
Malam itu Betty berdandan lama di depan kaca. Bagaimana tidak? Malam itu dia akan pergi berkencan dengan Micky. Betty hanya tinggal dengan neneknya. Jadi dia bisa dengan mudah membohongi neneknya dengan alasan belajar kelompok namun kenyataannya pacaran. Kedua orangtua Betty pergi bekerja sebagai TKI. Jadi meskipun tinggal dengan neneknya, kebutuhan Betty selalu terpenuhi. Hanya dia anak satu-satunya.
Malam itu, tak lupa dia juga berpura-pura memasukkan buku ke dalam tasnya ketika neneknya tiba-tiba datang menemuinya di kamarnya. Maka sambil mengeluh, agar sandiwaranya semakin mantap, dia berkata pada neneknya,
"Nek, Betty mau pergi dulu yah. Banyak tugas yang harus Betty kerjakan. Ingat yah nek, pintunya jangan dikunci, nanti Betty tidak bisa masuk. Tutup saja begitu. Jangan kayak kemarin malam, masa aku harus masuk dari jendela. Untung jendela kamarku tidak terkunci. Kalau tidak, pasti Betty akan tidur di luar. Malu kan nek, anak gadis harus masuk dari jendela seperti maling. Mau ditaruh dimana muka Betty ini nek selain di atas leher? Kalau si Linda atau si Tuti lihat, bisa-bisa aku jadi bahan bullyan mereka nek. Nenek tahu kan jeritan hatiku saat berhadapan dengan mereka berdua?"
"Iya, iya. Mulutmu tak jauh beda dengan mulut bapakmu. Cerewetnya.... minta ampun. Untung saja dia tidak di sini. Jika tidak, mulut kalian berdua sama seperti pantat ayam yang hendak mengeluarkan telurnya. Pernah lihat tidak?"
"Tidak. Lagipula untuk apa aku melihatnya? Buang-buang waktu saja. Yah sudahlah, Betty pergi dulu yah nek. Sudah terlambat."
Lalu seraya Betty keluar dari kamarnya, neneknya mengeluh,
"Betty...
Betty...
Boro-boro lihat pantat ayam, memberi makan ayam saja tidak pernah. Tapi kalau makan daging dan telurnya, mulutnya menganga lebar dan rakus.
Hanya jari kelingking ku inilah yang sering masuk untuk mengirik pantat ayam, apakah bertelur atau tidak. Tapi aku tidak pernah makan telurnya.
Baru juga disimpan satu, sudah langsung dimakan sama itu bocah nakal.
Hah...
Anak-anak sekarang..."
**********
Betty dan Micky bertemu di sebuah taman tak jauh dari tanah lapang itu. Namun dia tidak menyangka, Linda melihatnya ketika dia keluar dari rumahnya dan diam-diam menguntitnya. Dia ingin tahu kemana Betty pergi malam minggu itu.
__ADS_1
Maka dia terus mengikuti Betty sampai dia tiba di taman.
Micky langsung menyambut Betty dengan hangat begitu dia melihatnya. Micky langsung mengenggam kedua tangan Betty yang membuat hatinya semakin berbunga-bunga. Tapi tidak dengan Linda. Hatinya terbakar rasa cemburu yang kuat, dan rasanya dia ingin melepaskan genggaman itu.
Seraya Betty dan Micky masih saling menatap dan saling berpegangan tangan, tiba-tiba Betty berkata lembut padanya,
"Micky, lebih baik kita duduk di sudut sana. Aku takut nanti ada yang melihat kita berduaan di sini. Kalau di ujung sana kan, agak tersembunyi."
"Oh begitu. Baiklah. Ayo!"
Kepergian mereka membuat Linda semakin kesal, karena dia sulit untuk keluar dari persembunyiannya dan mengikuti Betty dan Micky. Dia semakin gelisah karena tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti di antara keduanya.
Maka seraya Betty dan Micky berjalan mesra menuju sudut taman itu, rasa amarah di hatinya pun semakin memuncak apalagi ketika dia mendengar keduanya saling bertukar kata-kata romantis.
Maka dia tidak tinggal diam. Dia pun mencari cara agar bisa keluar dari sana dan mencari persembunyian yang lebih dekat.
Ketika kedua remaja itu sudah cukup jauh, Linda pun keluar dan memutar haluan untuk mencari persembunyiannya. Namun dia tidak bisa menemukan tempat yang lebih dekat yang bisa dijadikan tempat persembunyian.
Tapi ketika dia melempar batu yang terakhir, dan dalam keadaan kesal, secara tak sengaja batu itu mengenai kepala belakang Micky. Bunyi plotokkan itu pun terdengar cukup kencang di telinga. Seketika itu Linda panik dan khawatir. Lemparan yang seharusnya mengenai Betty, justru mengenai kepala orang yang dicintainya.
Kejadian itu pun semakin menambah keromantisan di antara dua remaja itu. Saat Micky kesakitan sambil memegangi kepalanya, Betty dengan sigap memberi pijatan lembut di kepala Micky sambil sesekali meniupnya dengan lembut. Aksi itu membuat Linda tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dan darah mudanya juga semakin mendidih dan berasap tebal. Hingga dia tidak sadar dan keluar dari persembunyiannya dengan penuh kemarahan dan menghampiri Betty dan Micky.
Dia berteriak,
"Hei, apa yang kalian lakukan disini? Gelap-gelapan begini? Pasti nenekmu tidak tahu kan?"
"Hei, memangnya apa yang kami lakukan? Kami tidak ngapa-ngapain."
"Jangan bohong! Kalau kalian tidak ngapa-ngapain, trus kenapa kalian ada di tempat gelap seperti ini? Jangan... jangan...."
__ADS_1
"Hei, jangan sembarangan bicara yah. Memangnya apa yang kami lakukan disini? Aku tidak sepertimu! Asal kau tahu!"
"Apa? Memangnya aku kenapa?"
"Kau cewek yang menyebalkan dan sok cantik! Sok dicintai dan sok disukai banyak orang."
"Hei, justru kau yang begitu! Bukan aku! Kau yang selalu kecentilan dan selalu menggoda Micky!"
"Memangnya kenapa? Terserah akulah! Kok jadi kau yang keberatan?"
"Aku keberatan?"
"Kalau tidak, kenapa protes? Kau sendiri, ngapain di sini malam-malam begini? Pasti kau menguntitku kan sejak tadi? Kau cemburu?"
"Hei, jaga mulut mu yah. Jangan sampai aku menutup mulutmu dengan kantong plastik gorengan."
"Coba saja kalau kau berani! Sebelum kau melakukannya, tangan ku sudah lebih dulu menarik rambut mu. Sudahlah! Tidak ada gunanya berdebat dengan cewek kolot seperti mu."
"Hei, berani sekali kau!"
Pertengkaran di antara keduanya pun semakin panas. Sementara Micky tak mengerti harus melakukan apa. Dia sendiri pun tak mengerti apa yang mereka perdebatkan sejak tadi.
Juga, karena emosi yang sudah semakin subur, Linda pun tak kuasa lagi mengendalikan diri. Dia mendekati Betty dan kedua tangannya seolah siap mencengkramnya. Namun Betty menyadari hal itu. Maka dia segera mengambil langkah seribu dan berlari kencang sambil berteriak dengan kencang,
"DASAR ORANG KOLOT! CEWEK KOLOT!"
Dia terus berlari dan meninggalkan kekasihnya sendirian di taman itu.
Dia terus menambah kecepatan kakinya, ketika Linda berusaha semakin mendekatinya dan berupaya menangkapnya.
__ADS_1
Kisah cinta kedua anak remaja itu tak berjalan mulus malam itu karena pihak ketiga yang tak lain adalah teman sebangkunya.