Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 40


__ADS_3

"Angkat leher kalian!" Bentak sang guru BP.


"Bapak mau lihat bibir siapa yang paling doer, pasti dialah orang yang paling ribut."


Kelima siswa yang berbaris itu pun spontan memegangi bibir mereka dan meraba seberapa tebal dan doer.


"Ah, bibirku tipis. Jadi aku nggak perlu cemas." Tutur salah seorang siswi dalam hati. Sedangkan satu siswi dan tiga siswa lainnya mulai keringat dingin karena merasa punya bibir tebal.


"Astaga... kali ini mampuslah aku. Pasti emak bakalan bilang kalau aku makan cabe satu ons di kantin gara-gara bibirku makin doer. Padahal emak kan larang aku makan cabe. Gimana nih? Aku jawab apa nanti sepulang sekolah?" Salah satunya berkata dalam hati sambil memperlihatkan kegelisahan ganda di raut mukanya.


Namun ternyata sang guru memperhatikan tingkahnya yang gemulai dan membentaknya, "Hei! Kenapa kamu menggeliat macam ulat? Hah? Memangnya kamu digelitiki?"


Mata sang guru BP melotot tajam padanya seolah hendak memangsanya seperti harimau.


Siswa itu pun menangis karena semakin takut dan dia tidak malu di depan semua temannya terisak-isak seperti anak yatim piatu.


Melihatnya menangis, sang guru BP menaruh iba padanya dan tak tega memberinya hukuman. Dia teringat pada masa lalunya dulu ketika ibunya lari meninggalkannya dan malah memilih pacarnya yang pengangguran hanya karena wajahnya tampan. Atas suruhan laki-laki pengangguran itu, ibunya tega membuangnya di jalan seperti membuang seekor anak kucing.


Sang guru BP itu ikut mewek dan suasana kelas menjadi penuh dengan kesedihan. Hampir semua siswa ikut menangis kecuali Siti, yang pantang terlihat lemah di depan yang lain.


"Aku tidak boleh menangis. Apa kata orang kalau cewek perkasa sepertiku menangis? Nanti orang-orang ini tidak merespekku lagi dan tak segan lagi padaku." Tuturnya dalam hati.


Setelah kesedihan itu, sang guru BP menyuruh kelima siswa itu kembali ke kursi masing-masing dan tak jadi memberi mereka hukuman.


"Sudah. Sudah. Kembali ke kursi kalian. Belajar yang rajin dan ingat! Jangan ribut lagi. Paham!" Tutur sang guru BP lalu meninggalkan ruang kelas itu.

__ADS_1


Sejak itu, semua siswa tak berani ribut lagi karena mereka kasihan melihat air mata sang guru BP terbuang percuma. Salah satu siswa berkata, "Jangan sampai airmatanya mati terbuang lagi. Kasihan airmata itu harus keluar dari sarangnya dan mati kekeringan di dunia yang fana ini. Biarkan teman-temannya tetap bersemayam di mata guru BP kita, membasahinya bagaikan embun di pagi hari agar matanya segar dan tak melihat hal-hal menyedihkan lagi." Joko berpuisi di bangkunya kepada semua temannya.


Namun Tuti yang melihatnya merasa jijik dan bilang, "Idih! Lebay amat sih!"


Joko hanya membalasnya dengan tatapan penuh kekecewaan. Dalam hatinya dia berkata,"Kenapa permaisuriku membenciku sedemikian rupa? Apa salahku? Padahal aku sudah memberikan cinta yang tulus. Ah, malangnya nasibku menjadi pengemis cinta."


Dia kembali duduk dan membuka bukunya.


Dia juga ingin menang dalam lomba itu dan berniat memberikan hadiahnya pada Tuti sebagai bukti cinta sejatinya. Namun mereka tidak tahu kalau dia juga ikut lomba. Karena Joko mendaftar diam-diam.


**********


Sepanjang hari itu, hanya ada dua orang guru yang mengajar di kelas mereka, yaitu guru agama dan guru kesenian.


Semua siswa yang mendengarnya bersorak sambil bertepuk tangan, "Cie...cie... so sweet...." Seru mereka.


Namun Tuti dalam hati bersumpah akan menghajar Joko yang sudah kelewat batas, sepulang sekolah. "Akan kubungkam bibirmu sampai tak bisa bersyair lagi." Dia mengepal kedua tangannya sampai jarinya bunyi gemertak.


Joko kembali ke bangkunya sambil main mata ke arah Tuti yang membuat darahnya semakin mendidih.


Selama pelajaran itu, seluruh siswa menampilkan bakatnya masing-masing.


**********


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah bel berbunyi, Tuti mengajak Joko bertemu di halaman belakang sekolah. Namun sebelumnya dia sudah memberikan isyarat agar ketiga sahabatnya turut membantunya nanti.

__ADS_1


Ke empat bocah itu sudah pasang badan, seolah siap membinasakan Joko.


Begitu dia sampai di situ, Siti dan Betty langsung tarik jurus dan memukul Joko sampai Jatuh. Lalu Tuti yang kini tampak seperti pemimpin geng, berjalan di tengah mereka dan menghardik Joko. "Punya otak nggak? Atau nggak dipakai? Aku kan sudah peringatkan jangan melewati batas. Tapi kenapa? Hah?"


Betty dan Siti mengekangnya sehingga tak bisa melawan. Namun Joko hanya bilang, "Aku akan melakukan apapun. Aku tulus mencintaimu. Tak ada maksud lain, atau niat mempermalukanmu."


"Tapi aku sudah peringatkan jangan sampai seluruh siswa tahu. Kita masih sekolah, tujuan kita adalah belajar dan meraih cita-cita. Bukan pacaran! Jadi tolong simpan saja perasaanmu sampai kamu bisa lulus dengan nilai terbaik." Balas Tuti.


"Jadi maksudmu, kalau aku mendapat nilai bagus, aku bisa punya peluang?"


"Aku tidak bilang begitu. Lagi pula, aku tak habis pikir. Kenapa kamu mengejarku mati-matian. Bukankah banyak siswa yang jauh lebih baik dariku? Hah?"


"Yang lebih baik, banyak. Tapi yang terbaik cuma satu."


Joko masih ada dalam kekangan Betty dan Siti. Dan Linda yang menyaksikannya merasa kasihan dan berusaha menghentikannya. Tapi dia dibentak oleh Tuti, sehingga dia mundur dan diam saja.


"Baiklah! Buktikan padaku kalau kau memang tulus." Ucap Tuti.


"Yah. Aku pasti. Tapi lepaskan aku. Tanganku sakit. Pinta Joko.


"Baiklah. Tapi jangan ulangi lagi. Aku tak ingin fokusku terganggu karena romansa puisimu. Saat ini aku punya tujuan yang harus diraih. Kau pun harus begitu. Ok!"


Joko tak menjawabnya lagi dan pergi meninggalkan mereka, membulatkan tekad di hatinya,


"Aku akan buktikan! Tunggu dan lihatlah!"

__ADS_1


__ADS_2