Terkadang Teman Terkadang Musuh

Terkadang Teman Terkadang Musuh
Part 20. Rejeki Anak Soleh


__ADS_3

Sesampainya di sana, Tuti pun langsung mangap melihat lemari piring itu dan rasa tak percaya menguasai pikirannya karena lemari piring itu cukup rusak. Lalu dia bertanya dengan polosnya,


"Ini sudah berapa lama Lin? Kenapa kalian nggak ganti?"


"Aku sih sudah bilang. Tapi ibuku nggak mau. Dia bilang, 'Biarkan aja! Biar ayahmu lihat dan tahu kelakuan buruknya.' Ah... aku sendiri juga stress setiap kali melihat mereka berantem. Dulu aku pernah bilang pada ibu agar kami kabur aja dari rumah biar ayahku sadar. Tapi...karena memikirkan sekolahku, nggak jadi deh.


Lihat aja nanti. Kalau aku sudah jadi orang sukses, sepeserpun tak akan kuberikan uangku pada ayahku."


"Betul itu Lin! Aku dukung! Bapak yang jahat nggak perlu dibaikin. Bahkan kalau nanti dia sakit-sakitan, nggak usah diurus. Dibiarkan saja."


"Sudahlah. Jangan ngomongin itu terus. Males dengarnya. Gimana kalau kita makan dulu."


"Mmm...


Kayaknya aku pulang aja deh Lin. Ini udah sore. Nanti ibuku khawatir karena aku nggak pulang-pulang. Lagi pula kan nanti malam kita mau ke rumahnya si Betty. Jadi kan?"


"Pasti dong."


**********


Di jalan, Tuti bicara pada dirinya sendiri,


"Serem banget bapaknya si Linda. Marah dikit, barang-barang hancur. Kalau marah besar gimana? Mungkin-mungkin gunung merapi bisa hancur di tangannya.


Eh, salah! Yang ada dia yang mati duluan saat gunungnya meletus. Kalau dia marah besar, bisa jadi rumahnya akan jadi sasarannya nanti. Untung aku punya bapak yang lemah lembut. Nggak seperti si Linda. Tapi... kasihan juga sih...


Ya sudahlah. Mendingan aku cepat-cepat pulang."


Sesampainya di depan rumah, dia melihat ibunya mengunci pintu sedangkan ayahnya memeriksa sepeda motornya. Keduanya sudah berpakaian rapi.


"Ayah, ibu, mau pergi ke mana?" Tanya Tuti heran.


"Nak, ayah dan ibu mau pergi kencan. Kamu baik-baik yah di rumah. Jangan nakal." Balas ibunya sambil melempar senyum padanya.


"Apa? Kencan? Kok kalian nggak ngajak-ngajak. Pasti kalian mau makan enak kan di luar? Aku ikut." Ujarnya manja.


"Aduh Tuti... anak ibu yang gempal. Kamu nggak malu ngikut terus sama ayah dan ibumu kayak anak TK? Kamu sudah besar lho. Kalau mau makan enak, tenang aja. Ayahmu sudah masak makanan spesial untukmu."

__ADS_1


"Serius nggak nih? Jangan-jangan cuma alasan aja biar aku ikut."


Tak tinggal diam, ayahnya juga ikut berbicara memberikan penjelasan usai memeriksa sepeda motornya.


"Nak, kemarin waktu ayah dan ibu pergi kencan, kamu ikut. Gara-gara itu ayah dan ibu jadi kurang menikmatinya. Sekarang kalau kamu ikut, kami juga nggak akan bisa kencan lagi. Kamu nggak kasihan sama ayahmu ini?" Ujarnya memelas.


"Dengerin tuh ayahmu. Kamu juga nggak kasihan ngelihat ibu? Hah?" Sambung ibunya memelas.


"Mmm....


Iya. Iya. Lagi pula malam ini aku ada janji sama si Linda. Jadi kalian tenang aja. kalian bisa kencan sampai puas. Tapi ingat, ada syaratnya. Kalau kalian pulang, jangan lupa bawakan mie goreng dan roti bakar selai stroberi. Kalau sampai lupa, besok-besok kencan kalian akan kubatalkan."


"Iya. Iya. Ayah akan bawa dua porsi sekaligus."


"Satu porsi aja cukup kok. Nanti Tuti makin gendut lagi." Balasnya dengan muka masam.


"Baiklah. Kami pergi dulu yah nak." Ujar ayahnya.


"Iya, hati-hati."


Setelah itu dia langsung masuk dan pergi ke kamarnya sambil berkata,


***********


Sementara itu, Linda memohon pada ibunya agar dibuatkan bubur kacang hijau untuk dia bawa ke rumah Betty.


"Bu, ayo dong masakin. Ini penting bu. Ini menyangkut nasib pertemanan kami bu." Ujarnya memelas.


"Aduh... ibu lagi males banget Lin. Ibu capek banget. Seharian ibu beresin dan bersihin rumah. Belum lagi ayahmu selalu buat masalah dan bikin kepala ibu tambah stress."


"Ayah kenapa lagi bu?"


"Ayahmu meminjam jam tangan ibu. Dia bilang jam tangannya rusak. Eh, tahu-tahunya jam tangan itu digadaikan Lin. Itu benda berharga satu-satunya milik ibu yang masih tersisa, yang ibu beli waktu masih gadis. Jam tangan itu selalu ibu rawat."


"Ayah memang parah banget yah bu. Trus uangnya dipakai buat apa?"


"Buat ganti ban motornya, beli makanan enak, dan sisanya nggak tahu ke mana. Dia hanya kasih seratus ribu aja ke tangan ibu."

__ADS_1


"Ganti ban motor? Kan baru kemarin ban nya diganti. Masa langsung botak. Trus buat beli makanan enak. Kalau mau makan enak, harus kerja keras dong. Ibu jangan diam saja. Lama-lama ayah bisa ngelunjak."


"Aduh... sudahlah. Biarkan aja. Nanti rumah ini bisa hancur. Biarin aja! Kamu lihat sendiri kan lemari piring yang rusak kemarin karena dia marah? Kalau ibu protes, nanti tiang rumah ini bisa roboh ditinju sama dia. Tugasmu sekarang adalah belajar yang benar supaya jadi orang sukses. Nanti kalau kamu sudah selesai sekolah, kita tinggalin aja bapakmu yang nggak berguna itu."


"Itu udah pasti. Tapi bagaimana dengan bubur kacang hijaunya bu? Aku udah janji sama si Tuti."


"Kalian beli aja di warung mak Ida."


"Ya sudah. Mana uangnya."


Ibunya pun segera mengeluarkan uang dari sakunya dan menyuruhnya cepat pergi sebelum itu habis. Karena warung mak Ida selalu ramai pembeli. Maka dia segera berlari ke warung.


"Mak...! Mak Ida...! Mak...!" Teriaknya memanggil namun tak kunjung terlihat.


"Mana orangnya? Dari tadi dipanggilin nggak keluar-keluar. Ini niat jualan atau nggak sih?


Mak.... !" Teriaknya lagi lebih keras.


Tak lama kemudian mak Ida pun keluar tergesa-gesa sambil sibuk mempersiapkan diri dan memeriksa apa yang dia butuhkan dan berkata,


"Eh, kamu toh Lin. Ada apa?"


"Saya mau beli bubur mak. Masih ada kan?"


"Masih. Itu satu panci lagi. Ambil aja semuanya."


"Semuanya? Tapi Linda hanya butuh sedikit mak."


"Aduh... udah ambil aja semuanya, nggak usah bayar. Mak buru-buru pergi nih. Mak udah telat."


"Mak mau ke mana?"


"Mak, mau jemput anak ibu. Dia baru pulang dari Amerika. Anak ibu lolos bea siswa kuliah di sana. Ibu senang banget. Makanya, anggap aja itu hadiah untukmu. Anak ibu nggak ngasih tahu. Katanya mau bikin kejutan. Tahu gitu kan ibu nggak usah jualan hari ini."


"Ih... jangan dong mak. Untung anak emak bikin kejutan. Aku juga jadi dapat untung. Ya sudah, pancinya aku bawa sekalian aja yah mak. Besok aja aku kembalikan."


"Iya. Iya."

__ADS_1


Linda pun membawa pulang panci berisi bubur kacang hujau itu dengan senang hati sambil berkata,


"Ini yang dinamakan rejeki anak soleh. Rejeki anak soleh memang nggak lari kemana."


__ADS_2