Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 8. Menjenguk


__ADS_3

Sementara itu di sekolah, Linda dan Tuti penasaran mengapa Betty tidak masuk sekolah. Meski mereka sudah bisa menebak kalau Betty masih malu dengan kejadian semalam, tapi tetap saja rasa penasarannya besar.


Maka mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Betty sepulang sekolah.


Meski mereka sering bertengkar, tapi persahabatan di antara mereka tetap teguh. Mereka akan saling mencari jika tidak melihat salah satunya.


Tak lupa mereka juga membeli rujak kesukaan Betty. Melihat hanya mereka berdua yang datang, penjual rujak langganannya itu bertanya dimana Betty. Karena biasanya mereka bertiga pasti mampir dan makan rujak di warung kecil, milik seorang janda muda yang sering dipanggil ibu gaul. Bagaimana tidak? Ibu itu memandang remaja-remaja itu seperti teman sebayanya. Bahkan tanpa rasa malu, dia kerap kali mengajak para remaja itu untuk bermalam minggu.


Ibu gaul itu, seorang janda muda yang suaminya meninggal karena jatuh dari pohon mangga. Waktu itu dia hendak mengambil mangga muda untuk istrinya yang sedang mengidam. Tapi karena terlalu bersemangat, dia tidak sadar kalau dia menginjak dahan yang sangat ringkih karena sudah lapuk hingga akhirnya terjatuh dan mati. Maka karena peristiwa tragis itu, ibu gaul itu sangat syok dan depresi sehingga membuat dia kehilangan calon anaknya. Karena begitu stressnya, dia tidak menghiraukan makanannya lagi. Entah itu sehat atau tidak. Hingga akhirnya dia mengalami masalah dengan kandungannya dan terpaksa keguguran.


Maka karena Linda dan Tuti menceritakan penyebab kenapa Betty tidak masuk sekolah, ibu gaul itu pun seketika syok karena teringat akan suaminya yang mati. Kejadian yang sama persis.


Waktu itu, ibu gaul itu sedang mengulek sambal rujak ketika mendengar cerita Linda dan Tuti. Dan hampir saja batu gilingan itu jatuh menimpa kakinya. Tapi Tuti bergerak cepat menariknya ke samping sehingga dia bisa terhindar dari batu gilingan itu. Maka melihat kondisi ibu gaul itu yang masih lemas, Linda menggantikan pekerjaannya dan mengulek semua sambal rujak itu dan mencampurnya ke aneka buah-buahan yang sudah dipotongnya. Lalu dia membungkusnya dengan plastik. Kemudian tiba-tiba ibu gaul itu berkata ketika melihat Tuti mengeluarkan uang dari sakunya. Dia berkata,


"Eh! Jangan! Jangan!


Tidak usah bayar.


Kali ini gratis.


Ya sudah! Ayo kita siap-siap pergi ke rumah Betty. Aku khawatir keadaannya."


"Asik...gratis...


Uang jajanku kali ini awet.


Coba kalo terus-terusan begini." Ujar Tuti.


"Apa katamu?


Jadi kau senang si Betty sakit? Biar uang jajanmu utuh?" Balas Linda mulai kesal.


"Bukan begitu juga Lin. Siapa juga yang pengen begitu. Si Betty kan teman ku dari kecil. Dia yang paling baik dari yang lainnya."


"Oh, jadi aku nggak baik? Begitu?"


"Nggak juga."


"Nggak katamu?" Balasnya yang semakin kesal.


"MAKSUDKU BUKAN BEGITU LINDA!" Balasnya kesal.


Lalu si ibu gaul itu cepat-cepat berbicara karena suasana yang semakin gaduh. Dia berseru,


"Hei! Sudah! Sudah!

__ADS_1


Kalian hampir saja membuatku meledak. Satu menit lagi kalian ribut di sini, kepalaku pasti akan meledak seperti kompor gas. PAHAM!"


"Iya. Maaf." Jawab Linda dan Tuti.


"Yah sudah! Rujaknya sudah bereskan?


Sekarang bantu aku menutup warung. Setelah itu, baru kita pergi ke rumah si Betty." Ujar si ibu gaul.


Maka mereka pun segera merapikan tempat itu dan menutup warungnya lalu pergi.


Sesampainya di sana, mereka melihat bahwa Betty baik-baik saja dan sedang memberi makan ayam-ayam peliharaan neneknya. Si ibu gaul itu terkejut melihatnya seraya dia mendekatinya. Dia berkata,


"Kau baik-baik saja? Tapi temanmu yang dua ini bilang kau sakit karena jatuh dari pohon. Yang mana yang benar?"


"Ibu gaul, dia memang sakit karena jatuh dari pohon. Tapi bukan sakit badan. Melainkan sakit hati karena malu. Hahahaha...


Sakitnya nggak seberapa tapi malunya yang seberapa. Seberapa besar Lin?" Ujar Tuti seraya mengejek sambil menertawainya.


"Sebesar gunung. Hahahahaha..." Balas Linda mengejek.


"Puas kalian mengejekku? Sekali lagi mulut kalian berkumandang mengejekku, aku suruh induk ayam ini mematuk kalian."


"Ha? Apa? Hahahaha...


Sejak kapan kau bisa bahasa ayam?


"Sebenarnya kalian kesini mau apa sih? Kalian datang untuk mengejekku?" Tanya Betty kesal.


"Kami kesini bawain rujak untukmu. Ini pemberian ibu gaul lho. Itu karena dia dengar kamu sakit.


Nih, makan!" Ujar Tuti.


"Yang bener? Tahu aja kalau saat ini aku butuh rujak.


Lin, kamu lanjutin ngasi makan ayam ku yah. Aku mau makan rujak ini dulu." Ujar Betty.


"Apa? Enak aja! Itu kan ayammu! Kalau dia besar, kamu yang nomor satu makan. Nggak bisa! Pastikan dulu semua ayammu ini makan dengan kenyang, baru kau bisa makan." Balas Linda.


Tapi nenek Betty mendengar dari dalam rumah perkataan Linda yang mengelak itu. Maka nenek Betty langsung menjawabnya dari dalam rumah. Dia berkata,


"Hei, siapa itu yang susah disuruh? Yang tidak mau membantu temannya? Apa seperti itu kalian berteman? Sesama teman harus saling membantu."


"Itu si Linda nek." Sahut Tuti.


"Kenapa kau Linda? Waktu nenek memanggang dua ekor ayam, kau juga ikut memakannya. Bahkan kau makan dua pahanya yang besar-besar."

__ADS_1


Kemudian neneknya Betty keluar dan menghela nafas melihat anak-anak remaja itu dan berkata,


"Aduh...


Anak-anak sekarang....


Sudah! Pergi sana makan!"


"Apa? Makan? Kebetulan sekali kami sudah lapar." Ujar Tuti.


"Iya makan. Makan saja rujak yang kalian bawa itu. Kalau kalian masih lapar, masih ada nasi di rice cooker." Ujar nenek Betty.


"Yeah...." Seru mereka masing-masing."


Mereka pun segera masuk dan pergi ke dapur dengan bersemangat. Mengambil piring, sendok, dan gelas, lalu duduk di meja makan. Tapi ketika ibu gaul itu membuka rice cooker itu, itu ternyata kosong. Maka dia bicara dengan kesal,


"Kok kosong? Katanya ada makanan. Gimana sih."


"Apa? Kosong? Gimana sih? Gimana itu Betty? Tadi nenekmu bilang ada makanan. Nyuruh orang makan. Mana? Mau makan angin?" Ujar Tuti.


"Iya nih si Betty." Balas ibu gaul.


"Lho, kok jadi aku yang disalahkan?"


"Ya, iyalah. Kamu kan bisa periksa dulu. Kalau menyalahkan nenekmu, kan nggak mungkin. Yang ada, kami bisa dilibas pakai sapu lidi." Ujar Linda.


"Bukan! Tapi diceramain dan disuruh masak.


Yah sudahlah. Mending kita pulang aja." Balas Tuti.


"Iya, yuk! Toh si Betty baik-baik aja.


Bett, besok kamu masuk sekolah kan?" Ujar Linda.


"Iya. Asal kalian berhenti membully ku." Jawab Betty.


"Oh, nggak jamin Bett. Mulut sama otakku kadang nggak sinkron. Otakku bisa saja bilang 'stop'. Tapi mulutku, susah dijinakkan. Mungkin butuh sesuatu untuk menghentikannya."


"Iya. Ntar ku sumpel pake kain lap nanti." Balas Betty mulai kesal.


"Jangan kasar gitu dong. Kita kan Best Friend Forever."


"Kalau begitu, jangan matre dong." Balas Betty.


"Sesekali boleh dong."

__ADS_1


"Setiap hari juga boleh. Tapi dengan syarat! Pastikan tidak ada yang akan mengejek ku di kelas karena insiden kemarin."


"Ok. Baiklah! Beres!" Balas Linda dan Tuti.


__ADS_2