momen langka itu sampai akhirnya dia tidur nyenyak dan bermimpi.
Dalam mimpinya dia menjadi seorang bintang ternama yang dikerumuni banyak fans, lengkap dengan media yang flash kameranya selalu menyilaukan mata.
Senyuman lebar pun ditebar ke setiap orang selama berjalan di karpet merah. Berbagai pose menawan juga tak ketinggalan setiap kali kamera mengarah padanya dan memotretnya.
__ADS_1
Namun saat momen gemerlap itu masih berlangsung, ada satu kameramen yang tiba-tiba bilang, 'Tolong tersenyum sambil memperlihatkan gigi. Senyum seperti itu pasti membuatmu jauh lebih cantik."
Tanpa menunggu lama, dia langsung tersenyum lebar memperlihatkan giginya. Tapi seketika itu, kamera berhenti mengambil gambar, orang-orang bengong dan melongo seperti orang bodoh lalu belakangan tertawa lepas tanpa kendali.
"Hei, coba lihat! Ada cabe menempel di giginya. Hahahahaha...." Seru seorang kameramen.
"Mungkin dia lupa gosok gigi sebelum datang kemari. Hahahaha..." Sambung yang lain.
Mereka semua tertawa mengejeknya, dan mempermalukannya habis-habisan, membuatnya malu sampai lututnya lemas gemetar sampai akhirnya...."PLAK...!!!" Dia jatuh terhempas ke lantai. Saat itu juga dia bangun dari tidurnya dan pergi berkaca. "Tidak ada cabe." Dia mengaca seluruh giginya sampai setiap sela-selanya.
"Tidak ada tuh. Dasar! Lagi asyik lenggak-lenggok di karpet merah, ada.... aja gangguan. Bahkan dalam mimpi pun aku nggak bisa senang. Sialan tuh kameramen!"
Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk menggosok giginya kedua kali.
"Awas aja! Kalau setelah ini si kameramen masih bilang ada cabe di gigiku, giginya sendiri yang akan kubaluri cabe. Biar mampus!"
Pasta gigi itu ditekannya sekuat tenaga sampai banyak isinya tumpah karena sikat giginya tak mampu membendungnya.
Lalu dia menyikatnya dengan kuat, sekuat tenaga menyikat lantai kamar mandi.
Bolak-balik dia berkumur, menyikat lagi, dan berkaca lagi sampai giginya putih bersinar seperti kilaunya flash kamera.
__ADS_1
Setelah itu barulah dia pergi tidur sambil berharap tidak bermimpi aneh, karena waktu tidurnya hanya tersisa 4 jam.
**********