Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 16. Mendapat Hukuman


__ADS_3

Untuk sesaat, Betty dan teman-temannya diam, tegang, dan sangat gugup. Sedangkan anggota kelompok lainnya tak sabar ingin mendengar jawaban apa yang akan Betty ujarkan.


"Betty, kenapa kau diam saja? Ayo cepat berikan jawabannya." Desak sang guru.


Betty masih tertunduk diam karena bingung harus menjawab apa. Lalu dia mencoba menarik nafas dalam-dalam agar pikirannya tenang. Kemudian dia mulai berbicara meski sangat gugup.


"Jadi... agar berpacaran di usia muda itu bisa tetap positif, maka kedua orang itu harus bisa saling memahami dan jangan terlalu memaksakan kehendak. Juga, manfaat berpacaran di usia muda itu bisa memberikan motivasi bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik seperti yang kalian komentari tadi." Balasnya gugup dan ragu.


Maka, mendengar penjelasnya, Linda segera mengangkat tangan dan berdiri dari kursinya untuk membantah pernyataannya. Dan sang guru juga memberinya kesempatan. Dia segera menyanggah,


"Itu artinya kalian mendukung teori 'Pacaran di usia muda itu cukup bermanfaat.' Tapi bukankah sebelumnya kalian mengatakan kalau pacaran di usia muda itu tidak terlalu penting karena bisa menyimpangkan anak-anak muda dari tujuan utamanya bersekolah? Lalu kenapa sekarang kalian malah mendukung sanggahan yang disampaikan kelompok lain? Tolong dijelaskan."


Lalu dia duduk dengan ekspresi wajah yang sangat antusias untuk membuat temannya malu.


Tak tinggal diam, Tuti juga mengangkat tangan dan menyampaikan keberatannya. Dia berkata,


"Kalau memang pacaran di usia muda itu positif, boleh tolong sebutkan sedikit pengalamanmu sebagai contohnya agar kami bisa lebih memahaminya?"


Sang guru yang membuat debat itu pun semakin bersemangat melihat reaksi para siswanya yang aktif.


"Ayo Betty, coba sebutkan pengalamanmu. Ibu yakin kamu juga sudah berpacaran."


"Ah! Tidak bu." Jawabnya ragu.


Namun seraya waktu berlalu, dia tetap diam karena tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Suasana di kelas juga mendadak hening karena semua siswa penasaran jawaban apa yang akan dia utarakan. Selain itu teman-teman di kelompoknya juga diam seperti batu, tidak bisa diandalkan sama sekali.


Maka sang guru mulai habis kesabaran dan mulai kesal karena sejak tadi tidak ada jawaban.


"Jadi bagaimana Betty? Apa jawabanmu? Kalian juga kenapa diam saja? Teman-teman kalian sudah menunggu sejak tadi."


Betty dan teman kelompoknya tetap diam dan tertunduk.


Lalu sang guru berkata lagi dengan menaikkan sedikit nada suaranya.

__ADS_1


"Ayo! Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak mempersiapkan jawaban atas setiap sanggahan yang mungkin muncul? Atau kalian sama sekali tidak tahu?"


"Maaf bu, kami tidak tahu."


"Apa? Coba tunjukkan hasil riset kalian. Ibu mau lihat sejauh mana kalian meriset."


Namun dia berlambat-lambat karena tidak ada yang bisa dia serahkan pada sang guru. Yang dia sampaikan adalah yang dia tulis sendiri di bukunya dengan penuh coret-coretan.


"Mana Betty hasil riset kalian? Ayo bawa ke sini." Ujar sang guru lagi yang mulai marah.


Akhirnya dia tidak berdaya lagi dan mengaku. Dengan berat hati dan malu dia berkata,


"Maafkan kami bu. Sebenarnya kami belum mengerjakannya."


"Apa? Bagaimana bisa? Tugas itu kan ibu berikan beberapa hari yang lalu. Ada banyak waktu yang bisa kalian gunakan untuk meriset. Jadi selama ini kalian ngapain aja?"


"Maafkan kami bu." Ujar Betty.


Mereka semua sama, tak bisa menyerahkan bahkan satu lembar kertas pun pada sang guru karena mereka tak mempersiapkannya sama sekali. Mereka telah menyerahkan tugas itu sepenuhnya kepada Betty.


Maka sang guru pun marah dan menghukum mereka. Mencubit wajah mereka satu persatu lalu menyuruh mereka keluar.


Namun sebelum itu, teman-temannya mengejek Betty dan yang lainnya dengan berkata,


"Bu, mereka pasti tidak mengerjakan tugas karena asik pacaran."


"Iya bu. Betul itu." Seru yang lainnya seraya mereka tertawa mengejek.


Kemudian sang guru bicara dengan tegas,


"Hei, sudah! Sudah diam!


Kita lanjutkan lagi debatnya. Sekarang giliran siapa?"

__ADS_1


Namun ketika kelompok yang ditunjuk maju, tiba-tiba bel tanda istirahat berbunyi. Hukuman pun berakhir dan mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Nampak Betty masih malu dan kesal. Dia tidak pernah menduga kalau kedua teman baiknya turut memojokkannya dalam debat itu. Meski begitu, kedua temannya itu tak tahu malu. Dengan tebal muka mereka duduk menghampiri Betty dan menanyakan keadaannya, namun bukan karena peduli. Mereka mulai bertanya,


"Bett, serius kau tak mengerjakan tugas bahasa inggris itu? Bagaimana bisa kau sampai lupa padahal itu pelajaran favoritmu?" Tanya Linda yang sok peduli.


"Iya. Aku juga kaget mendengarnya dan melihat kau mendapat hukuman. Rasanya ironis saja, melihat murid kesayangan mendapat hukuman." Sambung Tuti.


Tapi dia diam saja dan tak merespon perkataan kedua temannya. Dia memanfaatkan waktu istirahatnya dengan menulis hukuman yang guru matematika perintahkan padanya. Kata-kata tentang : 'Saya akan rajin belajar. Saya akan jadi anak pintar.' Menulis itu sebanyak lima lembar penuh selama jam istirahat yang hanya berlangsung beberapa menit pastilah tidak mudah. Dia harus menulis dengan cepat agar bisa menyelesaikan itu tepat waktu dan menyerahkannya pada sang guru.


Maka karena tak mendapat tanggapan, kedua temannya pun pergi ke kantin. Namun sebelum itu mereka tetap membuat hati Betty panas dengan berkata,


"Lin, enak banget yah, di jam istirahat kita bisa benar-benar istirahat dan makan di kantin." Ujar Tuti dengan nada menyindir.


"Iya. Kalau belajar dan menulis terus, kan lama-lama jenuh juga. Oh yah kau mau makan apa di kantin?" Tanya Linda.


"Kayaknya aku mau makan es krim deh. Kayanya kepalaku panas nih sejak ujian matematika dan debat yang menggemparkan itu."


"Masa sih? Tapi kayak cocok juga tuh. Aku juga mau makan es krim lah. Kepala dan tanganku juga sudah berasap nih karena pegal belajar dan menulis."


Mereka terus berbicara menyindir Betty sambil tertawa cekikikan. Hingga akhirnya Betty hilang kesabaran dan melempar pulpennya ke arah mereka dan berkata,


"Belum puas? Belum puas kalian mengejekku dari tadi? Kalau pengen jajan, ya sudah! Pergi aja dari tadi. Tapi kalian malah ngebacot di depanku. Kalian pikir aku tidak tahu? Kalau kepala kalian panas, celupkan saja di ember yang berisi air. Pergi kalian ke toilet dan rendam kepala kalian di sana sampai puas. Menjijikkan sekali. Kalian teman tapi memperlakukanku sebagai musuh."


"Cie... cie...


Ada yang marah nih.


Sudah, ayo pergi! Nanti rambutnya yang keriting itu semakin keriting karena panas. Hahaha..." Ujar Linda dengan nada mengejek.


"Iya. Aku juga takut. Nanti dia juga melempar kaos kakinya lagi sama kita. Kan bau. Hahahahaha...."


Lalu mereka segera pergi meninggalkannya sambil tertawa lepas karena puas.

__ADS_1


__ADS_2