Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 44


__ADS_3

Hari esok yang menegangkan itu diawali dengan hujan ringan dan udara yang dingin. Namun otak serta tubuh mereka yang mengikuti lomba itu, malah terasa panas. Darah di otak dan di tubuh mereka seolah mengalir dengan cepat, berbeda jauh dengan darah di jari-jarinya yang seolah mengalami penyumbatan sehingga jari-jari mereka kini dingin sedingin es.


Keempat sekawan itu saling menyemangati.


"Tut, jangan tegang yah. Nanti otakmu nggak lancar lho. Menghitung kan butuh kelancaran otak." Cletuk Siti.


"Bener Tut. Kami semua di sini selalu mendukungmu." Sambung Linda. Kemudian dia berteriak, "AYO! SEMANGAT 45! HAJAR SEMUA SOAL SOAL ITU!" Semua siswa di kelas itu menatapnya heran dan geli karena sewaktu dia mengangkat satu tangannya, bulu ketiaknya mengintip keluar turut memberi semangat tambahan bagi Tuti.


Lengan bajunya yang pendek, memudahkan bulu ketiak itu tampil di khalayak ramai. Sementara itu, Tuti yang duduk di didekatnya menutup hidung dan sesak nafas menahan bau ketiak Linda yang basah.


"Bisa nggak sih Lin kamu nggak angkat tangan? Bau tahu!


Hah...lama-lama otakku bisa tersumbat nih." Tegur Tuti sambil menatapnya kesal.


Linda segera menurunkan tangannya sambil menahan malu. Dia juga kesal karena tanpa sadar Tuti telah mempermalukannya di depan semua siswa.


Siti yang juga melihatnya kecil hati sekaligus murung, mengajaknya keluar untuk menenangkan hatinya,


"Jangan diambil hati yah omongan Tuti tadi. Dia hanya tegang karena sebentar lagi mulai lomba. Nggak ada maksud membuatmu kesal."


"Iya. Iya." Jawabnya bete.


Tak lama, semua peserta disuruh memasuki aula dan mengambil tempat duduk sesuai nomor urutnya. Lomba itu begitu menegangkan karena salah satu pesertanya pernah mendapat juara antar sekolah di tingkat kabupaten. Juga, ini pertama kalinya Tuti mengikuti lomba antar sekolah.

__ADS_1


Tuti duduk bersisian dengan siswa dari sekolah lain, sementara Joko dan Lia, jauh di sisi yang satunya.


Kemudian pengawas mulai membagikan lembaran soal pada mereka. Saat lembaran soal itu diedarkan, tekanan darah Tuti terasa kian memuncak seperti tingginya puncak gunung hingga membuat jantungnya seolah berhenti memompa.


"Tenang Tuti. Ini bukan peperangan yang menghilangkan nyawa. Ini hanya lomba. Kalah dan menang itu sudah pasti. Kalau kamu tidak bisa menang dan mengukir sejarah, ya sudah. Yang penting kamu udah berusaha." Ujarnya dalam hati seraya membuang nafas panjang dari mulutnya pelan agar tetap tenang.


Di sisi lain, Joko juga meneguhkan tekad dan semangatnya untuk bisa menang.


"Aku yakin! Kemenangan sudah dipersiapkan untukku. Aku sudah bekerja keras, dan kerja kerasku pasti tidak sia-sia.


Setelah semua lembaran soal itu dibagikan, seorang pengawas pun berseru, "Mulai!"


Semua peserta pun mulai sibuk mengerjakan setiap soal. Beberapa dari mereka melangkahi soal yang terlalu rumit dan mengerjakan soal yang lebih mudah lebih dulu. Ada juga yang mengerjakannya secara berurutan, dan ada juga yang bertahan di satu soal sampai jawabannya ditemukan lalu pindah ke soal yang lain.


Bisikan pedas itu tak sengaja sampai ke telinganya melalui seorang siswa yang sangat polos dan naif. Dia berkata, "Kak, kakak-kakak yang duduk di sana itu, ngatain kakak. Mereka bilang kakak jorok dan jarang mandi."


Mendengar itu kemarahannya pun bertambah. Karena omongan Tuti, nama baiknya jadi tercemar satu sekolah.


Linda sudah pasang badan dan siap menerjang mereka. Lubang hidungnya telah mengeluarkan asap seperti banteng yang kemarahannya selalu dipancing.


Tapi.... "Tunggu!" Cegat Siti. Tangannya menariknya kuat dan menahannya.


"Jangan Lin! Besok kita mau ikut lomba. Kalau kamu bikin masalah, nanti namamu dicoret dari daftar peserta. Mau? Hah?!"

__ADS_1


Betty yang juga ada di sana, turut berpartisipasi menahan amarah Linda agar tidak meledak. Mereka mencoba mengajaknya bernalar dan mencari sudut pandang yang lain.


"Lin, jadikan ini cambuk menuju kebangkitan. Biasanya kayak di film-film, cewek yang selalu dibully, kelak jadi primadona. Siapa yang tahu? Iya kan? Jadi udah deh. Jangan buang-buang tenaga. Pikirkan staminamu untuk pertandingan besok." Ujar Betty.


"Iya Lin. Oh yah? Bagaimana kalau ntar sore kita refreshing sebentar?" Sambung Siti.


"Duh... udah deh! Dari tadi mulut kalian bawel banget." Ujar Linda kesal lalu pergi ke halaman belakang untuk menenangkan diri.


Seolah bersemedi, dia menutup mata seraya menyesuaikan kembali cara berpikirnya.


"Siti dan Betty benar! Aku harus dewasa. Kalau aku terus ngambek begini, bisa-bisa hubungan pertemanan kami kandas. Dan... ukiran sejarah pada bingkai foto yang kami rencanakan, akan berujung batal. Tidak. Tidak. Aku harus bisa melupakan kesalahan kecil itu. Kalau aku di posisinya, mungkin aku juga begitu."


"Yups! Bener banget tuh Lin. Maksudku benar kalau kita membayangkan diri ada di posisinya. Dengan begitu kita akan semakin mudah melupakan kesalahannya." Cletuk Siti yang diam-diam mengikutinya.


"Ya udah, kita masuk yuk!" Ujar Siti lagi.


*********


Tanpa terasa, waktu ketegangan di ruang perlombaan itu pun berakhir. Salah satu pengawas mengatakan agar semua peserta berhenti memegang lembaran soalnya dan meletakkan alat tulisnya di sisi meja. Kemudian pengawas-pengawas itu berjalan mengumpulkan semua lembaran soal-soal itu. Lalu sebuah wejangan singkat pun diberikan demi menghibur semua peserta.


"Kalian semua yang ada di sini sudah bekerja keras. Bapak bisa melihatnya sendiri. Setiap hari kalian pasti mengharapkan kemenangan. Tapi bapak katakan, semua yang ada di sini adalah pemenang. Karena tidak mudah masuk ke aula ini. Pihak sekolah sudah menyeleksi kalian lebih dulu dan menyisakan peserta terbaik. Karena itu bapak katakan, kalau kalian tidak mendapatkan gelar juara, jangan kecil hati. Jangan berpikir itu adalah akhir. Karena kesempatan selalu terbuka bagi orang-orang yang terus belajar dan berjuang. Setelah perlombaan ini, kalian boleh beristirahat dan tidur nyenyak. Karena bapak yakin, sampai lomba ini diselenggarakan, kalian pasti kurang tidur setiap malam. Karena itu, nanti malam tidurlah dengan nyenyak dan jaga kesehatan kalian."


Setelah semua itu, seluruh peserta pun dipersilahkan keluar.

__ADS_1


__ADS_2