
Betty berhasil lolos dari kejaran Linda dan berhasil sembunyi. Namun dia tidak sadar sedang bersembunyi di belakang rumah kepala desa. Rumah itu tidak begitu besar. Sehingga meski dia bersembunyi di belakang rumah, namun suara dari dalam kamar masih bisa terdengar. Waktu itu dia tidak sengaja mendengarkan percakapan antara kepala desa dengan istrinya malam minggu itu. Saat itu masih jam delapan malam, Betty melihat jam tangannya. Maka dia heran dan berbicara pelan pada dirinya sendiri,
"Baru jam delapan, tapi suami istri sudah mengurung diri saja."
Betty pun berniat mendengar percakapan itu dengan seksama. Percakapan itu membuatnya sulit untuk mengendalikan diri agar tidak tertawa. Meski begitu, dia berupaya keras menutup mulutnya rapat-rapat setiap kali dia ingin tertawa. Isi percakapan yang dia dengar adalah,
"Ma, mama sudah jadi pasang alat KB kan? Papa sebagai kepala desa harus berada di baris terdepan memberikan contoh pada warga kampung kita."
"Iya pa. Papa ini cerewet sekali. Bolak-balik hanya itu terus yang ditanyakan."
"Papa kan hanya mengingatkan mama saja."
"Terus kalau seandainya mama lupa, bagaimana?"
"Jangan dong ma. Nanti anak kita banyak. Masa setiap kali kita kerja malam, dapat anak. Nanti dalam beberapa tahun, anak kita bisa makin banyak dong."
"Memangnya kenapa? Bagus dong. Biar rumah kita ini ramai."
"Jangan dong ma. Nanti bapak nggak kebagian perhatian mama. Papa cemburu."
"Idih! Mulai deh, bersikap sok manja. Lagipula, jangan hanya mama dong yang pakai alat KB. Papa juga! Biar papa tahu seperti apa sakitnya pasang alat KB. Papa cuma tahu enaknya saja dan tak pernah merasakan sakitnya."
"Ma, jangan marah-marah gitu dong. Papa nggak tahan nih lihat mama marah-marah. Mama semakin cantik kalau lagi marah."
"Mulai lagi gombalannya yang nggak jelas. Kalau mama cantik pas lagi marah, berarti mama terlihat seksi dong kalau mau nampol papa?"
"Apa? Seksi?
__ADS_1
Yah, sangat seksi. Apalagi kalau papa ditampol dengan ciuman di tempat tidur."
"Ih... Dasar! Papa itu memang nggak bisa diajak bicara yah. Pasti jurusannya langsung nggak jelas deh!"
"Udah dong ma. Nanti mama cepat tua kalau marah-marah terus. Sini! Biar papa peluk, biar amarahnya hilang."
"Yang ada, bukannya hilang! Malah bertambah dua kali lipat!
Ah... sudahlah!
Mama mau tidur! Minggir sana! Seharian mama capek, nyapu, ngepel, nyuci, masak, dan urus suami. Awas kalau mengganggu!
Mama nggak akan segan-segan......" Balasnya lalu diam karena tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Segan-segan apa ma? Ayo diteruskan. Jangan nanggung ma. Yang nanggung itu menyakitkan."
Seketika dia melompat ke tempat tidur sambil berteriak dan membanting tubuhnya di atas ranjang dan menyiku suaminya dengan keras saat posisinya sedang berbaring. Suaminya pun merintih kesakitan karena siku yang tepat mengenai burung pelatuknya. Juga, karena bantingan yang mendadak dan sangat keras itu, tak sengaja menghancurkan dan membelah tempat tidur mereka yang terbuat dari papan. Tempat tidur mereka pun roboh dan terbelah. Suaminya juga mengalami sakit pinggang karena tertindih dan menahan bobot tubuh istrinya yang lebih gemuk darinya saat tempat tidur itu hancur.
Betty pun tak kuat lagi menahan tawanya dan melepaskannya ketika mendengar suara benturan itu. Dia berkata sambil tertawa lepas,
"Wah... permainan yang luar biasa!"
Maka karena perkataannya itu, dia pun ketahuan oleh Linda dan dikejar lagi. Mereka pun berkejar-kejaran lagi untuk yang kedua kalinya. Sedangkan istri kepada desa itu, cepat-cepat berdiri dan berlari keluar untuk mengetahui siapa orang yang telah mengejeknya. Namun dia tidak dapat melihatnya karena Betty sudah lebih dulu kabur sebelum dia membuka pintu.
**********
Untuk yang kedua kalinya, Betty juga berhasil lolos dari kejaran Linda. Namun kali ini dia bersembunyi di sekitar halaman rumah guru matematikanya. Juga, tak sengaja dia mendengar percapakan sang guru tentang rencananya yang akan mengadakan ujian mendadak. Mendengar itu, Betty pun khawatir dan panik. Karena dia tidak tahu apapun tentang matematika selain hal-hal dasar, yaitu tambah, kurang, kali, dan bagi. Selama ini, setiap kali ujian diadakan, Lindalah yang membantunya. Dan terkadang dia juga meminta bantuan dari temannya si Tuti. Tapi sekarang, Linda sudah menjadi musuhnya karena Micky. Karena cinta pada satu bocah laki-laki yang diperebutkan setengah mati.
__ADS_1
Maka selama dalam persembunyian itu, dia memutar otak untukĀ mencari solusi agar dia bisa lolos dari ujian itu dan mendapat nilai yang bagus. Maka dia mulai merancang siasat licik dan terkadang tertawa cekikikan.
Kemudian setelah dia mendapatkan ide, dia keluar dengan tenang dari persembunyiannya tanpa ada rasa takut sedikit pun jika sewaktu-waktu Linda menangkapnya.
Dan benar saja, baru beberapa langkah dia keluar dan berjalan, Linda melihatnya dan menghampirinya. Namun karena dia tidak lari, Linda pun heran dan bertanya kesal,
"Hei, kenapa kau nggak lari? Dan mukamu, kenapa mukamu mendadak linglung dan lusuh?"
"Lin, maafin aku yah karena tadi aku mengejekmu. Aku tidak bermaksud bilang kau cewek kolot. Gara-gara seorang laki-laki, pertemanan kita jadi rusak. Kau adalah teman sebangku ku yang terbaik. Maafin aku yah Lin, lain kali aku nggak akan ngata-ngatain kamu lagi."
"Bener?"
Hati Linda pun sekejap berubah dan kasihan melihat airmata palsu yang Betty keluarkan demi sandiwaranya. Betty berpura-pura menyesal agar Linda membantunya dalam ujian matematika nanti.
Lalu Linda berkata lagi,
"Tapi kenapa tiba-tiba kau minta maaf?"
"Mmm.... tidak ada. Aku hanya berpikir tentang pertemanan kita saat berlari tadi."
Betty tidak menjelaskan alasannya karena takut Linda akan berubah pikiran.
"Yah sudah, ini sudah malam. Yuk kita pulang! Besok kita jadi kan lari pagi sama-sama?" Ujarnya lagi mengalihkan pembicaraan.
"Jadi dong."
Mereka berdua pun pulang sambil bergandengan tangan. Namun di lubuk hatinya, Betty merancang siasat licik agar dia membantunya. Sedangkan Linda, adalah orang yang polos, yang mudah percaya pada Betty.
__ADS_1