
Maka ke esokan harinya, Linda dan Tuti pergi ke sekolah lebih awal. Lalu, demi traktiran makanan yang akan mereka dapatkan setiap hari, mereka pun menemui satu-persatu teman-teman sekelasnya yang sudah tiba. Lalu mereka mengatakan agar mereka jangan membully Betty lagi.
Awalnya tidak ada yang mau menurutinya. Tapi karena Linda dan Tuti menjanjikan sesuatu yang menyenangkan, mereka pun akhirnya mau menurutinya. Saat itu Betty belum tiba di sekolah. Jadi Tuti dan Linda bisa dengan leluasa mempengaruhi teman-temannya.
Sedangkan Betty, karena dia masih ragu apakah teman-temannya tidak akan mengejeknya lagi atau tidak. Dia berlambat-lambat dalam berkemas sehingga memancing neneknya berkomentar pedas lagi.
Sampai Betty keluar dari rumahnya, neneknya tidak akan berhenti mengomel.
Lalu ketika dia sudah mencapai gerbang sekolah, dia memantapkan hatinya kedua kali, dan mempersiapkan mentalnya untuk setiap ejekan dan tawa yang mungkin teman-temannya lontarkan nanti. Maka, mulai dari gerbang, hingga ke depan pintu kelas, dia berjalan tertunduk. Sampai dia duduk di bangkunya.
Belakangan ada seorang murid yang duduk di belakang memanggilnya. Betty takut untuk menengok ke belakang. Karena dia pikir, dia pasti memanggil hanya untuk mengejeknya. Maka dia diam saja dan tak menyahut sampai berkali-kali. Hingga akhirnya siswi itu menghampirinya dan berkata,
"Hei Betty, dari mana saja kau semalam? Kenapa kau nggak masuk? Bu Lyra mencarimu lho. Kau tahu kan kalau kau murid kesayangannya? Ibu itu memberikan tugas kelompok. Dan kita satu kelompok. Ini materinya. Pelajari dulu yah. Kau kan pintar bahasa inggris. Ntar ajarin aku yah.
Kita ada lima orang dalam satu kelompok. Aku, kau, Nita, Ira, dan Susi."
"Ok. Makasih yah. Nanti aku akan pelajari. Dan tenang aja. Aku pasti ajarin kamu kok."
"Baiklah. Aku balik yah."
Lalu setelah siswi itu kembali ke bangkunya, Betty mengamati seluruh teman-temannya. Dan dia heran mengapa semua teman-temannya tetap tenang. Itu adalah detik-detik terakhir sebelum sang guru datang ke kelas.
Lalu beberapa saat kemudian, guru kesayangan mereka pun datang. Dia adalah guru olahraga. Guru yang biasanya paling banyak disukai oleh para siswa. Dia masih lajang dan ramah. Biasanya sang guru akan bercerita singkat sebelum akhirnya menyuruh seluruh siswa ke lapangan.
Pagi itu, sang guru mengajukan satu pertanyaan kepada murid-muridnya. Dan itu tak biasanya dia lakukan. Karena biasanya, dia hanya akan menjelaskan materi pelajaran sebelum pergi ke lapangan. Pagi itu dia bertanya kepada siswa-siswa yang duduk di kelas dua menengah atas itu. Dia bertanya apa cita-cita mereka. Maka para siswa pun menjawabnya secara bergiliran. Semua siswa dan sang guru, tampak biasa saja mendengarkan cita-cita mereka. Tapi pada giliran siswa yang terakhir, seketika suasana kelas menjadi riuh karena mendengarkan cita-cita siswa yang terakhir. Bagaimana tidak? Dengan santainya siswa itu menjawab bahwa dia ingin menghilang. Sontak semua siswa pun tertawa mendengarnya, sedangkan sang guru, bingung. Maka, ada beberapa siswa yang berkomentar mengejek dari belakang. Mereka berkata,
"Yah sudah! Menghilanglah kau dari muka bumi ini hahaha..."
__ADS_1
Yang lain lagi bilang, "Bim sala Bim... si Toni menghilang, dan sangkut di kecambah toge belakang rumah pak guru. Hahaha..."
"Dan yang lainnya mengejek, "Teman-teman! Kalian lihat si Toni nggak? Dia sudah menghilang lho! Menghilang!"
Maka sang guru cepat-cepat bertindak menenangkan suasana yang semakin riuh, lalu bertanya pada Toni, siswa yang pendiam di kelas. Sang guru berkata,
"Jangan becanda Toni. Cita-citamu apa?"
"Sebenarnya saya ingin terbang pak." Jawabnya polos.
Dan lagi-lagi, jawabannya membuat semua siswa di kelas tertawa terbahak-bahak.
"Hei! Sudah! Sudah!" Ujar sang guru tegas. Kemudian dia melanjutkan,
"Maksudmu apa Toni? Kamu kan nggak punya sayap. Bagaimana bisa kamu terbang? Atau kamu mau menciptakan sebuah sayap yang digerakkan oleh mesin dan terbang? Begitu maksudmu?" Tanya sang guru penasaran.
"Pak, saya ingin jadi pramugari supaya bisa terbang."
Mendengar itu, teman-temannya lagi-lagi tertawa dan mengejek. Salah satunya berkata,
"Hei Ton, kau kan laki-laki. Masa kau mau jadi pramugari? Ada-ada aja. Pak belum makan obat mungkin si Toni. Dari tadi jawabannya aneh."
"Hei! Sudah! Sudah!
Kalian ini selalu saja ribut.
Diam dulu dan dengarkan pendapat teman kalian!" Ujar sang guru dengan tegas.
__ADS_1
Kemudian dia mendekati Toni dan bertanya dengan lembut. Dia khawatir, jawabannya yang sedari tadi salah, adalah kejiwaannya yang sedikit terganggu. Sang guru berpikir kalau mental siswanya terganggu. Maka dia bertanya lagi dengan lembut pada Toni.
"Toni, mungkin maksudmu pramugara kan? Mungkin kamu hanya salah menyebutkannya saja. Benar kan?"
"Iya pak." Jawabnya ragu dan tertunduk.
"Oh, itu bagus! Maka, supaya kau bisa jadi pramugara nantinya, kau harus rajin belajar yah. Terutama belajar bahasa asing."
"Pak, dia sangat pintar bahasa asing. Kalau dia bicara, dia seperti minum air. Lancar sekali pak." Ujar salah seorang murid.
"Oh, bagus itu. Terus tingkatkan yah." Balas sang guru sambil menepuk lembut pundak Toni. Kemudian dia berkata lagi,
"Yah sudah! Kalian siap-siap! Ganti pakaian kalian! 10 menit lagi kalian harus sudah ada di lapangan Voli. Bapak tunggu kalian di sana."
Lalu sang guru pun segera pergi. Namun dia masih memikirkan muridnya Toni. Dia berharap kecurigaanya tidak benar. Karena selama dia mengajar di kelas itu, dia selalu melihat Toni diam dan menyendiri. Jarang bergaul dengan teman-temannya sesama laki-laki. Apalagi kepada siswa perempuan.
**********
Lalu di lapangan itu, sang guru menyuruh satu-persatu murid memukul bola Voli hingga melewati net. Dan hampir dari mereka semua berhasil melakukanya. Lalu sang guru mulai memilih beberapa siswa laki-laki yang lebih unggul dan menyuruh mereka bertanding. Sedangkan yang lainnya, ada yang bermain badminton, tennis meja, dan olahraga sepak takraw.
Tapi sang guru kali ini lebih fokus kepada siswa yang sedang bertanding bola Voli. Karena kepala sekolah memintanya untuk memilih beberapa siswa yang handal untuk bertanding antar sekolah di tingkat kabupaten.
Sang guru sibuk menghitung jumlah skor yang masing-masing grup peroleh. Namun tak lama, tiba-tiba saja pandangannya teralihkan pada Toni yang tengah asyik membaca buku dan duduk sendirian di pinggir lapangan. Maka sang guru menghampirinya untuk melihat buku apa yang sedang dia baca. Dan, betapa terkejutnya dia, melihat Toni membaca majalah wanita. Yang isinya tentang gaya hidup, masakan, make up, juga berbagai pernak-pernik tentang wanita. Maka sang guru bertanya padanya,
"Dari mana kau mendapat majalah ini Ton? Dan kenapa kau membawanya ke sekolah? Bukankah ini dilarang?"
Toni tidak berani menjawabnya dan hanya tertunduk takut. Sedangkan sang guru yang merasa kasihan dan curiga padanya, tidak memarahinya. Tapi dengan lembut menasehatinya agar menyimpan kembali majalah itu lalu kembali ke lapangan untuk olahraga.
__ADS_1