
Ke esokan paginya di sekolah, Linda senyum-senyum sendiri di bangkunya. Betty dan Siti yang baru tiba di kelas menghampirinya dan bertanya, "Kamu kenapa Lin senyum-senyum sendiri kaya orang gila?"
Dalam sekejap Linda langsung tertawa sumbringah merespon pertanyaan itu.
"Oh my God, mataku silau. Gigimu putih banget Lin!" Ucap Siti sambil menutupi matanya dengan tangannya dari silau giginya. Lalu dia mengeluarkan kacamata hitam dari tasnya dan memakainya lalu bertanya lagi, "Apa yang terjadi sama gigimu Lin? Kenapa bisa berkilau begitu?"
"Iya! Kau olesi apa ke gigimu?" Sambung Betty.
Namun Linda merasa tersinggung dengan kata-kata mereka.
"Apaan sih? Lebay deh kalian berdua."
"Idih! Kok malah ngambek. Kita serius nanya. Soalnya kemarin-kemarin itu kan gigimu sedikit coklat agak kuning gitu Lin. Tapi kenapa sekarang cemerlang?" Ujar Siti dengan polosnya.
Mendengar itu, Linda semakin kesal padanya dan bilang, "Bisa nggak omongannya dijaga? Jangan sampai aku marah dan kembalikan keriting rambutmu yah!"
"Ih! Kok kamu makin marah sih Lin? Yang Siti katakan benar! Dia kan hanya bilang gigimu sedikit kecoklatan. Bukan kuning seperti jangung." Sambung Betty.
"Kamu juga Bett! Bisa nggak sih mulutmu diam? Pagi-pagi kalian udah buat aku murka!"
"Iya. Iya. Aku diam. Puas! Daripada urat nadimu mendidih, mending bibirku diam."
Tak lama Tuti sampai di kelas, dia langsung menghampiri mereka bertiga dan tanya, "Hei, kalian udah daftar lomba belum sih?"
Semua pun pada tepuk jidat karena lupa. "Astaga... kami lupa."
"Ya udah, kalo gitu kita temui pak sigit sekarang."
Mereka segera pergi sebelum bel berbunyi dan mendaftarkan diri sesuai kemampuannya masing-masing. Tuti mendaftar dalam lomba Matematika, Betty dalam Bahasa Inggris, Siti dan Linda di jurusan IPA.
"Wah... kalau kita juara, kita harus merayakannya." Seru Siti.
__ADS_1
"Jangan pikirin itu dulu Sit. Yang penting sekarang, kita fokus belajar." Balas Linda.
"Mmm... karena kita ikut lomba, bagaimana kalau belajar kelompoknya, kita hentikan dulu? Kita belajar sendiri di rumah kita masing-masing? Yah...supaya lebih fokus. Gimana?" Tutur Betty.
"Yah...aku rasa itu ide yang bagus." Sambung Linda.
"Baiklah. Jadi mulai malam ini kita belajar di rumah masing-masing yah." Ujar Tuti.
Ketika mereka sampai di kelas, mereka langsung duduk di bangku masing-masing dan membuka buku sambil menanti kedatangan sang guru.
Namun sampai sepuluh menit berlalu, sang guru tak kunjung datang dan kelas menjadi riuh seperti kondisi pasar. Tapi ke empat bocah itu tetap pada tekadnya dan tak terpancing ribut dengan siswa yang lain.
Ada yang saling melempar kertas, bergosip, melempar kapur, tertawa, namun ke empat bocah yang telah memegang teguh tekadnya sekuat karang itu, menutup telinganya dari kebisingan dan memfokuskan diri belajar sekalipun dalam badai kebisingan.
Tak lama kemudian saat kegaduhan itu memuncak, seorang guru BP lewat dari depan kelas dan menyaksikan pertarungan dua orang siswa. Mereka saling melempar kapur ke muka satu sama lain dan terkadang saling meludah.
Guru BP itu pun langsung menghardik mereka dan geleng-geleng kepala melihat ruang kelas kini tampak seperti kapal pecah. Sang guru BP menyuruh siswa berandalan itu maju ke depan kelas dan mencoreti muka mereka satu persatu dengan potongan kapur. Tapi karena tulisan di jidat mereka tak tampak jelas, si guru BP pun menulisnya dengan spidol, yang isinya, 'Si Jelek dan Bodoh.' Di jidat, tulisan 'Jelek', sementara di kedua pipi, 'Bodoh.'
Seketika itu seluruh siswa tertawa riuh dan mengejek mereka. "Hahahaha... dasar bodoh! Jelek! Hahahaha..."
"Sudah! Sudah! Jangan ribut. Itulah akibatnya kalau kalian tidak bisa menjaga mulut kalian." Tutur sang guru.
Lalu dia mendekati kedua siswa laki-laki itu dan mencubit pipi mereka lebar-lebar, "Makanya jadi orang, ja....ngan malas." Tuturnya dengan penuh tekanan.
Ketika dia mencubit, kedua bocah itu meronta kesakitan. Tapi sang guru langsung menghardik mereka, "Hei! Diam! Bibirmu ini nanti yang saya cubit satu persatu, biar doer sekalian! Mau?"
"Jangan pak!" Ucap keduanya lalu tertunduk menahan malu.
"Ya sudah! Kembali ke kursi kalian! Awas! Jangan sampai ada suara lagi yang bapak dengar. Bapak cubit bibir kalian satu-persatu nanti. Paham!"
"Paham pak" Jawab seluruh siswa serentak.
__ADS_1
*************
Namun baru sebentar sang guru BP meninggalkan tempat itu, beberapa siswa tergoda mengejek mereka sampai-sampai memancing keributan lagi.
Dua di antaranya adalah siswi dan 3 lainnya siswa. Mendengar keributan itu, sang guru BP langsung berlari secepat kilat dan mendarat mulus dengan gaya bebas di depan kelas.
Murid-murid terkesima karena dia bergaya seperti master kungfu. "HYAK HYAK" Kedua tangannya menarik jurus tak sabar untuk menghukum siswa yang tak menghargai kata-katanya.
"Mulut siapa yang tadi berkicau? Ayo jawab!"
Tapi tidak ada yang berani menjawabnya karena mereka mengancam.
"Oh, tidak ada yang mengaku rupanya. Baiklah, bapak akan buat kalian mengaku. Bapak cubit bibir kalian sampai panjang supaya kalian mengaku."
Kemudian dia bergerak ke salah satu siswa laki-laki dan dengan cepat mencubit dan memelintir bibirnya.
Bibir siswa itu dipelintirnya kuat dengan kedua ujung jarinya sampai merah dan doer.
Para siswa yang menyaksikan penderitaan si korban, gemetar dan tak mau mendapat terapi pembengkakan bibir yang menyakitkan itu.
"Oh my God. Mending aku operasi pelastik daripada dibuat doer sama jari-jarinya yang kotor. Ih... menjijikkan. Itu jari-jari pasti bekas ngupil." Tutur salah seorang siswa dalam hati.
Sang guru BP memang senang mengupil apalagi ketika berjalan.
Kemudian sang guru BP melanjutkan lagi, "Jadi bagaimana? Mau memberitahu atau bapak cubit kalian semua?"
Maka karena semakin takut saat melihat tangan sang guru sudah siap mendarat di wajah siswa yang lain, sebagian besar siswa pun akhirnya langsung menunjuk siapa siswa yang berbuat keributan itu,
"Pak, yang ribut barusan itu adalah Yolanda, Jasmin, Rio, Donald, dan Manto."
"Sekarang, kalian maju! Cepat!" Bentak sang guru.
__ADS_1
Dengan penuh kecemasan melanda jiwa dan pikiran, kelima siswa itu maju dengan muka yang tertunduk lalu berbaris di depan kelas.