Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 5. Nasib Sial


__ADS_3

Malam itu Betty benar-benar sibuk. Sibuk secara fisik juga mental. Dia harus membersihkan lantai yang basah karena ulahnya sendiri di tengah-tengah kekhawatiran yang berlebih. Dia khawatir Linda akan menguasai Micky seutuhnya dan meninggalkannya. Selain itu, dia juga mencemaskan caranya menerima jawaban soal tanpa ketahuan oleh sang guru esoknya. Karena mata guru matematikanya tajam seperti mata elang.


Dia selalu gelisah di tempat tidurnya memikirkan semua itu. Sementara Linda belajar keras hingga tengah malam demi mempersiapkan ujian itu.


**********


Akhirnya hari itu pun tiba. Hari pertama dalam minggu yang dimulai dengan pagi yang menegangkan. Seusai baris di lapangan, Betty dan Linda langsung masuk ke kelas dan duduk dengan tenang mempersiapkan diri. Sedangkan anak-anak lainnya, ada yang masih saling bercanda, ngobrol, dan yang lain sedang berkaca melihat kejanggalan di mukanya.


Guru matematika itu sangat disiplin. Karena biasanya, begitu bel masuk berbunyi, beberapa detik setelah itu, dia akan terlihat berjalan di lorong sekolah, dan siap memasuki kelas yang akan dia masuki. Namun sudah dua menit berlalu sejak bel berbunyi, sang guru juga belum terlihat wujudnya.


Hampir semua siswa menjadi riuh dan sangat ribut hingga mengganggu ke kelas sebelah. Suara mereka yang ribut bahkan sampai terdengar ke ruangan kepala sekolah, yang ruangannya bersejajar dan hanya dipisahkan oleh dua ruangan kelas. Maka kepala sekolah itu segera beranjak dari kursinya dan berjalan cepat menghampiri kelas itu. Dia berkata dengan suara lantang,


"Ada apa ini? Suara kalian sampai ke negeri orang! Siapa guru yang masuk ke kelas kalian hari ini?"


"Pak Toto pak." Ujar salah seorang murid.


"Pak Toto tidak bisa masuk hari ini. Bapak itu mengalami kecelakaan tadi pagi. Sekarang pak Toto sedang dirawat di puskesmas. Apa kalian tidak punya tugas yang harus dikerjakan?"


"Ada pak." Ujar salah seorang siswa.


"Kalau ada, kenapa tidak dikerjakan? Kenapa jadi mulut kalian yang bekerja? Kalian seperti orang yang ada di pasar! Ributnya bukan main.


Awas! Kalau sampai bapak dengar suara ribut lagi, bapak suru kalian semua menyikat seluruh WC di sekolah ini dan menimba air. MENGERTI!" Bentaknya.


"Mengerti pak!"


"Ya sudah! Buka buku kalian dan belajar sendiri!"


Kepala sekolah itu tetap berdiri di depan kelas selama beberapa saat, sampai dia melihat seluruh siswa membuka bukunya dan membacanya. Namun semua yang dilakukan seluruh siswa itu hanyalah pura-pura. Karena jauh di hati dan pikiran mereka adalah bermain dan bersenang-senang.

__ADS_1


Setelah kepala sekolah itu melihat seluruh siswa sudah fokus pada bukunya masing-masing, dia pun pergi. Para siswa itu masih diam selama beberapa saat sampai mereka merasa yakin kepala sekolah sudah masuk ke ruangannya. Lalu ada seorang siswa yang memancing temannya berbicara dan mengajaknya bercanda. Ketika mereka asyik tertawa, tanpa sengaja mereka melihat ke arah jendela dan melihat kepala sekolah itu berdiri sambil melotot tajam pada mereka.


Seketika mereka kaget dan diam tertunduk. Lalu kepala sekolah memanggil mereka berdua keluar. Dia berkata,


"Kemari kalian berdua! Kalian pikir bapak sudah pergi?


Bapak berdiri di depan kelas kalian dari tadi dan memperhatikan kalian. Bapak bisa lihat kalian tidak punya minat belajar. Baru sebentar bapak meninggalkan ruangan kalian, tapi kalian sudah jemur gigi. Sekarang tinggal pilih, mau jemur gigi di halaman sana atau menyikat WC? JAWAB!"


Tidak ada yang berani menjawab. Dan hanya tertunduk takut. Lalu kepala sekolah itu berkata lagi,


"Tadi kalian tertawa hebat. Sekarang seperti ayam peot. Mana? Jemur gigi di panas matahari sana atau menyikat WC? Ayo jawab!"


"Menyikat WC pak." Jawab kedua siswa itu takut.


"Yah sudah! Pergi dan ambil sikat juga ember! Kalian sikat semua WC nya sampai bersih."


**********


Sementara itu Betty merasa senang karena ujian itu batal dan Micky tidak menjadi upah lagi. Sedangkan Linda sangat kesal karena semua rencananya gagal.


Guru matematika itu mengalami kecelakaan saat dua tukang becak sedang ngebut-ngebutan mengejar setoran. Kedua tukang becak itu baru saja pulang dari pasar. Selain membawa penumpang, becak itu juga penuh dengan keranjang sayur-sayuran dan buah-buahan.


Kedua becak itu tak bisa terelakkan lagi ketika mereka ngebut di jalanan sempit. Sedangkan sang guru yang sudah berhati-hati mengendarai sepeda motornya, terpaksa harus menanggung akibatnya ketika salah satu becak menyerempetnya dan mereka terjatuh. Semuanya terhempas dan berserakan di jalan. Sedangkan pengemudi becak yang satunya berjalan terus dan tak tahu apa yang terjadi di belakangnya.


Mereka semua mengalami luka-luka ringan. Namun meski begitu, salah seorang penumpang becak itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menumpahkan seluruh amarahnya pada tukang becak. Dia berteriak sambil menjambak rambut si tukang becak,


"Makanya kan! Sudah saya bilang dari tadi, 'Jangan ngebut! Jangan ngebut! Dan jangan ngebut!' Tapi tidak diperhatikan. Sekarang semua belanjaan saya sudah hancur. Saya nggak mau tahu! Pokoknya kamu harus mengganti semua itu! Kalau tidak, becakmu ini yang akan ku jual untuk menggantinya."


"Ampun bu. Jangan! Nanti istri saya marah."

__ADS_1


"Saya tidak peduli! Kamu pikir suami saya juga tidak marah? MARAH! Kau tahu? Suami saya mulutnya lebih parah dari pada mulut istrimu. Kalau dia marah, kata-katanya bisa sangat menyakitkan seperti sengatan tawon. Pokoknya saya nggak mau tahu! Kamu harus tanggung jawab. Kamu sendiri yang akan menjelaskan semuanya pada suami saya."


Maka wanita itu menarik paksa tukang becak itu dan membawanya ke rumahnya, ke hadapan suaminya, tak peduli tangan dan kakinya luka. Lalu dia berkata,


"Pak, lihat ini! Semua belanjaan kita hancur karena dia. Tanganku juga luka dan berdarah karena dia pak." Ujarnya sambil merengek.


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Dia ngebut-ngebutan di jalan bersama si Harmoko, tukang becak yang berandalan itu. Sudah mama peringatkan dari tadi, tapi dia tetap keras kepala.


Ini! Mulutnya ini pintar sekali menjawab!" Ujarnya sambil mencubit bibir tukang becak itu dengan geram.


Lalu dia berkata lagi,


"Mulutnya ini tadi bilang, 'Tenang tante, jangan khawatir.' Padahal mama sudah jantungan pak."


"Jadi dimana semua belanjaan mama?"


"Masih berserakan di jalan pak dan hancur semuanya. Mama langsung ke sini biar orang ini nggak lari."


Lalu suami wanita itu berkata dengan lantang sambil menarik kerah baju si tukang becak,


"Jadi kau mau menggantinya atau tidak? Atau ku gantung saja kau di pohon salak di belakang rumah?"


"Jangan pak. Ampun. Saya akan ganti semuanya."


"Yah sudah. Mana uangnya?"


Maka si tukang becak pun mengambil dan menyerahkan seluruh uang yang ada di sakunya pada pria itu. Lalu dia pulang dengan pedih hati sambil menyeret kakinya yang sakit karena luka, karena terjepit sepeda motor.

__ADS_1


__ADS_2