
Mereka mengejeknya dan terus tertawa terpingkal-pingkal.
"Lin, padahal kita nanti mau makan gulai kambing lho, gimana? Lidahmu masih bisa nelan ga nanti?" Ejek Tuti.
"Yah... kasihan...
Padahal kamu kan dah lama mengidam-idamkan gulai kambing. Jatahmu malam ini buat aku aja yah Lin." Sambung Betty.
Namun dia diam saja menatap keduanya dengan kesal. Matanya tajam seolah siap menerkam mereka berdua. Tapi dia terus berfokus pada rasa sakitnya.
Menyadari mungkin timbul perselisihan, Tuti langsung beraksi mengakhiri situasi itu. Kemudian Linda menyudahi belajar kelompok itu dan langsung memasukkan semua bukunya ke dalam tas lalu keluar tergesa-gesa.
"Tunggu!" Cegat Tuti. Dia menarik tangan Linda menghentikan langkahnya.
"Buru-buru amat. Kita kan belum makan. Makan dulu dong Lin. Aku kan dah capek-capek masakin itu Lin. Aku sama ayahku kerja keras lho untuk menyiapkannya. Dan aku menyisihkan bagian terbaik untukmu. Masa gitu aja kamu langsung ngambek sih Lin. Kita kan cuma bercanda tadi. Iya nggak Bett?"
"Bener Lin. Lagi pula kita kan sudah sering begitu. Masa kamu belum mengenal sifat kita masing-masing sih." Sambung Betty.
Linda yang terdiam di dekat pintu berkata dalam hatinya mengejek Betty. "Sok-sok'an nasehatin aku. Dia sendiri malah lebih gampang marah. Setiap kali marah, pasti keriting rambutnya langsung cepat berkembang."
Tuti langsung menyambung perkataan Betty. "Sudahlah. Ayo kita turun. Aku udah lapar banget nih. Pelajaran bahasa inggris menguras seluruh sumber dayaku."
Maka mereka segera turun mengikuti Tuti ke dapur. Mereka langsung duduk seraya menunggu Tuti menghidangkan nasi dan gulai kambing itu di atas meja.
Lalu ketika semua sudah tersaji di atas meja, Tuti langsung menuangkan bagian terbaik ke piring Linda sesuai dengan janjinya dan menyuruhnya makan.
"Ini Lin, makanlah. Aku sengaja menyisihkan bagian hatinya untukmu karena kau suka makan hati kan?"
"Iya! Buktinya tadi aku sudah makan hati gara-gara kalian berdua." Jawabnya ketus.
__ADS_1
"Iya maaf. Ya sudah, ayo makan!" Ujar Betty.
Mereka bertiga makan dengan lahap, terlebih Linda yang tak menghiraukan lidahnya yang sakit saat menelan. Dia menelan habis tiga piring penuh nasi berlumur kuah gulai kambing. Hatinya sangat senang karena keinginannya terkabul.
Walau nantinya akan susah berjalan, dia tak peduli dan menambahkan satu porsi nasi terakhir di piringnya. Bagaimana tidak? Ekonomi yang sangat sederhana membuatnya sulit mengkonsumsi daging.
Pukul sepuluh malam, mereka menyelesaikan makan malam itu. Tumpukan piring kotor kacau di atas meja lengkap dengan tetesan kuah gulai yang tumpah dari setiap sendokannya.
Namun mereka berpamitan meninggalkan Tuti usai menyantap semuanya dengan alasan sudah larut malam. Mereka tidak mencuci piring kotornya ataupun membersihkan meja, sehingga malam itu Tutilah yang membersihkan itu sendiri dan menyelesaikannya pukul sebelas malam. Dalam hati dia mengomel, "Dasar orang-orang malas dan banyak alasan!"
***********
Ke esokan paginya di sekolah, diam-diam Tuti menemui Betty sebelum pelajaran mulai. Dia bertanya apakah Betty sudah menyisihkan uangnya untuk membantu pendidikan Linda.
Namun saat Betty menyebutkan jumlah uang yang telah dia sisihkan, Tuti merasa kaget karena jumlahnya diluar yang dia bayangkan. Dia juga merasa tidak enak hati menyebut jumlah uang yang akan dia berikan. Tapi karena Betty terus memaksanya, Tuti akhirnya membuka mulut.
"Bett, uangku hanya tersisa tiga ratus delapan puluh lima ribu."
"Biasa aja kali ngeliriknya. Aku kan belum selesai ngomong. Lagi pula masih ada waktu satu tahun lagi buat nabung Bett. Kemarin aku habis beli sesuatu dan itu dah lama banget kuimpi-impikan. Aku akan nabung lebih giat untuk itu. Aku janji."
"Baguslah. Pokoknya kita bertiga harus selalu sama-sama. Sekolah sama-sama, belajar sama-sama, dan terbang sama-sama."
"Iya! Asal jangan mati sama-sama." Balasnya ketus.
Ketika mereka selesai berbicara, Tuti melihat Linda mencarinya. Maka Tuti langsung memberi isyarat pada Betty agar mereka membicarakan hal yang lain.
Linda berjalan lesu menghampiri keduanya saat dia dipanggil. Betty dan Tuti saling berbisik sebelum dia sampai, "Dia kenapa?" Apa dia sakit?"
"Nggak mungkin. Kemarin malam dia sehat-sehat aja. Kamu lihatkan dia makannya banyak semalam?"
__ADS_1
"Iya. Trus dia kenapa?"
"Entahlah. Barangkali ada masalah di rumahnya."
Begitu Linda sampai, Betty langsung menanyakan keadaannya, "kamu kenapa Lin? Kok ga semangat."
"Iya. Apa kau sakit?" Sambung Tuti.
"Hah...." Linda menarik dan membuang nafas panjang seolah beban di pundaknya begitu berat.
"Tadi malam, waktu aku sampai di rumah, keadaannya kacau. Ayahku berulah lagi. Entah sampai kapan aku akan hidup dengan bapak seperti itu. Selalu menyusahkan! Ayah dan ibuku bertengkar beradu mulut. Lagi-lagi yang mereka ributkan adalah tentang uang. Ayahku selalu memaksa uang dari ibuku. Padahal dia tahu sendiri penghasilan ibuku juga pas-pasan. Karena alasan itulah aku tidak berani bermimpi terlalu tinggi."
"Yang sabar yah Lin." Keduanya hanya memberi semangat meski tak tahu harus mengungkapkan apa.
"Jangan dipikirkan lagi yah Lin. Nanti kamu jadi nggak fokus belajar. Kamu tahu kan sebentar lagi kita ujian. Kamu ingat kan kita harus mendapat nilai bagus? Meski kamu memikirkannya terus, masalah itu tidak akan langsung selesai kan?" Tutur Betty.
"Iya Lin. Ya sudah, kita masuk kelas aja yah. Bel sebentar lagi berbunyi." Sambung Tuti.
Mereka bertiga berjalan lesu masuk ke kelas. Dan benar saja, baru sebentar mereka duduk, bel tanda masuk berbunyi.
Tak lama seorang guru yang tingginya semampai dan bertubuh ramping pun memasuki kelas mereka. Guru itu memberikan instruksi agar mereka segera bersiap-siap memasuki laboratorium karena mereka akan meneliti struktur organ tubuh katak. Katak yang masing-masing kelompok telah persiapkan.
Begitu sang guru selesai memberikan instruksi dan pergi, Tuti segera bergabung dengan anggota kelompoknya dan langsung mencecar salah satunya dengan segudang pertanyaan,
"Kamu dapat kataknya kan? Dimana? Besar atau tidak? Trus kataknya jantan atau betina? Masih lajang atau sudah jadi ibu katak?"
"Apa an sih? Balasnya risih. Lalu siswa laki-laki itu menjawabnya kesal," Aku dapat yang besar! Puas! Sangkin besarnya, kamu bisa masak bubur katak nanti habis penelitian. Eh bukan! Bubur kodok!"
"Ih! Gitu aja marah. Aku kan nanya baik-baik."
__ADS_1
Kemudian salah satu siswa dari kelompoknya menghentikan mereka agar tidak semakin sengit. "Sudah! Sudah! Mendingan kita segera pergi. Kelompok yang lain sudah pada pergi."
Mereka pun segera pergi dan duduk di bangku baris depan karena mereka diberi nomor urut satu.