Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 18. Makan


__ADS_3

Tapi ketika dia membuka tudung saji, mukanya semakin bertambah kesal karena yang dilihatnya hanyalah dua potong tempe yang digoreng kering tanpa ada sayur dan sambal yang melengkapinya.


"Ckckck....


Nek...!


Kenapa hanya ada dua potong tempe di sini?


Mana ikannya nek? Apa masih berenang di laut? Atau sudah dimakan kucing nek?


Nek!" Teriaknya kesal sambil memegang kedua potong tempe yang ukurannya cukup kecil.


Sementara neneknya yang mendengar teriakannya tertawa cekikikan karena telah mengerjai cucunya.


"Hihihihi...


Dia nggak tahu kalau dia sedang dikerjai. Padahal aku sudah memasak gulai kambing kesukaannya. Tapi biarin aja. Itu hukuman karena mengabaikan neneknya sendiri." Ujarnya lalu memejamkan mata seraya menikmati hembusan angin sejuk di sore hari.


Karena tak mendapat respon dari neneknya, dia mengeluh lagi.


"Seharian aku belum makan apapun gara-gara menyelasaikan hukuman itu. Selama jam istirahat aku hanya menulis dan menahan pahit di lidahku karena tak tersentuh oleh makanan. Aku pikir rasa pahitnya akan hilang setelah sampai di rumah. Ternyata malah semakin pahit seperti empedu ayam."


Kemudian dia menghempaskan dirinya dan duduk di kursi sambil mengeluh,


"Hah... nasib-nasib...


Hari ini aku sial banget."


Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan perutnya berbunyi semakin nyaring. Akhirnya dia beranjak dari sana dan pergi keluar. Tapi ketika berpapasan dengan neneknya di teras rumah, neneknya mencegatnya.


"Betty, mau ke mana kamu?" Tanyanya seraya duduk santai di kursi goyang.


"Betty lapar nek. Lihat perut Betty, semakin tipis karena dihisap oleh angin kelaparan."


"Kalau lapar makan dong. Jangan pergi ke luar."


"Nek, Betty keluar untuk menangkap ikan di laut. Betty ingin makan cumi sambal udang teri nek."


"Apa itu maksudnya? Rakus sekali makan sampai tiga jenis ikan sekaligus."


"Aduh... udahlah nek!


Betty lapar banget nih mau pingsan. Mulut sudah pahit, malah dikasih makanan kering kerontang."

__ADS_1


"Makanan kering kerontang apa yang kau maksud?"


"Itu lho nek, tempe yang nenek goreng kering itu. Bagaimana bisa Betty makan hanya dengan itu saja tanpa adanya serat nek. Yang ada nasinya susah turun dari kerongkonganku."


Belakangan neneknya tertawa melihat muka cucunya yang semakin kesal.


"Nenek kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Tanya Betty kesal.


"Nggak ada. Sudahlah pergi sana tangkap ikan. Jangan lupa nanti tangkap belut listrik juga ya." Balas neneknya mengejek lalu tertawa lepas.


"Aish... apaan sih!


Bahagia banget lihat cucunya sekarat." Gerutunya lalu pergi.


************


Namun belum jauh Betty pergi, neneknya segera beranjak dan pergi ke dapur terburu-buru lalu mengeluarkan gulai kambingnya dari dalam lemari.


Tapi dia tidak sadar kalau Betty mendengarnya dan curiga karena tindakannya yang tergesa-gesa.


"Tuh nenek kenapa? Tiba-tiba pergi dan mukanya senang banget. Aku curiga jangan-jangan dia menyembunyikan sesuatu." Ungkapnya dalam hati.


Maka diam-diam dia masuk kembali dan kaget melihat neneknya makan dengan lahap. Lalu dia menghampiri neneknya dan memergokinya.


Nenek tega yah makan sendiri dan membiarkan cucu nenek kelaparan."


"Sudah jangan cerewet. Ambil saja nasimu dan makanlah. Kalau tidak, nenek akan habiskan sendiri."


"Iya! Iya! Jangan dihabisin!" Balasnya kesal.


Maka dia mengambil dua piring nasi sekaligus lalu menumpahkan kuah gulai kambing itu ke atas nasinya pada kedua piringnya lalu memakannya dengan lahap. Dia juga mengambil potongan daging yang lebih besar dan memakannya cepat karena takut bagian yang lain akan direbut oleh neneknya dan rasa laparnya tidak terpuaskan.


Tak lama setelah mereka makan dan kenyang, suara sendawa yang keras pun keluar dari mulutnya, dan itu dibalas oleh sendawa neneknya sehingga sendawa mereka berdua saling bersahut-sahutan.


"Aduh...


Baru kali ini Betty makannya puas banget. Sudah lama Betty tidak makan gulai kambing seenak ini nek. Kalau tidak salah terakhir betty memakannya ketika masuk sekolah dasar. Itu artinya sudah lebih dari sepuluh tahun. Astaga...Malang benar nasibku. Makan gulai kambing saja harus menunggu selama sepuluh tahun."


"Hei, jangan asal bicara. Nenek sentil baru tahu rasa kamu. Setiap tahun nenek selalu masak gulai kambing kesukaanmu. Kamu lupa atau sudah lupa ingatan?Hah?"


"Iya. Iya. Betty ingat kok. Gitu aja langsung marah."


**********

__ADS_1


Lalu setelah itu, mereka kemudian pergi pada urusannya masing-masing.


Betty duduk di tempat tidurnya dan tampak berkonsentrasi seperti sedang merancang suatu strategi.


"Aku tidak bisa membiarkan ini terus-menerus terjadi. Aku tidak bisa melihat mereka berdua merajalela tertawa dan terus mengejekku karena mendapat hukuman. Aku harus belajar lebih keras lagi agar tidak kalah dari dua orang sombong itu. Mengaku teman tapi tidak ada rasa prihatin sedikit pun pada temannya. Teman macam apa itu? Lihat aja, kelak aku akan lebih pintar dari kalian berdua. Malam ini adalah permulaannya." Tuturnya sambil memancarkan keyakinan di wajahnya.


Lalu dia beranjak dan menarik jurus untuk menyemangati diri. Dia mengambil sebuah kain tipis dan mengikatkannya di kepalanya yang sakit seperti seorang prajurit. Kemudian dia menghela nafas panjang dan duduk di meja belajarnya. Dia menarik nafas panjang lagi sebelum akhirnya membuka buku matematikanya.


Kemudian dia mulai melihat-lihat beberapa contoh soal dan mulai mengerjakannya. Dia mulai dari yang paling mudah. Wajahnya mulai nampak serius dan bibirnya mulai manyun seraya dia fokus pada setiap soal. Jari-jarinya pun sibuk menekan tombol kalkulator, dan buku catatan bekas di depannya penuh dengan coret-coretannya ketika dia menghitung.


Dia cukup senang karena bisa mengerjakannya.


Kemudian dia beralih ke soal-soal latihan yang lebih sulit. Ketika sudah masuk ke persamaan kuadrat, kepalanya mulai sakit dan mukanya mulai stress.


"Aduh... kepalaku langsung pusing setiap kali melihat simbol-simbol ini. Hah... nasib... nasib...


Akar pangkat dua, x, y, himpunan penyelesaian, parabola terbuka ke atas, ke bawah.


Ah..... aku stress! Lama-lama aku bisa gila!


Aku heran kenapa si Linda sama si Tuti bisa langsung mengerti. Kenapa aku nggak? Makan apa sih mereka sampai otaknya bisa encer menyerap nih pelajaran?" Gerutunya kesal.


Tapi kemudian dia menarik nafas panjang lagi dan menghembuskannya untuk menenangkan diri lalu berkata,


"Baiklah! Akan aku coba!"


Kemudian dia memilih satu soal dan mencoba mencari jawabannya. Dia juga membolak-balikkan lembaran buku panduan yang lain untuk mencari contoh soal yang mirip dengan itu. Tapi ketika dia hampir menemukannya, yang ditanya di soal itu justru berbeda. Maka dia mencari lagi dan membolak-balikkan tiap lembaran lagi. Begitu seterusnya sampai dia lelah namun tak kunjung menemukan satu contoh soal yang benar-benar mirip untuk membantunya. Maka karena kesal, dia berteriak dengan geram lalu menggerutu lagi.


"AH...!


Siapa sih yang merancang ini soal? Kenapa nggak ada satu pun contoh soal yang mirip? HAH! Lama-lama aku beneran gila nih.


Aduh, kepalaku sakit dan mau pecah.


Jam berapa sekarang?"


Dia mendongak dan melihat jam dinding ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia pun kaget dan tak percaya.


"HAH! Apa?


Serius sudah jam sepuluh? Astaga.... gara-gara ini soal, aku jadi lupa mandi. Mana mungkin lagi aku mandi. Ah... ya sudahlah! Terpaksa aku tidur tanpa mandi. Lagi pula aku tidur sendirian, jadi tidak akan ada yang akan mencium aroma ketekku yang sudah dua kali lipat bau."


Lalu dia segera beranjak dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2